Marselino bersama guru dan anak-anak TK Penabur Modernland, Tangerang | Save Bawomataluo

Marselino bersama guru dan anak-anak TK Penabur Modernland, Tangerang | Save Bawomataluo

NIASONLINE, JAKARTA – Terdorong oleh keprihatinan akan kurangnya perhatian pada promosi budaya dan tradisi Nias, Marselino Fau melakukan terobosan sederhana namun bermanfaat.

Marselino memperkenalkan budaya Nias melalui sekolah-sekolah, khususnya di tingkat taman kanak-kanak (TK).

“Ini hari pertama saya melakukannya di TK Penabur Modernland, Tangerang,” ujar Marselino kepada Nias Online di Jakarta, Jum’at (29/8/2014).

Marselino langsung tampil sebagai ‘pengajar’ bagi anak-anak TK di sekolah itu. Jauh hari sebelumnya, dia sudah menyiapkan beberapa alat bantu. Di antaranya, peta Pulau Nias hingga gambar lompat batu untuk bahan kegiatan mewarnai.

Kemudian, dia juga memperkenalkan sapaan khas Nias, ‘Ya’ahowu’, bahasa Nias, baju adat hingga Tari Perang dan atraksi Lompat Batu dalam bentuk video pendek.

“Saya juga memperkenalkan keindahan alam Nias. Bahwa Nias punya banyak pantai yang lebih bagus ombaknya di banding di Bali. Dan kalau mau liburan, ke Nias saja,” papar dia.

Kemudian, sekitar 30 anak-anak TK tersebut melakukan kegiatan mewarnai di selembar kertas yang sebelumnya telah lebih dulu ada gambar atraksi lompat batunya.

Ditanya mengenai motivasi awal melakukan kegiatan itu, putra Nias asal desa Bawömataluo itu mengatakan, semata-mata untuk memperkenalkan budaya Ono Niha.

“Saya coba cari peluang di sekolah karena banyak tugas tentang kebudayaan untuk anak-anak di sekolah. Lalu saya menawarkan budaya orang Nias. Dan mereka ternyata menyambut baik. Jadi, dua-duanya membutuhkan,” jelas dia.

Dia mengatakan, kegiatan hari ini merupakan yang pertama. Ada beberapa sekolah lain menawarkan juga, namun katanya, untuk saat ini lebih memrioritaskan sekolah-sekolah terdekat dan mudah dijangkaunya.

Dia mengatakan, upaya memperkenalkan Nias dan kebudayaannya harus dilakukan tanpa bergantung pada dan menunggu pemerintah daerah.

“Kalau kita terus menunggu pemerintah, mungkin sampai kiamat juga mereka tidak akan ada perhatian untuk itu. Apa yang bisa kita kerjakan, ya kita kerjakan saja,” tegas dia.

Selanjutnya, saya juga akan melakukan hal yang sama di tiga sekolah. Ada di Depok, juga ada di Cimahi.
Sebelumnya, Marselino juga secara aktif memromosikan upaya kepedulian dan perlindungan terhadap keunikan budaya Nias, khususnya di Desa Bawomataluo melalui akun Save Bawömataluo di Facebook. Dan kegiatan di sekolah itu pun dinamai dengan Save Bawomataluo Mengajar. (en)

Facebook Comments