Dr. Yoyok Wahyu Subroto | FB

Dr. Yoyok Wahyu Subroto | FB

NIASONLINE, JAKARTA – Tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan dari berbagai universitas di Jepang kembali akan mengunjungi Desa Bawömataluo. Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang dimulai pada Juli 2011 lalu guna mewujudkan agar desa tradisional itu diakui sebagai warisan dunia (world heritage) di Unesco, sebuah lembaga di bawah PBB.

“Besok pagi (hari ini, red) saya dan tim dari Jepang akan ke Nias Selatan untuk evaluasi program persiapan penilaian Desa Bawömataluo sebagai desa cagar budaya nasional,” ujar Ketua Tim UGM-Jepang Dr. Yoyok Wahyu Subroto kepada Nias Online, Sabtu (30/8/2014) malam.

Tim tersebut akan berada di sana hingga Rabu, 5 September 2014. Dia menjelaskan, penilaian sendiri akan dijadwalkan kemudian oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ketika sudah dinyatakan siap untuk dinilai.

“Penilaian akan dilakukan oleh tim Kemendikbud,” kata dia.

Terkait penilaian oleh Unesco, jelas dia, sebelum ke level dunia di Unesco, sebelumnya harus dinilai di level nasional lebih dahulu.

“Unesco itu untuk level dunia. Sebelumnya harus di level nasional dulu,” ucap dia.

Lalu, mengenai jadwal penilaian oleh Unesco, papar dia, sangat tergantung pada kesiapan masyarakat di Desa Bawömataluo. Juga tergantung pada kesiapan fisik desa itu dimana harus menunjukkan keasliannya.

“Asal ada kemauan dari masyarakat, prosesnya bisa lebih cepat,” kata dia.

Ditanya mengenai kemungkinan sulitnya masyarakat melakukan penyesuaian cepat dengan persyaratan untuk mengembalikan fisik desa itu seperti aslinya semula karena membutuhkan biaya mahal, Dr. Yoyok mengatakan, hal itu akan dilakukan bertahap.

“Sudah ada bantuan tahap I untuk rehabilitasi 5 rumah dan bertahap 5 rumah tiap tahun berikutnya. Dananya dari berbagai sumber, semoga bisa terealisasi,” tutur dia. (en)

Facebook Comments