Fenueli Zalukhu | FB

Fenueli Zalukhu | FB

NIASONLINE, JAKARTA – Berbagai lapisan masyarakat Nias pilkada di seluruh Kepulauan Nias yang tahapannya dimulai pada tahun depan merupakan momen yang tepat untuk mewujudkan perubahan. Perubahan dalam wujud penempatan orang-orang yang tepat, berintegritas dan mampu bekerja keras untuk kesejahteraan masyarakat Nias, beranjak dari keadaan memprihatinkan saat ini.

Perkembangan politik di level nasional, di antaranya dengan terpilihnya Jokowi yang mendapat dukungan luas dari rakyat Indonesia menjadi patron untuk dimulainya sebuah pola baru pemilihan siapa yang layak jadi kepala daerah di Kepulauan Nias.

“Menurut pendapat saya, sosok pemimpin yang bersih, visioner, responsif, profesional dan sebagainya merupakan kebutuhan sejak dulu. Namun saat ini merupakan timing yang tepat (dalam konteks pemimpin lokal) oleh karena secara nasional pemimpin-pemimpin yang baik sudah mulai bermunculan, yang berarti sudah ada patron. Apalagi dengan terpilihnya Jokowi sebagai presiden, daerah-daerah jangan sampai menunggu lagi. Momentum ini harus ditangkap,” ujar Fenueli Zalukhu, salah satu tokoh Nias asal Nias Utara.

Pria ramah yang akrab disapa Ama Rico itu menjelaskan, kepala daerah yang dibutuhkan Nias saat ini adalah pemimpin yang menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh (leading by example).

“Hal ini sangat mendasar menurut saya, karena hingga saat ini belum ada seorangpun pimpinan bahkan juga pejabat di sana yang benar-benar bisa dikatakan sebagai “bapak” bagi masyarakatnya,” papar Direktur PT. Lintas Laras Internusa itu.

Seorang bapak, kata dia, harusnya berlaku penuh kasih, adil dan rela berkorban serta kerja keras demi anak-anaknya.

“Ini yang kita belum punya. Yang ada selama ini justru yang memanfaatkan dan mengatasnamakan masyarakat tetapi ujung-ujungnya mengemukkan diri atau kelompok sendiri. Sehingga tidak mengherankan apabila masyarakat sudah kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Masyarakat seperti tak punya gembala,” tegas dia.

Ketiadaan contoh itu, juga dinilainya sebagai salah satu sebab kenapa banyak masyarakat Nias tidak memiliki kepribadian yang kuat. Mereka cenderung labil secara emosi dan cepat terpengaruh pada budaya yang datang dari luar meskipun itu bersifat destruktif.Penyebabnya adalah karena mereka tidak memiliki teladan yang bisa dicontoh.

Pria yang pernah menjadi geogist di PT. Indo Mineratama dan Development Geologist di PT. Spectrum Energy Indo itu menjelaskan, teladan kepemimpinan yang layak disebut “ayah” dan memimpin dengan keteladanan tersebut, seperti dicontohkan oleh Tuhan Yesus. Tentu ini bukan sebuah kebetulan belaka karena umumnya mereka yang menjadi pemimpin di Nias adalah orang-orang yang mengaku dirinya sebagai pengikut Yesus Kristus. Bahkan mereka menjadi bagian dari struktur kepengurusan organisasi dan pelayanan gerejawi di Nias.

Nias juga membutuhkan pemimpin yang menghasilkan terobosan. Yakni, seorang yang memiliki keterpanggilan untuk mendedikasikan dirinya sepenuhnya bagi kepentingan masyarakat Nias.

“Dan yang bersangkutan juga harus ‘sudah selesai dengan dirinya sendiri’. Artinya, dia tidak lagi berjuang untuk dirinya sendiri. Hanya orang-orang seperti inilah yang berani berkorban bahkan mati untuk rakyatnya,” terang dia.

Pemimpin yang baik untuk Nias itu, tambah dia, juga seorang yang begitu selesai dilantik berani mengumpulkan seluruh wartawan dan LSM (khususnya kepada mereka yang merasa belum bisa menjalankan tugas secara baik dan profesional) dan berkata kepada mereka: “Sejak saat ini, silahkan cari profesi yang lain karena saya berani menjamin bahwa saya tidak korupsi dan anak buah saya juga akan saya penjarakan dan copot jabatannya jika berlaku maling. Jadi, jangan harapkan ada uang tutup mulut dari pemda karena saya akan segera bakar sarang-sarang tikus di wilayah yang saya pimpin. Untuk itu, lebih baik kalian cari profesi lain sekarang,’” pungkas dia.

Kesederhanaan dan kerendahhatian juga penting jadi pertimbangan. Itu akan jadi modal penting untuk menyatu dengan masyarakat dan sekaligus ampuh menangkal setan korupsi.

“Sedangkan orang-orang berjiwa konsumtif, orang yang daftar dan batasan keinginannya setinggi langit, orang-orang yang menganggap harta sebagai satu-satunya ukuran nilai seseorang, sulit diharapkan untuk bersih,” ujar Sarjana Teknik Geologi dari Fakultas Teknologi Kebumian dan Mineral Universitas Trisakti tersebut.

Meski begitu, kesederhaaan dan kerendahhatian juga bukan berarti akan jadi pilihan terbaik. Penyebanya, persepsi masyarakat di Nias tentang pemimpin yang bagus itu adalah yang berwibawa dan apabila bicara/berpidato suara meledak-ledak.

Sedangkan tantangan lainnya adalah sulitnya bagi masyarakat untuk bersatu. Yang mereka lihat adalah uang. Yang kedua, penampilan dan ketiga hubungan atau ikatan kekeluargaan. Masing-masing bertahan pada pendapat, ego dan kepentingan sendiri. Sayangnya, kepentingan yang mereka perjuangkan adalah kepentingan sesaat. Nyaris tidak ada unsur nalar dan obyektifitas disana. Yang lebih menyedihkan adalah karna kaum terdidik dan pelayan agama memiliki sikap yang tidak jauh berbeda. Suatu hal yang membuat Nias akan terus terbelakang apabila tidak ada perubahan.

Abang kandung motivator terkenal Eloy Zalukhu tersebut mengatakan, untuk mendapatkan pemimpin seperti itu, kesadaran masyarakat sangat menentukan. Karena itu, mulai dari saat ini, masyarakat harus diedukasi mengapa harus menggunakan hak pilih mereka dengan benar dengan memilih orang yang tepat.

“Tentang edukasi publik, terus terang saya tidak terlalu optimis akan hal itu, setidaknya untuk saat ini. Tetapi bahwa harus dimulai, ya saya setuju,” kata dia.

Menurut dia, idealisme masyarakat Nias saat ini sudah begitu lemah dan rapuh. Mereka bahkan cenderung resisten (menolak) atau setidaknya cuek (tidak peduli) dengan masukan-masukan dari luar.

“Salah satu yang diharapkan berperan adalah lembaga gereja,” pinta pemegang gelar Magister Manajemen di bidang marketing dari STIE IPWIJA itu.

Pria yang pada pileg tahun ini mencalonkan diri sebagai caleg DPRD di Kabupaten Nias Utara mengatakan, momentum keterpilihan pemimpin nasional yang membuktikan keberpihakannya kepada masyarakat harus dimanfaatkan dengan baik untuk melakukan perubahan. Sebab, bila tidak, maka kelak kita hanya akan mendengar dan menonton kisah sukses daerah lain.

Pria yang juga memiliki keahlian di bidang usaha kecil menegah (UKM) tersebut mengatakan, meski mungkin tidak banyak, namun masih ada putra-putri Nias yang bersih dan layak untuk memimpin.

“Mungkin saja ada. Walau tidak sehebat Jokowi, Ahok, Risma, dan lain-lain. Tapi masalahnya mereka sudah tidak tertarik alias apatis melihat masyarakat yang lebih tertarik pada lembaran 100 ribuan ketimbang memilih pemimpin yang relatif bersih, pekerja keras, dan visioner. Tapi jumlah orang-orang seperti itu pasti sangat sedikit,” tegas dia lagi.

Dia mengakui, tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat. Butuh setidaknya satu dekade untuk mencapai kesadaran berpolitik masyarakat. Namun, itu harus dimulai, salah satunya melalui momentum pemilihan kepala daerah yang sudah menanti di depan mata. (EN)

Facebook Comments