Irasional: Dentuman Kesalahkaprahan

Monday, April 30, 2007
By nias

*Tanggapan atas Tulisan Pak E. Halawa: “Irasionalitas yang Selalu Mengikuti Gerak Kita”

Oleh: Ollyanus Yarman Zb

Pengantar
Saya merasa begitu senang saat Pak E. Halawa menguraikan lebih banyak lagi tentang irasionalitas dalam tulisan terakhirnya ”Irasionalitas yang selalu mengikuti gerak kita”. Tulisan saya berikut ini juga merupakan sejumlah keraguan atas banyak hal tentang irasionalitas terlebih merujuk pada jawaban Pak E. Halawa atas tulisan saya ”Ir[r] sionalitas dan Kemampuan Berpikir”. Sekaligus mencoba menjelaskan irasionalitas dengan pemahaman-pemahaman yang baru.

Tulisan ini pertama-tama bukan untuk menyudutkan atau menyalahkan siapapun namun untuk memahami lebih baik lagi kebenaran tentang irasionalitas. Dengan melandaskan pada pertanyaan, ”betulkah semuanya itu dapat kita rangkum [masukkan] dalam kata ”irasionalitas?”

Irasionalitas dalam Irasionalitas yang Selalu Mengikuti Gerak Kita

  1. Tulisan Ini mengangkat difinisi irasionalitas berdasarkan www.http://dictionary.reference.com dan juga dari The Cambridge Dictionary of Philosiphy – CDP yang bisa dibaca kembali dalam artikel Pak E. Halawa.
  2. Irasionalitas berkaitan dengan kealpaan penalaran yang sehat atau ketidakmampuan atau ketidakmauan menggunakan nalar dalam berpikir, bertindak, bersikap, memandang, dst.
  3. Iroasionalitas Bung Ollyanus terletak pada ”keinginan untuk segera menggempur, keinginan untuk segera masuk dalam ”medan perang”… kelengahan semacam ini termasuk irasionalitas. Dalam pragraf sebelumnya tertulis saya mensinyalir kata ”terburu-buru” pun masuk dalam nominasi irasionalitas.
  4. Irasionalitas terjadi saat seseorang ”gagal” berusaha secara maksimal untuk mencapai tujuannya.
  5. Irasionalitas: tak mau berpikir lagi secara logis dan bertanya:”bukankah uang nilam ini pada akhirnya habis juga?” Kalau saja yang bersangkutan mau atau mampu berpikir secara jernih….”
  6. Irasionalitas: saat kehilangan keseimbangan kesadaran, dan tidak lagi berpikir secara logis… keputusan yang ”dimasukkan: ke dalam pikirannya oleh si pembujuk.
  7. Bung Ollyanus terjebak dalam irasionalitas yang disebut di depan karena merasa ada peluang [berupa ajakan] dan tantangan.
  8. Orang yang memiliki kadar irasionalitas yang tinggi mudah tunduk pada persuasi dan provokasi.
  9. Irasionalitas [nyata] terjadi saat dalam kenyataannya ”bualan” salesman tadi tidak menjadi kenyataan: si pembeli HP tetap saja kuper….
  10. Irasionalitas terjadi saat siapapun tidak ”menyaring” informasi [read between the lines]. Orang yang irasional terpesona dengan bualan salesman tentang enaknya memiliki HP.

Pemahaman tentang irasionalitas dalam tulisan ini [tulisan Pak E. Halawa] dengan beberapa poin yang sudah saya tulis di atas sepertinya telah memberi gambaran yang jelas bahwa semua itu irasional. Namun, rasanya ada sesuatu yang seakan-akan termanipulasi dan menjadi irasional. Secara singkat semua poin terjadinya irasionalitas didasarkan pada [setidak-tidaknya]:

  1. Pertimbangan nalar yang kurang, tidak matang dan tidak jernih.
  2. Terburu-buru [disinyalir tanpa kemampuan bernalar] tidak ada maksimalisasi kemampuan
  3. Unsur eksternal yang dimasukkan

Kerangka Pemahaman Irasionalitas
1. Cara berpikir.
a. Tatkala seseorang menggunakan sebuah frame untuk melihat sesuatu yang terjadi pastinya sebuah pemilahan yang jelas antara A dan yang bukan A. Memang, kita tidak akan pernah bisa membuat sesuatu tanpa sebuah frame. Tetapi sebaiknya kita menyadari bahwa frame ini, cara pandang ini, kerap menutup segala kemungkinan yang ada. Bahkan dalam menanggapi sesuatu kita mempunyai kecenderungan masuk dalam frame ini. Misalkan saja secara sederhana, tulisan “Irasinalitas yang selalu mengikuti gerak kita” didasarkan pada frame “kamus dan kata kamus”. Sehingga secara tidak sadar [mungkin ini yang dimaksud irasional berdasarkan tulisan itu] penulis terperangkap, dipengaruhi oleh kata kamus. Bukankah ada yang hilang di sana? kemampuan secara maksimal […knowingly fail to do your best…] untuk berpikir sesuatu selain definisi kamus. Lihat, kita menyerahkan semuanya pada kata kamus dan seluruhnya dijabarkan berdasarkan pada definisi kamus. Adakah sesuatu yang kita dapatkan selain itu? Saya bukan berkata bahwa kata kamus ini salah. Tapi pada cara kita berpikir untuk melahirkan sesuatu yang baru.

b. Dalam cara berpikir selalu saya akan membedakan ada dua kerangka berpikir yang berbeda. Pertama, orang yang mengatakan sesuatu sebagai irasional. Orang ini pastinya masuk dalam kerangka berpikir yang lain dari orang yang dianggapnya bertindak irasional. Ia beranggapan bahwa ia sudah mengetahui semuanya dan akhirnya membedakan tindakan dan sikap sebagai irasional. Yang pada awal dari semua itu, ia telah masuk dalam frame yang ia percayai, ntah itu benar ntah salah, sehingga ia mampu menguraikan semua itu. Dalam contoh salesman dan konsumen, kitalah yang mengatakan tindakan yang terjadi di sana, sebagai irasional. Jadi, orang yang pertama ini telah memakai kacamatanya sendiri [berdasarkan pengetahuannya] untuk mengatakan sesuatu sebagai irasional. Kedua, orang yang melakukan aksi itu sendiri – dalam hal ini kita sebut salesman dan pembeli. Saya meragukan dan mempertanyakan, benarkah pada saat mereka melakukan “aksi” mereka masing-masing masuk dalam kategori irasional? Saya berpendapat, dalam konteks mereka pada saat itu tidak ada tindakan, sikap, berpikir, memandang yang layak disebut irasional. Mengapa? Karena mereka menggunakan daya nalar mereka untuk melakukan sesuatu. Dan di saat itu, istilah ketidakmampuan atau ketidakmauan bersikap dan bertindak dengan nalar, sama sekali tidak ada dalam konteks mereka. Pada akhirnya, yang menyimpulkan bahwa tindakan mereka masuk dalam irasionalitas,sekali lagi, adalah orang yang pertama. Mengapa? Karena ia telah memiliki frame tentang irasionalitas. Tetapi, lagi-lagi, irasionalitas itu sendiri tidak ada dalam kejadian [konteks] orang di pihak kedua [pada saat itu]. Bayangkanlah kita sebagai orang dalam konteks kedua. Pernahkah kita akan berkata bahwa apa yang kita lakukan masuk dalam irasionalitas. Atau jangan-jangan, kita tidak pernah mengenal kata itu?

irasional

Lihatlah, di sini terjadi sebuah proses ketertutupan pada cara berpikir kita sendiri. Mendasarkan semuanya pada pengetahuan yang kita miliki, apalagi jika berdasarkan kamus. Padahal ada banyak kemungkinan yang [mungkin] menyatakan bahwa sesuatu itu tidak ada [dalam konteks mereka].

2. Distansi
a. Distansi merupakan sebuah jarak [interval] dua hal, subyek-obyek, atau lebih. Dalam pemahaman yang lebih jauh lagi, distansi kerap masuk dalam sebuah penyimpulan. Misalkan dalam konteks salesman dan pembeli, yang menyatakan bahwa di sana [mungkin] ada irasionalitas adalah orang yang mengamati kejadian itu. Jadi, lihatlah terdapat jarak [minimal atau maksimal] dari konteks kedua dan pengamat. Saat terjadi jarak yang seperti ini, ada kemungkinan kesalahkaprahan kita tentang sesuatu. Husserl – seorang fenomenologi – pernah menuliskan ”saat kita melihat rumput dan mengatakan bahwa warnanya hijau, sebenarnya apa yang kita katakan itu tidak sama persis dengan aslinya”. Ada sesuatu yang tidak sama. Alasannya adalah kita sendiri telah mempunyai pengetahuan tentang hijau, atau sesuatu yang lain itu.

b. Dalam tulisan ”Irasional yang selalu mengikuti gerak kita”, tertulis bahwa irasional adalah kata sifat, bukan sesuatu melainkan sifat dari sesuatu. Di sini pun terjadi distansi itu. Benar, bahwa semua itu kata kamus, irasional adalah adjective. Sepertinya penulis menyerah hanya sampai pada titik itu. Lihat, yang terjadi mungkin distansi yang sangat minimal sehingga kita tidak berpikir sesuatu yang lain lagi selain kata kamus. Hal ini terjadi dalam wilayah yang sangat umum karena dianggap irasional telah bersatu erat dengan keseharian manusia atau bahkan telah menjadi sifat dari manusia. Maka, irasional menjadi sifat memang. Bandingkan dengan pengertian ini, irasional berarti ”sesuatu” yang tidak diketahui karena kegelapan sesuatu yang tidak dapat dimasuki akalbudi….” [Loren bagus, Kamus Filsafat, Gramedia Pustaka Utama, jakarta, 1996, hlm 370]. Saya sengaja memberi tanda kutip pada ”sesuatu” untuk menyatakan irasional bukan hanya kata sifat tapi juga merupakan sesuatu dari sesuatu. Dalam tulisan Pak E.Halawa tertulis, ”orang yang irasional mengambil keputusan juga, tetapi bukan keputusan yang rasional, melainkan keputusan yang DIMASUKKAN ke dalam pikirannya oleh si pembujuk. Saya sengaja menuliskannya dengan huruf kapital untuk membandingkannya dengan tulisan yang saya garis bawahi di atas.

c. Dalam tulisan Pak E. Halawa ada sebuah pertanyaan yang ia lontarkan kepada saya : ”Bagaimana mungkin anda memikirkan sesuatu tetapi pada saat yang sama sesuatu itu tidak terpikirkan?” Pernahkah anda melihat seseorang yang sepertinya pernah anda temui sebelumnya? Tapi pada saat itu anda tidak bisa mengingat lagi, kapan, di mana itu terjadi? Jika anda pernah mengalami hal ini atau ada orang lain yang mengalami hal ini, itulah jawabannya.

Saya begitu terkejut sekali, saat penulis ”Irasionalitas yang selalu mengikuti gerak kita”, langsung mengaitkan irasionalitas dengan kesadaran. Pada hal ini adalah dua hal yang sangat berbeda.

  1. Kesadaran merupakan kompleksitas [keutuhan] manusia. Namun, kesadaran bukanlah sebuah keadaan. Saya mensinyalir kesadaran diartikan penulis sebagai sebuah keadaan yang selalu digempur oleh irasionalitas. Padahal kesadaran adalah sebuah fungsi yang menangkap keadaan-keadaan yang ada di sekitarnya atau yang mendahuluinya. Dan kalaupun kesadaran dihubungkan dengan irasionalitas, menurut saya, irasionalitas hanyalah salah satu bagian terkecil dari kesadaran. Yang menangkap sesuatu yang pada saat itu mungkin tidak disadari oleh orang lain. Tetapi kita mengatakannya irasional. Saya mengambil contoh tentang teori heliosentris yang dicuatkan oleh Galileo Galilei dari pendahulunya Copernicus. Sebelumnya semua percaya pada geosentris. Dan ketika muncul teori heliosentris banyak orang berkata [mungkin] ”irasional”, gila, tidak mungkin. Maka, GalileoGalilei akhirnya dihukum. Maka, dalam hal ini, irasional bukanlah yang dimasukkan tapi yang dimasuki oleh Galilei.
  2. Saya mempunyai kesan bahwa sikap buru-buru, bahkan juga bualan yang tidak menjadi kenyataan, masuk dalam irasionalitas. Tentunya, mungkin penulis mengaitkannya dengan kesadaran juga [menurut saya]. Saya akhirnya mendapat kesan bahwa irasionalitas – bahkan dalam tulisan Pak E.Halawa – dianggap sebagai ”proses” negatif dalam hidup manusia. Sehingga, ia menuliskan ”menyadari keberadaan kondisi-kondisi itu sangat menolong kita untuk menekan gempuran irasionalitas”. Saya menyebutnya sebagai proses karena pastinya tidak langsung ada begitu saja. Kelihatannya, ini adalah pemahaman dan fungsi kesadaran yang ditempatkan di posisi yang salah. Kesadaran itu tidak pernah menekan, tetapi ada untuk memahami setiap keadaan, agar orang mengetahui ini yang sedang terjadi. Irasionalitas tidak selamanya bernilai negatif dan harus ditekan. Irasionalitas pun bukan hanya dalam konteks ketidakmampuan atau ketidakmauan bertindak, bersikap dengan nalar. Tetapi juga merupakan loncatan-loncatan, pemikiran-pemikiran, yang ”dahsyat” yang tidak dimengerti orang. Karena orang-orang yang biasa itu pastinya akan berkata irasional, karena mereka memang tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Dan jangan-jangan, saat kita mengatakan sesuatu itu irasional, mungkin kita sendiri yang tidak mampu berpikir sejauh yang orang lain mampu.

Penutup
Irasionalitas bukan hanya kelemahan namun juga kekuatan yang seharusnya kita pahami lagi. Dalam untaian tulisan di atas saya hendak melihatnya dalam konteks dialogal, mengangkat setiap kemungkinan yang bisa terjadi dan bukan hanya berdasarkan kata kamus. Sekali lagi, bukan berarti kata kamus itu salah, hanya menurut saya kamus selalu berada pada wilayah umum. Selain itu jangan pula lupa bahwa apa yang dibukukan hanya pernyataan bahwa sesuatu dipahami pada saat itu dan ada kemungkinan akan berkembang. Kemungkinan inilah yang hendak saya usung. Karena kerap, apalagi dalam dunia sains yang terjadi adalah menilik suatu hal dari satu bidang ilmu saja, yangboleh saya sebut sebagai monolog observation. Mungkin segalanya benar, tetapi itu tidak mutlak.

Note:
Terimakasih kepada Pak E. Halawa yang telah membantu saya memahami lebih baik lagi. Memberi kritik yang membangun bahkan secara tidak langsung mengajari saya bagaimana menggali,mengerti, memperbaiki sesuatu.

Tags:

34 Responses to “Irasional: Dentuman Kesalahkaprahan”

Pages: « 1 2 [3] 4 » Show All

  1. 21
    Jenglot Says:

    Signor: “Tapi lihatlah, jika unsur oksigen itu hilang/lepas dari segelas air murni [menurut anda??] yang anda minum, apa yang akan terjadi saudara Jenglot? Saya yakin, anda tidak sedang minum segelas air murni.”

    Bagus sekali, dan mudah-mudahan mengerucut terus seperti ini. Signor memberikan jawaban yang tepat tentang “esensi” oksigen dalam molekul air. Tanpa unsur oksigen dalam molekul air, air bukan air lagi. Jadi, kita tegaskan lagi: oksigen adalah unsur yang mutlak harus ada dalam air -> oksigen salah satu unsur pembentuk molekul air. Hal yang sama dapat dikatakan tentang helium, tanpa dua atom helium dalam molekul air, air bukan air lagi.

    Akan tetapi pertanyaan semula belum terjawab: “oksigen yang asli” itu yang mana ? 🙂 Kalau jawabannya adalah: oksigen yang membentuk molekul air, ini adalah jawaban Lavoisier atau teman-temannya yang bergelut di bidang kimia. Yang kita inginkan adalah jawaban Husserl dari sisi fenomenologi yang menjadi obsesi Signor sedari awal. Pertanyaan ini mengusik Jenglot karena dalam Respons #5 Laso menyebut metode reduksi (kedua dan ketiga) sebagai berikut:

    “Reduksi kedua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki yang diperoleh dari sumber lain, semua teori dan hipotesis yang sudah ada.

    “Dan, reduksi ketiga: menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain harus, untuk sementara, dilupakan.”

    Persoalannya adalah, ketika kita berbicara tentang oksigen sebagai “salah satu unsur pembentuk molekul air”, kita telah menggunakan “pengetahuan tentang obyek yang diselidiki yang diperoleh dari sumber lain” dan kita masih “menggunakan tradisi pengetahuan” dan “sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain”, dalam hal ini teori dan penjelasan para ahli kimia.

    Lantas, mana “oksigen yang asli” menurut Husserl atau Signor ? 🙂 (Harapan saya, jawaban Husserl, atau Signor, berbeda dengan jawaban Lavoiser dkk, si ahli kimia 🙂 )

  2. 22
    Laso Says:

    Bung Signor (# 14) berupaya mencari banyak kemungkinan melalui fenomenologi Husserl, dengan mengesampingkan deduksi. Namun dia sendiri terjebak deduksi ketika merujuk Guru Besar UNPAR tentang oksigen. Jadinya, saya ikutan Dinar aja meniru Bang Napi: “waspadalah… waspadalah” (hehehe).

    Untuk menjawab Bung Jenglot tentang oksigen, prediksi saya Bung Signor mampu menjawabnya, asal dia mau merefleksi. Yang perlu direfleksi, bahwa pengetahuan merupakan hasil kerjasama dua unsur, yaitu: pengalaman inderawi dan keaktifan akal budi (Immanuel Kant). Maaf, saya tidak mau menjawabnya mewakili Bung Signor, karena terikat postulat ketiga Husserl tentang reduksi.

    Tentang “aslinya hijau” yang dikutip itu, saya rasa (mungkin) konteksnya (atau terjemahannya) kurang pas. Husserl sendiri pun kalau ditanya “aslinya hijau dari rumput itu” kewalahan menjawabnya.

    Ah… jangan dengarkan saya Bung Signor, kita terikat postulat ketiga Husserl, karena yang diminta Bung Jenglot adalah jawaban menurut perspektif Husserl. Silahkan lanjutkan diskusi…

  3. 23
    ZAI Says:

    Menarik juga mengikuti diskusi ini. Saya tidak bermaksud mencampuri diskusi antar Signor dg Jenglot. Saya hanya mengusulkan bagaimana bila persoalan diperjelas kembali.

    Berkaitan dengan masalah “rumput yang berwarna hijau” di atas, lebih baik bila diperjelas beberapa hal, misalnya:

    1) Apakah menurut fenomenologi Husserl pengamatan atas “rumput berwarna hijau” itu terbatas/melulu pada hal yang empiris atau justeru pada hal yang metafisik-transendental.
    2) Bila menyangkut hal yang empiris: bagaimana seseorang bisa sampai pada pengenalan atas hal yang empiris itu? Apakah reduksi dibutuhkan di sini?
    3) Bila menyangkut hal yang metafisik-transendental: bagaimana seseorang sampai pada pengenalan metafisik tersebut? Apakah pengenalan empiris mempengaruhi untuk sampai pada pengenalan metafisik?

    Dengan itu kita berharap bahwa ada titik yang bisa mempertemukan pembicaraan dalam diskusi ini.

    Sejauh ku ikuti jalannya diskusi ini: satu pihak berusaha menguraikan fenomenologi Husserl dengan bermuara pada hal metafisik-transendental (walau akhirnya tergoda juga ke hal empiris), sementara pihak lain lagi menanggapinya dengan tekanan pada hal yang empiris. Tentu saja bila kedua hal ini dipertahankan, maka jelas tak ada titik temunya. Dan para pembaca (termasuk saya sendiri) akan tersenyum-senyum “nakal” (istilah Dinar), sebab di depan mata tersaji contoh konkrit tentang “rasionalitas dan irrasionalitas”.

    Bersama dengan yang lain, akupun tak mau mengganggu jalannya diskusi ini. Selamat berdiskusi.

  4. 24
    Joko B. Says:

    Aku timbang-timbang, jangan-jangan Jenglot terjebak dalam (atau sedang dikepung oleh) irasionalitas ketika terkesan terburu-buru “mengaminkan” kalimat terakhir Signor (rep. 19):

    “Tapi lihatlah, jika unsur oksigen itu hilang/lepas dari segelas air murni [menurut anda??] yang anda minum, apa yang akan terjadi saudara Jenglot? Saya yakin, anda tidak sedang minum segelas air murni.”

    Jalan pikiran saya begini. Ketika Bambang Sugiharto (atau Signor ?) mengatakan oksigen yang asli itu “adalah apa yang sedang kita hirup, yang sedang mengalir dalam diri kita” maka Bambang Sugiharto (atau Signor ?) sebenarnya merujuk pada zat lain yang bukan air. Saya susah membayangkan seseorang merasakan “keaslian oksigen” (atau oksigen yang asli) ketika meminum seteguk air.

    Setiap kali selesai lari-lari pagi saya meneguk air untuk mengobati rasa haus. Ketika air itu membasahi kerongkonganku dan terus menuju bagian dalam tubuhku, yang kurasakan adalah kesegaran air, bukan kesegaran oksigen. Kerongkonganku merasakan lewatnya “air”, bukan oksigen, dan bukan pula helium, unsur lain yang membentuk molekul air yang sedang mengalir itu. Rasa-rasanya saya tak pernah merasakan “oksgen yang asli” (atau helium yang asli) ketika sedang meneguk air.

    Maaf, Jenglot, saya tidak bermaksud menyudutkan 🙂

  5. 25
    Jenglot Says:

    Pak Joko B. Saya tidak merasa disudutkan, malah saya berterima kasih. Saya ini makhluk irasional piaraan seseorang yang berada dalam dunia paranormal. Signor (resp. #19) bertanya: “Tunjukkan kepadaku mana Jenglot yang asli, apakah jenglot sebagai nama ataukah anda sebagai pribadi yang aslinya?”

    Buat Signor dan Pak Joko, anda bisa menemukan biodata singkatku di sini: http://www.geocities.com/Area51/Dimension/7127/jenglot.html.

    Saya ikut ambil bagian dalam diskusi ini karena topik yang dibahas bersentuhan langsung dengan duniaku: dunia irasional.

    Jadi, alih-alih disudutkan, saya malah turut bergembira ada teman-teman yang mau membicarakan tentang duniaku.

    Saya juga tidak bermaksud menyudutkan apabila saya memiliki kesan Pak Joko terburu-buru “mengaminkan” semua pernyataanku pada tanggapanku sebelumnya (Resp. #21). Walau duniaku dunia “irasional”, terkadang aku bisa juga berlagak rasional dengan mengajukan argumen yang terkesan rasional. Nah ini dia: dalam molekul air itu tidak ada atom helium (He), yang ada atom hidrogen 🙂 Anda kok diem aja dan tidak sekligus meluruskannya pada saat anda memasuki diskusi ini ?

    Maaf, saya juga tidak bermaksud menyudutkan.

  6. 26
    Erlinda Hulu Says:

    Iiiih…takuuut…!!! Ternyata Bang Jenglot ini “homo jenglot”… yang bisa berpikir kayak “homo sapiens”… bisa juga jadi “homo ludens”… (dan mungkin… “homo-homo”… yang lain). Doi rupanya makhluk multi-dimensional.

    Cuman, kadang-kala doi peragakan “fenomena satu-dimensional”-nya Herbert Marcuse dalam “One-Dimensional Man” (1964), yang mengatakan: “manusia pada masyarakat industri modern menampakkan diri sebagai serba rasional, padahal dalam keseluruhannya sebenarnya dia bersifat irrasional.”… Eksistensinya “rasional”, eh nggak taunya… esensinya “irrasional”… (hehehe…)

    Maaf, Bang Jenglot, aku pun juga tidak bermaksud menyudutkan, lho. 🙂

  7. 27
    Jenk Iskhan Says:

    Seseorang melamun. Kegiatan orang itu dapat digolongkan “berpikir”, namun cara berpikirnya tidak sistematis. Selain melamun, ada kegiatan berpikir lain, yaitu: intuitif, empiris, rasional, dan ilmiah.

    Berpikir intuitif merupakan cara berpikir yang non-analitis. Permasalahan tidak dilihat sebagai suatu objek yang harus dianalisis, melainkan sebagai suatu pertanyaan yang harus dicari jawabannya langsung. Antara “orang yang berpikir” dan “permasalahan yang dihadapi” tidak ada jarak yang tegas. Di sini, manusia meloncati “penalaran” untuk sampai pada kesimpulan. Seseorang mungkin menemukan jawaban bagi permasalahan tertentu, tetapi dia tidak dapat menjelaskan bagaimana caranya dia sampai ke situ. Klenik (perdukunan) tumbuh subur dalam cara berpikir seperti ini.

    Berpikir empiris merupakan cara berpikir berdasarkan analisis pengalaman yang telah lalu. Akal sehat dan kebiasaan merupakan hal pokok untuk mendapatkan pengetahuan dalam menjawab permasalahan. Di sini, kesimpulan ditarik berdasarkan deduksi dari premis-premis empiris.

    Berpikir rasional merupakan cara berpikir menurut metode tertentu yang bersifat konsisten dengan kerangka penalaran sebelumnya sehingga menghasilkan pengetahuan baru dalam menjawab permasalahan. Cara berpikir ini bersifat logiko-deduktif, dan produknya adalah hipotesis (jawaban sementara) yang kebenarannya masih perlu diuji dalam proses ilmiah (keilmuan).

    Berpikir ilmiah merupakan sintesis dari berpikir rasional dan empiris. Hipotesis diuji dengan mengumpulkan data empiris yang relevan, sehingga dapat ditarik kesimpulan definitif, untuk menjawab permasalahan. Cara berpikir ini bersifat logiko-hipotetiko-verifikatif.

    Dalam berbagai kegiatan berpikir di atas, manusia dipengaruhi oleh: emosi (yang bersifat personal dan subjektif) dan irasionalitas (dogma atau kebiasaan yang turun-temurun). Sehingga, dalam deskripsi ini terlihat bahwa antara “rasional” dan “irasional” tidak harus selalu diartikan sebagai kontinum.

  8. 28
    Deivine Signor Says:

    Hijaunya Husserl masuk dalam konteks “Transcendental idealist” dengan mengatakan “everything have their own reality [inheren] independent of any physic basis”. Bung Zai [#23] telah mengarahkan kita ke sana. Husserl hendak mengatakan dalam banalitas kita selalu terjebak dalam empirical naturalistic orientation. Hal ini yang menghantar kita begitu nyinyir untuk mencari solusi berdasarkan hal-hal empiris semata. Bahkan lihatlah, ketika saya bertanya pada #25 [sdr Jenglot]: “Tunjukkan kepadaku mana Jenglot yang asli, apakah jenglot sebagai nama ataukah anda sebagai pribadi yang aslinya?”. Sdr #25 malah memberi alamat profilenya. Lepas dari benar-tidaknya profile sdr #25 [dan saya tidak berkehendak untuk melihatnya], maksud saya bukanlah itu. Tentunya ketika sdr #25 bisa menjawab pertanyaan itu, di sana anda sendiri akan menemukan jawabannya.

    Buat #24 [Joko B.] hati-hati saudara, sebab jangankan anda bisa merasakan Oksigen yang asli dalam air yang anda minum, berapa langkah anda pun belum tentu anda tau pada saat sebelum anda meminum air itu. Apalagi dalam hal gabungan atas dua unsur.

  9. 29
    Postinus Gulo Says:

    Luar biasa! ternyata pokok bahasan mengenai “irasional” sangat ramai. Tapi tunggu dulu. Saya membaca berbagai komentar dan terus terang, bagi saya, penjelasan apa itu “irasional” semakin kabur! Bahkan arahnya semakin mengerucut ke wilayah filsafat yang sebenarnya tidak “nyambung”. Saya ambil contoh: ada netter yang mencoba menghubung-hubungkan Husserl dengan Freud. Apa hubungannya? Freud adalah seorang psikoanalisis yang barometernya adalah seksualitas. Sedangkan Husserl adalah seorang fenomenolog, yang arahnya adalah dunia aktual, pengalaman yang lansung dialami, lebenswelt. Memang Husserl telah jauh-jauh hari menyadari bahwa ada sisi irasionalitas dalam lebenswelt: hidup itu lebih kompleks daripada yang kita jelaskan. Mungkin (hanya terka semata) Freud dikait-kaitkan dalam hal ini, karena beliau juga memahami “emosi”. Tetapi sekali lagi, background pemikiran Freud adalah “seksualitas”!. Oleh karenanya, tentu soal fluktuasi rasa sangat dominan. Maaf, mungkin komentar saya ini juga tidak nyambung, tetapi marilah kita saling “memperkaya”, tidak mungkin semuanya kita ketahui. Sekali lagi, saya masih bertanya-tanya apa hubungan Husserl dengan Freud?

  10. 30
    Erlinda H Says:

    Diskusi antara Signor dan Jenglot “lucu banget” deh…

    Atas dasar [kutipan] tulisan Husserl: “saat kita melihat rumput dan mengatakan bahwa warnanya hijau, sebenarnya apa yang kita katakan itu tidak sama persis dengan aslinya”, maka Jenglot (#10) tanya tentang “hijau yang asli”.

    Dijawab Signor (#14) dengan “oksigen yang asli” [empiris] yang dideduksikan ke “hijau”. Kemudian Jenglot (#17) tanya lagi tentang “oksigen yang asli”.

    Dijawab Signor (#19) dengan “oksigen adalah oksigen”. Lalu Jenglot (#21) tanya lagi tentang “oksigen yang asli menurut Husserl atau Signor”.

    Akhirnya diijawab Signor (#28) dengan “hijaunya Husserl adalah transcendental idealist”.

    Diskusi mereka kayak orang main silat ajah, dengan jurus “serang-elak” nih… Ditanya “hijau” ngelak ke “oksigen”, dikejar ke “oksigen”… eh… malah kembali ke “hijau”. Nggak nyambung dengan inti pertanyaan [kalo nggak salah] tentang “yang asli” dari warna hijau [yang berkembang ke oksigen].

    Bila ada adu argumentasi yang cerdas dalam diskusi itu, tentu kita dapat saling memperkaya… Sekarang aku baru dapat lucunya ajah… Ayo Bang Signor dan Bang Jenglot, tunjukkan padaku konsep “idealisme” dan “positivisme” dari “aslinya hijau” itu… Mainnya [kalo boleh] ganti ke “main pingpong” Bang, biar “nyambung” gitu lho… (hehehe).

Pages: « 1 2 [3] 4 » Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30