Turunan Gulö (Foto: akun FB)

Turunan Gulö (Foto: akun FB)

NIASONLINE, JAKARTA – Harapan agar masyarakat Nias memiliki wakilnya sendiri di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dipastikan tinggal harapan. Pasalnya, satu-satunya putra Nias yang berlaga dari total 24 orang calon DPD asal Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Turunan Gulö dipastikan tidak lolos ke empat besar untuk duduk di DPD RI periode 2014-2019.

“Kita memang unggul di Kepulauan Nias. Cuma suara tidak maksimal sehingga tidak masuk empat besar. Suara dari daratan Sumut tidak banyak untuk memperkuat suara dari Tanö Niha,” ujar Turunan kepada Nias Online, Sabtu (3/5/2014).

Dia menjelaskan, penyebabnya rendahnya suara yang diraih, karena tingginya angka golongan putih (golput) dan banyaknya suara batal. Surat suara yang batal tersebut, jelas dia, karena banyak pemilih asal coblos karena tidak paham.

“Banyak yang asal coblos. Banyak yang tidak paham soal pencoblosan ini. Jangan heran, di kampung-kampung itu ada yang dapat suara meski orang di kampung itu tidak kenal sama sekali siapa mereka,” jelas dia.

Dia menjelaskan, di luar suara dari Nias Selatan yang hingga saat ini masih bermasalah dan masih tahap rekapitulasi ulang, dia hanya mendapatkan total suara 188.313 suara. Andai ditambah suara dari Nias Selatan, tetap saja suara masih tidak mencukupi untuk lolos. Dari perhitungan sementara itu, Turunan berada di urutan ke-10 dari 24 calon.

“Untuk lolos, membutuhkan 80 ribu suara lagi. Suara dari Nias Selatan juga tidak bisa membantu untuk lolos,” kata dia.

Turunan juga memerkirakan, penyebab jebloknya perolehan suara, akibat sistem dan aturan pemilihan yang diterapkan oleh KPU. Khusus untuk DPD, kata dia, beberapa peraih suara terbanyak itu terbantu oleh kesamaan nomor urut dengan partai politik, khususnya partai yang sedang digrandrungi oleh masyarakat di Sumut, seperti Partai NasDem dan Gerindra.

“Jadi, ada kecenderungan pemilih memilih calon DPD yang kebetulan nomornya sama dengan partai yang mereka favoritkan dan pilih. Beberapa yang meraih suara terbanyak itu, bahkan sebenarnya tidak banyak dikenal dan juga tidak melakukan sosialisasi yang signifikan, tapi justru mereka meraup suara, termasuk di daerah-daerah yang sebenarnya tidak mungkin mereka menang di sana karena ada calon juga dari warga setempat,” jelas dia.

Dia mengakui, pernah mengusulkan kepada KPU Pusat agar sistem penomoran untuk calon DPD tidak memakai nomor urut. Sebab, hal itu akan menguntungkan pemilik nomor urut 1-15 sesuai dengan nomor partai yang berlaga. Sebaliknya, nomor urut 16 dan seterusnya, bisa dirugikan.

Menurut dia, usulannya itu sempat direspons KPU dengan menghapus nomor urut dalam berbagai kegiatan sosialisasi. Namun, akhir tahun lalu, penggunaan nomor itu kembali dilakukan hingga pelaksanaan Pileg.

“Kita bukan mencari-cari pembenaran. Tapi, kenyataannya itu yang terjadi di lapangan. Tidak bisa dinafikkan bahwa ada yang meraup keuntungan dengan sistem penomoran itu. Hal serupa pernah terjadi pada Pileg 2009 juga dimana di daerah lain ada yang lolos hanya karena nomor urutnya sama dengan nomor urut Partai Demokrat yang saat itu merajai pemilu,” papar dia.

Meski begitu, Turunan mengatakan tidak mempermasalahkan perolehan suara itu. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak, terutama masyarakat Kepulauan Nias yang telah memberikan suaranya untuk dia. Meski dengan segala keterbatasan selama ini, khususnya dana untuk sosialisasi, banyak pihak telah ambil bagian secara sukarela untuk mensosialisasikan dirinya agar masyarakat Nias memiliki wakil di DPD RI.

“Terima kasih banyak atas segala dukungan yang telah diberikan,” kata dia.

Seperti diketahui, sejak DPR RI berdiri, belum ada satupun putra Nias yang duduk di lembaga baru itu. Padahal, dari total potensi suara di Kepulauan Nias dan ditambah oleh dukungan warga Nias di daratan Sumut, masyarakat Nias bisa menempatkan satu wakilnya di DPD.

Turunan juga menjadi putra Nias pertama dan juga satu-satunya pada pemilu legislatif 2014 ini. Pada Pileg 9 April 2014 lalu, Turunan mendapatkan nomor urut 24. (en)

Facebook Comments