<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments for Situs Yaahowu: A website of Nias Island's people, culture, language and current affairs</title>
	<atom:link href="http://niasonline.net/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://niasonline.net</link>
	<description>Situs budaya, bahasa dan aktualita masyarakat Nias</description>
	<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 05:40:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
		<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by M. J. Daeli</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3475</link>
		<dc:creator>M. J. Daeli</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 05:21:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3475</guid>
		<description>Eric dan para peserta diskusi, 

Saya ulangi.  Topik diskusi : "Mencari Akar Kemiskinan di Nias". Jelas : untuk mencari akar. Akar apa : akar kemiskinan. Kemiskinsnan di mana : di Nias.

Eric BERPENDAPAT bahwa kemiskinan di Nias adalah kemiskinan struktural. OK. Jadi,  kalau demikian, pencarian akar kemiskinan itu tentu melalui yang dimaksud "struktural" dalam konteks  kemiskinan. SETUJU ! 

Dari alur pikir demikian, kalau setuju dengan pemahaman saya mengenai kemiskinan struktural ( lihat no. 43 dan 52, maka akar permasalahan kemiskinan di Nias dicari terutama pada : segi produk hukum yang melandasi kehidupan perekonomian dan sikap politik penentu kebijaksanaan. Karena ketentuan hukum dan sikap yang tidak menguntungkan petani, maka petani  seharusnya untung-bahagia dengan hasil jerih-payahnya,  malah menderita-miskin. Bukan dicari pada struktur lapisan tanah dan lapisan lainnya. Pengertian kemiskinan struktural ini yang sejak awal saya minta kepada Saudara Eric untuk menjelaskan pemahamannya.

Kalau pengertian akar kemiskinan struktural yang dicari, maka data lapangan - AKIBAT dari produk hukum dan  kebijakan yang tidak menguntungkan petani (seperti hasil penelitian para intelektual), hanya pendukung untuk usaha mencari akar. Data yang dikemukakan Eric adalah berfungsi untuk merintis  menemukan akar dan BUKAN akar itu sendiri. Gambaran mencari dan akar itu sendiri belum jelas betul dari penjelasan-penjelasan yang disampaikan Eric. 

Bahwa  Eric mengaitkan untuk pembenaran pemahaman Eric mengenai kemiskinan struktural dengan  teori ekonomi dan filsafat Marx dan Engels, saya lihat inilah yang menyebabkan banyak penanggap ingin penjelasan lebih banyak. Mengapa ? Karena teori-teori itu kurang tepat untuk menemukan akar kemiskinan struktural dan  juga karena (mungkin) sudah tidak relevan dikaitkan dengan kehidupan masyarakat abad ke-21. Ingat : akibat perubahan teknik dan teknologi yang pesat tergusur kerja manusia oleh kecerdasan mesin.Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, yang dikatakan oleh Erich Fromm dalam bukunya The Sane Society memperlihatkan kebenarannya, bahwa,  kalau pada abad ke - 19 masalah adalah Allah telah mati tetapi masalah di abad ke-20 (21) ialah manusia telah mati. Ro... bot !!!!!!!!!. Anggap intermezzo !   
 
Ajakan Eric supaya saya menulis, terus terang sangat simpatik. Akan tetapi saya tidak memiliki data mengenai hal ini seperti yang dimiliki Eric dari lapangan. Eric dan saya kebetulan memiliki talenta yang tidak sama. Sendainya saya memiliki data maka pasti saya akan menulis dan menjelaskan sebatas yang saya ketahui. 

Selama ini,  saya selalu  berusaha mempertanggungjawabkan tulisan-tulisan saya dari segi isi, alur pikir yang kosisten, dan konsekwensi dari tulisan itu. Bahwa saya tidak sempurna ... yaaaa! Saya berusaha tidak menulis yang tidak saya memahami betul maknanya. Kalau ada sesuatu yang memang saya tidak saya memahami sungguh-sunguh tetapi ingin menulis, saya menulis dengan mengarahkan pada diskusi terbuka dangan harapan terjadi SUMBANG SADAP SARAN dan tidak berusaha mau menang sendiri.

Selamat berdiskusi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Eric dan para peserta diskusi, </p>
<p>Saya ulangi.  Topik diskusi : &#8220;Mencari Akar Kemiskinan di Nias&#8221;. Jelas : untuk mencari akar. Akar apa : akar kemiskinan. Kemiskinsnan di mana : di Nias.</p>
<p>Eric BERPENDAPAT bahwa kemiskinan di Nias adalah kemiskinan struktural. OK. Jadi,  kalau demikian, pencarian akar kemiskinan itu tentu melalui yang dimaksud &#8220;struktural&#8221; dalam konteks  kemiskinan. SETUJU ! </p>
<p>Dari alur pikir demikian, kalau setuju dengan pemahaman saya mengenai kemiskinan struktural ( lihat no. 43 dan 52, maka akar permasalahan kemiskinan di Nias dicari terutama pada : segi produk hukum yang melandasi kehidupan perekonomian dan sikap politik penentu kebijaksanaan. Karena ketentuan hukum dan sikap yang tidak menguntungkan petani, maka petani  seharusnya untung-bahagia dengan hasil jerih-payahnya,  malah menderita-miskin. Bukan dicari pada struktur lapisan tanah dan lapisan lainnya. Pengertian kemiskinan struktural ini yang sejak awal saya minta kepada Saudara Eric untuk menjelaskan pemahamannya.</p>
<p>Kalau pengertian akar kemiskinan struktural yang dicari, maka data lapangan - AKIBAT dari produk hukum dan  kebijakan yang tidak menguntungkan petani (seperti hasil penelitian para intelektual), hanya pendukung untuk usaha mencari akar. Data yang dikemukakan Eric adalah berfungsi untuk merintis  menemukan akar dan BUKAN akar itu sendiri. Gambaran mencari dan akar itu sendiri belum jelas betul dari penjelasan-penjelasan yang disampaikan Eric. </p>
<p>Bahwa  Eric mengaitkan untuk pembenaran pemahaman Eric mengenai kemiskinan struktural dengan  teori ekonomi dan filsafat Marx dan Engels, saya lihat inilah yang menyebabkan banyak penanggap ingin penjelasan lebih banyak. Mengapa ? Karena teori-teori itu kurang tepat untuk menemukan akar kemiskinan struktural dan  juga karena (mungkin) sudah tidak relevan dikaitkan dengan kehidupan masyarakat abad ke-21. Ingat : akibat perubahan teknik dan teknologi yang pesat tergusur kerja manusia oleh kecerdasan mesin.Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, yang dikatakan oleh Erich Fromm dalam bukunya The Sane Society memperlihatkan kebenarannya, bahwa,  kalau pada abad ke - 19 masalah adalah Allah telah mati tetapi masalah di abad ke-20 (21) ialah manusia telah mati. Ro&#8230; bot !!!!!!!!!. Anggap intermezzo !   </p>
<p>Ajakan Eric supaya saya menulis, terus terang sangat simpatik. Akan tetapi saya tidak memiliki data mengenai hal ini seperti yang dimiliki Eric dari lapangan. Eric dan saya kebetulan memiliki talenta yang tidak sama. Sendainya saya memiliki data maka pasti saya akan menulis dan menjelaskan sebatas yang saya ketahui. </p>
<p>Selama ini,  saya selalu  berusaha mempertanggungjawabkan tulisan-tulisan saya dari segi isi, alur pikir yang kosisten, dan konsekwensi dari tulisan itu. Bahwa saya tidak sempurna &#8230; yaaaa! Saya berusaha tidak menulis yang tidak saya memahami betul maknanya. Kalau ada sesuatu yang memang saya tidak saya memahami sungguh-sunguh tetapi ingin menulis, saya menulis dengan mengarahkan pada diskusi terbuka dangan harapan terjadi SUMBANG SADAP SARAN dan tidak berusaha mau menang sendiri.</p>
<p>Selamat berdiskusi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Yosa Menduniakan Nias by JASTIS BAGO</title>
		<link>http://niasonline.net/2006/12/20/yosa-menduniakan-nias/#comment-3474</link>
		<dc:creator>JASTIS BAGO</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 05:02:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/nox/?p=44#comment-3474</guid>
		<description>It's very fantastic...........
Terima kasih untuk Bapak Yosa yg telah membuat web ini,sehingga tano niha bisa lebih dikenal masyarakat dunia....
Bravo Nias.....!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>It&#8217;s very fantastic&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
Terima kasih untuk Bapak Yosa yg telah membuat web ini,sehingga tano niha bisa lebih dikenal masyarakat dunia&#8230;.<br />
Bravo Nias&#8230;..!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by debora</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3473</link>
		<dc:creator>debora</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 03:16:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3473</guid>
		<description>Bang Erix Hutaosit bilang letak Nias yg jauh dr daratan Sumatera (terisolasi) memang natural… kan bisa diperpendek dng transportasi… tapi program utk itu yg gak ada makanya Nias semakin terisolasi karena kebijakan politik. Inilah kemiskinan stuktural... itu logika pertama abang. Waktu abang nanggapin Merry Z (Nias yang terletak di lempengan tsunami dan episenter gempa, dgn struktur tanah labil) abang bilang Merry guyon… kemiskinan stuktural yg dimaksud bukan soal kondisi geologis… itu logika kedua abang. 

Kondisi geologis (yg nimbulin bencana alam)… kan natural bang… kan bencana alam bs ditekan resikonya dgn mitigasi… tapi program utk itu yg gak ada… makanya Nias semakin terpuruk klo ada bencana alam karna ‘kebijakan politik’ (klo kearifan lokal sih ada contoh rumah adat yg tahan gempa itu)… Heheeheee… paralel neeh dgn logika pertama abang... 

Kayaknya lucu deh bang… klo kondisi geologis di logika kedua, abang negasi sebagai kemiskinan struktural (kayak perlakuan di logika pertama)… Utk jelasin struktural abang jangan diskriminasi n mempermainkan logika dong pada natural…!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Erix Hutaosit bilang letak Nias yg jauh dr daratan Sumatera (terisolasi) memang natural… kan bisa diperpendek dng transportasi… tapi program utk itu yg gak ada makanya Nias semakin terisolasi karena kebijakan politik. Inilah kemiskinan stuktural&#8230; itu logika pertama abang. Waktu abang nanggapin Merry Z (Nias yang terletak di lempengan tsunami dan episenter gempa, dgn struktur tanah labil) abang bilang Merry guyon… kemiskinan stuktural yg dimaksud bukan soal kondisi geologis… itu logika kedua abang. </p>
<p>Kondisi geologis (yg nimbulin bencana alam)… kan natural bang… kan bencana alam bs ditekan resikonya dgn mitigasi… tapi program utk itu yg gak ada… makanya Nias semakin terpuruk klo ada bencana alam karna ‘kebijakan politik’ (klo kearifan lokal sih ada contoh rumah adat yg tahan gempa itu)… Heheeheee… paralel neeh dgn logika pertama abang&#8230; </p>
<p>Kayaknya lucu deh bang… klo kondisi geologis di logika kedua, abang negasi sebagai kemiskinan struktural (kayak perlakuan di logika pertama)… Utk jelasin struktural abang jangan diskriminasi n mempermainkan logika dong pada natural…!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mobil Dengan Sel Bahan Bakar Masih Terlalu Mahal by aris</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/17/mobil-dengan-sel-bahan-bakar-masih-terlalu-mahal/#comment-3472</link>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 03:06:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1939#comment-3472</guid>
		<description>keren euy..........mobilnya!
Saya ni penggila mobil loh!
buat lebih banyak lagi gambar nya donks!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>keren euy&#8230;&#8230;&#8230;.mobilnya!<br />
Saya ni penggila mobil loh!<br />
buat lebih banyak lagi gambar nya donks!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by Sof Lase</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3471</link>
		<dc:creator>Sof Lase</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 17:51:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3471</guid>
		<description>Bapak Erix Hutasoit, bapak bilang apa yg bapak tulis itu adalah “analogi”. Okelah… bapak ajukan sebuah analogi ttg eksploitasi, bapak tulis: Sederhananya si B tidak akan bisa kaya raya tanpa mengeksploitasi si A. Tapi saya lihat isi analogi itu sebagai: Sederhananya si B tidak akan bisa kaya raya tanpa monopoli. Disini beda kita. Analogi eksploitasi baru bermakna dalam analisis intrinsik perihal value (harga) karet si A sebagai komoditi yg menunjukkan nilai lebihnya harga karet si A itu ”hanya dimakan” si B. Nampaknya bapak kehilangan momentum menjelaskan ttg nilai lebih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bapak Erix Hutasoit, bapak bilang apa yg bapak tulis itu adalah “analogi”. Okelah… bapak ajukan sebuah analogi ttg eksploitasi, bapak tulis: Sederhananya si B tidak akan bisa kaya raya tanpa mengeksploitasi si A. Tapi saya lihat isi analogi itu sebagai: Sederhananya si B tidak akan bisa kaya raya tanpa monopoli. Disini beda kita. Analogi eksploitasi baru bermakna dalam analisis intrinsik perihal value (harga) karet si A sebagai komoditi yg menunjukkan nilai lebihnya harga karet si A itu ”hanya dimakan” si B. Nampaknya bapak kehilangan momentum menjelaskan ttg nilai lebih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by Agus Pierce Paterson Sarumaha</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3470</link>
		<dc:creator>Agus Pierce Paterson Sarumaha</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 17:16:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3470</guid>
		<description>Buat Pak Erix, saya perlu meluruskan diskusi yang berjudul : Menelusuri Akar Kemiskinan Nias, Karena pak paparkan berbagai referensi tentang kemiskinan di pulau nias, salah satu referensinya : Studi Pengembangan Ekonomi Nias (2006), dalam penelitian tersebut menyatakan 10 Fakta  dan 10 Masalah tentang pulau nias yaitu :

FAKTA :

1. Nias yang terletak di lempengan tsunami dan episenter gempa dengan struktur tanah   
    labil   
2. Nias yang kecil dengan ratusan pulau pulau kecil 
3. Nias yang terisolasi 
4. Nias yang sekarat
5. Nias yang jauh
6. Nias yang terabaikan
7. Nias yang terlupakan 
8. Nias yang terbelakang
9. Nias yang jadi rebutan 
10. Nias merupakan komponen negara

MASALAH :
1. Tsunami dan Gempa berikutnya yang pasti akan datang lagi secara mendadak dan 
    semakin dasyat 
2. Nilai Ekonomi setiap produk semakin rendah 
3. Laut bukan penghubung tetapi pemisah;pendekatan regional terhambat 
4. Warisan budaya semakin musnah (StarWeekly 648, 31-5-58)
5. Dari Pusat, baik geografik, politik dan birokratik, jauh
6. Karena posisi tawar yang semakin rendah/lemah
7. Peran dan Sumbangan Nias dimasa perjuangan kemerdekaan lenyap tertelan kala 
8. Tidak memiliki keunggulan komparatif apa lagi kompetitif 
9. Konflik kepentingan semakin tajam dan luas
10. Nias terperangkap didalam sistem manajemen publik yang padat KKN.

Penelitian diatas didanai oleh World Bank (WB) melalui BRR. Dalam penelitian serta penulisan jurnal ilmiah, saya mengetahui persis bagaimana WB mengkaji serta menguji ke valid-an suatu obyek yang diteliti, karena saya juga sudah pernah bekerjasama dalam mengerjakan pengembangan sistem untuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat) dengan nama MFI-2000 (Microfinance Institution-2000) yang didanai World Bank melalui Deperindag (mohon maaf terpaksa saya harus sampaikan).  
Dari 10 Fakta dan 10 Masalah diatas WB bukanlah institusi yang bodoh, menerima begitu saja hasil penelitian tersebut tanpa didasari kajian yang konfrehensif, apalagi WB yang danai penelitiannya, yang akkhirnya WB menyampaikan: Segala penulisan dan hasil penelitian diluar tanggung jawab WB, Jadi logikanya sederhana, bahwa 10 fakta dan 10 masalah tersebut diatas, sangat abstrak dan masih mengawang-awang, belum dapat dipertanggung jawabkan. Saran saya pak erix tidak bisa semata-mata menuliskan 10 fakta dan 10 masalah tersebut sehingga bisa aja orang lain menafsirkan fakta dan masalah tersebut BENAR adanya . Salah satu contoh masalah diatas adalah no.1. saya tidak lihat peneliti tersebut melibatkan Badan Meteorology dan Geo Fisika(BMG)  ikut serta dalam penelitiannya, kok bisa-bisanya membuat kesimpulan demikian?. Belum masalah-masalah yang lain. yang tidak perlu saya bahas lagi. 
Akhirnya saya perlu menyampikan satu kiasan : Pak erix dari medan menuju Nias (Gunung Sitoli) via darat dan laut, pak ke  padang dulu terus lanjut menuju nias,  bukankah ada yang lebih dekat ? yaitu dari sibolga menuju nias. selain jarak lebih pendek dan waktu tempuh lebih singkat, serta biaya lebih murah.
Saya percaya bahwa kita semua dapat membedakan mana yang berupa : data/fakta, informasi, berita, gossip. Bukan kah demikian?


Salam,

Agus Pierce Paterson Sarumaha</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Buat Pak Erix, saya perlu meluruskan diskusi yang berjudul : Menelusuri Akar Kemiskinan Nias, Karena pak paparkan berbagai referensi tentang kemiskinan di pulau nias, salah satu referensinya : Studi Pengembangan Ekonomi Nias (2006), dalam penelitian tersebut menyatakan 10 Fakta  dan 10 Masalah tentang pulau nias yaitu :</p>
<p>FAKTA :</p>
<p>1. Nias yang terletak di lempengan tsunami dan episenter gempa dengan struktur tanah<br />
    labil<br />
2. Nias yang kecil dengan ratusan pulau pulau kecil<br />
3. Nias yang terisolasi<br />
4. Nias yang sekarat<br />
5. Nias yang jauh<br />
6. Nias yang terabaikan<br />
7. Nias yang terlupakan<br />
8. Nias yang terbelakang<br />
9. Nias yang jadi rebutan<br />
10. Nias merupakan komponen negara</p>
<p>MASALAH :<br />
1. Tsunami dan Gempa berikutnya yang pasti akan datang lagi secara mendadak dan<br />
    semakin dasyat<br />
2. Nilai Ekonomi setiap produk semakin rendah<br />
3. Laut bukan penghubung tetapi pemisah;pendekatan regional terhambat<br />
4. Warisan budaya semakin musnah (StarWeekly 648, 31-5-58)<br />
5. Dari Pusat, baik geografik, politik dan birokratik, jauh<br />
6. Karena posisi tawar yang semakin rendah/lemah<br />
7. Peran dan Sumbangan Nias dimasa perjuangan kemerdekaan lenyap tertelan kala<br />
8. Tidak memiliki keunggulan komparatif apa lagi kompetitif<br />
9. Konflik kepentingan semakin tajam dan luas<br />
10. Nias terperangkap didalam sistem manajemen publik yang padat KKN.</p>
<p>Penelitian diatas didanai oleh World Bank (WB) melalui BRR. Dalam penelitian serta penulisan jurnal ilmiah, saya mengetahui persis bagaimana WB mengkaji serta menguji ke valid-an suatu obyek yang diteliti, karena saya juga sudah pernah bekerjasama dalam mengerjakan pengembangan sistem untuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat) dengan nama MFI-2000 (Microfinance Institution-2000) yang didanai World Bank melalui Deperindag (mohon maaf terpaksa saya harus sampaikan).<br />
Dari 10 Fakta dan 10 Masalah diatas WB bukanlah institusi yang bodoh, menerima begitu saja hasil penelitian tersebut tanpa didasari kajian yang konfrehensif, apalagi WB yang danai penelitiannya, yang akkhirnya WB menyampaikan: Segala penulisan dan hasil penelitian diluar tanggung jawab WB, Jadi logikanya sederhana, bahwa 10 fakta dan 10 masalah tersebut diatas, sangat abstrak dan masih mengawang-awang, belum dapat dipertanggung jawabkan. Saran saya pak erix tidak bisa semata-mata menuliskan 10 fakta dan 10 masalah tersebut sehingga bisa aja orang lain menafsirkan fakta dan masalah tersebut BENAR adanya . Salah satu contoh masalah diatas adalah no.1. saya tidak lihat peneliti tersebut melibatkan Badan Meteorology dan Geo Fisika(BMG)  ikut serta dalam penelitiannya, kok bisa-bisanya membuat kesimpulan demikian?. Belum masalah-masalah yang lain. yang tidak perlu saya bahas lagi.<br />
Akhirnya saya perlu menyampikan satu kiasan : Pak erix dari medan menuju Nias (Gunung Sitoli) via darat dan laut, pak ke  padang dulu terus lanjut menuju nias,  bukankah ada yang lebih dekat ? yaitu dari sibolga menuju nias. selain jarak lebih pendek dan waktu tempuh lebih singkat, serta biaya lebih murah.<br />
Saya percaya bahwa kita semua dapat membedakan mana yang berupa : data/fakta, informasi, berita, gossip. Bukan kah demikian?</p>
<p>Salam,</p>
<p>Agus Pierce Paterson Sarumaha</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by Agus Pierce Paterson Sarumaha</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3469</link>
		<dc:creator>Agus Pierce Paterson Sarumaha</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 12:42:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3469</guid>
		<description>Pak Erix mungkin yang salah tafsir tentang buku tersebut, karena saya mengetahui persis bahwa buku tersebut di danai oleh WB dan BRR, saya juga tau kalau misalnya gramedia yang cetak selalu menuliskan :isi diluar tanggung jawab percetakan, itu berbebeda konteks pak. Penelitian ini kan didanai oleh WB dan BRR, bagaimana mungkin WB menyatakan segala obyek Penelitian diluar tanggung jawab WB, saya bukan mempermasalahkan siapa yang menulis atau dari lembaga mana yang menulis, tetapi sangatlah lucu dana dari WB, tetapi Obyek penelitiannya diluar tanggung jawabnya, sementara peneliti tesebut merupakan bagian dari kerjasama dengan WB. Untuk itu perlu saya tanyakan relevan nggak fakta tersebut? sementara WB saja tidak mengakui penelitiaannya. Terima Kasih.


Salam,


Agus Pierce Paterson Sarumaha</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Erix mungkin yang salah tafsir tentang buku tersebut, karena saya mengetahui persis bahwa buku tersebut di danai oleh WB dan BRR, saya juga tau kalau misalnya gramedia yang cetak selalu menuliskan :isi diluar tanggung jawab percetakan, itu berbebeda konteks pak. Penelitian ini kan didanai oleh WB dan BRR, bagaimana mungkin WB menyatakan segala obyek Penelitian diluar tanggung jawab WB, saya bukan mempermasalahkan siapa yang menulis atau dari lembaga mana yang menulis, tetapi sangatlah lucu dana dari WB, tetapi Obyek penelitiannya diluar tanggung jawabnya, sementara peneliti tesebut merupakan bagian dari kerjasama dengan WB. Untuk itu perlu saya tanyakan relevan nggak fakta tersebut? sementara WB saja tidak mengakui penelitiaannya. Terima Kasih.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Agus Pierce Paterson Sarumaha</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by otomend</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3468</link>
		<dc:creator>otomend</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 10:23:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3468</guid>
		<description>Erix: Nah, sekarang Indonesia sudah merdeka, tapi kok Pulau Nias ngak banyak berkembang. Malah kalah dari daerah lain. Nah, dari titik itulah saya berangkat menganalisis untuk menulis artikel diatas.

Artinya mas Erix bukan bicara soal kemiskinan Nias melainkan bergeser soal upaya pembangunan Nias, termasuk melihat TDE tidak menetes. Setelah gempa yang notabene menimbulkan kemiskinan natural, Nias dibangun sangat spesial, mengapa tidak masuk dalam konteks analisis Erix, bagaimana Nias setelah intervensi "pembangunan dari luar" paska gempa itu? Diskusi kita ternyata terkondisi berputar-putar...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Erix: Nah, sekarang Indonesia sudah merdeka, tapi kok Pulau Nias ngak banyak berkembang. Malah kalah dari daerah lain. Nah, dari titik itulah saya berangkat menganalisis untuk menulis artikel diatas.</p>
<p>Artinya mas Erix bukan bicara soal kemiskinan Nias melainkan bergeser soal upaya pembangunan Nias, termasuk melihat TDE tidak menetes. Setelah gempa yang notabene menimbulkan kemiskinan natural, Nias dibangun sangat spesial, mengapa tidak masuk dalam konteks analisis Erix, bagaimana Nias setelah intervensi &#8220;pembangunan dari luar&#8221; paska gempa itu? Diskusi kita ternyata terkondisi berputar-putar&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by Redaksi</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3467</link>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 10:14:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3467</guid>
		<description>Pengunjung Situs Yaahowu khususnya peserta diskusi spontan atas tulisan Sdr. Erix Hutasoit,

Terima kasih atas partisipasi Anda dalam diskusi ini, sejauh ini. Redaksi masih mengharapkan tanggapan lanjut.

Kepada Sdr. Erix Redaksi menyampaikan penghargaan atas waktu yang dia berikan menjawab tanggapan-tanggapan dari para pembaca tulisannya. 

Kepada para komentator, Redaksi juga menyampaikan penghargaan atas berbagai sumbangan pemikiran. Tanpa komentar anda semua, diskusi ini menjadi 'kering' dan terasa hambar.

Sejauh ini, Redaksi memiliki kesan - peserta diskusi cukup berkepala dingin, memahami persoalan (baca: hal yang didiskusikan), dan karenanya memberikan kontribusi yang menurut hemat kami sangat positif.

Catatan khusus kami sampaikan kepada komentar yang ditulis oleh Sdr. "Ononiha". Diskusi seperti ini, menurut hemat kami, tidak harus sampai kepada pemecahan masalah. Materi bahasan diskusi ("Kemiskinan") merupakan hal yang sangat kompleks sifatnya - yang merupakan salah satu masalah global sepanjang zaman.

Terlalu 'ambisius' kiranya kita kalau mengharapkan jawaban atas masalah itu dalam diskusi ini. Kita tidak bisa mengharapkan 'berlebihan' dari sebuah diskusi yang hanya diikuti oleh sekitar 10 orang (menurut pengamatan Redaksi).

Yang dapat kita harapkan adalah bahwa diskusi ini membuka mata kita akan berbagai informasi yang selama ini tak pernah kita peroleh, melalui kontribusi para komentator. Memang, bagi yang sudah mengenal berbagai informasi itu sebelumnya, informasi yang muncul dalam diskusi ini mungkin tidak relevan bagi mereka. Tetapi situs ini tidak hanya dibaca oleh orang-orang yang telah 'well-informed' itu.

***
Redaksi berencana membuat rangkuman dari diskusi ini; namun harus dimaklumi keterbatasan sumberdaya kami.

Sambil menunggu rangkuman itu, silahkan meneruskan diskusi dalam suasana bersahabat, berkepala dingin, kritis, rasional dan agak terfokus.

Salam,


Redaksi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pengunjung Situs Yaahowu khususnya peserta diskusi spontan atas tulisan Sdr. Erix Hutasoit,</p>
<p>Terima kasih atas partisipasi Anda dalam diskusi ini, sejauh ini. Redaksi masih mengharapkan tanggapan lanjut.</p>
<p>Kepada Sdr. Erix Redaksi menyampaikan penghargaan atas waktu yang dia berikan menjawab tanggapan-tanggapan dari para pembaca tulisannya. </p>
<p>Kepada para komentator, Redaksi juga menyampaikan penghargaan atas berbagai sumbangan pemikiran. Tanpa komentar anda semua, diskusi ini menjadi &#8216;kering&#8217; dan terasa hambar.</p>
<p>Sejauh ini, Redaksi memiliki kesan - peserta diskusi cukup berkepala dingin, memahami persoalan (baca: hal yang didiskusikan), dan karenanya memberikan kontribusi yang menurut hemat kami sangat positif.</p>
<p>Catatan khusus kami sampaikan kepada komentar yang ditulis oleh Sdr. &#8220;Ononiha&#8221;. Diskusi seperti ini, menurut hemat kami, tidak harus sampai kepada pemecahan masalah. Materi bahasan diskusi (&#8221;Kemiskinan&#8221;) merupakan hal yang sangat kompleks sifatnya - yang merupakan salah satu masalah global sepanjang zaman.</p>
<p>Terlalu &#8216;ambisius&#8217; kiranya kita kalau mengharapkan jawaban atas masalah itu dalam diskusi ini. Kita tidak bisa mengharapkan &#8216;berlebihan&#8217; dari sebuah diskusi yang hanya diikuti oleh sekitar 10 orang (menurut pengamatan Redaksi).</p>
<p>Yang dapat kita harapkan adalah bahwa diskusi ini membuka mata kita akan berbagai informasi yang selama ini tak pernah kita peroleh, melalui kontribusi para komentator. Memang, bagi yang sudah mengenal berbagai informasi itu sebelumnya, informasi yang muncul dalam diskusi ini mungkin tidak relevan bagi mereka. Tetapi situs ini tidak hanya dibaca oleh orang-orang yang telah &#8216;well-informed&#8217; itu.</p>
<p>***<br />
Redaksi berencana membuat rangkuman dari diskusi ini; namun harus dimaklumi keterbatasan sumberdaya kami.</p>
<p>Sambil menunggu rangkuman itu, silahkan meneruskan diskusi dalam suasana bersahabat, berkepala dingin, kritis, rasional dan agak terfokus.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Redaksi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by Erix</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3466</link>
		<dc:creator>Erix</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 07:46:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3466</guid>
		<description>Dear All,

Kebetulan dalam masa cuti saya punya urusan sejenak dengan internet, jadi saya sempatkan menilik diskusi kita.

Saya coba jawab secara cepat ya :

(1) Bapak Sof Lase, apa yang saya tulis itu adalah “analogi”. Saya Cuma menunjukkan logikanya saja. Kalau bapak tinggal di Pulau Nias bapak bisa melakukan penelitian lebih dalam untuk menemukan jawaban atas pertanyaan bapak. Toh, saya sudah tulis diakhir artikel saya bahwa akan menarik jika ada yang melakukan pendalaman dan  penelurusan tentang pola dan aktor-aktor.

(2) Bapak Syahrial P. Inti Pertanyaan bapak sudah dijawab dengan baik oleh redaksi. Tapi ada beberapa catatan untuk Bapak :

Pertama : Saya sarankan bapak untuk hati-hati dalam mengutip tulisan. Kutipan bapak mengenai adat nias dan batak sangat melenceng. Bapak harusnya berpikir dulu tentang konsekuensinya sebelum mengutip. Bapak boleh memprovokasi pemikiran tapi saya sarankan agar bapak tidak memprovokasi kebencian. Memprovokasi pikiran membuat orang lain untuk berusaha mengeluarkan argumemtasi yang paling logis. Artinya anda membuat orang lain untuk berusaha memberikan jawaban-jawaban yang baik. Tapi memprovokasi kebencian, bapak hanya akan menciptakan permusuhan. Seorang intelectual seperti bapak, tidak lah pantas melakukan hal itu.

Buat Bapak saya kutip ulang jawaban saya. Ini pak yang saya tulis,” Bukan hanya orang Nias yang punya budaya pernikahan seperti itu. Orang Batak juga punya sistem yang hampir sama. Ada nilai prestisius jika seseorang (batak) bisa memberikan ”sinamot” (dalam istilah Nias yaitu jujuran) yang besar kepada calon mertua nya. 

Tapi tidak serta-merta sistem ini dianggap menyebabkan orang Batak menjadi miskin. Karena dalam pelaksanaan adat itu ada ”fleksibilitas, terutama dalam menentukan besaran sinamot. Disanalah kearifan budaya (wisdom of culture) berperan. Komunikasi dan dialog yang santun mampu mengatasi masalah itu. Dan saya pikir orang Nias juga punya wisdom of culture itu.”

Dalam tanggapan bapak diatas, bapak menghilangkan kalimat terakhir dari kutipan itu, yaitu : ”Dan saya pikir orang Nias juga punya wisdom of culture itu.” 

Saya yakin bapak bisa membaca dengan baik konteks dari kalimat yang saya tulis itu. Karena teks itu jelas memberikan pemahaman bahwa : orang Nias sama seperti orang Batak, mereka akan mampu menyelesaikan masalahnya. Karena kedua budaya itu (baik Batak maupun Nias) punya kearifan budaya atau bahasa inggrisnya wisdom of culture.

Saya akan senang kalau tanggapan bapak lebih ”membumi/berfakta” dari pada sekadar memprovokasi.

Kedua, Apa yang salah dengan data-data World Bank ?? Susan George seorang sosalis pengkritik kapitalisme juga menggunakan data-data WB. Argumentasi bapak terlalu “subjektif” ketimbang sebuah argumentasi ilmiah. Mungkin bapak jarang berdiskusi dengan peneliti-penelitu “marxis” sehingga bapak tidak tahu soal itu.   

(3) Bapak Bapak Sarumaha. Bapak benar tentang itu. Saya sudah baca itu sebelumnya. Memang bukan WB yang bertanggung jawab, tapi kan ada penulisnya. Ini seperti buku yang dicetak pada sebuah percetakan. Kan percetakan tidak bertanggung jawab atas isi estacan. Tapi tidak lantas hal itu membuat data-data (fakta-fakta) yang ada dalam buku tidak bisa digunakan.Toh data-data bisa diolah dan dikembangkan. Jika bapak pernah belajar tentang metode penelitian, pasti tahu soal itu.
Kedua, 10 Fakta dan 10 Masalah, itu bukan WB pak yang memamaparkan. Bapak keliru tentang itu. Yang memaparkan itu team peneliti dari Lembaga Demografi UI. Saya tulis kok diatas. Jadi mohon dibaca lagi. Jika bapak ragu dengan hasil penelitian mereka (LD-UI), silahkan bapak untuk membuat penelitian tandingan.

(4) Bapak M.J Daeli. Apa yang saya paparkan itu adalah data-data/fakta-fakta lapangan (field fact) baik dalam bentuk angak maupun narative. Jadi bapak salah jika mengatakan bahwa apa yang saya paparkan adalah teori. Jika bapak merasa saya salah dalam pemaparan saya, silahkan untuk membuat artikel tandingan dengan memaparkan data-data yang bapak punya. Itu akan lebih sehat dan berguna dalam diskusi kita ini. Setuju pak ?

(5) Buat Debora. Apanya yang natural ? letaknya nya kah ? Kalau letaknya yang jauh dari daratan sumatera itu memang natural. Tapi apakah karena itu Pulau Nias harus terus-terusan terisoalasi. Soal jarak kan bisa diperpendek dengan transportasi, dengan cara penyediaan infrastruktur untuk itu. Tapi program untuk itu yang tidak ada maka nya Nias semakin terisolasi karena kebijakan politik..

(6)  Buat Merry Z, hehhehehehehe....terima kasih buat guyonannya. Tapi struktur yang dimaksud itu bukan soal kondisi geologis. Silahkan kutip tulisan diatas, tapi pahami dulu konteksnya ya. Ayo semangat..

(7) Buat redaksi. Terima kasih buat penjelasannya..

(8) Buat Sin Liong, silahkan teruskan membaca buku nya. Mudah-mudahan yang fiksi bisa buat jadi kenyataan ..

(9) Buat Bapak Otomed. Pulau Jawa yang kita anggap paling maju se Indonesia juga pada masa sebelum kolonial juga miskin kok (setidaknya dimata Belanda). Tapi masa itu belum ada sebuah negara yang bernama Republik Indonesia. Negara yang punya mimpi mensejahterakan rakyatnya. Nah, sekarang Indonesia sudah merdeka, tapi kok Pulau Nias ngak banyak berkembang. Malah kalah dari daerah lain. Nah, dari titik itulah saya berangkat menganalisis untuk menulis artikel diatas. Bagaimana Pak Otomed, setuju kah ?

(10) Buat Ononiha. Saya juga berharap seperti Anda. Diskusi ini tidak berkutat-kutat ditataran teoritis tapi lebih pada fakta-fakta lapangan. Lalu menghasilkam sesuatu. Tapi kita harus lebih bersabar, karena banyak kawan-kawan yang ikutan berdiskusi tidak tinggal di Nias atau pernah tinggal disini. Jadi gambaran real tentang Nias agak sedikit sulit untuk dicerna. Tapi itulah diskusi, kita tidak perlu memaksa orang lain untuk sepakat..

Well, terima kasih ..

Salam Cuti,

Erix</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Kebetulan dalam masa cuti saya punya urusan sejenak dengan internet, jadi saya sempatkan menilik diskusi kita.</p>
<p>Saya coba jawab secara cepat ya :</p>
<p>(1) Bapak Sof Lase, apa yang saya tulis itu adalah “analogi”. Saya Cuma menunjukkan logikanya saja. Kalau bapak tinggal di Pulau Nias bapak bisa melakukan penelitian lebih dalam untuk menemukan jawaban atas pertanyaan bapak. Toh, saya sudah tulis diakhir artikel saya bahwa akan menarik jika ada yang melakukan pendalaman dan  penelurusan tentang pola dan aktor-aktor.</p>
<p>(2) Bapak Syahrial P. Inti Pertanyaan bapak sudah dijawab dengan baik oleh redaksi. Tapi ada beberapa catatan untuk Bapak :</p>
<p>Pertama : Saya sarankan bapak untuk hati-hati dalam mengutip tulisan. Kutipan bapak mengenai adat nias dan batak sangat melenceng. Bapak harusnya berpikir dulu tentang konsekuensinya sebelum mengutip. Bapak boleh memprovokasi pemikiran tapi saya sarankan agar bapak tidak memprovokasi kebencian. Memprovokasi pikiran membuat orang lain untuk berusaha mengeluarkan argumemtasi yang paling logis. Artinya anda membuat orang lain untuk berusaha memberikan jawaban-jawaban yang baik. Tapi memprovokasi kebencian, bapak hanya akan menciptakan permusuhan. Seorang intelectual seperti bapak, tidak lah pantas melakukan hal itu.</p>
<p>Buat Bapak saya kutip ulang jawaban saya. Ini pak yang saya tulis,” Bukan hanya orang Nias yang punya budaya pernikahan seperti itu. Orang Batak juga punya sistem yang hampir sama. Ada nilai prestisius jika seseorang (batak) bisa memberikan ”sinamot” (dalam istilah Nias yaitu jujuran) yang besar kepada calon mertua nya. </p>
<p>Tapi tidak serta-merta sistem ini dianggap menyebabkan orang Batak menjadi miskin. Karena dalam pelaksanaan adat itu ada ”fleksibilitas, terutama dalam menentukan besaran sinamot. Disanalah kearifan budaya (wisdom of culture) berperan. Komunikasi dan dialog yang santun mampu mengatasi masalah itu. Dan saya pikir orang Nias juga punya wisdom of culture itu.”</p>
<p>Dalam tanggapan bapak diatas, bapak menghilangkan kalimat terakhir dari kutipan itu, yaitu : ”Dan saya pikir orang Nias juga punya wisdom of culture itu.” </p>
<p>Saya yakin bapak bisa membaca dengan baik konteks dari kalimat yang saya tulis itu. Karena teks itu jelas memberikan pemahaman bahwa : orang Nias sama seperti orang Batak, mereka akan mampu menyelesaikan masalahnya. Karena kedua budaya itu (baik Batak maupun Nias) punya kearifan budaya atau bahasa inggrisnya wisdom of culture.</p>
<p>Saya akan senang kalau tanggapan bapak lebih ”membumi/berfakta” dari pada sekadar memprovokasi.</p>
<p>Kedua, Apa yang salah dengan data-data World Bank ?? Susan George seorang sosalis pengkritik kapitalisme juga menggunakan data-data WB. Argumentasi bapak terlalu “subjektif” ketimbang sebuah argumentasi ilmiah. Mungkin bapak jarang berdiskusi dengan peneliti-penelitu “marxis” sehingga bapak tidak tahu soal itu.   </p>
<p>(3) Bapak Bapak Sarumaha. Bapak benar tentang itu. Saya sudah baca itu sebelumnya. Memang bukan WB yang bertanggung jawab, tapi kan ada penulisnya. Ini seperti buku yang dicetak pada sebuah percetakan. Kan percetakan tidak bertanggung jawab atas isi estacan. Tapi tidak lantas hal itu membuat data-data (fakta-fakta) yang ada dalam buku tidak bisa digunakan.Toh data-data bisa diolah dan dikembangkan. Jika bapak pernah belajar tentang metode penelitian, pasti tahu soal itu.<br />
Kedua, 10 Fakta dan 10 Masalah, itu bukan WB pak yang memamaparkan. Bapak keliru tentang itu. Yang memaparkan itu team peneliti dari Lembaga Demografi UI. Saya tulis kok diatas. Jadi mohon dibaca lagi. Jika bapak ragu dengan hasil penelitian mereka (LD-UI), silahkan bapak untuk membuat penelitian tandingan.</p>
<p>(4) Bapak M.J Daeli. Apa yang saya paparkan itu adalah data-data/fakta-fakta lapangan (field fact) baik dalam bentuk angak maupun narative. Jadi bapak salah jika mengatakan bahwa apa yang saya paparkan adalah teori. Jika bapak merasa saya salah dalam pemaparan saya, silahkan untuk membuat artikel tandingan dengan memaparkan data-data yang bapak punya. Itu akan lebih sehat dan berguna dalam diskusi kita ini. Setuju pak ?</p>
<p>(5) Buat Debora. Apanya yang natural ? letaknya nya kah ? Kalau letaknya yang jauh dari daratan sumatera itu memang natural. Tapi apakah karena itu Pulau Nias harus terus-terusan terisoalasi. Soal jarak kan bisa diperpendek dengan transportasi, dengan cara penyediaan infrastruktur untuk itu. Tapi program untuk itu yang tidak ada maka nya Nias semakin terisolasi karena kebijakan politik..</p>
<p>(6)  Buat Merry Z, hehhehehehehe&#8230;.terima kasih buat guyonannya. Tapi struktur yang dimaksud itu bukan soal kondisi geologis. Silahkan kutip tulisan diatas, tapi pahami dulu konteksnya ya. Ayo semangat..</p>
<p>(7) Buat redaksi. Terima kasih buat penjelasannya..</p>
<p>(8) Buat Sin Liong, silahkan teruskan membaca buku nya. Mudah-mudahan yang fiksi bisa buat jadi kenyataan ..</p>
<p>(9) Buat Bapak Otomed. Pulau Jawa yang kita anggap paling maju se Indonesia juga pada masa sebelum kolonial juga miskin kok (setidaknya dimata Belanda). Tapi masa itu belum ada sebuah negara yang bernama Republik Indonesia. Negara yang punya mimpi mensejahterakan rakyatnya. Nah, sekarang Indonesia sudah merdeka, tapi kok Pulau Nias ngak banyak berkembang. Malah kalah dari daerah lain. Nah, dari titik itulah saya berangkat menganalisis untuk menulis artikel diatas. Bagaimana Pak Otomed, setuju kah ?</p>
<p>(10) Buat Ononiha. Saya juga berharap seperti Anda. Diskusi ini tidak berkutat-kutat ditataran teoritis tapi lebih pada fakta-fakta lapangan. Lalu menghasilkam sesuatu. Tapi kita harus lebih bersabar, karena banyak kawan-kawan yang ikutan berdiskusi tidak tinggal di Nias atau pernah tinggal disini. Jadi gambaran real tentang Nias agak sedikit sulit untuk dicerna. Tapi itulah diskusi, kita tidak perlu memaksa orang lain untuk sepakat..</p>
<p>Well, terima kasih ..</p>
<p>Salam Cuti,</p>
<p>Erix</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by Ononiha</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3465</link>
		<dc:creator>Ononiha</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 01:40:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3465</guid>
		<description>Redaksi Yth.

Harapan kita semua agar diskusi dalam situs ini, tidak seperti diskusi pada situs-situs yang lain tertentu tanpa unjung alias mengambang. Setidaknya : materi yang disampaikan tidak terlalu menyimpanglah. Sayang energi yang  dikeluarkan. Hanya saran.

Terima kasih.-</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Redaksi Yth.</p>
<p>Harapan kita semua agar diskusi dalam situs ini, tidak seperti diskusi pada situs-situs yang lain tertentu tanpa unjung alias mengambang. Setidaknya : materi yang disampaikan tidak terlalu menyimpanglah. Sayang energi yang  dikeluarkan. Hanya saran.</p>
<p>Terima kasih.-</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by otomend</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3464</link>
		<dc:creator>otomend</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 15:09:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3464</guid>
		<description>Dalam salah satu perjalanan lapangannya ketika pelukis Belanda, Rudolf Bonnet, menyertainya, Kunts merasa miris ketika ia terpaksa mendengar seorang misionaris Jerman di pulau Nias memimpin paduan suara orang pribumi Kristen yang menyanyikan empat bagian karya Bach. Ketika selesai, akhirnya ia menyatakan bahwa ia tidak tahu siapa yang patut dikasihani: Johan Sebastian Bach yang mengibakan atau penduduk Nias yang miskin.

Kutipan di atas dari 'Dutch Culture Overseas: Colonial in the Netherland Indies 1900-1942' karya Frances Gouda (1995). Sedang Gouda merujuk 'De inheemsche muziek en de zending' karya Jaap Kunst (1947). Intinya, sejak kolonial pun penduduk Nias sudah miskin, bukan hanya mulai semasa rezim orba seperti kata mas Erix. Atau... bagaimana menurut Anda?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam salah satu perjalanan lapangannya ketika pelukis Belanda, Rudolf Bonnet, menyertainya, Kunts merasa miris ketika ia terpaksa mendengar seorang misionaris Jerman di pulau Nias memimpin paduan suara orang pribumi Kristen yang menyanyikan empat bagian karya Bach. Ketika selesai, akhirnya ia menyatakan bahwa ia tidak tahu siapa yang patut dikasihani: Johan Sebastian Bach yang mengibakan atau penduduk Nias yang miskin.</p>
<p>Kutipan di atas dari &#8216;Dutch Culture Overseas: Colonial in the Netherland Indies 1900-1942&#8242; karya Frances Gouda (1995). Sedang Gouda merujuk &#8216;De inheemsche muziek en de zending&#8217; karya Jaap Kunst (1947). Intinya, sejak kolonial pun penduduk Nias sudah miskin, bukan hanya mulai semasa rezim orba seperti kata mas Erix. Atau&#8230; bagaimana menurut Anda?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Hari ini, 182.218 Pelamar CPNS di Sumut &#8220;Bertarung&#8221; Rebut 14.360 Kursi by Jajang.Ridwan</title>
		<link>http://niasonline.net/2006/02/28/hari-ini-182218-pelamar-cpns-di-sumut-bertarung-rebut-14360-kursi/#comment-3463</link>
		<dc:creator>Jajang.Ridwan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 07:20:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/nox/?p=243#comment-3463</guid>
		<description>Tolong kabari saya kapan cpns tahun 2008-2009 untuk kabupaten langkat SUMUT.Terimakasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tolong kabari saya kapan cpns tahun 2008-2009 untuk kabupaten langkat SUMUT.Terimakasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menelusuri Akar Kemiskinan Nias by Sin Liong</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/08/12/menelusuri-akar-kemiskinan-nias/#comment-3462</link>
		<dc:creator>Sin Liong</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 07:17:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=2154#comment-3462</guid>
		<description>Putri Syanti Dewi rupanya jadi murid Ouw Yan Hui yg berjuluk Bu-eng-kwi (Iblis Tanpa Bayangan) di sebuah pulau yg terdapat ular-ular kecil berwarna kuning emas, makanya disebut pulau Kim-coa-to (pulau Ular Emas). Bu-eng-kwi ini seorang janda kaya-raya, membangun istana kecil, di sana banyak pelayan yg cantik-cantik... dan karna wanita ini selain punya kecantikan luar biasa juga memiliki ilmu silat yg hebat, maka mana ada orang dunia kang-ouw atau pedagang monopoli berani lancang mendekati pulau itu, kecuali kalau hendak berkunjung dengan keperluan penting. Pulau itu jauh dari lempengan tsunami dan episenter gempa dengan struktur tanah labil, jadi... tak ada kemiskinan struktural di sana... Nhah... sembari ngikutin diskusi ini saya nerusin baca fiksi ’Suling emas dan naga siluman’... :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Putri Syanti Dewi rupanya jadi murid Ouw Yan Hui yg berjuluk Bu-eng-kwi (Iblis Tanpa Bayangan) di sebuah pulau yg terdapat ular-ular kecil berwarna kuning emas, makanya disebut pulau Kim-coa-to (pulau Ular Emas). Bu-eng-kwi ini seorang janda kaya-raya, membangun istana kecil, di sana banyak pelayan yg cantik-cantik&#8230; dan karna wanita ini selain punya kecantikan luar biasa juga memiliki ilmu silat yg hebat, maka mana ada orang dunia kang-ouw atau pedagang monopoli berani lancang mendekati pulau itu, kecuali kalau hendak berkunjung dengan keperluan penting. Pulau itu jauh dari lempengan tsunami dan episenter gempa dengan struktur tanah labil, jadi&#8230; tak ada kemiskinan struktural di sana&#8230; Nhah&#8230; sembari ngikutin diskusi ini saya nerusin baca fiksi ’Suling emas dan naga siluman’&#8230; <img src='http://niasonline.net/nox/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Teknik Baru Menghasilkan Hidrogen Murah dan Melimpah by sujarwadi</title>
		<link>http://niasonline.net/2007/11/13/teknik-baru-menghasilkan-hidrogen-murah-dan-melimpah/#comment-3461</link>
		<dc:creator>sujarwadi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 06:30:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2007/11/13/teknik-baru-menghasilkan-hidrogen-murah-dan-melimpah/#comment-3461</guid>
		<description>aku yakin bahan bakar mobil nanti berubah jadi hidrogen cair</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku yakin bahan bakar mobil nanti berubah jadi hidrogen cair</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
