P. Johannes Seharusnya Tidak Bungkam

Thursday, September 20, 2007
By nias

Tahun 2004, Eva Mariani dari koran berbahasa Inggris The Jakarta Post, dalam sebuah tulisannya tentang Nias, menjuluki P. Johannes sebagai: The Keeper of Nias Forgotten Culture. Para pembaca tulisan ini tentulah faham betul apa maksud dari julukan itu dan mengapa diberikan kepada P. Johannes.

P. Johannes adalah misionaris Katolik yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk berbakti di Nias: menjadi seorang imam bagi umat Katolik. Dari sampul buku Omo Sebua karangan beliau, kita tahu bahwa P. Johannes yang berasal dari Hausach, Jerman, itu mulai berkarya di Nias pada tahun 1972. Meskipun P. Johannes datang ke Nias sebagai seorang rohaniawan, pada perkembangannya beliau meluangkan lebih banyak waktu untuk melakukan pencatatan terhadap berbagai aspek budaya Nias; beliau lebih dikenal sebagai “pakar” budaya Nias dari pada seorang imam Katolik.

Karya-karya P. Johannes tentang budaya Nias muncul antara lain dalam bentuk sejumlah buku (lihat topik Publikasi). Buku-buku karya P. Johannes telah menarik minat masyarakat Nias, dunia antropologi Indonesia dan juga dunia. Bukunya berjudul: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi yang terbit pada tahun 2001 “menggemparkan” dunia kebudayaan Nias dengan “teori rahimnya” tentang tafsiran pengertian Teteholi Ana’a, dan usahanya untuk menguak asal-asal usul masyarakat Nias melalui tafsiran baru mite dan hoho Nias. Penggalian arkeologis di Tögindrawa dimulai atas inisiatif P. Johannes yang dibarengi dengan penyelidikan DNA oleh salah seorang sahabatnya, Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dari Universitas Münster, Jerman (lihat wawancara Nias Portal dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht).

Salah satu dari karya besar P. Johannes dalam bentuk fisik adalah: koleksi berbagai artefak budaya Nias yang kini dihimpun dalam Museum Pusaka Nias yang juga merupakan realisasi dari ide cemerlangnya untuk masyarakat Nias. Saat ini, kalau masyarakat Nias ingin bersantai-santai sedikit maka tujuan wisata mereka yang utama tiada lain adalah Kompleks Museum Pusaka Nias yang menyajikan hiburan segar berupa kebun binatang mini, buku-buku budaya dan koleksi peninggalan budaya Nias yang berhasil “diselamatkan” oleh Pastor Johannes selama keberadaan beliau di Nias.

Maka, “berdosalah” orang Nias apabila melupakan jasa P. Johannes untuk masyarakat Nias. Kita, masyarakat Nias, wajar berterima kasih kepada P. Johannes (dan juga kepada yang lain) yang telah membantu menggali dan melestarikan budaya Nias.

Salah satu bentuk rasa terima kasih yang berwujud “spiritual” adalah mengarahkan kesadaran untuk memahami, meminati dan mencintai budaya Nias. Sejak terbitnya buku P. Johannes berjudul: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi pada tahun 2001, masyarakat Nias seakan bangkit dari tidur panjangnya dan mulai belajar memahami, berusaha meminati dan menicintai budaya Nias. Setiap kali ada “persoalan” yang terkait dengan budaya Nias, Ono Niha secara spontan mengingat dan menyebut buku Asal Usul …

Kisah yang serba singkat dan terbatas yang disajikan di atas membuat kita tidak ragu lagi mengamini julukan yang diberikan Eva Mariani di depan kepada P. Johannes sebagai: The Keeper of Nias Forgotten Culture (Penjaga Kebudayaan Nias Yang Terlupakan).

Kini P. Johannes bukan lagi hanya milik Nias, melainkan juga milik dunia antropologi dunia, melalui “kepakarannya” di bidang budaya Nias. Setiap kali ada konferensi internasional bidang kebudayaan, rasa-rasanya belum pernah ada budayawan orang Nias yang ikut berbicara. Untung Nias memiliki seorang putra bernama P. Johannes, yang dalam setiap buku-bukunya kita menemukan banyak kata “kita”: budaya kita, adat kita, kampung kita, sejarah kita. P. Johannes telah mengidentikkan diri dengan orang Nias: beliau bukan lagi Niha Geremani, melainkan Ono Niha.

***
Kritik dan budaya kritis adalah hal yang wajar dalam penelitian ilmiah (baca: Kritik, Berpikir dan Bersikap Kritis). Peradaban Barat – yang sangat dijiwai oleh P. Johannes karena beliau berasal dari lingkungan itu – bisa semaju seperti yang kita saksikan saat ini adalah berkat tradisi keterbukaan, sikap dan budaya kritis. Budaya kritis itu telah menular ke seluruh pelosok dunia, dengan kecepatan penularan yang sangat tinggi.

Budaya kritis itu juga menular ke masyarakat Nias. Itulah yang sedang kita saksikan ketika masyarakat Nias misalnya melontarkan kritik terhadap para pemimpinnya di Nias sana. Itulah juga yang kita saksikan ketika sebagian dari Ono Niha yang memiliki akses ke internet mengajukan berbagai pertanyaan tentang tafsiran P. Johannes terhadap makna Teteholi Ana’a. Kritik yang dilontarkan dalam berbagai bentuk, gaya, intonasi, dan intensitas itu intinya adalah satu dan sama: “jawablah kami, jelaskanlah kepada kami” ! Tiada inti lain, dan tiada maksud lain.

Adalah wajar masyarakat Nias mengharapkan P. Johannes Hammerle mau “turun ke lapangan diskusi” dan menjawab semua kritik terhadap karya-karyanya di bidang budaya Nias, kritik yang muncul dalam berbagai penampilan: halus, kritis, keras, menggigit, rasional, emosional, dan seterusnya. P. Johannes sebagai “pakar” budaya Nias, sebagai “The Keeper of Nias Forgotten Culture” tidak bisa menghindari menjawab berbagai pertanyaan dalam bentuk kritik ini, misalnya saja dengan dalih “ini bukan forumku, karena forumku adalah forum internasional”.

Dalih semacam itu hanya akan melahirkan dua penafsiran baru yang lebih keras: (1) P. Johannes menunjukkan arogansi sehingga tidak mau berbicara dengan pemerhati budaya lokal yang tiada lain adalah Ono Niha sendiri (“darah daging”-nya sendiri karena beliau selalu mengidentikkan diri dan karenanya telah menjadi bagian dari Ono Niha), yang sebenarnya merupakan subjek-subjek yang akan mengambil keuntungan besar dari hasil-hasil karyanya di bidang budaya, dan (2) ini adalah wujud ketidak-mampuan P. Johannes untuk menangkis kritik-kritik yang ditujukan kepadanya. Dengan kata lain P. Johannes sendiri tidak memiliki keyakinan akan kebenaran berbagai penafsirannya tentang budaya Nias.

Berbicara di forum internasional tidak serta merta harus dianggap sebagai sebuah prestasi yang mengagumkan atau sebagai bukti kepakaran seseorang, terlebih kalau di forum seperti itu kita tidak menemukan pakar lain yang memahami bidang kita. (Sebagai catatan: saat ini, selain P. Johannes, kita tidak menemukan nama lain yang berkibar di dunia antropologi dengan spesialisasi budaya Nias). Kalau itu yang terjadi (dan hal itu sering terjadi), maka forum semacam itu, walau berstatus “skala internasional” akan dengan mudah terjerumus menjadi forum penumpahan informasi sepihak tanpa menghasilkan pengasahan ide-ide.

Tanpa bermaksud mengurangi rasa kagum pada karya-karya tulis P. Johannes, kita boleh berkomentar sebagai berikut. Menulis sebuah buku, apalagi sejumlah buku pada bidang yang sama memamg sedikit banyaknya memberikan gambaran tentang minat kita akan hal tertentu. Akan tetapi menulis buku, apalagi yang diterbitkan sendiri oleh penulisnya, tidaklah serta merta menjadi tolok ukur kepakaran seseorang dalam bidang tertentu. Dalam dunia ilmiah, kepakaran biasanya dikaitkan dengan pembelaan tesis secara lisan di hadapan para penguji atau secara tertulis dengan menjawab para penilai isi tesis. Karena tidak semua pakar menulis tesis, masih ada jalur lain yang dapat ditempuh untuk menunjukkan kepakaran: menulis pada jurnal ilimiah. Menulis untuk suatu jurnal ilmiah jauh lebih tinggi nilainya dari pada mengirim sebuah karangan ilmiah pada sebuah konferensi. Hal ini dapat dimaklumi: di konferensi-konferensi (walau yang beratribut “ilmiah” sekali pun”), tidak jarang makalah diloloskan begitu saja tanpa saringan ketat, karena target penyelenggara adalah menjaring sebanyak-banyaknya peserta konferensi.

Peter Suzuki, terlepas dari berbagai kelemahan disertasinya tentang budaya Nias, telah melalui proses yang normal dalam dunia ilmiah itu. Bahwa akhirnya pendapat Suzuki mendapat kritikan tajam dari berbagai pihak, termasuk P. Johannes, adalah hal yang wajar saja dalam dunia ilmiah. Yang tidak wajar adalah apabila kritik atas kritik tidak diterima sebagi sebuah kritik yang wajar.

Kini giliran P. Johannes seharusnya bertindak sebagai guru atau suhu budaya Nias dengan mengajak generasi muda Nias berbincang-bincang tentang budayanya. “Böli Hae ! Jangan terengah-engah dalam memikirkan kebudayaan Nias.” Ini adalah pesan P. Johannes dalam buku “Asal-Usul …”. Ini bisa diartikan sebagai pesan penggugah semangat dari P. Johannes kepada generasi muda Nias.

Kalau P. Johannes tidak menampik gelar sebagai “pakar” budaya Nias dan tak berkeberatan dengan julukan “the Keeper of Nias Forgotten Culture”, maka beliau seharusnya juga siap menerima terpaan angin kritik atas karya-karyanya dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat Nias, khususnya generasi mudanya yang sedang haus-hausnya akan pemahaman yang kritis tentang berbagai hal, termasuk masalah budaya.

Di sinilah letaknya relevansi kesediaan P. Johannes “turun” dari “teteholi ana’a” kebungkaman. (eh)

Tags:

32 Responses to “P. Johannes Seharusnya Tidak Bungkam”

  1. 1
    Jenk Iskhan Says:

    Kalau tak salah, diskusi kita tempo hari sampai seputar tafsir syair hoho Ama Rozaman “Ba mifurinia me so niha”… Yah… sekedar mengingatkan aja. 🙂

  2. 2
    Toni Hia Says:

    Berpacu… dalam (melodi) kebungkaman… kita masih sabar menunggu… berita kepada kawan… atau… kita tanya pada rumput yang bergoyang… barangkali di sana ada jawabnya. Yaahowu Pastor!

  3. 3
    Bebalazi Says:

    Wah…. Tampaknya sdr. E. H masih penasaran ya…. Aku sendiri mendukung sikap P. Johannes itu. Tak ada yang perlu dijawab di sini. Bila ada yang tak setuju dengan pendapatnya dalam buku yang sudah dia tulis, biarlah yang keberatan itu menulis buku dengan versi yang sesungguhnya. Sebab berbicara itu termasuk Hak Azasi manusia. Jadi, bicara atau tidak mau bicara dalam website ini, kan bukan suatu kewajiban.

    Jadi, saya lebih cenderung berpendapat, biarkanlah P. Johannes diam bila ia mau diam, dan berbicara/menjawab bila ia juga mau untuk itu.

    Aku justeru tidak melihat adanya sikap arogansi dari P. Johannes bila ia tidak mau menanggapi komentar di sini. Justeru aku melihat arogansi dari desakan untuk menjawab yang ditujukan kepada P. Johannes dalam tulisan ini, heheee…tapi mungkin begitulah adanya sang penulis tulisan ini.

    Salam

  4. 4
    Sin Liong Says:

    Tatkala Galileo Galilei pertama kali melihat bintik-bintik matahari, dia mendapat surat yang mengandung pertanyaan dari seorang ilmuwan amatir Jerman bernama Marcus Welser. Surat itu diterima Januari 1612, saat Galileo masih di Vila delle Selve (dekat kota Fiorentina), isinya adalah:

    ”Pikiran manusia berupaya menjangkau langit dan memperoleh kekuatan dengan setiap hal baru yang diperolehnya. Anda telah memanjat diding itu dan menggondol mahkota. Kini, yang lainnya mengikuti langkah Anda dengan keberanian yang lebih besar. Mereka sadar bahwa sekali Anda sudah membuka jalur yang keras itu untuk mereka, bodoh sekali jika mereka tidak melanjutkannya dengan rasa bahagia dan penuh kehormatan. Lihatlah apa yang dilakukan oleh seorang temanku. Mungkin ini bukan sesuatu yang baru untuk Anda, saya kira, tetapi sekurang-kurangnya saya berharap Anda akan senang mengetahui bahwa di balik pegunungan sana ada orang-orang yang mengikuti jejak Anda. Mengenai bintik-bintik matahari ini, tolong bantulah saya dengan mengatakan pendapat Anda sejujurnya – apakah Anda menganggap mereka sebagai benda-benda sejenis bintang atau tidak, dan di manakah menurut Anda tempat mereka, dan apakah sesungguhnya pergerakan yang dilakukan mereka.”

    Galileo Galilei tidak punya kewajiban menjawab surat itu, tapi toh dia menghabiskan waktu nyaris empat bulan untuk merumuskan jawabannya. Atas jawaban Galileo, Wesler membalas dengan penuh terima kasih, ”Anda telah memperlihatkan perhatian yang besar dengan mengirimiku sebuah risalah untuk menjawab sedikit kalimatku”.

    Akankah sejarah empat abad yang silam akan berulang?

  5. 5
    Bebalazi Says:

    Anda betul. Terlalu capek merumuskan hal sepele seperti itu. Apapun ceritanya, itu berarti bahwa Galileo Galilei MAU untuk menjawab. KeMAUannya untuk menjawab, itu juga pengaplikasian dari haknya bukan?

    So sekarang beralih pada pembicaraan kita ini. P. Johannes juga mempunyai cara untuk menggunakan haknya berbicara atau tidak. Dan pikirku sih… website seperti ini tidak punya otoritas untuk mewajibakan orang lain untuk terlibat diskusi dalam web ini.

  6. 6
    Sin Liong Says:

    Sama halnya Galileo Galilei, Sigmund Freud juga ikhlas menjawab orang-orang yang bertanya apa saja tentang psikoanalisa. Keduanya menjawab bukan sekedar karena dorongan kemauan naluriah, namun lebih dipengaruhi oleh sikap intelektual dan tanggung jawab moral atas sesuatu teori yang mereka bangun dan justru ingin diteguhkan dengan berbagai dialog, di mana pun, dengan siapa pun, dan apa pun medianya.

  7. 7
    Bebalazi Says:

    Sayang sekali, aspek naluri dan cognitio adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan di dalam diri manusia. Pemisahan antara keduanya menghasilkan manusia fragmentaris. Berikut, ketika kita berbicara soal pilihan, itu melibatkan cognitio dan voluntas yang menyatu dalam suatu atribut: pertimbangan. Dan hal itu berkaitan erat dengan nilai yang akan dicapai dan diperoleh.

    Karena itu, berbicara atau diam itu juga merupakan suatu pilihan yang dimelibatkan aspek cognitio dan voluntas hingga sampai pada suatu keputusan untuk bertindak: mau atau tidak.

    So. P. Johannes… Bila anda merasa bahwa menanggapi mereka ini sangat bernilai dan bermanfaat, saya mendukung anda untuk menjawab. Namun bila anda merasa bahwa ini tidak bermanfaat dan bernilai (hanya buang-buang waktu), maka aku juga mendukungmu. Bukankah orang lain sering mengobjekkan sesamanya. Lebih baik segala tanggapanmu dalam situs ini anda tuliskan saja dalam bentuk buku dari pada bersusah payah menjelaskannya di sini.

    Di sini orang hanya pintar membaca buku dan membuat rangkuman atasnya, tapi tidak tahu mau buat apa untuk menyumbangkan sesuatu untuk menggali dan melestarikan kebudayaan leluhurnya.

  8. 8
    Sin Liong Says:

    Sikap intelektual ada dalam diri seseorang manusia, sedangkan tanggung jawab moral ada dalam relasi dan bahkan interaksi dengan manusia lain. Tanpa interaksi yang harmonis, cenderung “menyepelekan” orang lain yang ingin berdialog, apalagi dibumbui dengan penilaian, pernyataan, dan sikap yang berwarna emosional, maka kita akan terjebak dalam sindrom antisosial.

    Dukung-mendukung tanpa melihat substansi hanya ada dalam retorika politik maupun psikologi massa, tidak dalam interaksi intelektual.

  9. 9
    Bebalazi Says:

    heheheheheee Sin Liong… membaca komentar anda yang seolah-olah intelek di atas, aku hanya tersenyum-senyum saja dan berkata: “Itu bumerang bagi pernyataan dan sikapmu sendiri”.

    Karena itu akupun mengundurkan diri dari diskusi ini, heheheee….

  10. 10
    Sin Liong Says:

    Terima kasih Bebelazi, senang berinteraksi dengan Anda. Adios.

    Salam takzim dari Kupang.

  11. 11
    Nora Says:

    Syaloom… buat Sin Liong… kitorang sama Flobamor neeh… beta asli Kupang lagi kul di Jawa… beta antusias ngikutin satu-dua topik diskusi di website ini… menarik hati…!

    Beta salut pada Ibu Noni Telambanua dan Bapa Duha… selalu upaya ngejawab yang ditanyakan tentang karya tulis dorang. Ada interaksi dorang dengan audiens… sekali tempo dorang terilhami dari pendapat audiens… Itu ‘kali buah dari sikap intelektual dan tanggung-jawab moral ya… heheheee 🙂 Salam hormat beta buat Ibu Noni dan Bapa Duha.

    Tuhan beserta kita semua! Amien… 🙂

    Elnora Fernandez

  12. 12
    Oni Harefa Says:

    Melihat penyelidikan DNA oleh Profesor Dr.med. Ingo Kennerknecht dan Pastor Johannes Hammerle dipertanyakan luas secara etik, moral, hukum dan substansi (lih. “The Genetics of Nias – Concepts and First Data” di website ini), tidak ada alasan lagi bagi Pastor Johannes untuk tidak menjelaskan dan mengklarifikasikan aktifitas budayanya kepada khalayak masyarakat Nias.

    “Böli Hae! Jangan terengah-engah dalam kebungkaman memikirkan kebudayaan Nias…”. Ini bisa diartikan sebagai pesan penggugah semangat dari generasi muda Nias kepada Pastor Johannes. Yaahowu!

    Oni Harefa
    mahasiswa di Jogjakarta

  13. 13
    Toni Hia Says:

    Saat pertanyaan seputar tradisi lisan, orang Nias diturunkan dari “heaven”, Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht menjawab: “As there is no longer doubt about that the origin of all modern humans is Africa, it is clear that from “heaven” means in this context just from “outside” (the island).” (artikel “No Commercial Interests and No Patents Will be Applied”).

    Istilah “heaven” diperkuat pula dalam peta “Hämmerle 2007” yang menyebutkan: Hia from “Heaven” (artikel “The Genetics of Nias – Concepts and First Data”).

    Istilah “heaven” yang mereka bicarakan itu, apakah terjemahan dari “teteholi ana’a”? Bila benar, mengapa mereka menyebutnya “heaven”? Mengapa bukan “the womb of the women”? The womb of the women adalah arti dari teteholi ana’a dalam artikel “Traditional Architecture And Art On Nias” oleh Pastor Johannes Hämmerle.

    Rasa ingin tau terhadap keajegan Pastor Johannes Hämmerle terusik kembali. Teteholi ana’a: ”heaven” atau ”the womb of the women”? Mengapa peta “Hämmerle 2007” tidak menyebut: Hia from ”the womb of the women”?

    Ujung-ujungnya, komentarku tempohari tentang tafsir syair hoho Ama Rozaman “Ba mifurinia me so niha” teringat lagi. Dalam forum ini kembali kuulangi komentarku (no. 6) di artikel Bang E. Halawa berjudul Pengertian “nidada”, “nifailo” dalam Buku Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interrpetasi (31-1-2007), yaitu:

    ”Ada tiga kemungkinan yang terjadi dalam diri Pastor Johannes:
    1.Beliau tidak membaca dengan cermat seluruh isi buku Ama Rozaman, atau
    2.Beliau membaca dengan cermat seluruh isi buku Ama Rozaman, tapi tidak memahaminya dengan baik, atau
    3.Beliau memanipulasi alur cerita hoho Ama Rozaman demi teori rahim.”

    Komentarku dibahas, ikut dipertanyakan Bang E. Halawa di artikelnya berjudul Mari Memahami Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua” (6-2-2007). Paragraf terakhir artikel beliau berbunyi:

    “Perlu ditekankan bahwa tafsiran Teteholi Ana’a sebagai rahim sangat terkait dengan terjemahan keliru Hammerle atas kalimat: “Ba mifurinia me so niha“. Barangkali Hammerle masih memiliki sejumlah argumen lain yang lebih meyakinkan. Kita tunggu.”

    Yaahowu,
    Toni Hia

  14. 14
    Famalala Says:

    Buat Oni Harefa (#12) saya sangat kagum dengan pernyataan anda di atas:
    “Melihat penyelidikan DNA oleh Profesor Dr.med. Ingo Kennerknecht dan Pastor Johannes Hammerle dipertanyakan luas secara etik, moral, hukum dan substansi (lih. “The Genetics of Nias – Concepts and First Data” di website ini), tidak ada alasan lagi bagi Pastor Johannes untuk tidak menjelaskan dan mengklarifikasikan aktifitas budayanya kepada khalayak masyarakat Nias.

    Memang tampak bahwa anda seorang Mahasiswa. Seorang mahasiswa biasanya cukup sering membuat pernyataan dengan: “…secara etis, moral, iuridis, dsb…” Kalimat2 itu, selain membuat orang terkagum-kagum juga terkesan ilmiah. Tapi banyak lho orang yang menggunakan itu tanpa mengertinya.

    Oh ya… seandainya P. Johannes tidak mau menjawab, apa ya tuntutan hukum (iuridis) yang anda lakukan (sebagaimana yang anda tuliskan di atas, disamping tuntutan etik dan moral?

    Satu lagi dari pernyataan anda di atas: “Ini bisa diartikan sebagai pesan penggugah semangat dari generasi muda Nias “.

    Apakah anda yakin bahwa generasi muda Nias terwakili dengan pandangan anda?

    Salam dari Sulawesi

  15. 15
    Ono Samao'e Says:

    Mungkin Pastor Johannes Hämmerle sekarang sedang merenungkan secara mendalam makna dan filosofi dari ungkapan “silent is gold.”

  16. 16
    siliwi Says:

    Alawa luo… afeto duo… aleu dawuo… aisõ nidanõ mbanio…

  17. 17
    Redaksi Says:

    Bisa jadi benar yang dikatakan Ono Samao’e: P. Johannes sedang merenungkan ungkapan “Diam Adalah Emas”, bisa jadi beliau juga akan menjawab, karena seingat kami beliau sangat antusias tentang hal-hal semacam ini.

    Akan tetapi harus diingat beliau mungkin sedang memiliki tugas yang lain yang lebih mendesak saat ini. Jadi kita harus bersabar, jangan justru seolah-olah kita sudah memastikan bahwa beliau akan diam terus dan tidak akan menjawab – atau sebaliknya, menuntut jawaban sekarang di situs ini. (Syukur kalau ada yang bisa memberi konfirmasi kesediaan/ketaksediaan beliau menjawab, sehingga Redaksi bisa melihat alternatif lain.)

    Redaksi sedang mencari jalan keluar antara lain mungkin mengirim artikel-artikel yang relevan untuk dimuat di Media Warisan – buletin yang dikelola oleh Yayasan Pusaka Nias asuhan P. Johannes.

    Sekali lagi .. mari kita bersabar, “Böli Hae !”.

    Redaksi

  18. 18
    silvie Says:

    Kalau gak salah… Redaksi Yaahowu nerusin komentar netters ke Pastor Johannes Februari 2007 (#6 Mari Memahami Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua”). Sampe sekarang baru 8 bulan lebih dikit bo…!

    Bak kelahiran… ”tuha niföfö nangi” (istilah untuk ”adek bayi”) nongol setelah 9 bulan lebih dikit dalam ”teteholi ana’a” (istilah untuk ”rahim”). Perkiraan lahir kan baru November 2007… Adek bayi… masih hidup bersama luluö (istilah untuk ”placenta”)… belum ”oek-oek-oek” keluar lewat ”tora’a” (istilah untuk ”vagina”) bundanya. [klo udah gede… adek bayi boleh ikutan “stardut incar tiga” sama bunda ya… heheheee]

    Situasi diskusi sekarang bak film layar lebar Yatty Octavia… ”Menanti Kelahiran”… Bersabar teman… kelak… bila Idanö Zea sudah bergemuruh… saat itu pula ”tuha niföfö nangi” akan menyusul air ketuban… pasti adek bayi lahir ke dunia yang fana ini… Ba mifurinia me so niha…!!!

    heheheee….. 🙂

  19. 19
    ehalawa Says:

    Tony Hia (resp. 13): “The womb of the women adalah arti dari teteholi ana’a dalam artikel “Traditional Architecture And Art On Nias” oleh Pastor Johannes Hämmerle.”

    Seingat saya ini bukan judul artikel P. Johannes, tetapi nama konferensi yang di Wina itu.

    ehalawa

  20. 20
    Toni Hia Says:

    Bang Ehalawa yang jeli… setelah aku ricek… ternyata judulnya “Society and Culture in Nias” [moga gak salah lagi]. Saohagölö atas koreksinya.

  21. 21
    Marinus W. Says:

    Saudara/i ku ono niha, kalian jangan berprasangka dulu kepada amada Pastor Johanes. Seharusnya, kita orang Niaslah yang patut berterima kasih ama beliau, karena sudah bersedia meluangkan waktunya utnuk mempelajari budaya kita Nias yang notabene bukan budayanya sendiri. Apakah anda rela seperti dia.

    Moderator http://www.niasbaru.wordpress.com

    Bandung

  22. 22
    Hulu Says:

    Bagus bahwa banyak di antara kita yang kritis terhadap apa yang selama ini ditulis oleh P. Yohanes.
    Pertanyaannya sekarang: Apa dasar kritikmu? Apa penelitianmu? Apa yang anda tahu? Apakah anda sudah menjalani kampung-kampung, pedalaman-pedalaman dan masuk ke daerah-daerah yang tidak dapat ditempuh oleh kendaraan sekalipun seperti yang telah dibuat oleh P. Yohanes sejak beliau mulai berkarya di Nias?
    Agak lucu memang. Kritis dalam segi adu argumen secara lisan tanpa sesuatu yang kita pegang sebagai dasar adalah sesuatu yang sia-sia. Barangkali hanya memenuhi kebutuhan untuk saling…. tidak usah saya tuliskan.
    Buat penelitianmu dulu. Baru omong. Kalau studi pustaka saja, tidak cukup. Sangat tidak cukup untuk mengkritisi hasil sebuah penelitian lapangan.

  23. 23
    Hermin Says:

    Jikalau aku mengeritik Bupati Nias, tidak harus aku menjadi Bupati Nias terlebih dulu. Jikalau mengeritik sastrawan, HB Jassin pun tidak perlu menjadi sastrawan. Begitu juga jika mengeritik peneliti, tidak perlu [siapapun dia] jadi peneliti. Yang esensial adalah substansi yg diwacanakan dan dikritik, apa-bagaimana-mengapa… ya thoh… 🙂

  24. 24
    Ilham S. Says:

    Masalah klasik dlm ilmu-ilmu sosial adalah bias sang peneliti. Contohnya, riset di Tepoztlan (sebuah dusun di Meksiko Selatan). Akhir 1920-an Robert Redfield memerikan masyarakat Tepoztlan sebagai komunitas yg harmonis, egaliter, tenteram & damai. Oscar Lewis meneliti Tepoztlan 20 tahun setelah Redfield, melaporkan jauh berbeda. Lewis melukiskan Tepoztlan sebagai komunitas yg dipenuhi perbedaan tajam dlm hal kekayaan, dan tercabik-cabik oleh konflik antar-pribadi.

    Boleh dikata, kedua catatan etnografis berbeda karena perubahan di Tepoztlan dlm 20 tahun yg memisahkan kedua riset, namun ini hanya satu dari berbagai alasan yg mungkin. Bagaimana cara menetapkan laporan siapa yg ‘mendekati kebenaran’ perihal Tepoztlan? Apa yg bisa disimpulkan dari realita sehubungan dgn objektivitas riset antropologis?

    Untuk menjawabnya mari kita akui bahwa semua manusia, bukan hanya antropolog, mengalami bias. David Kaplan dlm ‘The Theory of Culture’ menulis, keliru jika kita berupaya mendapatkan objektivitas dlm pemikiran dan sikap antropolog selaku individu. Bukan di sana kita harus mencarinya, melainkan (seperti tulis Karl Popper dlm ‘The Poverty of Historicism’) “objektivitas harus dicari dlm institusi dan tradisi kritik sesuatu disiplin”. Hanya lewat saling memberi dan menerima kritik terbuka serta saling pengaruh antara berbagai macam bias bisa kita harap sesuatu yg mendekati objektivitas, tulis Kaplan.

  25. 25
    Sintha M. Says:

    Klo untuk meminimalisir bias diperlukan sesuatu klarifikasi, kenapa mesti alergi terhadap kritik? Kebungkaman komunikasi memperlihatkan bahwa ada sebuah misteri yang senantiasa dijaga terus eksistensinya di sebalik citra yang dibuat misterius itu. Dan ini tidak akan mendorong suasana yang kondusif bagi pembelajaran dan pendewasaan publik.

  26. 26
    Ilham S. Says:

    Klarifikasi untuk konsumsi publik memang perlu. Di buku “Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” (thn. 2001) terbaca ‘Siraso berasal dari seberang’ (hlm. 170). Juga di makalah “The Genetics of Nias – Concepts and First Data” (2006), yaitu di peta yg agak ‘kontroversial’ karna dibuat setahun kemudian (thn. 2007), disebutkan “Siraso from Sumatra” (hlm. 3). Artinya di kurun periode 2001-2007 itu menurut P. Johannes leluhur orang Nias yg dari seberang lautan adalah ‘Siraso’.

    Namun di thn. 2007 terjadi perubahan radikal. Artikel “Antara Budaya Batu dan Omo Niha” (‘Sisipan National Geographic Indonesia’ Juni 2007) menyebutkan ibu dari seberang lautan bernama ‘Nandrua’. P. Johannes menulis: “Meskipun keterangan itu tak dapat dibuktikan kebenarannya, namun memiliki tujuan jelas: melukiskan sejarah kedatangan ibu pertama dari seberang lautan. Leluhur itu bernama Nandrua yang terdampar di Nias, …” (hlm. 7). Hal ini pernah dipertanyakan salah seorang netter situs Yaahowu. Mengapa dari Siraso menjelma jadi Nandrua?

    Persoalannya bukan pada Siraso atau Nandrua yg perlu dibuktikan faktanya. Tapi mengapa terjadi spekulasi nama dari orang yg diketahui berbeda pada fakta kesejarahan yg sama? Tak dijumpai argumentasi logis maupun empiris dari P. Johannes. Adanya opini pribadi sehingga terkesan jauh dari produk sebuah penelitian lapangan nan handal. Bias terlihat tak hanya terjadi pada dua atau lebih peneliti, namun juga pada diri seorang peneliti yg telah bertahun-tahun melakukan pendekatan metode partisipatif. Apa yg didiskusikan ini tentulah jauh dari sebuah ‘prasangka’ (dalam arti buruk) pada P. Johannes, namun ingin menelusuri karya publikasi beliau yg di beberapa bagian perlu diklarifikasikan secara memadai.

  27. 27
    Siraso Says:

    Hulu: “Apakah anda sudah menjalani kampung-kampung, pedalaman-pedalaman dan masuk ke daerah-daerah yang tidak dapat ditempuh oleh kendaraan sekalipun seperti yang telah dibuat oleh P. Yohanes sejak beliau mulai berkarya di Nias?”

    Siraso: “menjalani kampung-kampung, pedalaman-pedalaman dan masuk ke daerah-daerah yang tidak dapat ditempuh oleh kendaraan sekalipun seperti yang telah dibuat oleh P. Yohanes sejak beliau mulai berkarya di Nias” belum serta merta merupakan usaha ilmiah dan tidak serta merta bisa menjadi karya ilmiah. Itu masalahnya.

    Kolektor barang-barang antik dan para wisatawan lokal/manca negara juga melakukan hal yang sama 🙂 Tidak jarang dari antara mereka, hanya berbekal hasil koleksi sana koleksi sini, jepret sana jepret sini, menjadi manusia terkenal di negaranya :(, pada hal gak ada apa-apanya. Itu pula yang tidak jarang kita sanjung-sanjung 🙂

    Untuk membedakan P. Johannes dari para kolektor barang antik atau wisatwan lokal/manca negara, ya sebaiknya beliau bersedia juga menjelaskan ketidak-konsistenan ‘ilmiah’ dalam berbagai karya-karya tulisnya tentang Nias.

    Kita harus hati-hati lho, jangan sampai segala karya tulis tentang Nias ditelan mentah-mentah begitu saja oleh generasi muda Nias kelak dan menganggap hal itu semua sebagai kebenaran. Oke-oke saja kalau kebetulan benar. Yang kita sedang diskusikan ini menyangkut antara lain hal-hal yang dilontarkan oleh P. Johannes yang tidak sesuai dengan cerita-cerita dari orang-orang tua kita. Dan masih banyak interepretasi lain versi P. Johannes yang tidak boleh begitu saja kita terima bulat-bulat.

    Hulu: “Agak lucu memang. Kritis dalam segi adu argumen secara lisan tanpa sesuatu yang kita pegang sebagai dasar adalah sesuatu yang sia-sia.”

    Siraso: Rasanya tidak sia-sia. Suzuki saja kalau tak salah gak pernah ke Nias tapi bisa bikin tesis doktoral tentang Nias, terkenal lagi dia, dan … ilmiah, terlepas dari berbagai kelemahan tesisnya yang kemudian juga dikritik oleh P. Johannes.

    Siraso

  28. 28
    Ilham S. Says:

    Pernyataan bahwa Teteholi Ana’a sebagai rahim (mungkin ini publikasi terkini) terdapat dlm makalah berjudul “Society and Culture in Nias” yg disajikan P. Johannes Maria Hämmerle OFM Cap. dlm Conference at the Museum for Ethnology di Vienna (30-31 Oktober 2006). Menurut catatan kaki makalah itu, pernyataan tersebut merujuk publikasi P. Johannes thn. 1999 berjudul “Nias, eine eigene Welt. Sagen, Mythen, Überlieferungen“ (407 S., Collectanea Instituti Anthropos 43. Academia Verlag, Sankt Augustin). Kutipan yg relevan dari makalah itu sbb.:

    “After I had reflected it for a long time, after much field-research and looking out for old men to interview them, I found the solution, and the surprise was perfect. Based on a deeply understanding of Nias symbolic language, this solution looks very simple. The mysterious and original village of Teteholi Ana’a is nothing else than the womb of the women….”.

    Dapat diketahui bahwa ‘teori rahim’ P. Johannes (kalau memang boleh disebut teori) didasarkan pada ‘refleksi panjang’ serta ‘banyak studi lapangan dan hasil wawancara pada para orang tua’.

    Namun dlm buku “Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” thn. 2001 (hlm. 105-110) dapat diketahui bahwa bangunan ‘teori rahim’ bertumpu pada penafsiran hoho dlm buku Sökhiaro Welther Mendröfa (1981) “Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias”. Menurut buku thn. 2001 itu, P. Johannes melakukan studi pustaka. Menyangkut teori rahim, ini merupakan persoalan tersendiri atas kejujuran dari sumber makalah di Vienna thn. 2006, karena P. Johannes di buku thn. 2001 ternyata (juga) melakukan studi pustaka bagi teori rahim.

    Atas tafsir hoho Mendröfa (Ama Rozaman) tersebut, E. Halawa di artikel Mari Memahami Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua” (situs Yaahowu 6-2-2007) menemukan bahwa terjemahan P. Johannes terhadap syair hoho “Ba mifurinia me so niha“ adalah keliru. E. Halawa telah menganalisis konteks syair hoho dimaksud (silahkan baca artikel E. Halawa). Artikel tersebut mendapat respon yg gencar dari netters situs Yaahowu, dan (untuk sementara) mengkristal dlm artikel “P. Johannes Seharusnya Tidak Bungkam” ini.

    Di buku “Asal-usul…” P. Johannes menerjemahkan “Ba mifurinia me so niha“ sebagai: “Dan sesudahnya menyusul manusia”. Sedangkan di buku “Fondrakö Ono Niha…” penulis hoho (Ama Rozaman) menerjemahkan: “Setelah adanya insan di belakang hari”. Dari kedua terjemahan yg berbeda itu, dapat diketahui bahwa terjemahan P. Johannes berciri ‘etik’, sedangkan terjemahan Ama Rozaman adalah ‘emik’. Ini tentu menjadi persoalan tersendiri lagi bagi sebuah studi etnografi atau antropologi. Apakah di dalamnya terkandung etnosentrisme, diskusi antara P. Johannes dan publik tentu dapat menyingkapnya dgn gamblang.

    Sebelum E. Halawa, kritik terhadap teori rahim telah pula dilancarkan Victor Zebua dlm buku “Ho Jendela Nias Kuno Sebuah Kajian Kritis Mitologis” (2006). Karna gencarnya hasrat dialog dgn P. Johannes, tidak ada ruginya untuk mencairkan kebekuan komunikasi selama ini. Sehingga orang Nias (pun anak-cucunya kelak) dapat tercerahkan.

  29. 29
    Saro Z. Says:

    Salah satu titik krusial diskusi ini adalah terjemahan syair hoho “Ba mifurinia me so niha“. E. Halawa mengkajinya dalam konteks kosmogonis hoho Ama Rozaman, dan pemahaman maknawi bahasa Nias. Sedangkan P. Johannes berangkat dari asumsi bahwa syair hoho secara umum (dan khususnya hoho Ama Rozaman) bercerita tentang seksualitas, mulai dari angin sebagai simbol (kiasan) hasrat persetubuhan, hingga pembuahan, kehamilan, dan kelahiran anak manusia.

    Pendapat P. Johannes perihal ‘korelasi angin dan seksualitas’ diikuti Jajang A. Sonjaya dalam buku “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” (2008: 60-61). Argumentasi Sonjaya didasarkan pada pengalaman empiris beliau tentang ‘persetubuhan dan kehamilan’ yang tabu diceritakan oleh orang Nias. Sonjaya memahami secara maknawi bahwa isi hoho sesungguhnya mengenai proses perkawinan dan kelahiran seorang anak manusia di muka bumi. Sebagai catatan (dari saya), hoho lebih merupakan bentuk atau genre (sejajar puisi/pantun atau prosa) dalam budaya lisan Nias; dalam hoho dapat diceritakan berbagai hal, termasuk seks, kosmogonis, dewa-dewi, atau kehidupan sehari-hari; boleh lah kita bedakan “bentuk hoho” dan “isi hoho”.

    Apakah asumsi seksualitas atas hoho merupakan pendekatan emik atau etik? Bagaimana P. Johannes (dan kemudian Sonjaya) dapat membuktikan bahwa hoho bercerita tentang seks? Victor Zebua dalam “Ho Jendela Nias Kuno” (2006: 116-117) mengidentifikasi bahwa asumsi seksualitas terhadap hoho didasarkan pada ‘collective unconscious’ (kesadaran bersama yang terpendam) sesuai teori psikoanalisa. Bila orang Nias melakukan sublimasi seks di dalam hoho, maka secara metodologis kita harus sampai pada ‘collective unconscious’ mereka. Selanjutnya, apakah bila (benar) perilaku masyarakat perihal seks adalah hal yang tabu diceritakan, berkorelasi positif ketika masyarakat itu bertutur tentang hal ini dalam hoho? Pemahaman P. Johannes dan Sonjaya agaknya perlu disempurnakan dengan dukungan data empirik yang relevan.

    Dari berbagai alur pikir di atas, dirasakan memang kita perlu menggumuli hal ini secara bersama-sama dalam forum diskusi yang setara dan elegan. Ya’ahowu!

  30. 30
    domi Says:

    saya setuju dengan pendapat bpk. Marinus diatas, kita jangan hanya menyudutkan sisi baik seseorang yang mau melirik dan mengekspose budaya kita donk. sesuatu yang telah dibuat pastur Johanes adalah permulaan untuk menggerakkan generasi2 muda Nias untuk lebih berkarya…

    tanpa kita sadari..
    saat ini banyak generasi muda nias yang hanya memperhitungkan politik, sains, dsb,tanpa mengembangkan budaya nias.

    Harapan saya, pemerintah sebaiknya tidak hanya memperhatikan kepentingan2 politik belaka yak, kan tiada salahnya memperhatikan budaya kita yang hampir dan hampir menjauh dari generasi muda sekarang…. semoga!!!

  31. 31
    buala Says:

    Saya sangat setuju dengan komen bpk Marinus W dan bpk Domi : pastur Johanes itu seorang yang mau melirik dan mengekspose budaya Nias. Sesuatu yang telah dibuat pastur Johanes adalah permulaan untuk menggerakkan generasi2 muda Nias untuk lebih berkarya. Karna itu sebagai anak muda Nias saya mendambakan mendengar kelanjutan diskusi dengan pastur Johanes tentang sair ba mifuria me so niha ini. Saohagolo.

  32. 32
    Formita Says:

    saya setuju dan lanjutkan dan tingkatkan kebudayaan NIAS

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

September 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930