Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2MENGAPA rumah sakit memiliki hubungan dengan pasien? Ada yang menjawab bahwa terjadinya hubungan itu karena ada yang membutuhkan. Yang butuh pelayanan rumah sakit adalah pasien yang sedang menderita penyakit, pasien ingin sembuh dari penyakitnya, makanya pasien mencari pelayanan rumah sakit atau pelayanan primer di ranah kesehatan yaitu Puskesmas. Tanpa ada yang sakit, maka tidak mungkin terjadi hubungan antara rumah sakit dan pasien.

Jawaban yang lain mengatakan bahwa yang butuh pasien adalah rumah sakit, apalagi sekarang sudah banyak berdiri rumah sakit. Semakin banyak institusi rumah sakit, semakin sulit mendapatkan pasien untuk dilayani, karena itu rumah sakit sekarang mengkedepankan persaingan dalam pelayanan.

Mau buktinya? Sekarang rumah sakit berlomba-lomba untuk mengikrarkan mengenai pelayanan yang diunggulkan di rumah sakitnya. Rumah sakit berlomba-lomba memiliki alat-alat medis yang canggih. Rumah sakit berlomba-lomba untuk lulus dari standar pelayanan secara internasional. Tujuan dari semua kegiatan ini, dalam rangka mengupayakan agar rumah sakitnya mendapatkan daya beda dan daya tarik serta mendapatkan kepercayaan dari calon-calon pasien. Dengan demikian, yang membutuhkan pasien adalah rumah sakit. Kalau tidak ada pasien, maka pelayanan rumah sakit tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu terjadilah hubungan antara rumah sakit dengan pasien.

Jawaban yang lain lagi mengatakan bahwa bila kita belajar sejarah dari beberapa rumah sakit yang telah berdiri sejak zaman Belanda, kita dapat memahaminya bahwa pada mulanya berdiri pelayanan rumah sakit, karena ada keinginan dari seseorang atau beberapa orang untuk memberikan pelayanan bagi warga masyarakat yang sedang menderita penyakit. Orang-orang ini ikhlas menjadikan dirinya sebagai pelayan untuk mengabdi kepada sesama yang membutuhkan kesembuhan dari penyakit.

Dari 3 (tiga) jawaban di atas, kira-kira di mana posisi pelayanan rumah sakit Anda? Apabila kita melihat perkembangan pelayanan rumah sakit sekarang dan dihubungkan dengan hubungannya pada kebutuhan pasien, nada-nadanya hubungan itu kok belum terjawab. Memang berat memposisikan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien.

Ada peribahasa lama Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Apakah peribahasa ini bisa diterapkan dalam hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien? Mungkin tidak sampai seperti itu, karena pasien yang tidak mampu pun tetap dilayani rumah sakit. Walau ada yang sering mengatakan dalam sebuah kiasan bahwa orang miskin dilarang sakit, tetapi tidak semua rumah sakit menolak pasien. Kalau pun ada penolakan pasien untuk rawat inap, mungkin karena sudah tidak ada bed yang kosong di ruang rawat inap. Betulkah itu?, Andalah yang bisa menjawab, Anda yang tahu situasi di rumah sakit Anda.

Ada juga informasi bahwa bila pasien mau berobat di rumah sakit, pasti ditanya siapa keluarganya dan siapa yang bertanggungjawab atas pasien ini. Bila pasien mau menginap, biasanya ditanyakan: “mau menginap di kelas berapa dan bayar berapa sekarang?” Biasanya jumlah pembayaran disesuaikan dengan ketentuan dari rumah sakit itu, minimal pembayaran untuk beberapa hari penginapan. Nah kalau masih ada pelayanan rumah sakit yang seperti ini, terus bisakah dikatakan bahwa hubungan rumah sakit dengan pasien merupakan hubungan transaksional? Terus tidak ada uang, abang melayang?

Untuk itu, kita perlu memahami dulu bahwa rumah sakit ada jenis dan klasifikasinya. Menurut UU RI No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, jenis pelayanan rumah sakit terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Bila dilihat dari pengelolaan rumah sakit, maka kita mengenal ada rumah sakit publik dan ada rumah sakit privat. Mengenai klasifikasi rumah sakit, ada yang memiliki kelas D, C, B dan kelas A. Penentuan kelas rumah sakit ini, didasarkan pada fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah sakit. Nah, dari sekian rumah sakit yang pengelolaannya berbeda serta kelas rumah sakit yang berbeda juga, tentu pelayanan rumah sakit yang diberikan kepada pasien berbeda juga, sehingga bisa dikatakan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien berbeda pula pelaksanannya.

Kalau kita dalami mengenai hak dan kewajiban, baik hak dan kewajiban rumah sakit maupun hak dan kewajiban pasien seperti yang tertulis pada pasal 29 – pasal 32 UU RI No. 44 tahun 2009, mestinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien bisa dilakukan dalam koridor seperti yang tertulis dalam pasal dan ayat yang terdapat dalam UU tersebut. Masalahnya sekarang, apakah rumah sakit dan pasien sudah memahami hak dan kewajiban masing-masing pada saat terjadinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien?

Apabila kita amati sedikit mengenai kebutuhan pasien di rumah sakit, maka kebutuhan pasien antara lain kebutuhan akan informasi, pelayanan yang bermutu dan manusiawi, pelayanan konsultasi, dan lain-lain. Mengenai kebutuhan rumah sakit bisa juga diamati sebagai berikut: kebutuhan untuk dana operasional, kebutuhan melakukan kerjasama, kebutuhan untuk melakukan promosi pelayanan, kebutuhan mendapatkan insentif pajak, dan kebutuhan lainnya.

Apabila kita pertemukan kebutuhan pasien dan kebutuhan rumah sakit, barangkali dapat bertemu dalam hal pembiayaan pelayanan yang diberikan kepada pasien dan kegiatan promosi pelayanan rumah sakit. Dalam hal pembiayaan pelayanan umpamanya, maka perlu diperhatikan oleh rumah sakit mengenai penentuan ketepatan diagnosis, tindakan yang diberikan, dan obat yang tepat diperlukan oleh pasien.

Bila pemberian diagnosis, tindakan, dan obat yang diberikan oleh tenaga medik termasuk dalam kategori berlebihan atau justru sedikit, akan sangat berpengaruh pada besar tidaknya biaya pelayanan yang akan dibayar oleh pasien. Kalau pelayanan yang diberikan berlebihan, maka pasien akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, sedang bila pelayanan yang diberikan termasuk lebih rendah dari yang seharusnya, justru biaya yang akan dibayar pasien juga tetap besar, karena tingkat kesembuhan penyakit yang diderita pasien menjadi lama.

Demikian juga kegiatan promosi yang akan dilakukan oleh rumah sakit, tentu dimaksudkan agar pelayanan yang telah disediakan rumah sakit dapat diketahui oleh pasar (masyarakat). Nah, kegiatan promosi ini bisa juga berbiaya besar apabila pemilihan pada media promosi tidak tepat. Dan bila berbiaya besar, pada akhirnya akan menjadi beban pasien juga. Oleh karena itu, supaya hubungan rumah sakit dengan pasien menjadi semakin serasi dan semakin baik di masa yang akan datang, perlu manajemen rumah sakit berusaha keras untuk mengendalikan hal-hal yang disebutkan di atas.

Pengendalian biaya pelayanan rumah sakit – yang dilakukan oleh manajemen rumah sakit – sangat menentukan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien dalam jangka panjang. Bila pengendalian biaya tidak dilakukan dengan sangat hati-hati oleh manajemen rumah sakit, bisa-bisa akan terjadi penurunan pada kunjungan pasien di rumah sakit.

Meskipun sudah ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang akan menyelesaikan pembayaran biaya pelayanan rumah sakit sesuai kebutuhan pasien, tetap saja usaha pengendalian terhadap biaya pelayanan rumah sakit menjadi sangat penting. Tujuannya supaya pelayanan rumah sakit tidak menjadi terkenal mahal. Dan kalau sampai terjadi informasi bahwa pelayanan sebuah rumah sakit mahal, risikonya sangat besar, dan bisa-bisa akan kehilangan banyak pasien.

Karena itu, manajemen rumah sakit dianjurkan supaya tetap berusaha keras agar rumah sakitnya dapat dikenal masyarakat sebagai rumah sakit yang cepat dalam memberikan pelayanan, komunikatif, dan tepat diagnosis atas penyakit yang diderita oleh setiap pasien yang berobat.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Facebook Comments