Perbankan – Utang Korban Gempa Nias Tetap Ditagih

Friday, December 14, 2007
By susuwongi

Gunungsitoli, Kompas – Dua tahun pascagemba bumi Nias, ratusan korban di Nias yang rumahnya ambruk bahkan sudah meninggal masih diminta melunasi utang ke bank. Banyak warga yang merasa tidak mampu dan tertekan dengan sikap bank yang tidak mau berkompromi.

Veronica (48), warga Jalan Sudirman 43, Gunungsitoli, Nias, Rabu (12/12), mengatakan, suaminya, almarhum Ivan Fredy S, meninggal karena gempa bumi. Hingga kini almarhum masih memiliki kredit rekening koran di BNI sebanyak Rp 105 juta. Ditambah bunga dan denda, kredit membengkak jadi Rp 190 juta.

Veronica, yang juga kehilangan anaknya, V Widya Anggraini (4), karena gempa, bertutur dengan mata berkaca-kaca, dulu mereka memiliki toko sembako. Namun, toko itu hancur karena gempa. Ia kini tidak mempunyai usaha dan menumpang kepada adiknya. “Saya berniat membayar utang itu. Saya bisa cicil Rp 1 juta per bulan, tetapi bunganya minta diputihkan,” katanya.

Veronica pernah ke DPR untuk menanyakan kasus ini setahun lalu, tetapi sampai kini kasusnya belum jelas.

Pada Rabu lalu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom mengunjungi Nias untuk meresmikan bantuan kemanusiaan kerja sama BI Perbankan Peduli NAD-Sumut senilai Rp 3,3 miliar dalam lima proyek, termasuk pembangunan gereja.

Mengetahui kedatangan Miranda dari spanduk yang dipasang, para debitor bank, termasuk Veronica dan sejumlah perempuan lain, menunggu Miranda di Pendapa Kabupaten Nias. Mereka menanyakan kebijakan pemutihan kredit bagi debitor yang terkena bencana.

Akan tetapi, karena mengejar pesawat, Miranda yang awalnya dijadwalkan makan siang di Pendapa Kabupaten Nias langsung menuju Bandara Binaka. Para perempuan itu pun kecewa.

Emilia Dachi (41), warga Jalan Diponegoro 160, Gunungsitoli, yang ikut menunggu kedatangan Miranda mengatakan, ia mengambil pinjaman Rp 300 juta dari BRI. Empat bulan setelah dana digunakan untuk membeli barang, tokonya hancur karena gempa. “Kami kini membangun lagi dari pinjaman pemasok kami,” kata Emilia.

Pinjaman Emilia sudah membengkak menjadi Rp 370 juta. “Saya minta keringanan supaya dana bisa kami kembalikan dalam 5-6 tahun,” kata Emilia.

Lembaga swadaya masyarakat Elsaka Nias mencatat, debitor yang mengadu ke Elsaka atas kasus pinjaman di bank mencapai 650 orang. Sebanyak 160 debitor berasal dari Nias Selatan, 490 debitor lain dari Nias dengan total pinjaman Rp 24 miliar. Pinjaman tiak hanya dilakukan oleh pengusaha kecil, tetapi juga para guru.

Ditanya wartawan, Miranda mengatakan, BI sudah mengeluarkan keputusan jika ada kredit warga yang benar-benar macet karena bencana alam, bank bisa menghapus atau menunda pembayaran kredit. Namun, bank harus menyurvei kebenaran laporan itu supaya tidak ada orang yang mendompleng. (WSI)

 Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/14/daerah/4081717.htm

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31