adu6Barangkali ini bukan berita baru bagi kebanyakan masyarakat Nias, namun tetap saja menjadi berita yang menarik: patung-patung kuno peninggalan budaya Nias kini tersebar di berbagai belahan dunia. Dikoleksi secara pribadi oleh para kolektor yang haus akan barang-barang antik, atau tersimpan dalam museum di berbagai negara.

Penelusuran acak Nias Online di dunia maya memberikan sedikit gambaran tentang persebaran patung- nilai, ukuran, tahun pembuatan dan lokasi dari patung-patung kuno itu.

Sebagaimana diketahui, di zaman dahulu, sebelum misi agama-agama monteisme Kristen dan Islam datang di Nias, Ono Niha menganut agama suku. Sentral dalam kepercayaan itu adalah penyembahan patung (berhala). Jadi dulu Ono Niha manömba adu (menyembah patung), jadi Ono Niha dulu adalah sanömba adu (penyembah berhala). Mengenai hal ini, baiklah kita menyimak kutipan berikut [1]:

Suku Ono Niha pada zaman nenek moyang memanjatkan doa kepada Lowalangi dan Dewa-dewi lainnya, melalui arwah nenek moyang yang telah disemayamkan dalam adu/patung nenek moyang; jadi seolah-olah mereka sembah sujud di hadapan / di bawah patung atau adu tersebut.”

Dari penjelasan di atas, Ono Niha zaman dulu percaya bahwa di dalam patung yang mereka buat itu bersemayamlah roh dari orang yang dibuatkan patungnya itu.

***

Kembali kepada pokok tulisan, NO berhasil melacak informasi terbatas tentang patung-patung yang telah tersebar di berbagai penjuru itu. Sidang pembaca dapat meneruskan pelacakan dengan memasukkan kata kunci seperti Nias Statues ke mesin pencari seperti Google.

Patung perempuan pada Gambar 1 ini memiliki ketinggian: 36.5 cm (14.5 inci). Patung ini diperkirakan berharga US$8,618 – US$14,363 dan terjual pada saat lelang seharga US$8670 (sekitar Rp 103 juta).

adu1Gambar 1 – Patung Perempuan, tinggi 36.5 cm (Sumber: Situs Christies)

Patung laki-laki setinggi 43 cm dan garis tengah terbesar 14 cm ini – Gambar 2 – dan memiliki berat 2.1 kg. Sebagaimana terlihat patung ini kelihatan berdiri tapi sambil melipat kaki. Gelang pemburu kepala menghiasi lehernya. Status terakhir patung ini di situs African Art adalah “Sold” alias telah terjual – entah siapa pemiliknya sekarang.

adu2Gambar 2 – Patung Laki-Laki (43 cm x 14 cm, 2.1 kg) – African Art.

Patung ketiga (Gambar 3) adalah patung Salawa (Siraha Salawa), dan diperkirakan dipahat pada abad 19, memiliki ketinggian 71.5 cm. Patung bernomor inventaris 1551 juga berstatus “SOLD” alias telah terjual.

adu3Gambar 3 – Siraha Salawa, 71.5 cm – Michael Backman Ltd

Patung berikut (Gambar 4) adalah patung leluhur (Adu Zatua) dibuat pada abad 19 memiliki tinggi 55.7 cm. Patung ini dulunya dikoleksi oleh André Breton, Helena Rubinstein dan Don Alain Schoffel, kini dikoleksi oleh Museum Quai Branly, Perancis, dengan nomor koleksi 70.1999.3.1.

adu4Gambar 4 – Adu Zatua – Museum Quai Branly, Perancis

Koleksi dari Museum yang sama adalah patung pemimpin (Salawa) dari batu (Gowe Salawa) pada Gambar 5, dengan nomor koleksi: 70.1999.5.1.

adu5Gambar 5 – Gowe Salawa – Museum Quai Branly, Perancis

 

Patung pada Gambar 6, terkecil dari hasil lacakan NO, justru diklaim sebagai masterpiece (karya besar) karena dianggap merupakan salah satu patung tertua dari Nias yang dapat didentifikasi. Menurut situs Virtual Collection of Asian Masterpieces, patung leluhur (adu zatua) berukuran kecil dan sederhana ini awalnya dikoleksi oleh Baron Von Rosenberg yang mengunjungi Nias pada tahun 1850an.

Baron Von Rosenberg (1817-1888)  datang ke Hindia Belanda sebagai seorang tentara dan mulai bertugas di Sumatra dan di pulau-pulau sebelah baratnya. Belakangan ia menjadi pegawai negeri dengan tugas khusus melakukan penelitian ilmiah.

Patung ini bergaris tengah 6 cm (tinggi tidak diinformasikan), berfungsi melindungi rumah dari roh-roh jahat.  Patung ini dibeli dari janda Baron Von Rosenberg pada tahun 1889 dan kini dikoleksi di National Museum of Ethnology, Rijksmuseum Volkenkunde, Negeri Belanda.

adu6Gambar 6 – Patung Leluhur (“Masterpiece”) – Virtual Collection of Asian Masterpieces

Selain berpindah lewat perseorangan dalam rentang waktu yang panjang hingga saat ini, perpindahan besar-besaran patung-patung Nias ke museum-mesum di Eropah terjadi pada “Periode Penghancuran” [2].

Berpindahnya patung-patung Nias kuno itu keluar, baik dalam Periode Penghancuran maupun sesudahnya sebenarnya boleh juga dianggap sebagai rahmat terselubung. Seandainya saja patung-patung itu masih berada di Nias, barangkali nasib mereka sama dengan nasib rumah-rumah adat Nias yang hancur tanpa bias diganti lagi.

***

Pada tahun 1970an masih ramai penjualan patung di Nias, terdorong oleh desakan ekonomi masyarakat Nias. Konon, pada waktu itu muncul juga patung-patung “lama” tapi baru. Maksudnya patung-patung itu sebenarnya dipahat tidak lama sebelum atau sesudah ada pesanan, tapi bahannya dari kayu-kayu tua dari reruntuhan rumah-rumah adat dulu. Jadi, menurut seorang informan waktu itu, kalau pun dicek, bahannya memang bahan kayu tua. Entah benar atau tidak, perlu penyelidikan lebih jauh.

(eh*)

Rujukan:

  1. S. Zebua, 1996: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha – Seri Agama dan Gotong Royong Dalam Berburu; Tuhegeo.
  2. NO, 2007: Eduard Fries dan Karya Para Misionaris Awal di Nias: Wawancara dengan Dr. Mai Lin Tjoa-Bonatz.
Facebook Comments