Oleh Etis Nehe*

Ilustrasi | verticalrising.com

Ilustrasi | verticalrising.com

JAKARTA – Saat ini dengan mudah menemukan ungkapan kemuakan dan bahkan juga kemarahan atas keadaan di Nias (4 kabupaten, 1 Kota), terutama setelah pemekaran wilayah menjadi lima daerah otonomi baru (DOB).

Mengalir derasnya anggaran dari pemerintah pusat ternyata tidak berbanding lurus dengan harapan yang semula dijanjikan, yakni akan membuat masyarakat Nias segera menjauh dari ketertinggalan dan akan lebih sejahtera. Berbagai indikator seperti diungkap dalam data-data Badan Pusat Statistik (BPS) dan kenyataan di lapangan beberapa tahun terakhir (seperti banyak menjadi bahan berita di berbagai media, termasuk di situs ini) menunjukkan hal itu.

Sebaliknya, setelah sekian lama, masyarakat dipertontonkan berbagai pemandangan vulgar penyalahgunaan anggaran dan jabatan, ketidaprofesionalan aparat pemerintah daerah dan tidak adanya tanda-tanda signifikan mengenai adanya pembangunan seperti yang diharapkan. Kemiskinan, gizi buruk, ketertinggalan kemampuan sumber daya manusia (SDM), infrastruktur yang buruk masih tetap menjadi pemandangan sehari-hari.

Keadaan itu diperburuk oleh kinerja dan perilaku para pejabat daerah yang tanpa malu-malu mempertontonkan kerakusan dan upaya-upaya pemerkayaan diri sendiri, kerabat dan kelompoknya melalui cara-cara yang melanggar hukum. Saat ini, tidak ada daerah di Nias yang tidak memiliki ‘wakil’ di penjara ataupun yang sedang diproses hukum karena kasus korupsi. Dan jumlah itu akan terus bertambah.

Keadaan ini, tak terelakkan, menimbulkan frustrasi dan sikap putus asa masyarakat. Beberapa mengekspresikannya dengan sikap permisif, berusaha memaklumi. Tapi tidak sedikit yang marah meski tidak sampai mengungkapkannya secara terbuka dan destruktif.

Media sosial tampaknya menjadi salah satu saluran penting untuk mengetahui berbagai umpatan, ketidakpuasan, kemarahan dan juga harapan-harapan yang masih terus dipelihara dengan ‘mimpi’ bahwa para kepala daerah, pejabat dan semua yang terlibat dalam pengambilan kebijakan di daerah, sempat membaca atau mendengarkannya.

Harapan perubahan sempat menguat ketika pemilihan legislatif pada 9 April 2014 lalu. Tapi, tampaknya itu juga sia-sia. Dugaan kecurangan, permainan uang dan berbagai bentuk upaya menang secara melanggar hukum terjadi. Alhasil, diduga para wakil rakyat yang terpilih rata-rata jauh dari harapan. Terutama dari komitmen untuk melakukan perubahan, dan harapan mengubah kultur korup dalam pemerintahan. Bagaimana mungkin mereka mau mengubah hal yang sebenarnya diduga menjadi jalan masuk mereka ke jabatan itu.

Memang ada sebagian kecil yang menempuh atau melakukan upaya maksimal untuk jujur. Sayangnya jumlah mereka sangat sedikit. Salut untuk mereka dan semoga bisa bertahan, tetap berintegritas.

Apa yang bisa dilakukan?

Lalu, masih adakah harapan untuk melakukan perubahan? Sejatinya, bagi mereka yang sungguh penuh cinta untuk Nias, tak perlu berputus harap. Setiap upaya, setiap kesempatan, sekecil apapun, harus dimanfaatkan untuk menggelorakan semangat perubahan dan mengendalikannya agar sesuai harapan.

Pertama, proaktif menunjukkan sikap konsisten mendukung perubahan. Sudah tidak saatnya lagi untuk mengeluh dan membiarkan para perusak mengambil peluang-peluang dan menghancurkan harapan kita. Mulailah bersuara dan meneruskan suara kejujuran dan perubahan. Bisa melalui media sosial, maupun dalam percakapan dengan sesama rekan.

Ilustrasi korupsi | www.beranijujur.net

Ilustrasi korupsi | www.beranijujur.net

Tentu saja, terutama bagi mereka yang berada di perkotaan dan memiliki banyak referensi informasi, bagikanlah itu kepada keluarga di kampung. Beri mereka pemahaman, seperti apa seharusnya Nias itu kini. Dan apa yang menyebabkan kondisinya tidak juga kunjung berubah seperti yang seharusnya sampai kini. Ceritakan kepada mereka perilaku buruk mereka yang berada di pemerintahan. Dan dorong mereka untuk tidak mau ‘dibeli’ lagi dalam setiap pemilihan. Bahwa, suara mereka berguna dan menentukan terjadi tidaknya perubahan di Nias.

Kedua, doakan mereka yang layak untuk jadi pemimpin. Nias tidak kekurangan SDM yang layak menjadi pemimpin. Mereka ada di Nias maupun di perantauan. Ada yang ingin pulang mengabdi di Nias, namun tawar hati melihat kurangnya dukungan bagi mereka. Butuh orang yang memiliki hati dan mau memberikannya untuk Nias. Doakan mereka, dan kiranya Tuhan yang menuntun mereka menjawab tantangan kebutuhan untuk membawa Nias ke dalam kehidupan yang lebih baik, seperti harapan kita.

Ketiga, dorong mereka yang layak memimpin untuk maju dan mencalonkan diri. Masih terkait poin kedua di atas, banyak yang mampu dan berintegritas. Namun, karena keterbatasan dana, dukungan publikasi dan dukungan masyarakat membuat nyali mereka ciut dan tak berani melangkah lebih jauh untuk berbuat sesuatu, termasuk menawarkan diri untuk jadi calon pemimpin.

Mereka ini juga biasanya memiliki jaringan dan modal politik yang minim sehingga biasanya kalau mau mencalonkan diri, merasa tidak punya cukup modal. Tidak jarang, mereka dengan mudah ditendang dari arena oleh konspirasi kepentingan politik yang terkadang sangat jahat. Orang-orang seperti ini, perlu didorong, diyakinkan bahwa Nias membutuhkan mereka dan bahwa masyarakat Nias siap menjadi pendukungnya.

Keempat, dukung mereka secara nyata dalam pertarungan pemilihan calon pemimpin. Dukungan itu, mulai dari dukungan moril, dana bahkan hingga menjadi sukarelawan untuk memberikan dukungan.

Jadilah relawan untuk mereka. Perkenalkan mereka kepada masyarakat, mulai dari keluargamu. Yakinkan mereka bahwa orang tersebut baik dan layak didukung. Bahwa orang baik layak dapat tempat memimpin. Jangan biarkan keluargamu yang karena berbagai keterbatasan sehingga tidak memiliki referensi, lalu dengan mudah dikibuli oleh para pencari jabatan guna memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya.

Manfaatkan media sosial secara massif. Galang kekuatan pendukung lintas golongan dan kepentingan. Sebarluaskan nilai-nilai positif dan kekuatan yang dimilikinya sebagai modal untuk memimpin.

Nias bisa maju, seperti yang kita impikan selama ini. Dan karena itu, kita semua harus berubah. Sikap mental baru harus dimiliki. Jangan biarkan Nias jatuh lagi di tangan para perusak dan pencuri uang rakyat. Salah satu pilihan terbaik dalam jalur formal adalah mengkondisikan penempatan orang-orang baik, jujur, berintegritas ada di posisi-posisi penting.

Jadilah Relawan

Anda mungkin berpikir ini hal yang mustahil. Sebab, tidak biasa dan mungkin sudah permisif dengan berbagai realitas selama ini. Tapi sebelum terlalu jauh Anda berputus asa, ketahui bahwa ada harapan untuk mewujudkan semua itu.

Dua tahun ke depan, suksesi kepemimpinan di Pulau Nias akan berlangsung lagi. Anda bisa menilai apa yang saat ini terjadi di Nias. Karena itu, Anda juga harus bersikap.

Dua sampai tiga tahun lalu, banyak warga negara ini hampir putus asa karena sulit menemukan orang-orang berintegritas yang layak memimpin negeri ini. Masih ingatkah ketika dua tahun terakhir publik Indonesia dikejutkan dengan ‘penemuan’ besar-besaran calon-calon pemimpin dengan semangat muda, berintegritas dan sikapnya jelas mengenai perubahan yang harusnya terjadi dan akan dilakukannya?

Dua tahun lalu, kita dikejutkan oleh Jokowi, kala itu masih sebagai Walikota Solo. Lalu, ke Jakarta menjadi Gubernur bersama Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakilnya. Keduanya pasangan yang luar biasa. Tak berselang jauh, kita menemukan kisah Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma), Walikota Bandung Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Walikota Bogor Bima Arya dan masih beberapa lagi. Mereka semua yang dicirikan hal yang sama, yakni, berintegritas, jujur, pro-perubahan, kreatif mensejahterakan warganya, lebih banyak bekerja daripada bicara dan teladan dalam keseharian mereka.

Setidaknya, Jokowi bisa menjadi representasi bagaimana para pemimpin inspirasional dan penuh semangat itu bermunculan. Mereka dibawa di posisi-posisi mereka oleh kekuatan masyarakat sipil di luar pemerintahan dan partai politik. Mereka ditemukan, didorong dan lalu didukung.

Terlepas apapun pilihan Anda pada Pilpres 2014 ini, fenomena dukungan publik yang tampak dalam pencalonan Jokowi sejak jadi gubernur sampai jadi calon presiden, demikian juga halnya Capres Prabowo mengukuhkan adanya arus kuat baru yang menjadi ‘pilar’ penentu siapa layak jadi pemimpin.

Perhatikan betapa keseriusan dan nilai-nilai yang dianut, berpadu dengan harapan publik yang menggebu lalu melahirkan semangat kesukarelaan menjadi pendukung. Kini ada sebuah gelombang baru dinamika publik dengan hadirnya semangat volunterisme (Secara sukarela berkomitmen dan melakukan sesuatu sebagai wujud dukungan, menjadi relawan). Bekerja tanpa pamrih mendukung dan menempatkan orang baik dan layak pada tempat yang seharusnya.

Kekuatan voluntarisme ini begitu kuatnya sampai bisa ‘mendikte’ kekuatan oligarkhi politik. Memaksa memberikan kesempatan kepada yang layak dan bukan kepada yang disukai arus nafsu dan hegemoni kepentingan politik.

Ke depan, setelah menduduki jabatannya, kekuatan publik ini akan menjadi penyeimbang. Juga menjadi ‘anjing’ penjaga yang galak bagi yang telah didukung agar tidak bermain-main. Bila ingkar, maka kekuatan suara publik juga akan menjatuhkannya.

Ilustrasi relawan | www.songsalive.org

Ilustrasi relawan | www.songsalive.org

Jokowi, juga Prabowo, andai terpilih jadi presiden, mesti berpikir seribu kali untuk berani aneh-aneh. Massa pendukungnya yang membludak dalam semangat volunterisme, akan berbalik bagai tsunami yang akan menghempaskannya turun dari kekuasaan. Minimal, ‘dibuang’ pada pemilu lima tahun mendatang.

Kini semangat dan gairah kesukarelaan seperti itu menyebar dan menjangkiti seluruh negeri bahkan hingga di luar negeri. Termasuk di Pulau Nias.

Tidak terlalu sulit mengaplikasikan pola serupa bila ada perubahan cara pandang di antara warga Nias sendiri soal bagaimana berkontribusi pada pembangunan masa depan. Di antaranya, bagaimana ambil bagian menentukan siapa yang harus didukung untuk jadi pemimpin.

Dalam berbagai keterbatasannya, banyak putra dan putri Nias yang masih berintegritas, memiliki hati untuk membangun dan melayani masyarakat Nias dengan segala ketulusannya. Mari doakan, temukan, dorong dan dukung mereka untuk berada di tempat yang seharusnya untuk mereka, yakni memimpin Nias secara benar.

Kita bisa mencapai itu, kecuali kita merasa nyaman dengan berbagai ketertinggalan saat ini dan aneka parade penggerogotan uang rakyat. Kita bisa mewujudkannya, bila kita sadar ada yang salah dan mau ambil bagian memperbaikinya. Menempatkan orang baik di tempat yang seharusnya.

Bila kita melakukannya bersama-sama, Nias yang maju dan sejahtera itu, sudah ada di depan mata. Kecuali bagi mereka yang putus asa dan hanya berdiam diri mengharapkan perubahan tanpa berbuat apa-apa. Anda pasti bukan salah satu dari mereka.

Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin seperti telah disebutkan di atas. Pemimpin yang fokusnya bekerja melayani rakyat. Bukan memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya.

Cinta Nias? Ingin Nias berubah? Mari ambil bagian dengan terlibat mewujudkannya. Tuhan memberkati Nias. [Etis Nehe, warga dan pemerhati Nias, tinggal di Jakarta]

Facebook Comments