Kalangan Pendeta di P Siantar: Kecam Keras Statemen H Raden Romo Syafi’i Benturkan Propinsi Tapanuli dengan Isu SARA

Friday, April 13, 2007
By nias

Pematangsiantar (SIB)
Kalangan pendeta di P Siantar sangat menyesalkan dan mengecam keras adanya statemenKetua Fraksi-PBR DPRDSU H Raden Romo Safi’i SH yang melontarkan statemen yang sifatnya menghasut dan memprovokasi masyarakat dengan membenturkan dan mengkait-kaitkan pembentukan Propinsi Tapanuli kental dengan nuansa SARA (suku, ras, agama dan antar golongan), sehingga bisa menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.

Demikian rangkuman keterangan Sekjen GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) Pdt M Simamora STh dan Sekretaris GPdI (Gereja Pantekosta di Indonesia) Sumut-NAD Pdt B Manurung dihubungi terpisah, Selasa (10/4) menanggapi pemberitaan SIB, Selasa (10/4) berjudul “Ketua DP Angkatan 66 H Husni Malik kecam Raden Safi’i benturkan Propinsi Tapanuli dengan SARA”.

Dikatakan, perjuangan pembentukan Propinsi Tapanuli adalah murni aspirasi masyarakat untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan dan kemakmurannya, mengingat selama ini Tapanuli selalu cenderung dihubungkan dengan “peta kemiskinan”. Jadi, perjuangan rakyat adalah murni demi memajukan daerah-daerah di Pantai Barat Sumut agar kemajuannya dapat disejajarkan dengan daerah-daerah di Pantai Timur Sumut.

Namun, masyarakat Tapanuli diyakini tidak akan terpengaruh atas statemen dari H Raden Romo Safi’i itu, melihat selama ini kerukunan antar umat beragama di Sumut dan secara khusus di Tapanuli cukup baik dan kondusif.
Tegasnya, dalam era reformasi sekarang ini, kebersamaan, kerukunan antar umat beragama, intern umat beragama cukup terbina baik sehingga suasana yang kondusif, aman dan damai tetap terpelihara dengan baik.

Untuk itu, kata Pdt B Manurung, kiranya oknum politisi di daerah ini jangan melontarkan suatu statemen atau isu yang bertujuan bisa mengundang kemarahan orang lain. Sebab, menurut iman Kristiani dan Firman Tuhan berkata “Berbicara manis lebih dapat meyakinkan orang,” artinya hendaknya setiap orang dalam memberikan suatu komentar maupun tanggapan dengan bahasa yang indah, penuh keakraban agar mendapat dukungan dari semua pihak. Untuk itu, segala kalimat-kalimat yang bernada menghasut hendaklah di hindarkan.

Sebab, dalam memperjuangkan Propinsi Tapanuli dengan isu agama masyarakat Tapanuli tidak pernah melontarkannya, karena keinginan masyarakat Tapanuli memperjuangkan Propinsi Tapanuli adalah murni demi kepentingan kesejahteraan masyarakat banyak dan bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Untuk itu, Pdt M Simamora dan Pdt B Manurung meminta agar H Raden Romo Safi’i segera mencabut statemennya demi mencegah timbulnya kemarahan rakyat, serta isu SARA itu bisa menciptakan “perpecahan” atau situasi tidak kondusif di tengah-tengah masyarakat. (E1/e)

Sumber: SIB, 13 April 2007

3 Responses to “Kalangan Pendeta di P Siantar: Kecam Keras Statemen H Raden Romo Syafi’i Benturkan Propinsi Tapanuli dengan Isu SARA”

  1. 1
    Simpatisan Protap Says:

    Melihat perkembangan akhir-akhir ini tentang kelanjutan perjuangan Protap, saya jadi mengelus dada. Sedih, mengapa akhirnya sampai begini.

    Seandainya saja para pejuang Protap lebih taktis dari dulu, dan tidak mengedepankan sikap PD yang berlebihan, maka barangkali Protap sudah terealisir saat ini.

    Sekarang pejuang Protap kewalahan menghadapi isu SARA yang barangkali secara tak sengaja mereka ciptakan sendiri. Isu Protap seharusnya dari dulu ditangani oleh para politisi saja. Yang terjadi adalah: para tokoh agama di seantero Tapanuli pun ikut-ikutan bersuara, mengerahkan jemaat untuk “mendoakan” Protap. Pemuda Katolik pun tidak ketinggalan dengan seruan-seruannya pasang target agar Protap segera direalisasikan.

    Mendoakan boleh-boleh saja, tapi Tuhan juga kan “realistis”. Tuhan juga mendengarkan akal sehat seluruh umat-Nya, baik yang pro gabung maupun pun yang menolak bergabung dengan Protap. Dengan kata lain, Tuhan itu juga “netral” saja, tak mau ikut-ikutan membela salah satu kelompok: yang pro maupun yang kontra. DIA menyerahkan persoalan Protap kepada pertimbanagn akal sehat orang-orang yang terlibat dalam pembahsan Protap.

    Barangkali para pejuang Protap sebaiknya mengadakan introspeksi, dan mengubah kiat agar ke depan bisa menarik simpati banyak pihak yang sudah tidak bergitu berhasrat lagi bicara soal Protap.

  2. 2
    Etis Nehe Says:

    Yaahowu…

    Saya setuju dengan saudara simpatisan protap. Apa yang terjadi kini benar-benar bikin hati gak enak sekali. Sebab, peluru yang dicari-cari oleh kelompok kontra ditemukan juga, walau tetap tidak bisa dipungkiri hal itu tidak terlepas dari politisasi.

    “Seandainya saja para pejuang Protap lebih taktis dari dulu, dan tidak …” merupakan kesimpulan yang tepat. Namun, maksud saya bukan pada target waktu, tapi pada tingkat respons positif yang mungkin dapat diraih.

    Semua masih segar diingatkan kita betapa cara-cara yang mereka pakai tidak elegan dalam hal ‘menarik simpati/dukungan publik’. Menurut penilaian saya, sisi pertimbangan dan public relation (PR) atau pola pendekatannya benar-benar rapuh.

    Saya yakin, masyarakat Nias walau juga mempertimbangkan keinginan untuk menjadi propinsi sendiri, pasti akan memberi respon positif jikalau dari awal Pulau Nias diakomodir (lebih tepatnya: diperlakukan sejajar) secara proporsial baik dari sisi keterlibatan dalam panitia, maupun dari sisi statement-statement yang dikeluarkan selama proses itu berjalan.

    Tentu saja sangat tidak enak kalau berada dalam posisi “Kalau mau ikut silahkan, kalau tidak ya never mind!” seperti pernah terungkap dalam proses penggalangan dukungan untuk protap.

    Menurut saya, masalah SARA yang dibesar-besarkan oleh oknum anggota DPRD SUMUT tersebut, juga tidak proporsional bahkan cenderung provokatif. Sebab, jujur saja, mengapa hal itu tidak jadi masalah ketika provinsi atau kabupaten tertentu menginginkan dan menegaskan nuansa kental agama tertentu di suatu daerah dalam kaitan dengan pemekaran daerah. Sangat banyak contoh untuk hal itu.

    Saya menilai upaya oknum anggota DPRD tersebut sebagai bagian dari strategi ‘lakukan apa saja, yang penting protap gak boleh jadi.’

    Jadi, dalam hal ini saya pikir kurang tepat kalau mempersoalkan masalah keterlibatan tokoh-tokoh agama maupun gereja untuk hal itu. Bukankah sudah hal biasa kita melihat elemen-elemen keagamaan ’bergerilya’ dimana-mana untuk hal apa saja di negeri ini demi kepentingan komunitasnya? Artinya, keterlibatan anggota-anggota gereja juga harusnya dianggap hal biasa. Sebab, mereka juga punya hak menyampaikan aspirasi mereka dalam konteks penganut agama, selain status mereka sebagai warga masyarakat secara umum.

    “Barangkali para pejuang Protap sebaiknya mengadakan introspeksi, dan mengubah kiat…” Menurut saya, usul ini sangat bijak. Saya yakin, di lubuk hati para penolak protap (apalagi yang sebelumnya sempat mendukung kemudian mundur karena merasa ‘tidak dianggap signifikan’) masih ada keinginan untuk bergabung. Cuma, menurut saya, tidak cukup bila hanya melakukan introspeksi kiat atau teknik, tetapi, lebih dari semuanya adalah hati yang lurus.

    Salam. God Bless Nias Island

  3. 3
    Simpatisan Protap Says:

    E. Nehe: “Menurut saya, masalah SARA yang dibesar-besarkan oleh oknum anggota DPRD SUMUT tersebut, juga tidak proporsional bahkan cenderung provokatif. Sebab, jujur saja, mengapa hal itu tidak jadi masalah ketika provinsi atau kabupaten tertentu menginginkan dan menegaskan nuansa kental agama tertentu di suatu daerah dalam kaitan dengan pemekaran daerah. Sangat banyak contoh untuk hal itu.”

    Saya menghargai pendapat itu, walau secara jujur saya katakan: “berbahaya” !. Mengapa ? H Raden Romo Safi’i berbicara tentang situasi di Sumut dan kita tidak bisa menuntut beliau berbicara tentang situasi di daerah lain.

    Saya justru berpendapat: baik sekali ada Romo Safi’i di Sumut yang melihat potensi persoalan SARA (ingat: masih potensi lho) !. Suara Romo Safi’i inilah yang justru harus disebarluaskan ke seluruh penjuru tanah air, supaya pemerintah pusat dan pemerintah daerah selalu berhati-hati setiap kali ada kasus yang serupa.

    “Bukankah sudah hal biasa kita melihat elemen-elemen keagamaan ’bergerilya’ dimana-mana untuk hal apa saja di negeri ini demi kepentingan komunitasnya?”

    Nah, jangan justru kita balik: karena yang “sana” berbuat, “sini” juga ikut-ikutan. Kalau begini maka yang terjadi adalah: berlomba mencari “peluang” tanpa mempedulikan lagi “norma-norma kepantasan universal” yang konon kita jumpai dalam agama-agama besar dunia. Di situlah letak bahaya tadi 🙂

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30