Logo APR ENERGY - http://www.aprenergy.com

Logo APR ENERGY – www.aprenergy.com

NIASONLINE – JACKSONVILLE, Fla. —  APR Energy, melalui rilis berita yang diterima Nias Online dari Corporate Communications and Public Relations Manager Alan Chapple, mengumumkan hari ini (17/05) bahwa Perusahaan ini akan menghentikan operasi pembangkit tenaga listriknya yang berkapasitas total 20MW di Pulau Nias, Indonesia, pada akhir Mei. APR Energy memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya karena terus menerus tidak dibayar oleh perusahaan utilitas listrik nasional PLN dan karena masalah kontrak lainnya.

Kami menyesal bahwa APR Energy, dan rakyat Nias, dihadapkan pada situasi ini untuk kedua kalinya tahun ini karena kegagalan PLN untuk menghormati kewajibannya berdasarkan kontrak dengan Perusahaan kami,” kata Ketua dan Chief Executive Officer John Campion. “Sejak tahun 2013, kami telah memasok sebagian besar listrik untuk Nias dan mempekerjakan penduduk lokal di pembangkit kami. Kami mengharap untuk dibayar penuh untuk layanan kami serta listrik yang dihasilkan.”

Pada tanggal 31 Maret, APR Energy menghentikan operasinya dan memindahkan para personelnya dari Nias ketika kontrak sebelumnya berakhir. Pada saat itu, PLN berutang kepada APR Energy sekitar $2,04 juta (Rp27,5 miliar). Listrik padam sampai tanggal 12 April, ketika PLN membayar sebagian dari jumlah yang terutang. Sebagai bagian dari kesepakatan, PLN diwajibkan membayar jumlah sisanya pada tanggal 27 Mei setelah adanya sebuah tinjauan independen.

Oleh karena penolakan PLN untuk menghormati kontraknya dengan kami, kami tidak dapat lagi meneruskan beroperasi di Nias setelah pada akhir Mei,” kata Campion.

Namun, kami bersimpati pada rakyat Nias yang akan terkena dampak keputusan kami untuk pergi dari sana, dan kami telah menawarkan untuk menjual pembangkit listrik itu beserta peralatan terkaitnya kepada PLN untuk memastikan bahwa Nias memiliki listrik yang dibutuhkannya.”

Sampai hari ini, PLN belum menanggapi tawaran APR Energy. PLN juga masih berutang kepada APR Energy sebesar $950.000 (Rp10,5 miliar) dari operasi sebelumnya, dan belum membayar apa pun untuk listrik yang kami hasilkan sejak memulai kembali operasi di pembangkit di Nias bulan April,” kata Campion.

Kami menyesali dampak penutupan pembangkit listrik kami sekali lagi terhadap penduduk dan bisnis di Nias,” kata Campion. “Sayangnya, walau sementara PLN meminta bayaran dari para pelanggannya untuk listrik, mereka tidak membayar utangnya terhadap pemasoknya sebagaimana disepakati dalam kontrak. Kami mendorong penduduk Nias untuk langsung menghubungi PLN untuk meminta perusahaan utilitas itu untuk membayar tagihan listriknya yang sudah lama jatuh tempo.”

Demikian isi rilis berita yang diterima Redaksi Nias Online dari APR Energy. (NO/brk*)

Facebook Comments