Bongi No Mörö Manö

Thursday, December 20, 2007
By nias

Bongi no mörö manö
Niha ba mbanua
Ha ira Yosefo Maria
Lö si mörö me tumbu khöra
Nonora matua
Ono sia’a ba

Bongi no so gubalo
Baero so, manaro
Me möi ba khöra mala’ika
Wangombambakha turia da’a:
“Tumbu yomo khömi
Nono Lowalangi”

Moroi ba Buku Zinunö Niha Keriso* (Lagu Numero 36 – mi’atulö’ö na fasala).
Lala note: Malam Kudus, Holy Night Silent Night – “Stille Nacht! Heilige Nacht!” – komposisi Franz Gruber

Catatan:
Sekurang-kurangnya ada dua versi Malam Kudus dalam Bahasa Nias, satu yang terdapat dalam Buku Zinunö Niha Keriso (yang dicantumkan di depan) dan satu lagi dalam buku: Laudate Gereja Katolik.

Sayangnya, versi Laudate Gereja Katolik jauh dari kesan indah, tidak puitis, sangat kaku, tidak “naratif”. Dua baris pertama saja sudah menggambarkan kekakuan itu:

Bongi ba humaga (Malam dan terang)
Tumbu sa Zo’aya (lahirlah Tuhan)
dst …

(Belum sempat bercerita tentang suasana malam itu … tiba-tiba sudah memberitahukan “Lahirlah Tuhan!”. Bandingkan dengan syair dari Buku Zinunö Niha Keriso di atas yang memberitakan “kabar gembira” itu di akhir bait ke dua).

Dugaan sementara, keikutsertaan Ono Niha dalam penyusunan Buku Zinunö Niha Keriso menghasilkan syair-syair yang indah alami, layaknya bahasa yang biasa dikenal dalam keseharian Ono Niha. Sekali lagi, ini masih berupa dugaan, dan perlu penggalian yang lebih mendalam. Sangat diharapkan masukan atau informasi dari para Pendeta / anggota Jemaat yang tahu sejarah penyusunan Buku Zinunö Niha Keriso itu.

*) Terima kasih atas koreksi Pak Man Harefa atas judul buku itu: Buku Zinunö Niha Keriso, bukan Buku Zinunö BNKP seperti ditulis sebelumnya. (e. halawa).

11 Responses to “Bongi No Mörö Manö”

Pages: [1] 2 » Show All

  1. 1
    Man Harefa Says:

    Teks lagu Bongino yang sdr tulis, bukan syair buku zinuno DNKP, ttp buku zinuno Niha Keriso. Klu syir buku zinuno BNKP tidak seperti itu. Untuk lebih akurat, silahkan sdr cari sendiri

  2. 2
    ehalawa Says:

    Saya baru saja menghubungi pemberi komentar lewat ‘japri’ tetapi tidak berapa lama kemudian saya mendapat pesan bahwa alamat imel yang ditinggalkan pemberi komentar tidak dikenal. Jadi saya menanggapi langsung di sini.

    Bisa jadi saya salah, kaerna ini adalah ingatan masa kecil saya. Saya merujuk pada buku zinuno terbitan lama, barangkali terbitan tahun 1960an. Apakah Anda memiliki buku itu ? Syair seperti itulah yang saya dengar pada setiap pesat Natal di kampung saya tahun 1960an-1970an, yang masih melekat dalam ingatan saya sampai saat ini.

    Koreksi selalu saya tunggu dengan tangan terbuka.

    Salam,

    ehalawa

  3. 3
    Man Harefa Says:

    Bang Edu, Buku Zinuno Niha Keriso masih dipakai sampai sekarang oleh beberapa Organisasi Gereja di Nias seperti AMIN, ONKP, AFY, AFG,BNKPIndonesia (BNKPI), BKPN dll. ttp klu BNKP tidak pakai buku zinuno tsb. Klu bang Edu tertarik memilikinya, tlg abang krm alamat abang, blh melalui hp 0813 96 992 992, sy akan krm, saohagolo

  4. 4
    E. Halawa Says:

    Terima kasih atas koreksi Pak Harefa. Jadi yang tidak saya ingat persis adalah nama buku itu, yang ternyata: “Buku Zinunö Niha Keriso”, bukan “Buku Zinunö BNKP” seperti yang saya tulis dalam artikel di atas.

    Salam,

    e. halawa

  5. 5
    Jenk Iskhan Says:

    Lagu ‘Malam Kudus’ aslinya berjudul ‘Stille Nacht’, syairnya ditulis dalam bahasa Jerman oleh rohaniawan Austria Fr. Josef Mohr, komposisi musik digubah konduktor Austria Franz X. Gruber. Melodi Malam Kudus mirip musik rakyat Austria. Lirik bait pertama berturut-turut dalam bahasa Jerman, Inggris, Belanda, dan Indonesia:

    Stille Nacht! Heilige Nacht!
    Alles schläft; einsam wacht
    Nur das traute heilige Paar.
    Holder Knab im lockigen Haar,
    Schlafe in himmlischer Ruh!
    Schlafe in himmlischer Ruh!

    Silent night, Holy night
    All is calm, all is bright
    ‘Round yon virgin Mother and Child
    Holy infant so tender and mild
    Sleep in heavenly peace
    Sleep in heavenly peace

    Stille Nacht, Heilige Nacht.
    Davids Zoon, lang verwacht,
    die miljoenen eens zaligen zal
    werd geboren in Bethlehems stal.
    Hij, der schepselen Heer
    Hij, der schepselen Heer.

    Malam kudus, sunyi senyap;
    dunia terlelap.
    Hanya dua berjaga terus
    ayah bunda mesra dan kudus;
    Anak tidur tenang,
    Anak tidur tenang.

    Dengan semangat Konsili Vatikan II lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Nias thn. 1982 berjudul “Bongi ba humaga” (Laudate Buku Doa dan Nyanyian dalam Bahasa Nias, hlm. 39). Dalam upaya inkulturasi Gereja Katolik, aspek bahasanya ‘dapet’. Namun ‘suasana bathin’-nya mungkin memang terasa gersang untuk suatu malam yang syahdu. Syair lengkapnya:

    Bongi ba humaga Tumbu sa Zo’aja;
    No turia sisõchi da’a,
    mala’ika zolohe chõda.
    Ta’ondrasi Jesu, ta’ondarasi Jesu.

    Bongi ba humaga, omuso dõdõda;
    Nifabu’u Zo’aja fõna.
    no itõrõ: so Ia chõda.
    No awõda Jesu, no awõda Jesu.

    Bongi ba humaga, mi’aine ba kandra;
    Ba mifaigi Nono ba luha:
    Lowalangi tobali Niha.
    Datatema Jesu, datatema Jesu.

    Bongi ba humaga, lachõmi sebua!
    Jamanunõ sa fefu niha,
    Mala’ika jafao awõda.
    Sunosuno Jesu, sunosuno Jesu.

    [sic]

  6. 6
    Jos Zebua Says:

    Almarhumah ibu saya, waktu kukecil, senang nyanyikan versi Bongino ketimbang Bongiba, meski kami penganut Katolik pegang Laudate. Mungkin lagu itu menyentuh hatinya. Terutama saat nyanyikan syair… ‘Ha ira Yosefo Maria, Lö si mörö me tumbu khöra’… penuh penghayatn. Mungkin karna beliau seorang ibu merasakan betul saat melahirkan. Kebtulan pula anak sulungnya yg kata orang ‘agak bandel’ ini bernama Josef.

  7. 7
    ehalawa Says:

    Bung Jos,

    Menarik kisah almarhumah Ibu Anda tentang “Lagu Bongi No …”. Syair ‘Bongi no’ yang saya tulis di atas adalah hasil ingatan masa kecil saya … yang merupakan bukti ‘kenangan indah’ saya terhadap syiar (dan) lagu itu.

    Bung Jenkiskhan,
    Seingat saya, sebelum muncul “Laudate”, ada buku ‘Yubilate’ untuk Gereja Katolik Nias. Buku yang masih sederhana ini berisi lagu-lagu Gereja untuk umat Katolik di desa-desa. Gereja ‘induk’ Santa Maria Gunungsitoli ketika itu masih menggunakan lagu-lagu gerejani berbahasa Indonesia, karena memang Misa dipersembahkan dalam bahasa Indonesia.

    Seingat saya (mudah-mudahn tidak salah), lagu Bongi Ba pertama kali saya dengar pada Natal tahun 1969, jadi jauh sebelum Buku Laudate muncul pada tahun 1982 (?).

    Terima kasih atas syiar-syair versi bahasa Inggris, Jerman, dan khususnya versi Bahasa Belanda yang tidak dimuat dalam artikel: Josef Mohr, Franz Xaver Gruber: “Stille Nacht! Heilige Nacht”.

    ehalawa

  8. 8
    Daniel Says:

    Thank Admin atas infonya.
    kita di nias kan kalau menyanyikan lagu ini biasanya ada lagu solonya juga.
    kalau bisa di cantumkan juga ya fersi solonya beserta notnya.
    kalau ada tolong juga di repaly ke email saya ya….
    Saohagolo.

  9. 9
    Denius Zebua Says:

    Yth: Bapak Ibu saudara/I seiman, mohon doa buat keluarga kami supaya bersatu Dan kuat memuji Tuhan Dan lebih khusus buat saya semoga rencana Dan pergumulan dalam mencapai kesuksesan Dan kebahagiaan. Demikian untuk dapat dimaklumi.

  10. 10
    Moses Glenn Alinsky Says:

    Tahnk’s atas infonya. Tapi sebaiknya di cantumkan juga lagu Natal versi nias.

Pages: [1] 2 » Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31