Jokowi-JK |Sumber: www.deviantart.com

Jokowi-JK |Sumber: www.deviantart.com

Hari ini, Ir Joko Widodo (Jokowi) dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK) dilantik masing-masing menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk periode 2014-2019.

Seperti pada peristiwa-peristiwa penting nasional sebelumnya, terutama sejak babak baru demokrasi yang dimulai semenjak peristiwa Reformasi 1998, rakyat Indonesia kembali berharap, bermimpi, berangan-angan, dan berdoa kiranya kehadiran kepemimpinan baru melahirkan juga Indonesia Baru.

Indonesia Baru itu adalah konsep ideal yang di dalamnya tercakup segala macam harapan luhur seluruh rakyat Indonesia dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita menyebut beberapa di antaranya. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, terwujudnya kehidupan bangsa yang harmonis di mana rasa aman menjadi milik semua, suasana saling menghargai dan menghormati semakin merasuk ke dalam kesadaran batin, sikap dan perilaku dari bangsa yang memang datang dan dibentuk oleh keberagaman.

Dalam bidang hukum, terwujudnya suasana psikologis yang nyaman karena setiap insan dan kelompok merasa diayomi secara hukum, hak-hak dan kewajibannya dilindungi dan dijamin, karena di depan hukum dalam Indonesia Baru itu semua orang sederajat.

Di bidang sosial ekonomi, semakin meningkatnya persentase masyarakat yang hidup secara layak dan manusiawi yang dicapai melalui program-program pro-rakyat. Juga terjaminnya kebutuhan-kebutuhan fisik mendasar di bidang kesehatan, energi, air, pangan dan papan.

Di level internasional, cita-cita ideal ‘Indonesia Baru’ itu didekati apabila Indonesia semakin dihargai di mata dunia, didengar dan ditanggapi secara serius suaranya dalam forum-forum dunia, makin berperan dalam percaturan politik dunia, termasuk dalam rangka mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih berkeadilan, aman dan damai.

Sebenarnya tiada hal yang baru dalam cita-cita dan idealisme Indonesia Baru itu. Idealisme dan cita-cita Indonesia Baru itu telah dirumuskan jauh sebelumnya oleh para pendiri bangsa ini.

Kalau kini kita melabelnya kembali sebagai cita-cita dan idealisme Indonesia Baru, maka tujuannya tiada lain adalah untuk mencoba menyegarkan kembali ingatan kita akan idealisme awal itu, tepat di saat bangsa Indonesia menyambut kehadiran kepemimpinan barunya.

***
Ada hal yang melegakan, menyegarkan dan membesarkan hati pada pelantikan Presiden dan Wakil Presiden hari ini, yang menandai tradisi baru dalam peralihan kepemimpinan nasional.

Sepanjang ingatan kita, baru kali inilah sebuah upacara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden dihadiri secara lengkap oleh para mantan presiden yang masih hidup, dan juga istri mantan presiden almarhum Aburrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur.

Beberapa hari sebelumnya, presiden terpilih Joko Widodo bertemu dengan Prabowo Subianto, pesaingnya dalam Pilpres 2014, dalam suasana penuh keakraban.

Kedua peristiwa ini menandai awal dari kematangan berdemokrasi bangsa Indonesia.

***

Harus diakui, Pilpres 2014 merupakan pilpres ‘terhangat’ dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Teknologi komunikasi modern telah menghadirkan berbagai bentuk sarana untuk menyebarluaskan informasi dalam intensitas tinggi dengan kecepatan luar biasa yang tak pernah kita alami atau saksikan sebelumnya.

Sebagaimana biasa, fenomena ini menghadirkan kepada kita informasi, baik yang utuh maupun yang terdistorsi. Seringkali, ketidakmampuan kita memilah secara kritis informasi yang benar, baik, dan perlu, merangsang meningkatnya kadar irasionalitas kita.

Dan ketika irasionalitas telah membajak kesadaran kita, maka kita biasanya malah menyulutnya dengan irasionalitas baru: ikut mendistorsi informasi itu dan berperan menyebarkannya.

Irasionalitas itu kita pertontonkan dalam berbagai bentuk: menyebarkan informasi tendensius dan provokatif yang datang dari sumber yang diragukan kredibilitasnya, memanfaatkan kepiawaian kita untuk menciptakan ‘karikatur’ fisik para calon pemimpin kita di luar batas kewajaran, beradu argumen secara irasional, dan … memutuskan relasi ‘pertemanan’ terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengan kita.

Maka, tidak mengherankan bahwa selama masa kampanye Pilpres 2014, lebih dari masa-masa kampanye Pilpres sebelumnya, bangsa ini seakan terbelah dua – mengikuti kubu Pilpres mana yang diidolakan.

Singkat kata, masa kampanye Pilpres hingga beberapa waktu menjelang dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden baru hari ini adalah: masa demam, masa menggigil, masa di mana ‘suhu badan’ bangsa Indonesia meninggi. Dan seperti biasa, jiwa yang terkurung dalam badan yang sedang mengalami demam bisa mengingau.

Sempat muncul semacam kekuatiran: bisakah ‘suhu badan’ bangsa ini turun kembali? Sebuah kekuatiran yang beralasan, karena demam kali ini ‘tidak biasa’.

Hari ini, ‘suhu badan’ bangsa ini telah normal kembali, berkenaan dengan hadirnya kepemimpinan baru di Indonesia. Kepemimpinan yang mudah-mudahan mulai merealisasikan cita-cita dan idealisme Indonesia Baru.

Hari ini, imunitas bangsa ini dari rongrongan berbagai demam irasionalitas telah meningkat. Itu telah diperlihatkan oleh suasana damai dalam gedung rakyat dan di luarnya, dan di seluruh tanah air.

Bangsa Indonesia pernah memiliki Bung Karno dengan ucapannya yang terkenal: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”. Ucapan ini kiranya perlu digandengankan dengan kriteria tambahan berikut: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang darinya lahir para pemimpin yang berjiwa besar“. Kriteria terakhir ini kita saksikan secara nyata pada hari ini.

Selamat menyambut kehadiran kepemimpinan baru Indonesia. (eh/*).

Facebook Comments