P. Johannes Seharusnya Tidak Bungkam

Thursday, September 20, 2007
By nias

Tahun 2004, Eva Mariani dari koran berbahasa Inggris The Jakarta Post, dalam sebuah tulisannya tentang Nias, menjuluki P. Johannes sebagai: The Keeper of Nias Forgotten Culture. Para pembaca tulisan ini tentulah faham betul apa maksud dari julukan itu dan mengapa diberikan kepada P. Johannes.

P. Johannes adalah misionaris Katolik yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk berbakti di Nias: menjadi seorang imam bagi umat Katolik. Dari sampul buku Omo Sebua karangan beliau, kita tahu bahwa P. Johannes yang berasal dari Hausach, Jerman, itu mulai berkarya di Nias pada tahun 1972. Meskipun P. Johannes datang ke Nias sebagai seorang rohaniawan, pada perkembangannya beliau meluangkan lebih banyak waktu untuk melakukan pencatatan terhadap berbagai aspek budaya Nias; beliau lebih dikenal sebagai “pakar” budaya Nias dari pada seorang imam Katolik.

Karya-karya P. Johannes tentang budaya Nias muncul antara lain dalam bentuk sejumlah buku (lihat topik Publikasi). Buku-buku karya P. Johannes telah menarik minat masyarakat Nias, dunia antropologi Indonesia dan juga dunia. Bukunya berjudul: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi yang terbit pada tahun 2001 “menggemparkan” dunia kebudayaan Nias dengan “teori rahimnya” tentang tafsiran pengertian Teteholi Ana’a, dan usahanya untuk menguak asal-asal usul masyarakat Nias melalui tafsiran baru mite dan hoho Nias. Penggalian arkeologis di Tögindrawa dimulai atas inisiatif P. Johannes yang dibarengi dengan penyelidikan DNA oleh salah seorang sahabatnya, Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dari Universitas Münster, Jerman (lihat wawancara Nias Portal dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht).

Salah satu dari karya besar P. Johannes dalam bentuk fisik adalah: koleksi berbagai artefak budaya Nias yang kini dihimpun dalam Museum Pusaka Nias yang juga merupakan realisasi dari ide cemerlangnya untuk masyarakat Nias. Saat ini, kalau masyarakat Nias ingin bersantai-santai sedikit maka tujuan wisata mereka yang utama tiada lain adalah Kompleks Museum Pusaka Nias yang menyajikan hiburan segar berupa kebun binatang mini, buku-buku budaya dan koleksi peninggalan budaya Nias yang berhasil “diselamatkan” oleh Pastor Johannes selama keberadaan beliau di Nias.

Maka, “berdosalah” orang Nias apabila melupakan jasa P. Johannes untuk masyarakat Nias. Kita, masyarakat Nias, wajar berterima kasih kepada P. Johannes (dan juga kepada yang lain) yang telah membantu menggali dan melestarikan budaya Nias.

Salah satu bentuk rasa terima kasih yang berwujud “spiritual” adalah mengarahkan kesadaran untuk memahami, meminati dan mencintai budaya Nias. Sejak terbitnya buku P. Johannes berjudul: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi pada tahun 2001, masyarakat Nias seakan bangkit dari tidur panjangnya dan mulai belajar memahami, berusaha meminati dan menicintai budaya Nias. Setiap kali ada “persoalan” yang terkait dengan budaya Nias, Ono Niha secara spontan mengingat dan menyebut buku Asal Usul …

Kisah yang serba singkat dan terbatas yang disajikan di atas membuat kita tidak ragu lagi mengamini julukan yang diberikan Eva Mariani di depan kepada P. Johannes sebagai: The Keeper of Nias Forgotten Culture (Penjaga Kebudayaan Nias Yang Terlupakan).

Kini P. Johannes bukan lagi hanya milik Nias, melainkan juga milik dunia antropologi dunia, melalui “kepakarannya” di bidang budaya Nias. Setiap kali ada konferensi internasional bidang kebudayaan, rasa-rasanya belum pernah ada budayawan orang Nias yang ikut berbicara. Untung Nias memiliki seorang putra bernama P. Johannes, yang dalam setiap buku-bukunya kita menemukan banyak kata “kita”: budaya kita, adat kita, kampung kita, sejarah kita. P. Johannes telah mengidentikkan diri dengan orang Nias: beliau bukan lagi Niha Geremani, melainkan Ono Niha.

***
Kritik dan budaya kritis adalah hal yang wajar dalam penelitian ilmiah (baca: Kritik, Berpikir dan Bersikap Kritis). Peradaban Barat – yang sangat dijiwai oleh P. Johannes karena beliau berasal dari lingkungan itu – bisa semaju seperti yang kita saksikan saat ini adalah berkat tradisi keterbukaan, sikap dan budaya kritis. Budaya kritis itu telah menular ke seluruh pelosok dunia, dengan kecepatan penularan yang sangat tinggi.

Budaya kritis itu juga menular ke masyarakat Nias. Itulah yang sedang kita saksikan ketika masyarakat Nias misalnya melontarkan kritik terhadap para pemimpinnya di Nias sana. Itulah juga yang kita saksikan ketika sebagian dari Ono Niha yang memiliki akses ke internet mengajukan berbagai pertanyaan tentang tafsiran P. Johannes terhadap makna Teteholi Ana’a. Kritik yang dilontarkan dalam berbagai bentuk, gaya, intonasi, dan intensitas itu intinya adalah satu dan sama: “jawablah kami, jelaskanlah kepada kami” ! Tiada inti lain, dan tiada maksud lain.

Adalah wajar masyarakat Nias mengharapkan P. Johannes Hammerle mau “turun ke lapangan diskusi” dan menjawab semua kritik terhadap karya-karyanya di bidang budaya Nias, kritik yang muncul dalam berbagai penampilan: halus, kritis, keras, menggigit, rasional, emosional, dan seterusnya. P. Johannes sebagai “pakar” budaya Nias, sebagai “The Keeper of Nias Forgotten Culture” tidak bisa menghindari menjawab berbagai pertanyaan dalam bentuk kritik ini, misalnya saja dengan dalih “ini bukan forumku, karena forumku adalah forum internasional”.

Dalih semacam itu hanya akan melahirkan dua penafsiran baru yang lebih keras: (1) P. Johannes menunjukkan arogansi sehingga tidak mau berbicara dengan pemerhati budaya lokal yang tiada lain adalah Ono Niha sendiri (“darah daging”-nya sendiri karena beliau selalu mengidentikkan diri dan karenanya telah menjadi bagian dari Ono Niha), yang sebenarnya merupakan subjek-subjek yang akan mengambil keuntungan besar dari hasil-hasil karyanya di bidang budaya, dan (2) ini adalah wujud ketidak-mampuan P. Johannes untuk menangkis kritik-kritik yang ditujukan kepadanya. Dengan kata lain P. Johannes sendiri tidak memiliki keyakinan akan kebenaran berbagai penafsirannya tentang budaya Nias.

Berbicara di forum internasional tidak serta merta harus dianggap sebagai sebuah prestasi yang mengagumkan atau sebagai bukti kepakaran seseorang, terlebih kalau di forum seperti itu kita tidak menemukan pakar lain yang memahami bidang kita. (Sebagai catatan: saat ini, selain P. Johannes, kita tidak menemukan nama lain yang berkibar di dunia antropologi dengan spesialisasi budaya Nias). Kalau itu yang terjadi (dan hal itu sering terjadi), maka forum semacam itu, walau berstatus “skala internasional” akan dengan mudah terjerumus menjadi forum penumpahan informasi sepihak tanpa menghasilkan pengasahan ide-ide.

Tanpa bermaksud mengurangi rasa kagum pada karya-karya tulis P. Johannes, kita boleh berkomentar sebagai berikut. Menulis sebuah buku, apalagi sejumlah buku pada bidang yang sama memamg sedikit banyaknya memberikan gambaran tentang minat kita akan hal tertentu. Akan tetapi menulis buku, apalagi yang diterbitkan sendiri oleh penulisnya, tidaklah serta merta menjadi tolok ukur kepakaran seseorang dalam bidang tertentu. Dalam dunia ilmiah, kepakaran biasanya dikaitkan dengan pembelaan tesis secara lisan di hadapan para penguji atau secara tertulis dengan menjawab para penilai isi tesis. Karena tidak semua pakar menulis tesis, masih ada jalur lain yang dapat ditempuh untuk menunjukkan kepakaran: menulis pada jurnal ilimiah. Menulis untuk suatu jurnal ilmiah jauh lebih tinggi nilainya dari pada mengirim sebuah karangan ilmiah pada sebuah konferensi. Hal ini dapat dimaklumi: di konferensi-konferensi (walau yang beratribut “ilmiah” sekali pun”), tidak jarang makalah diloloskan begitu saja tanpa saringan ketat, karena target penyelenggara adalah menjaring sebanyak-banyaknya peserta konferensi.

Peter Suzuki, terlepas dari berbagai kelemahan disertasinya tentang budaya Nias, telah melalui proses yang normal dalam dunia ilmiah itu. Bahwa akhirnya pendapat Suzuki mendapat kritikan tajam dari berbagai pihak, termasuk P. Johannes, adalah hal yang wajar saja dalam dunia ilmiah. Yang tidak wajar adalah apabila kritik atas kritik tidak diterima sebagi sebuah kritik yang wajar.

Kini giliran P. Johannes seharusnya bertindak sebagai guru atau suhu budaya Nias dengan mengajak generasi muda Nias berbincang-bincang tentang budayanya. “Böli Hae ! Jangan terengah-engah dalam memikirkan kebudayaan Nias.” Ini adalah pesan P. Johannes dalam buku “Asal-Usul …”. Ini bisa diartikan sebagai pesan penggugah semangat dari P. Johannes kepada generasi muda Nias.

Kalau P. Johannes tidak menampik gelar sebagai “pakar” budaya Nias dan tak berkeberatan dengan julukan “the Keeper of Nias Forgotten Culture”, maka beliau seharusnya juga siap menerima terpaan angin kritik atas karya-karyanya dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat Nias, khususnya generasi mudanya yang sedang haus-hausnya akan pemahaman yang kritis tentang berbagai hal, termasuk masalah budaya.

Di sinilah letaknya relevansi kesediaan P. Johannes “turun” dari “teteholi ana’a” kebungkaman. (eh)

Tags:

32 Responses to “P. Johannes Seharusnya Tidak Bungkam”

Pages: [1] 2 3 4 » Show All

  1. 1
    Jenk Iskhan Says:

    Kalau tak salah, diskusi kita tempo hari sampai seputar tafsir syair hoho Ama Rozaman “Ba mifurinia me so niha”… Yah… sekedar mengingatkan aja. 🙂

  2. 2
    Toni Hia Says:

    Berpacu… dalam (melodi) kebungkaman… kita masih sabar menunggu… berita kepada kawan… atau… kita tanya pada rumput yang bergoyang… barangkali di sana ada jawabnya. Yaahowu Pastor!

  3. 3
    Bebalazi Says:

    Wah…. Tampaknya sdr. E. H masih penasaran ya…. Aku sendiri mendukung sikap P. Johannes itu. Tak ada yang perlu dijawab di sini. Bila ada yang tak setuju dengan pendapatnya dalam buku yang sudah dia tulis, biarlah yang keberatan itu menulis buku dengan versi yang sesungguhnya. Sebab berbicara itu termasuk Hak Azasi manusia. Jadi, bicara atau tidak mau bicara dalam website ini, kan bukan suatu kewajiban.

    Jadi, saya lebih cenderung berpendapat, biarkanlah P. Johannes diam bila ia mau diam, dan berbicara/menjawab bila ia juga mau untuk itu.

    Aku justeru tidak melihat adanya sikap arogansi dari P. Johannes bila ia tidak mau menanggapi komentar di sini. Justeru aku melihat arogansi dari desakan untuk menjawab yang ditujukan kepada P. Johannes dalam tulisan ini, heheee…tapi mungkin begitulah adanya sang penulis tulisan ini.

    Salam

  4. 4
    Sin Liong Says:

    Tatkala Galileo Galilei pertama kali melihat bintik-bintik matahari, dia mendapat surat yang mengandung pertanyaan dari seorang ilmuwan amatir Jerman bernama Marcus Welser. Surat itu diterima Januari 1612, saat Galileo masih di Vila delle Selve (dekat kota Fiorentina), isinya adalah:

    ”Pikiran manusia berupaya menjangkau langit dan memperoleh kekuatan dengan setiap hal baru yang diperolehnya. Anda telah memanjat diding itu dan menggondol mahkota. Kini, yang lainnya mengikuti langkah Anda dengan keberanian yang lebih besar. Mereka sadar bahwa sekali Anda sudah membuka jalur yang keras itu untuk mereka, bodoh sekali jika mereka tidak melanjutkannya dengan rasa bahagia dan penuh kehormatan. Lihatlah apa yang dilakukan oleh seorang temanku. Mungkin ini bukan sesuatu yang baru untuk Anda, saya kira, tetapi sekurang-kurangnya saya berharap Anda akan senang mengetahui bahwa di balik pegunungan sana ada orang-orang yang mengikuti jejak Anda. Mengenai bintik-bintik matahari ini, tolong bantulah saya dengan mengatakan pendapat Anda sejujurnya – apakah Anda menganggap mereka sebagai benda-benda sejenis bintang atau tidak, dan di manakah menurut Anda tempat mereka, dan apakah sesungguhnya pergerakan yang dilakukan mereka.”

    Galileo Galilei tidak punya kewajiban menjawab surat itu, tapi toh dia menghabiskan waktu nyaris empat bulan untuk merumuskan jawabannya. Atas jawaban Galileo, Wesler membalas dengan penuh terima kasih, ”Anda telah memperlihatkan perhatian yang besar dengan mengirimiku sebuah risalah untuk menjawab sedikit kalimatku”.

    Akankah sejarah empat abad yang silam akan berulang?

  5. 5
    Bebalazi Says:

    Anda betul. Terlalu capek merumuskan hal sepele seperti itu. Apapun ceritanya, itu berarti bahwa Galileo Galilei MAU untuk menjawab. KeMAUannya untuk menjawab, itu juga pengaplikasian dari haknya bukan?

    So sekarang beralih pada pembicaraan kita ini. P. Johannes juga mempunyai cara untuk menggunakan haknya berbicara atau tidak. Dan pikirku sih… website seperti ini tidak punya otoritas untuk mewajibakan orang lain untuk terlibat diskusi dalam web ini.

  6. 6
    Sin Liong Says:

    Sama halnya Galileo Galilei, Sigmund Freud juga ikhlas menjawab orang-orang yang bertanya apa saja tentang psikoanalisa. Keduanya menjawab bukan sekedar karena dorongan kemauan naluriah, namun lebih dipengaruhi oleh sikap intelektual dan tanggung jawab moral atas sesuatu teori yang mereka bangun dan justru ingin diteguhkan dengan berbagai dialog, di mana pun, dengan siapa pun, dan apa pun medianya.

  7. 7
    Bebalazi Says:

    Sayang sekali, aspek naluri dan cognitio adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan di dalam diri manusia. Pemisahan antara keduanya menghasilkan manusia fragmentaris. Berikut, ketika kita berbicara soal pilihan, itu melibatkan cognitio dan voluntas yang menyatu dalam suatu atribut: pertimbangan. Dan hal itu berkaitan erat dengan nilai yang akan dicapai dan diperoleh.

    Karena itu, berbicara atau diam itu juga merupakan suatu pilihan yang dimelibatkan aspek cognitio dan voluntas hingga sampai pada suatu keputusan untuk bertindak: mau atau tidak.

    So. P. Johannes… Bila anda merasa bahwa menanggapi mereka ini sangat bernilai dan bermanfaat, saya mendukung anda untuk menjawab. Namun bila anda merasa bahwa ini tidak bermanfaat dan bernilai (hanya buang-buang waktu), maka aku juga mendukungmu. Bukankah orang lain sering mengobjekkan sesamanya. Lebih baik segala tanggapanmu dalam situs ini anda tuliskan saja dalam bentuk buku dari pada bersusah payah menjelaskannya di sini.

    Di sini orang hanya pintar membaca buku dan membuat rangkuman atasnya, tapi tidak tahu mau buat apa untuk menyumbangkan sesuatu untuk menggali dan melestarikan kebudayaan leluhurnya.

  8. 8
    Sin Liong Says:

    Sikap intelektual ada dalam diri seseorang manusia, sedangkan tanggung jawab moral ada dalam relasi dan bahkan interaksi dengan manusia lain. Tanpa interaksi yang harmonis, cenderung “menyepelekan” orang lain yang ingin berdialog, apalagi dibumbui dengan penilaian, pernyataan, dan sikap yang berwarna emosional, maka kita akan terjebak dalam sindrom antisosial.

    Dukung-mendukung tanpa melihat substansi hanya ada dalam retorika politik maupun psikologi massa, tidak dalam interaksi intelektual.

  9. 9
    Bebalazi Says:

    heheheheheee Sin Liong… membaca komentar anda yang seolah-olah intelek di atas, aku hanya tersenyum-senyum saja dan berkata: “Itu bumerang bagi pernyataan dan sikapmu sendiri”.

    Karena itu akupun mengundurkan diri dari diskusi ini, heheheee….

  10. 10
    Sin Liong Says:

    Terima kasih Bebelazi, senang berinteraksi dengan Anda. Adios.

    Salam takzim dari Kupang.

Pages: [1] 2 3 4 » Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

September 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930