Timotius Duha | TD

Timotius Duha | TD

NIASONLINE, JAKARTA – Sembilan tahun lalu. Tepatnya, 28 Maret 2005, sekitar pukul 23.30 wib. Amuk gempa itu datang. Meluluhlantakkan kepulauan Nias. Membekaskan luka dan trauma dengan perih tak lekang. Merenggut nyawa. Menghancurkan jiwa dan harta. Pada sebagian orang, memutuskan harapan akan masa depan.

Kengerian itu mengubahkan banyak hal. Banyak kenangan yang tak mudah dihapus meski waktu berusaha membayarnya. Sebuah kenyataan yang hanya bisa dihadapi dengan menerima dan menghadapinya apa adanya. Banyak hal yang tidak mungkin diubah dan dikembalikan pada keadaan/masa sebelumnya.

Kehancuran itu juga membawa perubahan lain. Pada sebagian orang, nestapa itu membuat tulang kehidupan mereka lebih kuat daripada sebelumnya. Kenyataan itu disadari dan dengan ikhlas dipahami sebagai sesuatu yang tak bisa diingkari apalagi diputarbalik arahnya. Karena itu, bagi mereka, kehidupan adalah masa depan. Karena itu, perlu dimanfaatkan dan diperlakukan dengan penuh penghargaan.

Hal-hal itulah yang menjadi intisari pengalaman bertahan hidup dan bangkit kembali yang dibagikan Timotius Duha, SE, MM dan Yunius Zega, SH. Keduanya, keluarga dari korban gempa itu. Kiranya, kekuatan mereka bisa mewakili para keluarga lainnya. Mewakili sikap positif menghadapi keadaan yang tak sederhana itu.

Timotius mengaku, sisa-sisa trauma itu masih belum hilang sepenuhnya. Namun, setidaknya, sudah banyak perubahan dibanding masa-masa awal. Pada saat kejadian itu, ayahnya menjadi korban dan ibunya luka-luka. Rumah dan usaha mereka hancur.

“Gempa sembilan tahun lalu itu membuat saya tidak berterima secara pribadi. Keluarga adalah pengusaha mapan. Tiba-tiba langsung jatuh miskin. Kenyamanan dan kelebihan secara finansial hilang lenyap. Bagaimana menghadapinya? Bingung dan sangat bingung. Ayah saya meninggal dan rumah serta isinya rata dengan tanah. Ibu sakit-sakitan. Sementara hidup harus jalan terus,” ungkap dia mengenang masa-masa awal yang sulit itu.

Timotius yang saat itu baru menyelesaikan SMAnya di Jakarta, pulang ke Nias Selatan untuk selanjutnya mempersiapkan diri memasuki perkuliahan lagi di Jakarta mengaku, keadaan itu memaksanya ‘putar’ otak. Harus bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga. Kala itu, berbagai tawaran pekerjaan dari NGO luar negeri yang gajinya hingga belasan juta justru ditolak.

“Karna saya sadar uang bukan segalanya. Lebih lagi, saya tidak bisa jauh dari ibu saya yang sedang sakit,” jelas dia.

Sebagai langkah awal, dia mulai menghidupi keluarga dengan berjualan kecil-kecilan di bekas puing-puing rumah yang telah hancur.

“Lebih baik saya menderita secara ekonomi tetapi bisa dekat dengan ibu. Dari pada uang banyak dari hasil kerja tetapi keluyuran kesana-kemari ngurusin orang lain. Puji Tuhan. Dengan berjualan kami bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” papar pria muda yang kini jadi dosen tetap di STIE Nias Selatan itu.

Pembantu Ketua I bidang Akademik STIE Nias Selatan itu mengatakan, keadaan itu juga membawanya lebih jauh untuk memikirkan masa depannya. Apa yang harus jadi pegangan hidup ke depan. Dia pun memutuskan untuk kuliah sambil kerja. Dia mengakui, pengalaman itu juga membuatnya lebih rendah hati.

“Saya mulai terbiasa menjadi low profile. Ternyata Tuhan mengubah hidup saya melalui gempa. Hidup boros dan cengeng menjadi sederhana tetapi petarung di masa muda. Gempa telah membuat saya belajar bersyukur dan menghargai hidup,” kata dia.

Kepada para keluarga korban gempa itu yang masih terpuruk, anak kedua dari dua bersaudara ini juga menyarankan agar jangan terus bersedih, meratapi nasib.

“Carilah peluang, berusaha dan tetap berserah pada Tuhan. Pasti ada jalan terang menuju pemulihan, perubahan. Karena di dalam Tuhan tidak ada yang mustahil,” tandas dia.

Yunius Zega | YZ

Yunius Zega | YZ

Sementara itu, Yunius mengatakan, mereka bisa melewati masa-masa sulit, tak lepas dari dukungan orang-orang terdekat dan perlindungan Tuhan semata. Selain itu, keputusan untuk menerima kenyataan itu juga menjadi jalan keluar agar bisa menjalani hidup setelah itu.

“Kalau intinya sih, semua ini terjadi karena kehendak-Nya dan harus diterima dan dijalani. Berdasarkan panduan. Hidup ini untuk dijalani bukan untuk dihindari. Dan pasti ada jalan keluar bila kita menyerahkan semuanya kepada-Nya,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Gunungsitoli ini.

Dia juga mengatakan, menjalani realitas yang tak sederhana itu, juga tidak perlu menyalahkan siapapun. Meski sakit, harus dijalani dengan ikhlas.

“Dan tidak menyalahkan siapapun. Karena itulah kita harus jalani dan harus bisa melepaskan dengan ikhlas. Walau sakit tapi mesti dijalani,” jelas dia.

Dia menambahkan, secara pribadi, sebagai anak sulung dalam keluarga, dia mau bertahan demi adik-adiknya yang tak mudah menerima kenyataan itu.

“Secara pribadi mau bertahan juga karena adik-adik yang tidak bisa menerima. Sehingga terus mendorong mereka untuk menerima,” tandas dia.

Pada kejadian itu, Yunius kehilangan kedua orangtua, adik dan dua sepupunya akibat rumah mereka di depan Pelabuhan Angin ambruk dihajar gempa dengan kekuatan 8,7 SR itu. Siang ini, mereka mengisi waktu dengan berziarah ke makam orang-orang tercintanya itu di pemakaman keluarga di Sihare’ö, Desa Umbubalödanö.

Mengubahkan Senta Leo

Bencana itu tidak hanya mengubahkan hidup orang-orang Nias. Juga tidak melulu soal keperihan dan kehancuran. Sejak itu, banyak orang, lembaga bahkan negara memberikan perhatian serius dengan Kepulauan Nias dan masyarakatnya. Mereka berbondong-bondong memberikan dukungan darurat dan juga dukungan pemulihan. Ada yang datang, lalu pergi setelah menyerahkan bantuan. Ada juga yang sempat beberapa tahun sampai semua proyek bantuan selesai, lalu pulang.

Senta Leo dan para anak asuhnya (Foto: Dokumen Pribadi)

Senta Leo dan para anak asuhnya (Foto: Dokumen Pribadi)

Tapi ada juga yang sebaliknya. Salah satunya, seorang pria bernama Senta Leo. Seorang yang hidup sukses dengan segala kenyamanan di Jakarta. Gempa Nias itu mengubah total kehidupannya. Kini, dia mengabdikan diri bersama keluarganya untuk mengabdi dan melayani di Pulau Nias.

“Ada satu teman berkata, sembilan tahun lalu masih menorehkan duka yang dalam karena Sembilan anggota keluarganya pergi meninggalkannya. Bagi saya, sembilan tahun lalu saya juga “pergi” ke pulau Nias meninggalkan hidup yang “normal”. Gempa sembilan tahun lalu mengubahkan hidup saya. Dari hidup untuk “pencapaian” menjadi hidup untuk “pengabdian”. Pengabdian kepada Tuhan untuk mencetak SDM berkualitas pemimpin di Pulau Nias,” jelas dia kepada Nias Online, Jum’at (28/3/2014).

Senta mendirikan rumah asuh dan mengasuh puluhan anak-anak Nias yang sebagian merupakan yatim piatu. Juga mengelola dua sekolah TK di dua desa.

Tentu saja, daya tahan dan daya bangkit setiap orang berbeda-beda. Butuh waktu yang tidak sama untuk pulih dan bisa menikmati kehidupan dengan normal kembali. Tapi setidaknya, pengalaman menunjukkan, keikhlasan dan kesediaan menerima kenyataan akan menolong untuk melewati masa-masa sulit dan memulai hidup baru dengan penuh penghargaan dan penghormatan. Mari menatap masa depan dan membangunnya lebih baik lagi. (en)

Facebook Comments