Peneliti IRiDES Abdul Muhari | FB Pribadi

Peneliti IRiDES Abdul Muhari | FB Pribadi

NIASONLINE, JAKARTA – Riset International Research Institute of Disaster Science (IRiDES) di Jepang menunjukkan, Bandara Binaka di Pulau Nias masuk dalam kelompok dengan tingkat risiko rendah s/d sedang yang berpotensi akan terkena dampak tsunami jika dibangkitkan oleh gempa dengan kekuatan > 8.5 Mw.

Abdul Muhari, peneliti asal Indonesia di IRiDES mengatakan, hal itu bisa terjadi bila dari pembangkitan tsunami dari lokasi garis pertemuan lempeng di Palung Sunda (Sunda Trench) sampai daerah laut antara Pulau Nias dengan Pulau Sumatra.

Lalu, bagaimana upaya mitigasi yang dapat dilakukan sejak dini guna mencegah dampak tsunami dimaksud?

Sebelum lebih lanjut ke upaya mitigasi, Abdul menjelaskan, Ada dua kondisi yang berbeda ketika berbicara mengenai potensi dampak bencana (yang dalam hal ini tsunami) terhadap infrastruktur vital seperti bandara.

“Pertama, pertama adalah kondisi dimana bandara tersebut belum dibangun. Dalam kondisi ini kita bicara mengenai Preventive (pencegahan). Artinya, jika masih memungkinkan untuk membangun bandara baru di daerah yang memang aman dari potensi tsunami kenapa harus dipaksakan untuk membangun di kawasan yang jelas-jelas berpotensi terkena dampak terjangan tsunami? Contoh kasus untuk situasi ini adalah rencana pembangunan bandara baru di Yogyakarta yang akan berlokasi di daerah Pantai Glagah, Kulon Progo,” jelas dia kepada Nias Online melalui surat elektronik, Sabtu (21/6/2014).

Kondisi kedua adalah situasi dimana fasilitas tersebut telah terlanjur terbangun, seperti halnya Bandara Binaka, Nias.

“Dalam konteks ini maka kita harus berbicara mitigasi, atau bagaimana mengurangi potensi resiko yang mungkin muncul baik resiko korban jiwa maupun kerugian ekonomi jika di masa depan terjadi tsunami seperti yang diperkirakan,” kata dia.

Abdul menjelaskan, beberapa hal bisa dilakukan sebagai upaya mitigasi terkait Bandara Binaka. Abdul mereferensikan pada apa yang terjadi di Bandara Kota Sendai, Jepang saat tsunami 2011 lalu. Walaupun bandara tersebut sempat berhenti beroperasi karena diterjang tsunami Maret 2011 lalu, tetapi bandara tersebut tidak akan dipindahkan.

Menurut dia, beberapa upaya mitigasi dilakukan untuk mengurangi potensi kerusakan jika tsunami dengan kekuatan yang sama kembali terjadi di masa depan, dengan jalan sebagai berikut:

Pertama, untuk mengurangi potensi kerusakan fisik bandara. Pemerintah Kota Sendai membangun infrastruktur untuk mengurangi daya rusak tsunami dengan jalan membangun tanggul berlapis di sepanjang pantai, 500 m dari pantai dan 3 km dari garis pantai. Tanggul-tanggul tersebut dipadukan dengan pembangunan hutan pantai diatas bukit-bukit buatan.

“Untuk kasus Bandara Binaka mungkin tidak perlu membangun tanggul karena biayanya mahal. Selain itu kondisi lingkungan di lokasi ini relatif masih baik dimana hutan pantai masih ada dan lokasi Bandara Binaka terletak pada ketinggian ~ 10m berdasarkan data yang kami miliki,” jelas dia.

Untuk saran yang lebih detil, ujar dia, tentu harus kajian lebih lanjut. Akan tetapi, tambah dia, jika dilihat secara kasar dari citra satelit, hutan pantai di lokasi ini dominannya adalah kelapa dan belukar yang mungkin tidak maksimal jika akan digunakan untuk mengurangi energi tsunami. Selain itu, banyak terdapat ruang-ruang kosong yang tidak memiliki vegetasi yang cukup tinggi, yang bisa menjadi jalan untuk penetrasi tsunami ke arah darat.

“Saran kami secara umum, mungkin untuk saat ini perlu dipertimbangkan untuk melakukan penanaman hutan pantai dengan vegetasi yang memiliki ranting dan bisa tumbuh hingga ketinggian lebih dari 10 m dengan kerapatan 1 m – 1.5 m antar pohon. Akan tetapi sekali lagi kita perlu menganalisa/memodelkan lebih detil apakah upaya ini (hutan pantai) saja cukup atau tidak untuk mengurangi dampak tsunami khusus untuk kasus bandara Binaka,” papar dia.

Kedua, selain itu perlu dipastikan bahwa bangunan di dalam lingkungan bandara harus tahan gempa dan diusahakan ada bangunan operasional yang lebih dari 2 lantai agar jika tsunami terjadi saat kondisi terdapat aktifitas boarding dan landing maka bangunan tersebut bisa digunakan sebagai tempat evakuasi sementara minimal oleh orang-orang yang saat itu berada di sekitar bandara, meskipun lokasi daerah ketinggian berada tidak terlalu jauh dari bandara.

Bandara lainnya yang rawan terkena dampak tsunami adalah Bandara Internasional Minangkabau (Sumatera Barat), Bandara Ngurah Rai (Bali), Bandara Ende (NTT), Bandara Maumere (NTT), Bandara Mamuju (Sulawesi Barat), Bandara Balikpapan (Kalimantan Timur), Bandara Luwuk (Sulawesi Tengah), Bandara Melongguane, Talaud (Sulawesi Utara), Bandara Sultan Babullah, Ternate, Bandara Weda (Maluku Utara), Bandara Buli (Maluku Utara), Bandara Pattimura (Ambon), Bandara Jeffman (Raja Ampat, Papua), Bandara Rendani, Manokwari (Papua), Bandara Frans Kaisieppo, Biak (Papua).(en)

Facebook Comments