Panel Surya | kbluecheese.blogspot.com

Panel Surya | kbluecheese.blogspot.com

NIASONLINE, JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Nias Utara membuat terobosan dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan investor asing untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). MoU dengan R20-Regions dan perusahaan energi asal Prancis Akuoenergy tersebut terkait pembangunan PLTS dengan kapasitas 10 megawatt (MW) senilai US$ 40 juta.

Penandatangan dilakukan di Kantor Kementerian ESDM di Jakarta, pada Kamis (/8/2014). Penandatanganan dilakukan oleh Bupati Nias Utara Edward Zega, Direktur Asia Pasific R20 Nico Barito, dan Direktur Akuoenergy Eric Scotto.

Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo dan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana.

Proyek tersebut, seperti diungkapkan Rida, akan dibangun di area seluas 10 ribu hektar.

“Pemerintah menyambut baik inisiatif pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi yang ada dalam memenuhi kebutuhan energi,” kata Rida usai penandatangan MoU tersebut.

Sementara itu, menurut Bupati Edward, rasio elektrifikasi di wilayahnya hanya 19%. Selama ini, kelistrikan di Nias Utara mengandalkan PLTD dengan kapasitas 25 MW. Rendahnya rasio elektrifikasi tersebut, jelas dia, berdampak pada tak kunjung terwujudnya pengembangan pariwisata di daerah itu. Pasalnya, para investor perhotelan enggan menanamkan modalnya di sana.

“Kebutuhan listrik di Nias Utara mencapai 100 MW dan bisa meningkat hingga 200 MW bila terjadi peningkatan iklim investasi. Kami berharap, melalui kerja sama ini kami harapkan mampu meningkatkan ketersediaan listrik yang kemudian bisa menarik investor,” jelas dia.

Kajian

Sementara itu, Nico menjelaskan, proyek ini akan dimulai pekan depan dengan kegiatan teknis lapangan. Proyek tersebut, kata dia, akan berlangsung dua tahap dengan kapasitas masing-masing tahapan 5 MW. Pada tahap pertama akan menghabiskan investasi US$ 20 juta yang semuanya berasal dari pihaknya sebagai investor.

“Kami menanggung semua dananya sedangkan Pemda menyediakan lahannya. Pembangunan tahap peratma membutuhkan waktu 18 bulan,” jelas dia.

R20-Region sendiri, papar dia, merupakan lembaga nirlaba yang telah mengembangkan proyek sejenis di sejumlah negara seperti India dan Kepulauan Karibia dengan konsep green house dan solar panel.

Logo NGO R20 | regions20.org

Logo NGO R20 | regions20.org

Dia menuturkan, per 1 MW produksi listrik akan membutuhkan lahan seluas 1 hektar. Lahan tersebut juga akan ditanami kemiri sunan. Dengan demikian, selain menghasilkan listrik, juga menghasilkan produk tanaman organik yang bisa dijadikan sebagai biodiesel untuk digunakan nelayan, transportasi dan juga bisa untuk PLTD.

Dalam merealisasikan proyek itu, R20 menggandeng Akuoenergy, perusahaan asal Prancis yang juga bergerak dis ektor pembangkit listrik energi terbarukan. Akuoenergy sudah mengembangkan PLTS dengan kapasitas produksi 14 MW di Bali.

Berdasarkan penelusuran Nias Online, R20 adalah organisasi nirlaba yang didirikan oleh mantan aktor Hollywood dan juga mantan Gubernur of California, Amerika Serikat, Arnold Schwarzenegger. Organisasi nonpemerintah (NGO/LSM) tersebut didirikan pada November 2010. R20 merupakan koalisi antar pemerintah daerah, perusahaan swasta, organisasi internasional, NGO pendidikan dan institusi keuangan.

Seperti dikutip dari situs resminya, R20 dijelaskan sebagai koalisi mitra yang dipimpin oleh pemerintah daerah yang bekerja untuk mempromosikan dan melaksanakan proyek-proyek yang dirancang untuk menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan lokal dalam bentuk pengurangan konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca, menguatkan ekonomi lokal, meningkatkan kesehatan masyarakat dan proyek hijau baru lainnya. (en/dbs)

Facebook Comments