Catatan Redaksi: Pada tgl 30-31 Oktober 2006 berlangsung Konferensi Internasional tentang seni dan arsitektur Nias yang dihadiri oleh pakar dari berbagai disiplin ilmu. Pada akhir konferensi para peserta sepakat membentuk Jaringan Riset Pulau Nias (Nias Research Network). Apa misi dan misi jaringan ini ? Visi dan Misi NRN dapat dilihat dari deklarasi para peserta dengan judul: “The Vienna Declaration 2006“ yang diterjemahkan secara bebas oleh Redaksi Yaahowu. (more…)
Archive for the ‘Budaya’
Famahaõ Moroi ba Hoho Nono Niha (3)
Mangendröna Wolului ba Niha Bõ’õ
(Suka memberi pertolongan kepada orang lain)
he balugu, he tuha
lõ maulu na ha samõsa
he tuha he balugu
falali, zara falulu (more…)
Famahaõ Moroi ba Hoho Nono Niha (2)
Mondrou’õ Fangewolo Buabua Fa’olomasi ba Wangoroma’õ Auata Watalifusöta ba Flali Falulu
(Mengembangkan perbuatan-perbuatan luhur yang mencerminkan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan)
datalau fahulõ fa’alasõkhi
tafaliolio ba wa’olomasi
wangoroma’õ tõdõ safusi
i’la’ila wa ya’ita no fakhai (more…)
Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias?
Oleh Postinus Gulö
Pengantar
Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Tetapi Böwö ini telah melahirkan problem baru yang tidak selalu disadari oleh masyarakat Nias sendiri. Keganjilan penerapan Böwö ini juga dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal (berkunjung) di Pulau Nias. Dan tidak heran jika kebanyakan orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias selalu memiliki kesan: mahar, jujuran (böwö, gogoila) perkawinan Nias mahal! Oleh karenanya ketika mereka mau (baca: akan) menikah dengan gadis Nias ada semacam ketakutan, keengganan, keragu-raguan. Dan, tentu hal ini adalah kesan buruk! Ada apa dengan sistem adat perkawinan Nias? Yang salah “sistemnya” atau “masyarakat Niasnya”? (more…)
Öri Sebuah Refleksi Budaya Nias
Oleh: Restu Jaya Duha
[Catatan Redaksi: Artikel ini (jawaban penulis atas komentar Pemerhati) agak lama baru ditayangkan karena kesulitan teknis pembuatan tabel. Semoga masih aktual].
Yth Bapak/Ibu Pemerhati
Saya senang sekali dan mengucapkan terima kasih atas tanggapannya pada artikel “Tahap Tahap Pembentukan Propinsi Tanö Niha”, alangkah saya sangat tertarik membaca tulisan dan uraiannya, sangat tajam analisanya dan sudah tentu juga sangat membutuhkan kecermatan dan kejelian yang mendalam untuk meresposnya kembali. (more…)
Nias Selatan Suguhkan Kelengkapan Budaya dan Kesenian di Pameran Internasional Deep Indonesia 2007
Telukdalam (SIB)
Nias Selatan —dalam hal ini— Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menyuguhkan segala sesuatu tentang budaya dan kesenian Nias Selatan secara lengkap di pameran internasional bertajuk Deep Indonesia 2007 yang dilaksanakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. “Sebagai wakil dari Provinsi Sumatera Utara, Nias Selatan tidak menyiakan kesempatan berharga untuk mempromosikan Nias Selatan ke ajang internasional,” jelas Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Nias Selatan Solistis PO Dachi melalui Sane Bidaya di Telukdalam, Nias Selatan, Rabu (28/3). (more…)
Desa Bawomataluo Diusulkan Masuk Warisan Budaya Dunia
Laporan Wartawan Kompas Aufrida Wismi Warastri
MEDAN, KOMPAS - Desa Budaya Bawomataluo di Kabupaten Nias Selatan, Pulau Nias diusulkan menjadi kawasan warisan budaya dunia. Desa ini masuk urutan keempat usulan ke Unesco setelah Ubud Bali, Tanah Toraja, dan kawasan Trowulan, Jawa Timur. (more…)
“Orang Nias”, Tahun 1150 Masehi Masih Hidup di Dalam Gua
Catatan Reaksi: Artikel berikut muncul di Harian SIB, Minggu 14 Mai 2006. Isinya, yang berkaitan dengan perbincangan tentang asal-usul masyarakat Nias, kiranya masih relevan untuk diikuti. (more…)
Elemu: Solohe ba Wa’atekiko (2)
Tandra-tandra Niha So’elemu
Börö me so ba gotaluada zo’elemu, ba tatu manö wa itataria fariawö ita khöra. Fa’aso gelemu andrö ba mbotora ba ba gera’erara tola isausi niha bö’ö si fariawö khöra: talifusöra, awöra ba lala, si falukha khöra ba harimbale, ba tanö bö’ö. Börö me tola isausi ita elemu andrö sitaro ba zi samö-samösa niha, moguna ta’ila lala hewisa wangeheta ma ba wamandröndröu ya’ita moroi ba pöngaru (pengaruh) gelemu andrö. (more…)
Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen
Pengantar Redaksi: Artikel berikut muncul di Nias Portal pada tanggal 19 Februari 2004. Isinya masih cukup aktual. (more…)
Jika Tidak Dilestarikan, Bahasa Akan Punah
Jakarta, Kompas - Bahasa akan punah jika tidak dilestarikan atau tidak dipergunakan oleh masyarakat pendukungnya, baik sebagai sarana pengungkap maupun sebagai sarana komunikasi. (more…)
Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias
Pengantar Redaksi: Wawancara Nias Portal dengan P. Johannes Hammerel OFMCap. berikut ditayangkan di Nias Portal tagl 15 Desember 2003, namun isinya masih tetap aktual. Pewawancara: R. Laia, Webmaster dan Pemimpin Redaksi Nias Portal yang dulu beralamat di: http://nias-portal.org. (more…)
Elemu: Solohe ba Wa’atekiko (1)
Te lö ba gotaluada zi lö irai mamondrongo nifotöi elemu. Dörö na’i so ba gotaluada zo’elemu. Oya niha sata’u ba niha so’elemu, ba oya göi niha solohi-lohi elemu, somasi möi faguru. Hadia zinduhunia nifotöi elemu andrö ? Hana wa lagohi-gohi sibai niha gelemu andrö ? Hewisa göi dandra-tandra ma ila’ila niha so’elemu ? Hezo lasöndra niha gelemu andrö ? Hadia “hareda” na so khöda gelemu ? Hana göi wa abölö sökhi na ta’aröu’ö ita moroi ba gelemu andrö ? (more…)
Rumah Nias Selatan – Foto-foto Koleksi Mahatmanto* (1995)
Catatan Redaksi: Beberapa pengunjung meminta gambar-gambar rumah adat Nias. Redaksi tidak memiliki koleksi khusus foto-foto rumah adat Nias. Artikel berikut memuat foto-foto rumah adat Nias Selatan koleksi Mahatmanto (1995). (more…)
Mari Memahami Hoho “Fomböi Böröta Niha”
Pengantar
Sesudah Sihai menciptakan ke sembilan dunia atas plus bumi yang kita diami ini, Sihai meneruskan karyanya[1]. Ia menciptakan sepasang manusia pertama di Teteholi Ana’a (dunia ke sembilan - lihat Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua” dan Penjelasannya). Manusia yang pertama diciptakan adalah laki-laki (”onomatua”): Tuha Sangehangehao, Tuha Sangaewangaewa. Secara harfiah nama ini berarti Tuan yang pintar merawat diri, tuan yang tinggi badannya dan sangat ganteng. Pasangannya, ira’alawe (Putri) bernama: Buruti Sangazöngazökhi, Buruti So’ungoi Ngaoma, seorang putri yang senang merias diri. (more…)
FOMBÖI BÖRÖTA NIHA
Ba maoso zui Zihai Uwu Nangi
ba maoso zui Zihai Uwu Mbara
Ifuli ifagia nuwu nangi
ifuli ifagia nuwu mbara
Ifagia nangi si hulö nadu nuwu
ifagia nangi si hulö zinela (more…)
Representasi Nilai Budaya Nias Dalam Tradisi Lisan
Oleh Dr Sady Telaumbanua MPd MA
Pendahuluan
Tulisan ini diangkat dari makalah saya dalam sebuah seminar budaya Nias yang diselenggarakan di Gunungsitoli pada 27-28 November 2006 oleh Lembaga Budaya Nias. Tentu saja di sana-sini terdapat beberapa penyesuaian setalah mendapat masukan dari peserta seminar. Pertanyaan pemandu pembahasan ialah, “Bagaimana wujud nilai budaya Nias? Apa makna yang terdapat di dalamnya?” Kedua pertanyaan inilah yang akan dipaparkan secara ringkas dalam tulisan ini. (more…)
By Submarine Through the Netherlands East Indies
Ini adalah judul dari sebuah laporan perjalanan yang diterbitkan dalam The Geographical Journal, Vol. 77, No. 4, April 1931. Penulisnya adalah Dr. F.A. Vening Meinez, seorang peneliti geodesi dari the Netherlands Geodetic Commission - Belanda. Dalam rangka penelitian anomali gravitas di Hindia Timur, Meinez melakukan pelayaran mengarungi samudera dengan kapal selam “Hr. Ms. K XIII” yang ditugaskan oleh Vice-Admiral Ten Broecke Hoekstra, Komandan Angkatan Laut Hindia Timur (East Indian Naval Forces). Pelayaran ini dilakukan pada tahun 1929. Di Hindia Belanda, Meinez dan timnya singgah di berbagai daerah di tanah air mulai dari daerah Indonesia Timur hingga ke Indonesia Barat. (more…)
Mari Memahami Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua”
Catatan Penulis: Dalam tulisan ini diberikan suatu pemahaman bait demi bait Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua” dari halaman 18 – 24 buku “Fondrakö Ono Niha - Agama Purba – Hukum Adat Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias” karangan S.W. Mendröfa (A. Rozaman). Penulis menggunakan sebagian terjemahan S.W. Mendröfa dalam teks hoho. Pembaca disarankan membaca teks lengkap hoho tersebut yang ditayangkan dalam Situs ini. (more…)
Fomböi Tanö Awö Mbanua*
Pengantar Redaksi: Dalam Rangka Diskusi mengenai Asal Usul Ono Niha, Redaksi akan menayangkan sejumlah Hoho yang terkait, yakni: (1) Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua” - yang ini, (2) Hoho Fomböi Böröta Niha dari Buku “Fondrakö …”, dan (3) Hoho “Böröta Niha” dari buku “Hikaya Nadu”. (more…)
Pengertian “nidada”, “nifailo” dalam Buku Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interrpetasi
Dalam kritiknya terhadap P. Johannes Hammerle, Victor Zebua (penulis buku HoJeNK) membuat suatu kesilafan kecil, yakni lupa bahwa dalam buku “Asal-usul Masyarakat Nias – Suatu Interrpetasi” (selanjutnya disingkat “Asal Usul …”) tafsiran kada “ladada” atau “lafailo” telah ada. Hal ini telah diungkapkan oleh Johannes Waruwu dalam komentarnya pada kaki tulisan “Suatu Kekeliruan Interpretasi”. (more…)
Suatu Kekeliruan Interpretasi
E. Halawa*
Ketika tulisan berjudul “Kritik, Berpikir dan Bersikap Kritis” ditayangkan dalam situs ini, para pengunjung mengait - ngaitkannya dengan terbitnya sebuah buku baru tentang Budaya Nias berjudul: “Ho Jendela Nias Kuno – Sebuah Analisis Kritis Mitologis” (selanjutnya disingkat HoJeNK dalm tulisan ini) karangan dr. Victor Zebua, M. Kes. Buku ini mendapat publikasi yang cukup luas sejak Zebua menginformasikan kehadiranya sebagai sebuah topik kese-kese di NiasIsland. (more…)
Lagu Lama (Iraono Sihino Tõla)
Ya’aga iraono sihino dõla,
saohagõlõma mboto na moguna
Tuyu mbaluse awõ doho,
he ha lewuõ ha ono gauko
Na oi ha sara oi awula,
fana maria fana sesolo
Moloi nudu ba lakhõmi zato (more…)
Teori Multietnis Masyarakat Nias dalam Buku E. Fries: “Nias - Amoeata Hulo Nono Niha”
Terbitnya buku Ho Jendela Nias Kuno - Sebuah Kajian Kritis Mitologis karangan dr. Victor Zebua, M. Kes. (selanjutnya disingkat: Zebua) semakin menyemarakkan perbincangan tentang asal usul masyarakat Nias yang dimulai sejak terbitnya pada tahun 2001 buku berjudul “Asal Usul Masyarakat Nias – Sebuah Interpretasi”, karangan P. Johannes Hammerle, OFM Cap. (selanjutnya disingkat: Hammerle). Buku yang terakhir disebut telah menjadi buku “pegangan” dan “rujukan” hampir setiap Ono Niha dan orang luar yang mau membicarakan asal usul masyarakat Nias (böröta Nono Niha). (more…)
Suara Perantau Asal Nias
Batak Pos
DAIRI dan Pakpak Bharat dipandang belum juga menentukan mau bergabung ke Provinsi Tapanuli. Lalu bagaimana dengan Nias? Sebagai bagian Provinsi Sumut, Nias memiliki keunikan khusus antara lain dari segi etnis, adat istiadat, bahasa, agama dan terdiri dari pulau-pulau. Dengan situasi dan kondisi pulau seperti itu bagaimana sikap mereka atas gagasan pembentukan Provinsi Tapanuli? (more…)
Si Numana Zatua Föna ba Wondrorogö
Mato 30 fakhe ba zi lalö, ero-ero so wangowalu nifalua götö da’ö, asese tarongo maena nifotöi: Si Numana Zatua. Faduhu dödögu wa lö olifu ita wanehe töi maena andrö, ya’ia da’ö: (more…)
Meebo dan Bahasa Nias
Oleh: Yustinus Waruwu
Meebo (Mouse Exonic Evidence Based Oligonucleotide) adalah sebuah media obrolan berbasis web yang menyatukan semua semua IM (instant messaging) tanpa membutuhkan perangkat lunak (software) dalam PC atau Notebook. Media ini sangat cocok untuk digunakan dalam perjalanan (mobile); di warung internet, bandar udara yang menyediakan layanan internet gratis sebagai layanan pemakai jasa. Meebo ini sendiri digemari oleh kalangan muda sebagai media percakapan atau obrolan yang tak terpisahkan. Maka tidak heran sejak peluncurannya, Meebo diakses oleh sekitar 60 juta orang setiap harinya. (more…)
Jejak Manusia Pertama Sumatera Utara Ada di Pulau Nias
TEMPO Interaktif, Medan:
Penelitian Balai Arkeologi Medan menguak jejak peradaban manusia pertama di Sumatera Utara. Jejak kehadiran manusia tergambar dari temuan arkeologis seperti sisa-sisa vertebrata (tulang dan gigi). (more…)
Bupati Nias Buka Musyawarah Adat Fondrakö
Gunungsitoli, (Analisa)
Musyawarah adat atau Fondrakö yang diselenggarakan memiliki memiliki makna sangat penting dan strategis bagi seluruh masyarakat Nias serta merupakan salah momentum untuk pelestarian budaya Nias, hingga masyarakat Nias tidak kehilangan jati dirinya. (more…)
Gali Budaya Nias, LBN Gunakan Dana Rp 1,166 Milyar
Gunungsitoli, (Analisa)
Dalam menggali kembali budaya-budaya yang ada di Kabupaten Nias, Lembaga budaya Nias (LBN) yang dipercayakan pihak Badan Rehabilitas dan Rekonstruksi (BRR) Perwakilan Nias melalui Satuan Kerja Sosial, Budaya, Agama gunakan dana sebesar Rp1,166 milyar dengan tiga kegiatan akbar yang direncanakan yakni, musyawarah adat (Fondarkho), Seminar study kelembagaan adat dan budaya Nias serta Festival dan pameran seni budaya Nias Tahun 2006. (more…)
Famahaö Moroi ba Hoho Nono Niha
Famasao: Sindruhu wa niha sanau fangera-ngera, si sökhi hada ba si sökhi böwö ndra satuada föna; oroma moroi ba hoho niröira khöda. Hadia so göi zi toröi ba mbuabuada fa’asökhira ? Khöda wangerangera. Hoho nisura andre tou tehalö ia moroi ba mbuku: Hoho, Manömanö Nono Niha So’atumbukha moroi ba Pancasila – nifa’anö S.W. Mendröfa (A. Rozaman) (more…)
“Nias” di Dunia Maya
Nias, nama yang populer bagi Tanö Niha, ternyata sungguh-sungguh populer. Kalau Anda berselancar di dunia maya (internet) anda akan melihat cukup banyak organisasi yang berakronim NIAS. Adakah mereka secara sengaja mengambil “Nias” sebagai nama organisasi mereka ? Kenalkah mereka dengan Pulau Nias (Tanö Niha) ? Kita kurang tahu pasti. Yang jelas, dalam dunia internet, “nama” merupakan kunci kepopulean sebuah situs. (more…)
Tradisi Prasejarah Masih Berlangsung di Nias
Jakarta, Kompas - Tradisi megalitik—salah satu produk budaya dari masa prasejarah—di Pulau Nias, Sumatera Utara, masih berlanjut dan hingga kini terus dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya. Kenyataan itu, antara lain, terlihat dalam sistem kepercayaan tentang asal- usul serta pemujaan terhadap arwah para leluhur. (more…)
Nias Akan Masuk Salah Satu Daftar Warisan Budaya Dunia
Medan (SIB)
Pulau Nias akan masuk menjadi salah satu daftar warisan budaya dunia. Menuju arah tersebut tim ahli dari Unesco melakukan berbagai persiapan salah satunya mencari data untuk meneliti keadaan Nias.
Richard A Engelhardt dan Graham Brooks tim dari Unesco tersebut melakukan konsultasi dengan Balai Arkeologi Medan, Kamis (7/9) guna merumuskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan dengan badan ini dalam jangka pendek dan jangka panjang mewujudkan Nias menjadi salah satu daftar warisan dunia. (more…)
Yahobu ! Manere-nere si alabe …
E. Halawa*
Bahasa adalah konvensi. Itulah pernyataan yang sering kita dengar yang berkaitan dengan pemunculan istilah atau kebiasaan berbahasa dalam bahasa apa pun. Maka, suatu istilah baru dapat saja muncul, sejauh disepakati, diterima oleh penutur bahasa itu, meskipun itu terkadang bertentangan dengan kaidah-kaidah umum bahasa yang bersangkutan. Konvensi adalah salah satu cara melalui mana suatu bahasa berkembang. Konvensi biasanya dimunculkan oleh ‘komunitas’ yang mempunyai pengaruh tertentu karena keahliannya, dominasi ekonomi atau sosialnya, atau karena kegiatan khusus tertentu yang digumuli, dan sebagainya. (more…)
Lindungi Bahasa Daerah dengan Payung Hukum
[SEMARANG] Payung hukum baik berupa undang-undang maupun perda sangat penting untuk melindungi bahasa daerah dari ancaman kepunahan akibat gempuran arus globalisasi. Payung hukum itu bersifat mengikat, karena berisikan langkah-langkah kebijakan yang bersifat teknis sehingga memudahkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama melalui pendidikan formal. (more…)
Dua Lagu dari Album Onogauko mengudara di Adelaide, Australia
Pada hari Rabu tgl 6 September 2006, stasiun radio 5EBI FM di Adelaide, Australia yang mengudara pada frekuensi 103.1 KHz, mengudarakan dua lagu Nias: Wara Hetawisa dan Lö Sa’ae ba Dödö. Pengudaraan kedua lagu ini bersamaan dengan penayangan wawancara penulis dengan Ibu Ursula Soeharto pengasuh segmen siaran berbahasa Indonesia di radio tersebut. Mungkin faktor jarak yang cukup jauh dari Nias menjadikan momen tersebut memiliki arti khusus buat penulis. (more…)
Digelar, Pertunjukan Seni Tradisional Aceh-Nias
Pembaruan/Alex Suban
JAKARTA - Untuk mengapresiasi dan menghidupkan kembali nafas seni budaya Aceh, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh - Nias menggelar Malam Kesenian Aceh - Nias di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (23/2) malam. Dalam acara tersebut, turut dihadirkan Serune Kale, sebuah atraksi musik tiup tradisional Aceh yang hampir punah. (more…)
Satu Bahasa Dunia Lenyap Setiap Dua Pekan
PARIS (MIOL)
Lebih dari separuh dari 6.000 bahasa di dunia berada di ambang kepunahan, Organisasi Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan PBB (UNESCO) menyatakan. “Rata-rata satu bahasa lenyap setiap dua pekan,” kata organisasi itu dalam perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional Ke-6 di Paris. Di samping itu, hanya 10 persen dari bahasa dunia diwakili di Internet, kata UNESCO.
Artikel Terbaru
- Potret Semangat Putri Nias
- Sekolah UNICEF Pertama Untuk Nias Selatan, Di Penghujung Tahun 2008
- Kepala Daerah dan Satker di Sumut Tak Perlu Takut Gunakan Anggaran
- Tsunami di Manokwari Terdeteksi
- Mengelola Kebebasan - Bagian Penutup
- Mengelola Kebebasan - Bagian 3
- Mengenal Penyakit Kawasaki
- Pengumuman CPNS Nisel tidak sesuai urutan ranking
- Mengelola Kebebasan - Bagian 2
- Putri Nias Menimba Ilmu di Yogya