Eddy Widjaja Sakti | APL

Eddy Widjaja Sakti | APL

NIASONLINE, JAKARTA – Telah meninggalkan Pulau Nias dalam waktu yang lama, bahkan telah hidup mapan di Jabodetabek, tidak membuat warga Tionghoa Nias kehilangan perhatian untuk kemajuan daerah asal mereka. Mereka melakukan berbagai upaya untuk membantu kemajuan Kepulauan Nias.

Kali ini, mereka memberikan beberapa sumbangsih pemikiran bagaimana agar Kepulauan Nias bisa lebih maju dibanding saat ini. Khususnya, apa yang bisa dan seharusnya dilakukan oleh para pemerintah daerah untuk menjual potensi daerahnya.

Ketua Umum Himpunan Keluarga Tionghoa Nias Jakarta (HKTNJ) Eddy Widjaja Sakti (Redy) mengatakan, meski saat ini belum memiliki agenda kegiatan sosial yang akan dilakukan dalam waktu dekat, namun komunitas Tionghoa Nias siap membantu bila dibutuhkan. Bahkan, pihaknya sering berkomunikasi dengan komunitas Tionghoa Nias di Medan dan Gunungsitoli guna mengetahui apa yang bisa dilakukan.

“Kami sering mengadakan komunikasi dengan komunitas kita di Medan dan di Nias. Kalau sekiranya ada yang kita bisa bekerja sama, di bidang apa saja, kita beritahu mereka bahwa kita bersedia. Dengan adanya komunitas seperti ini, kita saling bertukar pandangan. Khususnya dengan komunitas di Medan yang paling dekat dengan Nias. Komunitas mereka lebih dekat untuk saling tukar pandang dan bertemu lebih gampang,” papar Redy yang juga pengusaha nasional tersebut usai acara Temu Kangen 2014 Himpunan Keluarga Tionghoa Nias Jakarta di Restoran Raja Kuring, Jakarta Utara, Jakarta, Minggu (11/5/2014).

Dia juga mengatakan, pihaknya tidak berharap yang muluk-muluk pada para pemerintah daerah di Pulau Nias.

“Sementara ini kami tidak menyampaikan harapan yang muluk-muluk, apa saja. Sebenarnya kami sedang konsolidasi di dalam. Kami sering memberikan petunjuk-petunjuk kepada organisasi kami di Medan dan Gusit, kita jangan terlalu banyak mengharap pada Pemda. Tapi kita bertanya dulu apa yang bisa kita buat untuk daerah itu. Kalau kami dilibatkan nanti di satu soal, oh kami bisa terlibat di sini. Jadi, untuk sementara ini, kami melihat keadaan dulu. Sebisa-bisanya membantu pemda dalam pembangunan. Jadi, harus siap membantu untuk keperluan pembangunan. Meski Cuma berdagang, tapi peran mereka sangat penting untuk stabilisasi ekonomi,” terang dia.

Dedy Sutanto | EN

Dedy Sutanto | EN

Pemetaan Potensi Daerah

Redy juga mengatakan, guna mengakselerasi pembangunan di Pulau Nias, yang harus dilakukan adalah menarik para investor ke sana. Itu dimulai dengan membuat mapping (pemetaan) potensi daerah.

“Di daerah lain itu sudah dibuat. Misalnya, di Kalimantan Timur. Mau investasi dimana, potensinya apa, itu semua sudah tersusun datanya di Bappedanya. Dan itu tidak mereka simpan, mereka membukanya. Jadi dengan itu, mereka berikan landasan kerja kita yang mau berinvestasi. Data-data pemerintah tentang potensi daerahnya, apa saja yang bisa dijual ke luar, jangan disimpan. Tapi, jangan-jangan mereka gak punya datanya. Nah, di Nias kalau itu juga dipikirkan itu sangat bagus,” jelas dia.

Sebagai contoh, terkait potensi karet di Nias. Harus dipetakan, apakah perlu membangun pabrik lagi di sana sehingga produksi karetnya tidak hanya dikirim ke Sibolga, Medan dan Jambi seperti selama ini. Dan kalau ada yang mau investasi, apakah Pemda bisa bantu siapkan lahan dan berikan bantuan sehingga investor hanya memikirkan modal yang diperlukan.

Hal senada juga diungkapkan, Ketua HKTNJ Dedy Sutanto. Menurut dia, yang harus dilakukan mendesak di Pulau Nias adalah membuat pulau itu terbuka dan tidak lagi terisolasi.
Untuk mendatangkan investor, para Pemda juga tidak boleh menunggu, melainkan harus proaktif.

“Kita harus belajar dari daerah lain bagaimana mendatangkan investor. Harus jemput bola. Tidak menunggu. Juga pangas birokrasi agar bisa mempercepat izin sehingga tidak lagi kesulitan ketika mengajukan perizinan,” jelas dia.

Sebagai contoh, kata dia, itu yang dilakukan oleh Tiongkok sehingga saat ini akselerasi perkembangannya begitu cepat.

“Mereka menyiapkan semacam karpet merah kepada investor. Mau investasi di sini? Ini saya perkenalkan potensi alam saya. A, B, C dan D. Anda mau investasi apa dan kami bisa bantu apa. Begitu,” papar dia.

Peserta temu kangen | EN

Peserta temu kangen | EN

Sebagai contoh, itu bisa dilakukan pada potensi ikan yang besar di Nias. Dimulai dengan mendatangkan investor bidang pengalengan ikan. Bila tidak bisa dari luar, bisa dari dalam negeri seperti dari Surabaya.

“Ajak mereka buka pabrik di Nias. Buka juga pabrik esnya. Kita kan tidak ada seperti itu. Menunggu saja. Seoalah-olah ‘you butuh saya.’ Itu terbalik. Harusnya, kita kan yang butuh investor. Ya kita yang proaktif. Kalau tidak, ya, seperti ini terus,” tandas dia.

Menurut dia, potensi di Nias itu umumnya terkait dengan potensi alam. Di antaranya, karet, kopra dan lautnya. Pariwisata Nias juga sebenarnya sangat menjanjikan.

“Juga pariwisata. Bagaimana memajukan pariwisata. Infrastrukturnya bagaimana. Dan itu kan harus ada mapping. Lalu cari yang benar-benar mau investasi di situ,” kata dia.
Dedy sendiri mengaku keluarganya pernah investasi pabrik karet. Saat itu didirikan oleh ayahnya, So Kian Hoat. Pabrik itu kini sudah tidak ada lagi. Selain itu, juga pernah berinvestasi dengan membangun dan mengoperasikan bioskop Nias Theater.

Dedy mengakui, sekitar 10 tahun lalu, pernah mengkomunikasikan kepada salah satu pejabat di Nias mengenai bagaimana strategi membawa investor ke Nias.

“Jadi intinya, apa yang ada multiplier effects-nya. Ini sangat tergantung kemauan pemerintah sendiri,”

Dedy mengatakan, pihaknya sangat terbuka untuk berkomunikasi dengan para Pemda untuk melakukan sesuatu untuk kemajuan Pulau Nias.

“Sangat memungkinkan (untuk berkomunikasi). Biar bagaimanapun, kita ini berasal dari Nias. Ini bukan masalah kedaerahan saja. Kita juga bangga kalau ada yang nanya, nias itu punya apa. Tapi kan kita bingung tak bisa jelasinkan kalau ada yang tanya. Kalau menjelaskan potensi kita, ya harus kita mulai dari kita,” jelas dia.

Dia mengakui, sampai saat ini, sejauh ini anggota komunitas belum ada yang berinvestasi di Pulau Nias. Umumnya, terkendala belum adanya data-data pendukung untuk investasi. Selain itu, juga tidak adanya dukungan infrastuktur yang memadai.

Peserta Temu Kangen | EN

Peserta Temu Kangen | EN

Dia juga menilai, sampai saat ini Nias tidak mengalami perkembangan yang berarti. Bahkan, meski sekarang sudah dilakukan pemekaran sejumlah daerah baru.

“Belum ada nampak perubahan signifikan. Kita harapkan ke depan, bisa jadi lebih bagus. Jadi, kita harus ada kebanggaan, jangan sampai tidak ada,” jelas dia.

Sementara itu, Ketua Harian HKTNJ Bendris Tazuno mengatakan ke depan diharapkan aka nada sumbangsih komunitas ini untuk Nias ke depan. Minimal, dalam bentuk sumbangan pemikiran.

“Kita harapkan ke depan, bisa fisiknya juga ke sana. Minimal pemikirannya untuk membangun Nias,” kata dia. (en)

Facebook Comments