E. Halawa

Pada halaman ‘Percakapan Sehari-hati Bahasa Nias’ di Ensikopedia Nias [1], terdapat tautan ke sebuah blog [2]. Di blog [2] itu, kita menemukan beberapa kalimat bahasa Nias berikut:
1. Ya’o toröi ba Gunungsitoli
2. Ya’o omasi manunö.

Kalimat pertama, walau bukan struktur yang lazim dalam Li Niha (setidaknya dalam varietas Utara), diartikan secara benar: Saya tinggal di Gunungsitoli – I live  in Gunungsitoli.

Kalimat ke 2 diartikan: Hobi saya bernyanyi – I like singing.

Agaknya bukan itu artinya. Ya’o omasi manunö, yang juga mengikuti struktur kalimat yang tak lazim (seperti kalimat 1), yang kalau dalam diubah ke struktur yang lazim – Omasido Manunö – sebenarnya berarti:

Saya ingin bernyanyi (I want to sing) …

Dalam kalimat ini, bernyanyi belum tentu merupakan hobi saya. Saya mungkin ingin bernyanyi karena diajak teman dalam sebuah pesta.

***
Lantas apa bahasa Nias dari: ‘Hobi saya bernyanyi?’

Sebenarnya, dengan sedikit modifikasi, pengertian hobi bisa kita hasilkan sebagai berikut:

Omasi-masido ŵanunö [3,4] – Saya senang bernyanyi – I like singing, artinya kurang lebih.

Akan tetapi sebenarnya ada satu kata yang langsung bisa diartikan ‘hobi’, yaitu giagia.

Giagiara ŵanunö (Hobi mereka bernyanyi).
Giagiara ŵagaisa (Hobi mereka memancing).

***

Dalam Kamus Nias-Indonesia susunan Laiya dkk [5] ada entri: gia, giagia yang diartikan: keinginan, kemauan. Laiya dkk [5] memberi contoh pemakaian giagia dalam kalimat sebagai berikut:

– wö we’amöi ba fasa andrö [6, 7],

yang diartikan:

Kepergian ke pasar itu memang kemauannya. (Garis miring dari penulis artikel ini).

Terlihat, bahwa pengertian giagia dalam kamus Laiya dkk [5] adalah keinginan atau kemauan, bukan hobi yang berarti: kegiatan yang dilakukan untuk tujuan pencapaian kesenangan. Contohnya: hobi filateli, hobi musik, hobi memancing, dsb.

Penulis, sebagai seorang petutur Li Niha varietas Utara, berbeda pendapat dengan Laiya dkk [5] dalam hal ini. Setahu saya, dalam Li Niha varietas Utara, giagia itu adalah aktivitas yang disukai, ingin dilakukan berulang-ulang. Intinya, giagia adalah hobi.

Ada beberapa contoh lain dalam Li Niha varietas Utara.

Böi sofu khönia hadia omasi ia möi fagai; giagiania khöu da’ö – Jangan tanya padanya apakah ia ingin pergi memancing; itu hobinya.

Böi bali’ ö giagiau ŵasöndrata, tenga asökhiwa – Jangan jadikan perkelahian sebagai hobi; bukan hal yang baik.

***

Apakah giagia bisa disingkat menjadi gia? Sepengetahuan saya, giagia adalah kata ulang semu; sama seperti biri-biri, kupu-kupu, gado-gado dalam bahasa Indonesia atau hunahuna (sisik) atau haruharu (pundak, bahu) dalam Li Niha.

Rujukan – Catatan:

  1. Ensiklopedia Nias – ononiha.org.
  2. Percakapan Sehari-hari Bahasa Nias (1) – http://anggiverlita.wordpress.com/2013/03/20/percakapan-sehari-hari-bahasa-nias-1/
  3. Penggunaan karakter ŵ dan w dalam tulisan ini mengikuti kaidah baru yang dibahas dalam tulisan berikut: Karakter “W-w” dan “Ŵ-ŵ” Dalam Li Niha.
  4. Cara menulis karakter ö dibahas dalam tulisan berikut: Karakter “ö” Dalam Li Niha.
  5. SZ Laiya, S Zagoto, H Laiya, S Zagoto, A Zagoto, 1985: Kamus Nias – Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
  6. Tanda – di depan kalimat ini adalah substitusi entri yang mau dijelaskan itu; dalam hal ini: gia atau giagia.
  7. Laiya dkk [5] masih menggunakan cara lama penggunaan karakter ŵ dan w – bandingkan dengan [3].
Facebook Comments