PARANORMAL, BENCANA ALAM DAN SIKAP KITA

Saturday, June 13, 2020
By nias

E. Halawa*

Catatan Redaksi: Tulisan in dimuat di Nias Portal (nias-portal.org – sudah tidak aktf lagi) pada tanggal 27 April 2005, sebulan setelah Gempa Nias 28 Maret 2005, dan masih relevan dalam situasi krisis COVID-19 saat ini. Tautan pada artikel yang dirujuk juga sudah diubah.

Beberapa waktu lalu, di sebelah kiri halaman utama situs ini (nias-portal.org – Red.) tertayang jajak pendapat (polling) tentang gejala paranormal. Hingga saat berita ini ditayangkan, telah 76 orang ikut memberikan suara dalam jajak pendapat itu, dengan hasil sebagai berikut.

Ada sebanyak 3 orang (3.95%) yang memberikan suara pada pilihan pertama: Menarik sekali dan mencerahkan pikiran. Pada pilihan kedua, Merusak akal sehat, perlu dijauhi, suara sejauh ini “mayoritas”, yaitu sebanyak: 35 suara (46.05%). Untuk pilihan ketiga, Tertarik (yang merupakan bentuk lebih “halus” dari pilihan pertama) ada sebanyak 10 orang (13.16%) yang memberikan pilihannya. Pilihan keempat (Omong Kosong) dipilih oleh 16 orang (21.05%) sementara pilihan kelima dan keenam (Ragu-ragu dan Tidak tahu) masing-masing mendapat 8 suara (10.53%) dan 4 suara (5.26%).

Sebenarnya ke enam pilihan diatas dapat diciutkan menjadi 3 kelompok: (a) kelompok yang menganggap gejala paranormal sebagai hal yang positif (pilihan 1 dan 3), (b) kelompok yang menganggapnya hal yang negatif, merusak, dan karenanya perlu dijauhi, (c) kelompok yang ragu-ragu atau tidak tahu, jadi belum menentukan sikap apakah masuk dalam kelompok pertama atau kelompok kedua.

Keberagaman hasil dari jajak pendapat di atas, walau hanya diikuti oleh sedikit orang, sedikit banyak mencerminkan cara pandang masyarakat Nias, dan juga masyarakat Indonesia terhadap gejala paranormal.

Seiring dengan beruntunnya bencana alam yang melanda bangsa kita, “pamor” paranormal mulai naik melalui “ramalan-ramalannya” yang kelihatannya akurat, jitu dan “memperingatkan” masyarakat. Naiknya “pamor” paranormal itu sedikit banyaknya didukung juga oleh sikap kita yang kelihatannya, sadar atau tidak, mulai mensejajarkan para praktisi paranomral dengan para ilmuwan yang ahli di bidangnya, dengan para nabi dalam agama-agama besar, dan bahkan secara tak sadar mensejajarkannya dengan TUHAN sendiri. Ketika para praktisi paranormal mengeluarkan “ramalan”, kita semua menjadi terpaku, diam, terpukau, terpesona, dan “mengaminkan”.

Memang, efek dari ramalan para praktisi paranormal lebih “dahsyat” daripada peringatan-peringatan para ilmuwan yang kompeten di bidangnya. Mengapa ? Karena para ilmuwan itu, ketika menyampaikan sebuah peringatan, umumnya melakukannya dengan hati-hati, mengeluarkan pernyataan sejauh data yang bisa mereka andalkan, dan bahkan tidak jarang diakhiri dengan ucapan semacam: “wah .. kalau soal waktunya, saya/kami/kita tidak tahu”.

Lain halnya dengan para praktisi paranormal. Berbekalkan kejadian bencana sebelumnya, mereka dengan mudah “mengarang ramalan” baru berikutnya yang sering menohok dan melemahkan kesadaran atau pikiran jernih kita.

Gempa dahsyat yang lebih besar yang disertai tsunami akan datang lagi. Gempa ini datang untuk menghancurkan orang-orang jahat, para koruptor. Gempa ini datang karena manusia sudah semakin jahat dan bejat …”. Ramalan dengan nada ancaman khas seperti ini biasanya datang dari para praktisi paranormal.

Tidak heran, kita yang mendengarnya dan menyimaknya, tidak jarang termakan kekuatan “sugesti” kalimat-kalimat bernada mengancam dan sekaligus kelihatan “masuk akal” itu. Bukan hanya itu, kita juga diberi kesan, seakan para praktisi paranormal merupakan “penyambung” lidah para nabi, melalui peringatan-peringatan yang terkesan “spiritual.” Maka, orang yang menjadi korban sugesti – saudara, famili, teman kita, atau bahkan kita sendiri – bisa kehilangan akal sehat, menjadi panik, dan mengambil keputusan-keputusan yang terburu-buru yang bisa saja sangat merugikan kita.

Benarkah bencana dan tsunami datang “untuk menghancurkan orang-orang jahat, para koruptor”. Benarkah “gempa ini datang karena manusia sudah semakin bejat …” ? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa hanya berupa “Ya” atau “Tidak”. Untuk menjawabnya, mari kita melihat berbagai kenyataan secara jernih.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang peneliti kebumian. Ketika beliau tahu bahwa saya berasal dari Nias, beliau secara spontan berseloroh (tapi toh terkesan bernada serius) kurang lebih: “Wah hati-hati, Pak, Kepulauan Nias itu terletak dalam jalur rawan gempa.” Ucapan ini bagaikan “vonis mati”; saya hanya bisa merespons secara pasif, memendamnya ke alam bawah sadar. (Paragraf ini pernah dimuat dalam tulisan lain berjudul: BUMI YANG “MARAH”, TUHAN YANG “DIAM”).

Jadi, gempa dan tsunami di daerah-daerah rawan gempa seperti di Nias dan sepanjang pantai barat Sumatera memang sudah diketahui sejak dulu oleh para ilmuwan, jauh sebelum para praktisi paranormal mulai “meracuni” udara kesadaran dan akal sehat kita dengan ramalan-ramalannya.

Mari kita mengambil contoh di luar kita. Jepang merupakan negara yang selalu menjadi langganan gempa. Dari berbagai informasi yang dapat kita yakini, kita juga tahu bahwa tingkat korupsi di Jepang jauh lebih kecil dari tingkat korupsi di Indonesia. Toh, gempa selalu menggoyang dan menggoncang Jepang, dari dulu, hingga sekarang. Lalu bisa saja kita membela para praktisi paranormal dengan mengatakan “karena orang-orang Jepang tidak begitu korup, tidak begitu jahat dan bejat dibandingkan dengan orang-orang Indonesia, maka korban gempa dan tsunami di Jepang sangat kecil.” Argumen “rasional-semu” ini tentu saja tidak bisa kita terima. Kemajuan teknologi membuat Jepang lebih aman terhadap ancaman bencana alam. Rumah-rumah dan gedung-gedung di Jepang tahan terhadap gempa, pantai-pantai di Jepang dibentengi dari terpaan dahsyat tsunami, di samping itu masyarakat Jepang dibekali dengan sistem peringatan dini terhadap bencana gempa dan tsunami.

Lantas, bagaimana seandainya gempa dashyat dan tsunami datang lagi ? Apakah ini tidak juga menunjukkan “kebenaran” dari ramalan para praktisi paranormal ? Ada tidaknya ramalan paranormal tentang gempa dahsyat dan tsunami tidak terkait dengan kemungkinan datang atau tidaknya lagi bencana dahsyat itu.

Terperangkap Jaring Paranormal
Mengapa kita berbicara banyak tentang hal ini ? Alasan utama adalah, karena berdasarkan hasil jajak pendapat yang disinggung di depan, ternyata sebagian dari kita telah “terperangkap” dalam “jaring” kepercayaan terhadap paranormal. Rasionalitas sebagian dari masayarakat kita telah ditohok, diperlemah oleh gejala paranormal. Sebagian dari kita sudah mulai memanfaatkan paranormal untuk memperkuat argumen-argumen kita, untuk menyerang lawan-lawan “politik” kita, untuk “memperlancar keberuntungan” kita, untuk mencari penyembuhan atas penyakit-penyakit kita, untuk “menghukum” dan “mengutuk” para koruptor dan orang-orang jahat, untuk melarikan diri dari dunia realita kita, dan sebagainya.

Kalau kita merenungkan kembali bencana gempa dahsyat yang baru saja meluluh-lantakkan Nias, kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa korban bukan hanya para koruptor dan orang-orang jahat. Korban berasal dari berbagai lapisan sosial, agama, suku bangsa, orang kaya, orang miskin, para koruptor, warga yang lugu dan berwawasan sederhana, yang tak pernah “menghisap” orang lain, ibu-ibu yang berhati lurus, anak-anak yang belum tahu apa artinya (belum besentuhan dengan) dosa, dan sebagainya.

Menakjubkan Karya Tangan Tuhan
Lantas, mengapa bencana melanda dan memporak-porandakan Nias ? Jawaban yang sederhana, dan mungkin saja memancing kembali “perbantahan” adalah: kita tidak tahu. Orang-orang yang memiliki kepercayaan pada Tuhan boleh melangkah setapak ke depan dengan memberi jawaban bersifat religius: “Hanya Tuhan yang tahu. Alam semesta adalah ciptaan dan milik-Nya, maka Dia berhak melakukan apa saja terhadap milik-Nya. Mahaagung Tuhan, dahsyat dan memukau segala perbuatan dan karya tangan-Nya. Terpujilah Dia selama-lamanya. Amen”.

Kepasrahan seperti tertulis di atas jauh lebih bermakna dari pada mencari penjelasan paranormal. Kepasrahan seperti di atas melahirkan kedamaian, permenungan, refleksi, melahirkan niat suci ke depan, menumbuhkan kembali harapan yang hampir-hampir musnah, sebab “mempesona, mengagumkan dan agung karya Tuhan atas segala ciptaan-Nya”. Itu berarti, sesudah bencana akan muncul harapan baru dan kepulihan; tentu saja dengan syarat: ada pembaharuan total dalam sikap. Kalau di masa lalu kita menganggap “yang lain” sebagai musuh, sebagai objek isapan, objek kebencian, objek empuk pikiran negatif kita, maka pascabencana kita harus membalikkan itu semua. Kita harus “berbaur” dengan dan “menjadi sahabat” siapa saja yang tadinya kita anggap “musuh”. Kita harus tinggal dalam “tenda” yang sama dengan mereka yang tadinya kita anggap bukan bagian dari kita. Singkat kata: kita harus melihat yang lain sebagai sesama, sebagai saudara.

Masih perlukah sebuah gempa (dan bahkan tsunami) yang lebih dahsyat lagi untuk memperbaharui sikap kita ? Kita tidak perlu berpaling kepada paranormal untuk menjawabnya, karena kita bisa dan sebaiknya menjawabnya sekarang.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2020
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930