Jurdkriswanti Lase*

Berbicara soal kemiskinan tak ada habis-habisnya. Pengentasan kemiskinan merupakan salah satu tujuan pembangunan nasional sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam mengukur tingkat kemiskinan menggunakan konsep memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar yang dimaksud baik dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan yang dihitung dalam takaran 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non makanan seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Kabupaten Nias Selatan termasuk salah satu wilayah di Provinsi Sumatera Utara dengan tingkat kemiskinan terbesar. Pada tahun 2016, persentase penduduk miskin Kabupaten Nias Selatan berada pada urutan keempat setelah Kabupaten Nias yaitu sebesar 18,6 persen, lebih tinggi dibanding Provinsi Sumatera Utara sebesar 10,35 persen.

Wajar jika Kabupaten Nias Selatan masih tinggi angka kemiskinannya karena melihat infrastuktur di Nias Selatan yang masih sangat “buruk”. Memang untuk wilayah perkotaan seperti Telukdalam sebagian besar infrastruktur jalan raya sudah cukup baik, namun dengan wilayah Nias Selatan yang luas butuh ekstra perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur di Nias Selatan. Penulis pernah mendatangi beberapa desa di Kecamatan Gomo yang tidak dapat dilalui kendaraan dan harus dilalui dengan berjalan kaki. Butuh berjam-jam untuk sampai kesana, selain itu jalan menuju kesana harus melewati sungai dan hutan yang jika belum terbiasa akan sangat melelahkan dan butuh waktu yang lama untuk sampai kesana. Dan ini bukan hanya satu atau dua desa namun beberapa desa. Keadaan yang sulit ini yang membuat banyaknya penduduk miskin di Nias Selatan. Jangankan kesulitan biaya untuk membeli makan, ada uangpun masyarakat juga kesulitan untuk membelinya karena masih jauh dari perkotaan.

Berdasarkan data dari BPS, Angka Partisipasi Murni (APM) SMP dan SMA di Kabupaten Nias Selatan yaitu sebesar 74,10 dan 57,92. Artinya terdapat 25,10 persen penduduk usia 13 – 15 tahun yang belum memanfaat pendidikan SMP dan 42,08 persen penduduk usia 16 – 18 tahun yang belum memanfaatkan pendidikan SMA/SMK sehingga perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk memperhatikan pendidikan di Kabupaten Nias Selatan. Program pemerintah yang memberikan biaya sekolah gratis beberapa sekolah di Kecamatan Telukdalam sudah sangat baik, namun hal ini akan lebih baik lagi jika di desa-desa juga diperhatikan. Oleh karena itu, perlunya membangun sekolah di desa-desa terpencil yang susah dijangkau dan memberikan “reward” bagi tenaga didik yang bersedia mengajar di wilayah tersebut seperti mengangkat tenaga pengajar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) agar banyak tenaga pengajar yang bersedia ditempatkan disana ataupun memberikan gaji yang diatas rata-rata serta memperhatikan sarana dan prasarana di sekolah tersebut agar siswa dan siswi dapat meningkatkan ketrampilan yang dimiliki.

Pendidikan masyarakat Nias Selatan yang masih rendah yang membuat masyarakat susah untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, sehingga untuk menghidupi keluarga biasanya masyarakat lebih banyak menjadi petani yang sudah “diwarisi” dari orangtuanya baik mengolah ladang punya sendiri maupun harus bekerja di ladang orang lain. Hal ini juga yang membuat masyarakat “terjebak” kemiskinan karena sudah merasa putus asa dengan kemampuannya dan merasa hanya mampu melakukan pekerjaan di ladang dan yang nantinya juga akan “diwariskan” kepada anak-anaknya. Pada tahun 2016, kategori lapangan usaha yang berkontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Nias Selatan yaitu kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu sebesar 46,03 persen. Petani karet di Kabupaten Nias Selatan masih banyak, namun harga karet yang rendah menyebabkan banyak penduduk Nias Selatan memilih untuk mengadu nasib di luar pulau Nias. Oleh karena itu perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk memperhatikan nasib para petani Nias Selatan yaitu dengan membantu petani dalam menyediakan sarana dan prasarana pertanian, dan cara bertani seperti membantu petani bagaimana karet tersebut dapat bernilai tambah.

Penanggulangan kemiskinan di Nias Selatan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi daerah Nias Selatan. Kabupaten Nias Selatan terkenal dengan wisata alamnya secara khusus pantai di Nias Selatan yang terkenal dengan gelombang yang tinggi. Sehingga bukan hanya wisatawan lokal saja yang datang ke Nias Selatan tetapi dari luar negeri juga. Mungkin pemerintah dapat membuka lapangan pekerjaan dengan membuat arena permainan di sekitar wilayah di Nias Selatan seperti Waterboom yang belum ada di Pulau Nias. Ataupun membuat arena tempat makan sekaligus tempat permainan di sekitar pantai Nias Selatan yang dihias dengan ornamen khas Nias Selatan, sehingga masyarakat yang datang selain menikmati pantainya dapat juga menikmati fasilitas yang ada. Dilihat dari pertumbuhan riil PDRB, kategori perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor mengalami kenaikan tertinggi kedua pada tahun 2016 dibanding tahun 2015 setelah kategori transportasi dan pergudangan yaitu sebesar 1,65 persen. Tingginya laju pertumbuhan riil pada kategori tersebut menunjukkan potensi usaha pada bidang perdagangan dapat ditingkatkan lagi seperti membuat pusat oleh-oleh khas Nias Selatan, sehingga masyarakat Nias Selatanpun terbuka kesempatan untuk membuka usaha dan semakin meningkatkan tingkat kreatifitas mereka dan juga bisa menjadi tenaga kerja di tempat usaha-usaha tersebut. Sehingga tingkat pengangguran di Nias Selatan dapat dikurangi dan kemiskinan juga dapat ditanggulangi.

*) Penulis adalah staf statistik sosial BPS Kabupaten Nias Selatan

Facebook Comments