Prof Dr Komarudin Hidayat — Upaya Menciptakan Budaya Unggul

Tuesday, September 11, 2007
By susuwongi

“Di antara budaya-budaya besar yang pernah singgah di Nusantara ini, ternyata kita belum menghasilkan budaya unggulan sebagai sebuah bangsa. Budaya-budaya dari peradaban besar, seperti Hindu/Buddha, Islam, dan Eropa, yang pernah mampir hanya menyisakan kemegahan di zamannya. Kita perlu menciptakan budaya unggul untuk membangun Indonesia yang besar.”

Membangun Indonesia yang besar adalah mimpi yang mungkin dilakukan. Angan-angan yang melesat jauh, yang bahkan mungkin di luar kemampuan saat ini. Angan-angan yang kemudian menjadi visi. Selanjutnya, visi yang juga didukung oleh nyali yang besar. Hingga kemudian Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Demikianlah secuil pikiran-pikiran Prof Dr Komarudin Hidayat menanggapi rasa keterpurukan yang melanda bangsa ini. Komarudin Hidayat yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta adalah sosok yang tidak pernah lelah untuk menyemangati bangsanya untuk terus maju.

Melalui berbagai kesempatan, baik di televisi maupun dalam diskusi-diskusi, lelaki kelahiran Magelang, Jawa Tengah, tahun 1953 ini, selalu menyisipkan pesan-pesan untuk bersama-sama membangun Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar.

Gayanya yang kalem dan lemah lembut dalam berbicara memperlihatkan kontemplasinya yang dalam. Mereka yang mendengar saat dia bicara seakan-akan diajak bermimpi bersama. Terus menyimak setiap buah pikirannya.

Lahir di Magelang, Jawa Tengah, 18 Oktober 1953, alumnus pesantren modern Pabelan, Magelang dan pesantren al-Iman, Muntilan ini mendapat gelar sarjananya di IAIN Jakarta. Ia pun mendapat doktor di bidang Filsafat Barat di Middle East Technical University, Ankara, Turki pada tahun 1990.

Kini Komarudin Hidayat adalah salah satu cendekiawan yang terkemuka. Bersama dengan Nucholish Madjid, ia mendirikan Paramadina, yang menjadi wadah pemikirannya bersama Cak Nur. Kini sepeninggal Cak Nur, pandangan-pandangan Komarudin terus melesat jauh.

“Bangsa yang besar itu punya mimpi yang tinggi, visi yang jauh, juga nyali yang besar. Mimpi untuk menjadi bangsa yang besar harus kita bangun sejak saat ini. Bangsa-bangsa besar seperti Jepang, Tiongkok, India, Jerman adalah karena mereka memiliki utopia atas mitos sebagai bangsa yang besar. Mitos-mitos itu memang tidak berlogika, tetapi nyatanya mampu membuat orang mengerahkan segala kemampuannya,” ujar mantan Ketua Panwaslu 2004 lalu.

Indonesia, menurutnya, memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi bangsa besar. Hal yang diperlukan adalah menumbuhkan budaya-budaya unggul di masyarakat kita.

“Dari sekian banyak budaya besar yang pernah menghampiri Indonesia, seharusnya tumbuh budaya-budaya yang mendukung mencapai visi bangsa yang besar,” ujar pria yang akrab dipanggil Komar.

Komar yang pernah melancong ke sejumlah tempat di belahan dunia lain, menyebutkan Borobudur itu bukti bahwa kita pernah punya budaya yang besar.

“Dibanding dengan yang ada di India atau Thailand, Borobudur adalah sebuah pencapaian yang sangat tinggi. Tetapi sayangnya hal itu tidak perhatikan. Lalu bagaimana untuk membangkitkan kembali, kalau itu saja saat ini sudah cenderung dilupakan,” ujar Komar.

Manajemen Aset

Lalu kenapa budaya unggul itu tidak muncul saat ini? Komar menyebutkan saat ini Indonesia tidak memiliki manajemen aset yang baik. Apa yang kita miliki dan bagus tidak terdata dengan baik, padahal aset-aset itulah yang memungkinkan kita untuk menjadi bangsa besar.

“Manajemen yang tepat dibutuhkan untuk membawa kita menuju hal itu. Kita lihat Tiongkok. Mereka membangun Tembok Raksasa itu ribuan tahun. Siapa pun pemimpinnya, misi itu tetap berjalan. Siapa pun pemimpinnya, dia memiliki misi untuk menarik gerbong, bukan melesatkan lokomotifnya sendirian. Kita butuh pemimpin seperti itu,” tambah Komar.

Indonesia memiliki aset yang besar, budaya yang baik, modal alam yang cukup dan sebagainya. Namun apa yang belum kita punya adalah sistem yang baik.

“Yang kita perlukan adalah maju bersama-sama, makmur bersama-sama, bukan makmur sendiri-sendiri,” ucapnya.

Pandangan-pandangan seorang Komarudin Hidayat yang melesat jauh memang tidak lepas dari lingkungan di sekelilingnya. Lingkungan keluarga dan pesantren tempatnya tumbuh menjadikan dirinya memiliki motivasi yang kuat untuk merubah keadaan. Komar kecil hidup bersama sang nenek, Qomariyah, karena ibunda tercinta terlalu cepat meninggalkannya. Besar di pesantren dan lingkungan yang seadanya menancapkan mortivasi dalam dirinya untuk menolong sesama.

Komar juga mengkritisi munculnya budaya-budaya instan belakangan ini. Bangsa ini, tutur Komar, cenderung memiliki budaya ngomong bukan membaca. Ketika budaya membaca akan digalakkan, muncul televisi yang juga memberikan hal-hal yang instan. Di tambah lagi dari sisi politik muncul budaya khotbah dan cenderung agitasi.

“Padahal membaca akan merangsang orang tidak hanya menggunakan satu sisi otaknya saja. Dengan membaca otak kiri dan kanan akan bekerja. Orang tidak hanya berpikir secara rasio, tetapi sisi seninya pun terangsang untuk bekerja. Itulah yang membuat orang- orang besar dahulu mencapai apa yang diimpikan,” tuturnya. [SP/Kurniadi]

Sumber: www.suarapembaruan.com, 11/9/07

One Response to “Prof Dr Komarudin Hidayat — Upaya Menciptakan Budaya Unggul”

  1. 1
    handri Says:

    Kalau yang empat pilar pembangunan bangsa apakah ada uraiannya pak?

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

September 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930