Internet Pita Lebar Dekati Keekonomian

Friday, May 4, 2007
By nias

PERTUMBUHAN industri internet berpita lebar (broadband) selama ini sangat terhambat oleh terbatasnya bandwidth yang dimiliki operator telekomunikasi, terutama untuk akses situs-situs global. kendati persentasinya terus turun, namun hingga kini masih sekitar 68% dari total akses yang dilakukan pengguna internet Indonesia.

Namun tidak berapa lama lagi, keterbatasan dalam mengakses jaringan internasional bisa dikurangi sehingga pertumbuhan internet termasuk e-commerce di Indonesia bisa dipacu lebih cepat lagi.

Pada akhir tahun 2008 mendatang, sebuah jaringan kabel serat optik bawah laut yang terbentang membelah Samudra Pasifik sepanjang 20.000 km selesai dibangun. Saat itulah kita bisa menikmati akses internet yang jauh lebih cepat dan diharapkan bisa lebih murah.

Jaringan kabel yang disebut-sebut memiliki kapasitas terbesar di dunia, 1,92 terabyte per second ini dimiliki konsorsium Asia-America Gateway (AAG). Telkom yang ikut konsorsium dengan investasi USD 40 juta akan mendapatkan kuota 40 Gbps atau lima belas kali lipat dari kapasitas sekarang yang hanya 2,5 Gbps. Selain itu Indosat juga memutuskan bergabung dengan konsorsium AAG, namun dengan jumlah yang tidak signifikan.

Dengan demikian, revolusi layanan broadband diperkirakan akan bergerak lebih cepat dengan layanan-layanan yang lebih beragam serta harga yang terjangkau.

Selama ini akses dari Indonesia ke jaringan global dilakukan melalui beberapa jaringan. Seperti Dumai Melaka Cable System (DMCS) dengan kapasitas bandwidth 10 Gbps, Thailand-Indonesia-Singapore (TIS) Cable System dengan kapasitas 10 GBPS, Radio Link Batam-Singapore dengan kapasitas 4 STM-1, dan Radio Link Batam-Pangerang (Malaysia) dengan kapasitas 4 STM-1. (STM-1 setara dengan 155 Mbps)

Keterbatasan bandwidth bisa juga tercermin dari infrastruktur yang dimiliki oleh Telkom sebagai pemain dominan dalam industri internet (65%). Saat ini Telkom hanya memiliki kapasitas ke bandwidth global sebesar 2,5 Gbps dan menurut rencana akan diperluas menjadi 5 Gbps pada Semester II 2007. Dari kapasitas sebesar ini, 87% sudah dipakai untuk layanan Speedy sehingga bisa dibayangkan bagaimana bisa memberi layanan broadband yang lain seperti video streaming, IPTV, VPN, dll bila hanya tersisa kanal yang terbatas.

Bandingkan dengan Malaysia yang memiliki kapasitas ke jaringan global hingga 20 Gbps, bahkan Singapura tampaknya siap menerima berapa pun besarnya permintaan akses ke jaringan global (no limit).

Padahal, fakta menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia menempati urutan ke-13 dunia (18 juta orang), angka ini diperkirakan akan terus meningkat dan mencapai 50,4 juta orang pada tahun 2008. Potensi pasar di dalam negeri juga terbilang besar mengingat penetrasi internet broadband yang masih terbilang kecil.

Sehingga tak heran, dengan bandwidth dan pengguna yang terbatas, skala keekonomian juga semakin sulit dicapai. Artinya tarif yang dibebankan kepada para pengguna juga menjadi relatif lebih mahal dengan akses ke jaringan global yang agak tersendat.

Tingginya biaya akses dan keterbatasan bandwidth inilah yang menjadi salah satu faktor Indonesia memiliki Digital Acess Index (DIA) 0,34 dari maksimum 1 (medium acess) atau peringkat ke-51, satu peringkat dibawah Mongolia.

Dari sisi penetrasi, internet broadband (0,1%) dan internet rumahan (0,6%), Indonesia termasuk yang paling rendah di Asia dan dunia. Bandingkan dengan Hong Kong, Taiwan, dan Korea yang sudah memasuki tahap revolusi broadband dengan penetrasi di atas 100%. Jangankan dengan negara-negara tersebut, untuk negara setingkat Filipina dan Thailand pun Indonesia sudah ketinggalan.

**

KUOTA yang diperoleh Telkom di luar Indosat dalam konsorsium ini sekitar 40 Gbps dan bisa diperluas hingga kisaran 65-70 Gbps yang diharapkan bisa dicapai dalam kurun 4 tahun.

Dalam konsorsium ini Telkom masuk dalam ketegori investor tier 1 dengan investasi 40 juta dolar AS. Dalam tier 1 ini tergabung delapan dari 17 operator yang juga memperoleh kuota paling besar di antara anggota konsorsium lainnya.

Bagi Telkom, ikut dalam konsorsium AAG ini adalah pilihan yang dinilai paling strategis dibanding bila harus membeli ataupun menyewa bandwidth seperti sekarang ini sehingga dengan biaya produksi yang bisa ditekan, pelanggan yang bertambah, maka tingkat keekonomian pun bisa lebih ditingkatkan.

Asumsinya pertumbuhan pelanggan broadband yang cepat, membutuhkan kapasitas bandwidth yang besar dan menyebabkan harga bandwidth turun.

Telkom sendiri memproyeksikan tarif broadband turun 20-30% pada tahun ini dan diproyeksikan akan terus turun sejalan dengan meningkatnya pengguna. Dengan kondisi ini penetrasi internet diharapkan akan ikut terdongkrak termasuk besaran indeks akses digital dan membuat Indonesia lebih diperhitungkan dalam kancah internasional.

Kuota 40 Gbps merupakan angka yang cukup besar bila dianalogikan kanal sebesar ini bisa diisi oleh 3 juta satuan sambungan Speedy. Tentunya kanal yang besar ini tidak akan sepenuhnya dialokasikan untuk layanan Speedy. “Ini membuka kemungkinan diversifikasi layanan broadband seperti pay TV,” ujar Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah.

Telkom mencanangkan pada 2009, saluran telefon bisa dipakai oleh tiga fungsi sekaligus (triple play) yakni video, data, dan suara.

Saat ini, seluruh trafik internet dari Amerika Serikat melewati Asia Utara seperti Jepang, Korea, dan Cina. Kebanyakan dari jaringan ini melewati wilayah yang disebut Pacific Ring of Fire yang dikenal dengan daerah bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan gunung berapi.

Kita masih ingat beberapa waktu lalu trafik internet terganggu akibat gempa bumi yang melanda kawasan Taiwan. Kejadian itu menyebabkan beberapa sistem jaringan rusak, mengakibatkan gangguan di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Konstruksi AAG dikomplain sebagai jaringan yang aman baik dari sisi rute maupun teknologi yang digunakan. Hal ini diharapkan bisa menghasilkan sebuah trafik yang lebih stabil dan jaringan yang lebih fleksibel.

Pacific Ring terbentang pada jalur sepanjang 40.000 km berbentuk sepatu kuda. Mulai dari kawasan timur Australia, Indonesia, Filipina, Jepang, kawasan Alusia, masuk ke Pantai Barat Amerika Serikat dan berakhir di Peru serta Argentina. Sekitar 90% gempa bumi di dunia terjadi di kawasan ini, bahkan 81% dari gempa bumi berskala besar terjadi di Pacific Ring.

Sedangkan jaringan AAG “menyeberang” Samudra Pasifik melewati Guam, Hawaii, dan berujung di San Luis Obispo Amerika Serikat.

Ini adalah satu-satunya jaringan yang menghubungkan langsung Benua Asia dengan Amerika Serikat. Ekspansi dari jaringan kabel serat optik bawah laut ini bisa menjadi backbone bagi landing point lainnya di kawasan Eropa, Afrika, dan Australia.

Dengan akses langsung ke Amerika Serikat melalui kanal yang sangat besar serta sistem keamanan yang menjamin stabilitas trafik, tentunya akan menjanjikan bagi pasar Indonesia.

Namun sayangnya, jaringan AAG ini tidak memiliki landing point di Indonesia sehingga Telkom harus kembali mengeluarkan biaya untuk membangun jaringan kabel baru. Bila tidak, sayang kanal yang sudah besar ini tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. (Dadang Hermawan/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 2 Mei 2007

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

May 2007
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031