Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

Jamur tiram yang juga dikenal dengan nama Pleurotus ostreatus dalam bahasa latin merupakan jenis bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Menurut (Food Agriculture Organization/FAO, 1992), dalam setiap seratus gram jamur tiram mengandung: protein 13.8 gram, serat 3,5 gram, lemak 1,41 gram, abu 3,6 gram, karbohidrat 61,7 gram, kalori 0,41 gram, kalsium 32,9 gram, zat besi 4,1 gram, fosfor 0,1 gram, vitamin B1 0,12 gram, vitamin B2 0, 64 gram, vitamin C 5 gram dan niacin 7,8gram. Dari kandungan gizi yang ada dalam jamur tiram dapat dikatakan bahwa jamur tiram sangat aman untuk dikonsumsi oleh manusia dan bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu diantaranya adalah memperlancar pencernaan karena kandungan serat yang ada di dalamnya dan kandungan gizi sebagai protein nabati yang tidak mengandung kolestrol.

Menurut Bobek et. al (1998) dalam Widyastuti dan Istini (2004), jamur tiram sangat bagus untuk penderita jantung kardiovaskular dan untuk mengendalikan kolesterol. Chan dan Buswell (1996) dalam Widyastuti dan Istini (2004), menyebutkan jamur pangan tidak hanya lezat, juga bermanfaat berkat nutrisi yang tinggi dan mempunyai manfaat obat seperti antikanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh antidiabetes dan hipolipidemik. Menurut ahli jamur di Washington State University Departement of Agriculture, Jamur tiram juga bisa dimanfaatkan sebagai antibakteri, antiinflamasi, antiviral, tekanan darah, dan memberbaiki sistem imun.

Berdasarkan kandungan gizi dan khasiat yang ada pada jamur tiram, maka tanaman ini sangat layak untuk diproduksi yang tentunya melalui sektor Budi Daya. Dari , dikemukakan bahwa produksi jamur tiram banyak dilakukan di daerah Jawa Barat, yang tercatat kurang lebih sekitar 10 ton produksi jamur tiram setiap hari. Pertanyaannya, apakah budi daya jamur tiram sudah ada di Kabupaten Nias Selatan? atau apakah masyarakat Nias Selatan dapat mendapatkan gizi yang berasal dari Jamur tiram?. Jawabannya “Ya”.

Budi daya jamur tiram di Kabupaten Nias Selatan telah dirintis oleh Seorang Pemuda Nias Selatan, Memoris Fau. Budi daya jamur tiram ini dirintis sejak tahun 2014. Untuk membudidayakan jamur tiram dibutuhkan bahan baku yang berasal dari serbuk kayu, dedak padi, dedak jagung, kapur sirih dan bibit jamur tiram. Semetara untuk pengolahannya membutuhkan fermentasi bahan, sterilisasi baglog, pendinginan, penanaman bibit jamur tiram pada media baglog. Disamping itu, hal yang tidak kalah pentingnya untuk memberhasilkan pertumbuhan jamur adalah kebersihan kumbuh jamur dan suhu serta kelembaban lokasi budi daya jamur.

Dari budi daya jamur tiram yang telah dibudidayakannnya ini 10.000 baglog sudah mulai dipanen dengan hasil sekitar 500-800 Kg per bulan dan sekitar 15.000 baglog sedang dalam proses pertumbuhan. Lokasi budi daya jamur tiram ini terletak di daerah Kecamatan Fanayama tepatnya di Simpang Bawomataluo-Lagundri.

Meskipun Budi daya jamur tiram ini merupakan usaha yang tidak membutuhkan modal besar, namun ketekunan, ketelitian serta sterilisasi yang tinggi sangat dituntut dalam memberhasilkan pertumbuhannya. Budi daya jamur tiram yang dirintis oleh Memoris Fau yang sedang belajar ilmu hukum di STIH Nias Selatan ini merupakan yang pertama dan merupakan budi daya jamur tiram yang terbesar di Kepulauan Nias. Dari hasil usahanya ini, akhirnya masyarakat Nias Selatan dapat memperoleh gizi yang dikandung oleh jamur tiram.

Budi daya jamur tiram ini tentunya memberi kontribusi untuk perkembangan bidang pertanian sekaligus ekonomi di daerah Nias Selatan, yang mana dengan kehadiran usaha ini paling tidak member Nias Selatan peluang pekerjaan bagi sebagian orang yang dipekerjakan dalam usaha ini meskipun masih dalam skala kecil.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Facebook Comments