Aktifitas Penerbangan di Bandara Binaka | Etis Nehe

Aktifitas Penerbangan di Bandara Binaka | Etis Nehe

NIASONLINE, JAKARTA – Bandara Binaka di Pulau Nias dinyatakan masuk dalam 16 bandara yang rawan terkena tsunami di Indonesia. Hal itu berdasarkan penelitian dari International Research Institute of Disaster Science (IRiDES) di Jepang.

Abdul Muhari, peneliti asal Indonesia di IRiDES mengatakan, dari hasil riset lembaganya, memang ada potensi 16 bandara di Indonesia terkena tsunami di masa depan. Dengan catatan, tiap bandara memiliki tingkat ancaman (hazard) yang berbeda-beda. Ada yang memiliki ancaman sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah.

Dia menjelaskan, dasar penentuan tingkat ancaman ini berdasarkan probabilitas dari lokasi bandara tersebut untuk terkena dampak tsunami dari sekitar 500-an skenario gempa-tsunami yang timnya modelkan, mulai dari kekuatan 7Mw – 9Mw untuk setiap lokasi bandara.

Untuk resiko rendah, hanya kurang 25% dari total keseluruhan scenario gempa-tsunami yang berpotensi menimbulkan dampak pada bandara dimaksud. Seterusnya tingkat resiko sedang 25 – 50%, tinggi 50 – 75% dan tingkat ancaman sangat tinggi adalah bandara yang berlokasi dimana hampir 100% dari keseluruhan scenario gempa-tsunami yang dimodelkan menimbulkan dampak pada bandara dimaksud. Setiap tingkat ancaman juga memiliki range ketinggian tsunami yang berbeda-beda di setiap lokasi bandara yang ditinjau.

“Supaya tidak terlalu jauh masuk ke hal teknis, hasil assessment kami menyimpulkan bandara Binaka termasuk dalam tingkat resiko rendah s/d sedang yang berpotensi akan terkena dampak tsunami jika dibangkitkan oleh gempa dengan kekuatan lebih 8.5 Mw, dengan daerah pembangkitan tsunami dari lokasi garis pertemuan lempeng di Palung Sunda (Sunda Trench) sampai daerah laut antara Pulau Nias dengan Pulau Sumatra,” ujar dia menjawab konfirmasi Nias Online melalui surat elektronik, Sabtu (21/6/2014).

Dia menjabarkan, kriteria suatu lokasi berpotensi terkena dampak tsunami atau terancam oleh tsunami, yakni, pertama adalah karakteristik kegempaan, sejarah kejadian dan prediksi tsunami di daerah tersebut. Perlu diketahui, kata dia, bahwa selain tahun 2005 lalu, Nias juga diguncang gempa kuat diikuti tsunami pada tahun 1861 (tanggal 16 Februari 1861 dan 9 maret 1861) dimana catatan dari Soloviev dan Go (1984) menyebutkan bahwa di selatan Pulau Nias (Fort Laundi saat itu; Lagundri, red) tsunami diperkirakan mencapai 7 meter.

“Di Gunung Sitoli, tsunami diawali dengan surutnya air laut sejauh 30an meter dan diikuti tsunami yang sangat kuat yang menghancurkan beberapa desa di pesisir, serta menyapu sebuah schooner (kapal layar) yang diseret sampai ke jauh darat. Silahkan data sejarah diatas dikoreksi jika ada catatan lain yang berasal dari masyarakat lokal,” jelas dia.

Berikutnya, karakteristik dislokasi dasar laut akibat gempa juga mempengaruhi suatu kawasan berpotensi terancam oleh tsunami atau tidak misalnya pada kasus gempa tahun 1861 dan gempa tahun 2005, kawasan pantai barat Nias cenderung mengalami kenaikan (uplifting) setelah gempa, sedangkan kawasan pantai timur Nias cenderung mengalami subsidence (penurunan) setelah gempa. Kawasan yang mengalami penurunan ini secara otomatis lebih rentan dari tsunami dibanding dengan kawasan yang mengalami kenaikan muka tanah, walaupun hal tersebut juga berkaitan dengan ketinggian tsunami di lokasi tersebut.

Faktor selanjutnya adalah kondisi fisik dan lingkungan di lokasi bandara misalnya jarak dari garis pantai, ketinggian muka tanah di lokasi bandara, ada atau tidaknya struktur pelindung seperti hutan pantai, tanggul dll.

Faktor-faktor diatas (faktor hazards yakni karakteristik gempa dan tsunami serta faktor vulnerability seperti aspek fisik dan lingkungan di sekitar bandara) merupakan beberapa hal yang mempengaruhi kriteria suatu lokasi termasuk kawasan yang berpotensi terkena dampak tsunami atau tidak.

Bandara lainnya yang rawan terkena dampak tsunami adalah Bandara Internasional Minangkabau (Sumatera Barat), Bandara Ngurah Rai (Bali), Bandara Ende (NTT), Bandara Maumere (NTT), Bandara Mamuju (Sulawesi Barat), Bandara Balikpapan (Kalimantan Timur), Bandara Luwuk (Sulawesi Tengah), Bandara Melongguane, Talaud (Sulawesi Utara), Bandara Sultan Babullah, Ternate, Bandara Weda (Maluku Utara), Bandara Buli (Maluku Utara), Bandara Pattimura (Ambon), Bandara Jeffman (Raja Ampat, Papua), Bandara Rendani, Manokwari (Papua), Bandara Frans Kaisieppo, Biak (Papua). (en)

Facebook Comments