NIASONLINE, JAKARTA – Pelaksanaan pemilu legislatif (Pileg) 2014 di Kepulauan Nias secara umum berjalan lancar dan aman. Namun, di sana-sini ada masalah walau tidak terlalu signifikan dan langsung bisa diatasi.

Ada hal menarik dalam proses pemberian suara di beberapa TPS di beberapa tempat. Karena banyak pemberi suara tidak bisa membaca, akhirnya mereka tetap memilih namun asal mencoblos.

“Kartu Suara itu tidak ada gambar atau foto calon legislatif (Caleg)nya. Hanya nama saja. Nah, mereka yang tidak bisa membaca mengalami masalah. Karena tidak tahu siapa yang akan dicoblos, akhirnya coblos sembarangan saja. Intinya, kata mereka, yang penting sudah mencoblos atau memberi suara,” ujar salah satu warga di Nias Selatan yang tidak mau disebut namanya kepada Nias Online, Rabu (9/4/2014).

Hal itu ketahuan pada saat kartu suara diperiksa dan dihitung. Meski di desa tersebut belasan orang mencalonkan diri, namun tidak ada satu pun dari mereka yang dipilih oleh beberapa pemberi suara.

“Malah mereka memilih orang yang justru berasal dari desa-desa lain. Padahal caleg dari desa lain itu tidak mereka kenal. Sementara caleg dari desa ini yang sebagian masih keluarga malah tidak dipilih karena tidak bisa mengidentifikasi mereka di kartu suara akibat keterbatasan kemampuan baca,” jelas dia.

Tak hanya itu, beberapa partai yang sebenarnya tidak terlalu dikenal di desa itu, juga ikutan kebagian rejeki nomplok dari ‘asal coblos’ itu.

Model kartu suara pada pileg kali ini memang pernah dipersoalkan. Sebab, para caleg memiliki keterbatasan untuk hadir langsung di seluruh wilayah untuk melakukan sosialisasi. Pembuatan pamflet juga untuk membantu pemilih mengenali wajah caleg juga tidak membantu. Sebab, pada saat pemilihan, justru di kartu suara tersebut hanya tercantum nomor urut dan nama caleg saja.

Di sisi lain, dengan tidak ditampilkannya foto para caleg, memaksa para caleg untuk benar-benar memerkenalkan dirinya kepada masyarakat secara langsung. Hal itu dinilai sebagai strategi sistematis untuk menghindari praktik ‘beli kucing dalam karung’ dimana para pemilih dipaksa memilih orang yang mereka tidak pernah kenal secara fisik. (en)

Facebook Comments