NIASONLINE, NIAS – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menilai, meski punya banyak potensi, namun selama ini Nias hanya dikenal dalam dua hal saja, yakni tradisi lompat batu dan pantai untuk selancar (surfing).

Padahal, seperti diungkapkan Wakil Menteri Parekraf Sapta Nirwandar, Nias memiliki aneka kekayaan wisata lainnya, baik alam maupun budaya. Dia mengatakan hal itu dalam Lokakarya Nasional Pengembangan Kepariwisataan Kepulauan Nias di Kantor Bupati Nias, Jl Pelud Binaka Km 9, Ononamölö 1 Lot, Gunungsitoli Selatan, Nias, Selasa (17/6/2014).

Sebagai contoh, kata dia, selain pantai Sorake/Lagundri yang selama ini terkenal sebagai tempat surfing, beberapa objek wisata potensial lainnya adalah Pulau Asu di Kabupaten Nias Barat, Pantai Pasir Merah, Pantai Berbisik, Pantai Toyolawa dan Pantai Hoya.

Kemudian, pada sisi budaya, selain atraksi lompat batu di Desa Bawömataluo, juga ada desa Tumöri yang masih memiliki rumah adat asli Nias. Namun, semua potensi wisata di Nias itu belum dikelola secara maksimal.

Dia mengatakan, hal itu terjadi karena pemerintah daerah tidak menggali dengan baik potensi wisata di Nias. Akibatnya, turis domestik maupun internasional hanya tahu kalau di Nias itu cuma ada atraksi lompat batu dan pantai untuk selancar.

Salah satu contoh sederhana, kata dia, sampai saat ini, Pemda di Nias belum memiliki kegiatan yang bisa mencuri perhatian wisatawan domestik dan internasional. Kegiatan dimaksud bisa berupa kegiatan budaya maupun olahraga.

Karena itu, dia mendorong para pemda di Nias, agar sebelum akhir tahun ini, menggelar setidaknya sebuah kegiatan bertaraf internasional terkait budaya atau olahraga.

“Daerah ini sudah dikenal dunia lewat aksi lompat batunya yang merupakan bagian dari heritage dan kearifan lokal. Selain itu, pantai dan ombaknya terkenal sebagai tempat surfing berkelas dunia,” kata dia.

Dia mengatakan, pembangunan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Harus dikerjakan bersama-sama. Karena itu, para bupati dan walikota wajib kompak dalam membangun Nias.

Dia menambahkan, sampai saat ini, pada tahun ini, kata dia, baru 1.300 turis mancanegara yang berkunjung ke Nias. Salah satu kendalanya, kata dia, ketiadan penerbangan langsung ke Nias. Terutama dari Malaysia dan Singapura yang relatif dekat dan juga merupakan pusat transit turis internasional. Bandara Binaka juga dinilainya kurang memadai dan harusnya ditingkatkan guna meningkatkan kunjungan turis mancanegara ke Nias.

Sedangkan dari sisi sumber daya manusia, kata dia, pemda di Nias juga harus menyiapkan para tour guide yang professional. Yang mampun memberikan penjelasan dengan baik dan detil mengenai situs-situs wisata di Nias.

Sementara itu, staf ahli Menteri Perhubungan Bidang Ekonomi Kawasan dan Kemitraan Perhubungan Agus Edy Susilo mengataka, kondisi bandara Binaka saat ini tidak memadai untuk didarati pesawat sejenis Boeing. Sebab, landasan pacuny abaru 1.800 meter. Sedangkan standar minimal panjang landasan pacu untuk didarati sejenis Boeing adalah 2.500 meter. Dia mengatakan, Kementerian Perhubungan akan mempercepat realisasi pembenahan bandara Binaka.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Nias Selatan Faböwösa Laia mengatakan, kegiatan lokakarya ini juga diselingi kunjungan ke beberapa situs wisata di Nias. Pada keesokan hari (18/6/2014), Wamen Sapta dijadwalkan menuju Desa Bawömatalo di Nias Selatan. Selanjutnya akan mengunjungi Pantai Sorake dan selanjutnya kembali ke Jakarta.

Lokakarya itu dihadiri oleh para kepala daerah di Kepulauan Nias, kecuali Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi. Juga dihadiri oleh para pejabat Pemda, dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak. (en)

Facebook Comments