Opini1Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

HARUS diakui bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membawa setiap insan untuk bisa menyiapkan masa depannya sendiri. Masa depan itu akan terlihat nantinya pada waktu insan tersebut sudah bekerja dan atau sudah berkarya.

Setiap orang dewasa pasti ingin bekerja atau berkarya, apapun pekerjaan itu akan dilakukannya. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhannya. Untuk kebutuhan sehari-hari, minimal dapat makan dan dapat minum. Masalah asupan gizinya cukup atau kurang, itu masalah kemudian, yang penting dapat pekerjaan dan melalui pekerjaannya itu bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, bahkan pada waktunya akan dapat mendukung aktualisasi dirinya.

Pertanyaan yang perlu diajukan di sini adalah, bagaimana keadaan generasi muda Nias sekarang? Bagaimana masa depan generasi muda yang sudah bisa menyelesaikan studinya di tingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi?. Tentu hal ini merupakan pertanyaan besar bagi mereka yang diberi tanggung jawab memimpin pemerintahan daerah beserta SKPD-nya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa generasi muda Nias sekarang, terutama yang sudah siap memasuki dunia kerja, sudah terbayang di pelupuk mata dan dimimpinya bahwa bisanya adalah dapat bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Kalau tidak jadi PNS, dunia ini seperti mau kiamat. Sepertinya hidup ini tidak memiliki arti bagi orangtua dan sanak famili lainnya.

Ada seorang mahasiswa Nias yang pada saat ini sedang menyiapkan penyusunan skripsi. Dia mendiskusikan tentang masa depannya setelah selesai studi strata satu. Kami banyak dan lama melakukan diskusi melalui short message service (SMS). Dalam diskusi tersebut, si mahasiswa sempat menunjukkan sikap adanya kegelisahan setelah dapat menyelesaikan studi strata satu (S1) nantinya. Bahkan  si mahasiswa berkata, setelah lulus nanti mau kerja apa, cari kerja juga susah, lowongan PNS masih lama dan jumlah yang dibutuhkan sangat terbatas.

Bagaimana Anda bisa menjawab bila kegelisahan ini disampaikan kepada Anda? Apa solusi yang Anda bisa lakukan pada permasalahan ini? Sebelum mencari atau memberikan satu atau beberapa solusi, terlebih dahulu tarik nafas dalam-dalam dan keluarkanlan nafas itu dengan pelan-pelan seraya berkata, apa ya solusinya?

Memberikan solusi pada permasalahan sekarang, tidaklah mudah. Perlu melakukan berbagai persiapan yang biasa kita sebut “strategi”. Apa bentuk strategi yang akan diwujudkan dalam jangka panjang?. Nah, apabila strategi itu akan dihubungkan lagi dengan hadirnya suatu nama yang sering kita sebut pada akhir-akhir ini yaitu masyarakat ekonomi asean (MEA) yang akan berlangsung di akhir tahun 2015 mendatang, tentu diperlukan pemikiran yang jitu dan penjabaran yang lebih detail dan lengkap.

Salah satu strategi dan mumpuni yang perlu dilakukan untuk dapat menjawab kegelisahan generasi muda Nias dalam hal peluang untuk mendapatkan pekerjaan yaitu melaksanakan “edu-preneurship”. Menurut Setiono (2012), edu-preneurship itu merupakan program pelatihan bagaimana mengenalkan konsep-konsep entrepreneurship yang dilengkapi dengan berbagai contoh aplikasi melalui proses pendidikan.

Memahami konsep-konsep entrepreneursip (kewirausahaan) berarti harus mengerti lebih mendalam mengenai apa itu entrepreneurship. Menurut Frinces (2004), entrepreneurship (kewirausahaan) merupakan bentuk usaha untuk menciptakan nilai lewat pengakuan terhadap peluang bisnis, manajemen    pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang yang ada,  dan lewat keterampilan komunikasi  dan   manajemen untuk   memobilisasi manusia, keuangan, dan   sumberdaya  yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek sampai berhasil.

Dengan demikian, kewirausahaan adalah berkonotasi mengimplementasikan, berarti mengerjakan (sesuatu), yaitu  sesuatu yang harus dikerjakan oleh seorang wirausaha. Apabila disederhanakan artinya, wirausaha adalah seseorang yang merespon terhadap peluang dan mempunyai rasa kebebasan (sense of freedom) baik dalam dirinya maupun dalam organisasi untuk bertindak terhadap peluang yang ada.

Hal-hal yang dapat dikerjakan dan diberikan oleh para wirausaha, antara lain: 1. Produk-produk dan jasa-jasa baru; 2. Pekerjaan baru; 3. Lingkungan kerja yang kreatif; 4. Cara-cara baru melakukan kegiatan bisnis (usaha); dan 5. Bentuk baru penciptaan bisnis (new business innovation). Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, maka kewirausahaan ini sangat bisa dikembangkan pada bidang-bidang usaha yang berhubungan dengan usaha pariwisata, seperti bidang kerajinan, bidang kuliner, bidang jasa perhotelan dan homestay, bidang usaha biro dan agen perjalanan, bidang usaha hiburan, bidang usaha objek wisata, bidang usaha guide (pramuwisata), bidang usaha on-line, dan berbagai bidang usaha yang lain.

Untuk merealisasikan edu-preneurship ini di lapangan, memerlukan komitmen dari pemerintah daerah untuk mendorong dimulainya pelaksanaan edu-preneurship ini. Pelaksanaannya dimana? Mulailah dengan pengenalan entrepreurship yang sederhana di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (pendidikan 9 tahun). Lalu terus dikembangkan pelaksanaannya di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA).

Apabila sudah dimulai sebuah pengenalan entrepreneurship di tingkat pendidikan 9 tahun, dan dikembangkan lagi pelaksanaan entrepreneurship di tingkat sekolah menengah, berarti kita sudah mulai menciptakan “terang” kepada generasi muda Nias di masa yang akan datang. Dengan demikian, para siswa sudah dapat menilai bakat dan kemampuannya yang bakal disiapkannya ke depan, demi meraih masa depan yang lebih cerah melalui pekerjaan yang dikerjakan pada waktu memasuki dunia kerja.

Harapan kita bahwa setelah siswa menyiapkan diri lebih dini untuk mendapatkan atau menciptakan pekerjaan yang sesuai dengan talenta yang dimiliki, kita dapat meyakini bahwa mereka nantinya akan berhasil dalam mengarungi hidup ini. Keberhasilan ini akan didapatkan, karena bakat yang telah dimiliki sudah diasah lebih dini melalui kegiatan edu-preneurship.

Untuk itu siapkanlah kurikulum kreatif mengenai entrepreneurship dikalangan siswa SD dan SMP, dan terus diteruskan di kalangan siswa sekolah menengah. Rencanakanlah materi yang kreatif bagi siswa-siswa yang sesuai dengan usia pendidikan mereka.

Mewujudkan keinginan ini, tentu kita sesuaikan dengan harapan dan keinginan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan bahwa anak didik semakin pintar, manakala guru-gurunya sudah terlatih dan menguasai mata pelajaran itu. Artinya, profesi guru dimantapkan terlebih dahulu pada mata pelajaran entrepreneurship itu, setelah itu baru dikembangkan pemberiannya kepada siswa-siswa sebagai generasi muda Nias dan penerus cita-cita kita semua untuk lebih berhasil dalam mensejahterakan dirinya dan keluarganya di masa yang akan datang.

Galakkanlah pendidikan kewirausahaan kepada generasi muda Nias. Dan mulailah pendidikan itu lebih dini, sehingga generasi muda Nias ini sudah tidak mengalami kegalauan hati dalam mencari peluang pekerjaan, apabila mereka sudah dapat menamatkan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas/kejuruan ataupun sudah bisa lulus studi dari strata satu (S1).

Menurut Frinces (2010), berprofesi sebagai wirausaha adalah sebuah pilihan untuk hidup dan pilihan profesi yang terhormat yang harus direncanakan secara baik dan matang. Wirausaha adalah sebuah jalan kehidupan yang dipilih karena telah diyakini dengan kenyataan dan fakta yang ada bahwa wirausaha mempunyai peran yang besar di dalam meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan Negara.

Di samping itu wirausaha juga merupakan salah satu faktor yang penting dan menentukan untuk dapat menjadikan masyarakat dan Negara yang makmur. Oleh karenanya, wirausaha adalah sebuah profesi yang dalam proses penciptaannya, pertumbuhan dan perkembangannya harus dibentuk dengan cara yang sistematik. Karena yang akan dibentuk adalah karakteristik dan jenis sosok manusia yang harus berhasil di dalam tugasnya untuk menciptakan dan mengembangkan organisasi dan bisnisnya.

Bentuklah karakteristik wirausaha bagi generasi muda Nias melalui edu-preneurship. Dan tumbuhkanlah generasi muda Nias dalam dunia wirausaha, sehingga mereka akan menjadi pionir-pionir dalam berwirausaha di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Facebook Comments