Category Archives: Bahasa Nias

Written on Dec, 13, 2008 by in | 3 Comments.

Oleh Wa’özisökhi Nazara* Catatan Redaksi: Karena tulisan ini relatif panjang, maka kami menampilkannya dalam tiga bagian. ABSTRACT This is a morphophonemic analysis on Nias, an Austronesian language spoken by about 700,000 people. Most of them live on the island of Nias. Morphophonemic processes in the vocalic language occur in nouns and verbs. Morphophonemic processes which occur in nouns are of …

Continue Reading...
Written on Aug, 28, 2008 by in | 6 Comments.

Anda pernah mendengar kedua kata itu dalam percakapan di antara orang-orang Nias ? Barangkali kedua kata itu sudah jarang-jarang muncul sekarang dalam percakapan. Akan tetapi dulu, kedua kata itu kerap terdengar.

Continue Reading...
Written on Aug, 15, 2008 by in | 18 Comments.

Oleh: Pdt. Dal. Zendratö, STh.* Kalau kita ke pulau Nias pasti kita mendengar ucapan Ya’ahowu, demikian sesama orang Nias kalau bertemu diawali dengan ucapan Ya’ahowu. Memang harus demikian. Ya’ahowu adalah salam dalam bahasa daerah Nias. Masalahnya, apakah pengucap atau pemakai salam Ya’ahowu pernah berpikir arti dan makna Ya’ahowu secara bentuk kata (morfologi) ? Karena kata Ya’ahowu sesuatu yang lumrah dan …

Continue Reading...
Written on May, 07, 2008 by in | 31 Comments.

E. Halawa* Sibaya, paman, uncle. Ketiga kata ini, yang kita temui dalam 3 bahasa yang berbeda, seringkali dianggap searti, memiliki satu pengertian. Benarkah ? “Ali adalah paman saya” mungkin tidak selalu sama dengan “Sibayagu zi Ali“, atau “Ali is my uncle“.

Continue Reading...
Written on Feb, 15, 2008 by in | 1 Comment.

*Memanggil binatang piaraan/ternakan dalam bahasa Nias Bagaimana memanggil binatang piaraan/ternak dalam bahasa Nias ? Apa ‘kata’ atau ‘kode’ yang kita pakai untuk memanggil (berkomunikasi dengan) mereka ? Asu (anjing), bawi (babi), bebe (bebek), beo/magiao (burung beo), manu (ayam), mao (kucing), mafaradi (merpati) merupakan binatang piaraan/ternak yang umumnya dikenal masyarakat Nias di zaman dahulu. Namun sekarang, barangkali hanya 4 jenis yang …

Continue Reading...
Written on Nov, 16, 2007 by in | 6 Comments.

I Dari pengamatan terhadap bahasa tulis Li Niha generasi muda Ono Niha dalam dunia maya memang membuat kita kuatir, bahwa suatu saat Li Niha itu tinggal nama, alias punah. Banyak dari kita misalnya tidak bisa lagi membedakan kapan kita harus menuliskan “duria” atau “nduria” ketika berbicara tentang buah durian, kapan kita menuliskan “kefe” atau “gefe” untuk “uang”, “turia” atau “duria” …

Continue Reading...
Written on Nov, 16, 2007 by in | 2 Comments.

Seorang pembaca artikel “Karakter “ö” dalam Li Niha”, Bung Fofo’usö, memberikan komentar terkait dengan u lama (“oe”), tanda hubung dalam kata-kata Li Niha dan penerapan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam Li Niha. Tulisan singkat ini merupakan tanggapan atas komentar itu.

Continue Reading...
Written on Nov, 16, 2007 by in , | Leave a comment

Sebagaimana ditulis S. La’ia dalam artikel berjudul Nias dan Karya Seni E. Fries, Alkitab Bahasa Nias karangan H. Sündermann “merupakan dokumen tulisan pertama dalam bahasa Nias”. Dengan demikian dapat disimpulkan pula bahwa H. Sundermann-lah yang memunculkan dua versi huruf “W/w” dalam bahasa tulis Li Niha.

Continue Reading...
Written on Sep, 10, 2007 by in | Leave a comment

“Syair” seperti berikut ini sering diucapkan anak-anak desa di Nias hingga akhir tahun 1960an. Kita tidak tahu persis masuk dalam kelompok mana untaian “syair’ tersebut. Yang jelas ia tidak termasuk dalam “hoho” meski ada unsur keindahannya dan juga ada teknik khusus untuk menghasilkan baris berikutnya: ya’itu mengambil satu “kata” dari baris sebelumnya dan “mengembangkannya”.

Continue Reading...
Written on Aug, 28, 2007 by in | 3 Comments.

Tanggapan Bapak/Ibu Saro Z terhadap artikel: Ungkapan Waktu Dalam Tradisi Masyarakat Nias mengingatkan penulis akan berbagai pengertian “yöu” dan “raya” dalam Bahasa Nias.

Continue Reading...
Written on Jul, 04, 2007 by in , | 6 Comments.

Sampai sekitar 30 tahun lalu, ketika jam dinding atau jam tangan (aralozi / tandra luo) belum begitu dikenal atau hanya dimiliki oleh sejumlah terbatas orang Nias, masyarakat Nias di desa-desa masih mengandalkan cara-cara “pragmatis” untuk menyatakan atau menaksir waktu sepanjang hari.

Continue Reading...
Written on May, 23, 2007 by in , | 4 Comments.

Ada permainan anak-anak Nias berupa sahut-sahutan (gema-gema) seperti berikut ini. Kita tak pernah lagi mendengarnya dari mulut anak-anak Nias sekarang. Ini benar-benar “permainan” kata-kata yang cukup menarik. Si A menanya dan mendesak B terus menerus, dan si B menjawab “sekenanya”.

Continue Reading...
Written on May, 12, 2007 by in , | 3 Comments.

Saya membuka Alkitab Bahasa Nias, Soera Gamaboe’oela Li Sibohou Edisi 1911 susunan H. Sundermann yang dicetak ulang Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1984. Saya membukanya bersama-sama dengan Alkitab Bahasa Indenesia terbitan LAI-Jakarta Edisi 1987.

Continue Reading...
Written on Mar, 06, 2007 by in | 4 Comments.

Struktur I: KK (+KGO) + K Dalam struktur ini, kata kerja (KK) mendahului kata ganti orang (KGO), sementara kata keterangan (K), kalau ada, muncul pada bagian akhir.

Continue Reading...
Written on Feb, 27, 2007 by in | 6 Comments.

Para pendatang di Pulau Nias sering mendapat kesulitan ketika mencoba belajar Li Niha. Cara paling umum yang mereka tempuh untuk belajar Li Niha adalah menanyakan arti kata-kata Li Niha satu per satu dan menghafalnya. Lalu berbekalkan kata-kata lepas itu, mereka mulai ‘memperlihatkan’ kemampuannya berbahasa Nias.

Continue Reading...