Cerpen oleh E. Halawa

Catatan Penulis: Ini adalah terjemahan Indonesia dari cerita pendek berjudul Ka Di’a ba Guru Tane’a, yang dimuat di NO pada tanggal 19 September 2013. Terjemahan ini disertai catatan kaki untuk menjelaskan konteks cerita bagi pembaca. Apabila waktu mengizinkan, cerpen ini akan “dikembangkan”, artinya akan diteruskan dengan cerpen-cerpen baru yang terkait yang bermaksud untuk menggambarkan situasi kehidupan masyarakat Nias di masa lalu, hal yang mungkin sulit ditemukan pada buku-buku tentang Nias hasil-hasil karya berbagai pengarang (peneliti). Kritik dan pelurusan informasi selalu diterima dengan hati senang dan terbuka. Selamat menikmati. (eh)

_________________________________________________

Tadi, jam satu siang, Ka Di’a [1] pulang dari sekolah dasar (SD) yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Ka Di’a duduk di kelas enam. Sebenarnya umurnya sudah agak tinggi untuk ukuran anak kelas 6 SD zaman sekarang. Ia sudah berumur 17 tahun, sudah layak dinikahkan. Namun karena minatnya untuk belajar dan juga karena sekolah itu kekurangan murid, maka dua tahun lalu, pada usia 15 tahun, dia diterima di sekolah itu, di kelas 4.

Sebelum itu, ia pernah bersekolah di SD lain. Namun karena jauh – sekitar empat kilometer dari rumahnya – ia hanya sampai di kelas 3 lalu berhenti. Sejak ia mulai belajar di SD yang jauh itu, kedua orang tuanya selalu was-was setiap hari. Kalau hujan turun, maka tak jarang Ka Di’a dan teman-temannya baru sampai di rumah menjelang malam.

Ketika masih di kelas 1, masih banyak temannya yang sekelas dengannya, banyak murid yang mendaftarkan diri di sekolah itu. Belakangan, tinggal tiga orang mereka yang setiap hari bersama-sama pergi dan pulang. Singkat cerita, begitu selesai tahun ketiga, Ka Di’a berhenti bersekolah.

***
Pada awal pemerintahan Orde Baru, tidak lama setelah Sukarno jatuh, berdirilah sebuah SD di kampung Ka Dia. Anak-anak yang tadinya berhenti sekolah kembali berminat untuk melanjutkan pendidikan di SD baru itu. Pada masa itu, usia bukan hambatan untuk bisa bersekolah. Oleh sebab itu, banyak anak yang sudah sangat dewasa dari segi usia ikut mendaftarkan diri. Dan terkadang lucu kita melihat keadaan waktu itu … ada yang datang ke sekolah memakai celana panjang, ada yang makan sirih, dan ada juga yang bawa pisau di pinggang – kebiasaan orang desa ketika pergi ke kebun.

***
Ya’ahoŵu Bapa …‘, Ka Dia menyapa guru Tane’a – guru kelasnya – ketika ia sampai di pekarangan sekolah tadi pagi.

Ya’ahoŵu Rina’, [2] itu sapaan balasan dari Tane’a, guru baru di sekolah itu, yang juga baru tamat dari sekolah guru di Gunungsitoli.

Guru Tane’a termasuk pemuda tampan, agak langsing, dan pintar berbahasa Indonesia [3]. Ada tambahan: Tane’a selalu harum minyak wangi. Dan guru Tane’a pun tukang smes dalam permainan voli [4]. Setiap kali ia ikut main, orang-orang yang sedang belanja atau berjualan di harimbale [5] meninggalkan kesibukan mereka dan mendekat ke lapangan voli untuk melihat smes dan permainan cantik Guru Tane’a.

***

Pada setiap jam pelajaran, guru Tane’a tak diam di depan kelas, ia ke belakang dan ke depan silih berganti untuk menjelaskan dengan baik materi yang diajarkannya. Dia disenangi oleh para murid karena dia pintar mengajar. Dia juga jarang sekali marah kepada anak didiknya. Tidak seperti guru Takhöli yang sering menampar anak-anak hanya karena terlambat tiba di sekolah akibat hujan lebat. Sampai suatu saat dia dipukuli di harimbale. Sejak itu, guru Takhöli tak pernah lagi menginjakkan kaki di SD dan di kampung itu.

***
Negara apa di dunia ini yang ibu kotanya Lima?‘ [6]

Mula-mula kelas hening, lalu mulai ada yang agak terperanjat dengan pertanyaan yang dilemparkan guru Tane’a. Guru Tane’a tersenyum. Melihat guru mereka tersenyum, murid-murid pun mulai pada berbisik.

Bapa ini ada-ada aja … mana ada negara yang memiliki lima ibu kota’.

Guru Tane’a mendengar bisikan mereka.

Engkaulah yang memiliki kandung kemih besar, Dohu. Lebih besar dari kandung kemih babi.” [7]

Suasana menjadi riuh, anak-anak pada ketawa mendengarkan jawaban Guru Tane’a atas bisikan Ka Dohu.

Ka Di’a kelihatan tersenym-senyum. Ia tahu jawabannya, tetapi dia malu menyampaikannya. Terhadap guru-guru lain, Ka Di’a tidak segan-segan menjawab kalau memang mengetahui jawaban pertanyaan mereka.

Untuk menyemangati murid-muridnya dan demi sebuah misi khusus, Guru Tane’a mengambil pulpen tinta dari dalam kantong bajunya; tidak terlalu baru tetapi masih bagus. Di masa itu, hanya para guru dan para pegawai pemerintah yang mampu membeli pulpen semacam itu, karena cukup mahal.

Yang bisa menjawab pertanyaan tadi, dia akan mendapat ini …,’ guru Tane’a mengangkat tangan kirinya, tangan yang sedang memegang pulpen yang cantik itu.

Keriuhan kelas tiba-tiba berhenti. Murid-murid pada mengambil nafas panjang.

Guru Tane’a melihat ke sana kemari walau pandangannya lebih sering tertuju kea rah Ka Di’a. Dia tahu Ka Di’a ingin menjawab. Ka Di’a sendiri kelihatannya memulas-mulas tangannya, duduknya pun tak tenang, ia ingin mengangkat tangan untuk menjawab. Tak jadi.

Belum sempat Ka Di’a mengerahkan keberaniannya, Ka Di’u (Matius) sudah angkat bicara.

Bapak … ‘, ucap Ka Di’u sambil mengangkat tangannya.

Jantung Ka Di’a berdetak keras, demikian juga guru Tane’a. Ada penyesalan dalam diri Ka Di’a karena terlambat menjawab. Demikian juga guru Tane’a.

Sebentar lagi, pulpen ini akan berpindah ke kantong Ka Di’u. Tidak biasa Ka Di’u seagresif ini. Betapa beruntungnya Ka Di’u, betapa malangnya Ka Di’a.

***
Sebelum ini, sudah beberapa kali guru Tane’a bermaksud memberikan pulpen ini kepada Ka Di’a. Akan tetapi ia tidak menemukan alasan yang tepat [8].

Ini jalan yang pas, yang tidak mengundang kecurigaan murid-murid lain: ia jadikan pulpen itu sebagai hadiah kepada murid yang menjawab pertanyaannya dengan tepat.

Oh Matius (Ka Di’u) … kau kok beruntung sekali hari ini … di masa lalu kau tak pernah seperti ini …’, itu kata guru Tane’a dalam hatinya. Tentu saja tak terucapkan.

Setahu saya setiap negara hanya memiliki satu ibu kota Pak’, itulah jawaban yang keluar dari mulut Ka Di’u. Ka Di’u mengarahkan segala keberaniannya menjawab, dengan terlebih dahulu menghafal kata-kata yang akan diucapkannya supaya jangan salah nanti.

Bukan main senangnya guru Tane’a. Apa yang dikatakan Matius memang benar, tetapi bukan merupakan jawaban yang tepat atas pertanyaanya. Artinya, masih ada kesempatan Ka Di’a untuk menjawab.

Yaaaa … Rina … apa jawabanmu?

Peru, Pak

Benar !

Suasana kembali menjadi begitu hening, kalau saja ada jarum jatuh ke lantai pada saat itu maka setiap murid yang berada dalam kelas itu bisa mendengar bunyi jatuhnya. Muka Ka Di’u jadi pucat, jantung Ka Dohu berdebar dengan frekuensi yang sangat tinggi, dan beberapa yang lain mandi keringat.

***
Atlas dunia sudah ditempel di dinding … namun kalian tak pernah mendekat untuk mengamati … melirik pun tidak.’

Makin menjad-jadilah nasehat basi-basi guru Tane’a kepada murid-murid kesayangannya dan yang menyayanginya juga.

Terima kasih Pak’, kata Ka Di’a setelah menerima pulpen dari gurunya … sekali gus kekasihnya. Dia tak berani memandang wajah gurunya itu.

***
Rina sampai di rumah dengan sangat bersuka cita. Ia mendapat pulpen dari gurunya, kekasihnya.

Pada malam itu, sesudah makan dan setelah ia selesai mencuci peralatan dapur, di bawah terang lampu petromaks Rina membuka bukunya, ia mulai belajar. Sebentar lagi ujian penghabisan … sesudah itu ia akan tamat dari sekolah itu.

Bagus sekali pulpenmu anakku. Dari mana kamu ambil?’, itu pertanyaan bernada agak menyelidik dari ibu si Rina. Tak mungkin ayah si Rina membelikan pulpen itu untuknya.

Suara ibu si Rina terdengar oleh suaminya (Ama Rina, Ama Ga Di’a) yang sedang menambal jala ikan yang robek. Dia memandang ke arah Rina. Kilauan pulpen itu – karena pantulan cahaya lampu petromaks – memancing matanya untuk mengamati lebih seksama. Matanya – yang melotot dari atas gagang kacamata bacanya – seakan melekat ke arah benda berkilauan itu.

Apakah pulpen ini kau temukan di jalan, anakku? Jangan-jangan pulpen gurumu yang jatuh,’ kembali Ina Rina melemparkan perkataan bernada menyelidik, walau ia mengucapkannya secara halus supaya Rina tidak sampai tersinggung.

Bukan pulpen jatuh Ma …. !, hanya itu penjelasan singkat dari Rina; ia meneruskan lagi menulis.

Siapa yang memberikan pulpen itu padamu anakku …’, suara ibu si Rina makin lembut. Ketika Rina hendak menjelaskan asal-usul pulpen itu, tiba-tiba guru Tane’a muncul.

Ya’ahowu Bapa …, Ya’ahowu Ibu”, guru Tane’a menyapa kedua orang tua Rina dengan sangat hormat.

Ah … engkau guru … mari … duduk …’, Ama Rina meninggalkan kesibukannya menambal jala ikan yang bocor.

He Di’a … bikinkan kopi untuk abangmu … eh … bapa gurumu”, keseleo lidah Ama Rina menyuruh anaknya. Guru Tane’a pura-pura tidak mendengar keseleo itu, jantungnya berdetak keras, seperti halnya Rina. Muka ibu Rina memancarkan cahaya kebahagiaan.

Malam itu, Ama Rina mengajak guru Tane’a melempar jala ikan di sungai Muzöi.

Tidak lama sesudah itu, setelah Rina menyelesaikan studinya di SD [9], terdengar suara aramba dan faritia, göndra [10] pun dipukul bertalu-talu, orang banyak famaena, ikut bergembira merayakan bersatunya dua insan yang saling mengasihi.

Catatan Kaki:

[1]. Ka di depan nama tokoh utama cerita (Di’a, Rina, Tarina) kurang lebih searti dengan kata sandang si dalam bahasa Indonesia. Jadi Ka Di’a boleh diterjemahkan Si Di’a. Di’a sendiri adalah singkatan dari nama lengkap. Bisa jadi nama aslinya adalah Tarina, Satiba, Manisa, dst. Dalam praktiknya, umumnya orang-orang di kampung merangkaikan kata sandang Ka dengan nama singkatan itu. Misalnya: Kadegu, Kazaetu. Penulis mengusulkan pemisahan itu, seperti dalam cerpen ini.

[2]. Nama asli Ka Di’a sebenarnya adalah Tarina; teman-teman dan orang lain, termasuk guru Tane’a, memanggilnya Rina.

[3]. Di masa itu, di kampung-kampung jarang orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Para guru pun jarang yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

[4]. Permainan voli adalah permainan paling popular di Nias di masa itu. Di tingkat Sumatera Utara, Nias beberapa kali menjadi mencapai final bahkan juara. Baca misalnya: Fransiskus T. Lase: Mantan Bintang Bola Voli Sumatera Utara.

[5]. Harimbale adalah pasar mingguan, setiap Öri atau beberapa kampung mempunyai harimbale sendiri, misalnya harimbale di: Botombawö (Selasa), Lahagu (Rabu), Botomuzöi (Kamis), Lalai (Sabtu), dst.

[6]. Pernah muncul sebagai sebuah soal dalam ujian mata pelajaran “Pengetahuan Umum” dalam Udjian Masuk Sekolah Landjutan Tingkat Pertama yang diselenggarakan sekitar bulan Oktober tahun 1971.

[7]. Percapakan antara guru Tane’a dan para muridnya (dalam hal ini diwakili Ka Dohu) berlangsung dalam suasana jenaka. Dalam cerpen versi asli (Li Niha), Ka Dohu menggunakan istilah faya yang berarti: bohong, tak benar, iseng. Akan tetapi faya juga berarti ‘kandung kemih’. Guru Tane’a membalas bisikan Ka Dohu dengan mengatakan bahwa kandung kemih Ka Dohu lebih besar dari kandung kemih babi (faya mbaŵi). Faya mbaŵi di masa itu sering dimanfaatkan anak-anak untuk menjadi bola, dengan jalan mencucinya dulu, mengeringkannya, memompanya dengan mengembuskan nafas lewat buluh berdiameter kecil. Ada juga yang nekat mengisikan angin dengan mengembus langsung. Setelah mengeras, bola faya mbaŵi tadi dililit berulang-ulang dengan benang getah kering dari bekas sadapan pohon karet. Sebenarnya kelakar soal faya mbawi ini baru muncul akhir-akhir ini, sepengetahuan penulis. Penulis sengaja memasukkan ini hanya untuk mengisahkan kreativitas anak-anak zaman itu untuk ‘menciptakan’ bola kaki dari organ tubuh babi, yang merupakan binatang piaraan paling dikenal di Nias.

[8]. Dalam hal ini, guru Tane’a harus hati-hati sekali. Di masa itu, seseorang pemuda tidak boleh begitu saja memberikan sesuatu kepada seorang gadis (atau sebaliknya) yang bisa menimbulkan masalah ditinjau dari segi adat.

[9]. Suatu prestasi khusus bagi Rina bisa menyelesaikan studinya di SD, sebab pada masa itu, jarang sekali anak gadis desa mencapai pendidikan ‘setinggi’ itu.

[10]. Aramba (gong), faritia (canang) dan göndra (gendang) adalat alat musik pukul yang biasa dibunyikan untuk memeriahkan pesta perkawinan di Nias.

Facebook Comments