Dian Komalasarih | FB

Dian Komalasarih | FB

NIASONLINE, JAKARTA – Gempa yang menghancurkan Kepulauan Nias pada 28 Maret 2005 tak hanya menimbulkan korban jiwa, kerusakan dan aneka kerugian yang menjadi ikutannya. Tapi juga serta merta membuat mata dunia terbelalak, mencari, lalu mendatangi Kepulauan Nias.

Dimulai dengan aksi tanggap darurat, dan dilanjutkan dengan dukungan rehabilitasi dan rekonstruksi. Dukungannya aneka macam. Ada bentuk barang, bantuan pribadi, hingga uang tunai dari berbagai negara.

Harus diakui, Kepulauan Nias mendapatkan ‘berkah’ atau yang lazim disebut sebagai blessing in disguise dari bencana mematikan itu.

Dian Komalasarih, seorang warga Telukdalam, Nias Selatan mencoba mengurutkan perubahan positif dan negatif yang terjadi di Pulau Nias setelah gempa itu.

“Perubahan positifnya. Pertama, Indonesia bahkan dunia jadi tahu dimana dan betapa terbelakangnya Kepulauan Nias. Kedua, kita bisa mendapat pembangunan dalam waktu singkat. Ketiga, ada akses kita keluar daerah atau dunia,” ujar dia kepada Nias Online, Jum’at (28/3/2014).

Berdasarkan pantauan Nias Online sejak 2005, harus diakui, akibat gempa berkekuatan 8,7 SR itu, Nias menjadi bahan berita di seluruh dunia. Bahkan, aliran dana ke Pulau Nias melalui BRR dengan masa kerja selama lima tahun berkisar Rp 6 triliun. Sebuah angka yang selama ini hanya bisa dimimpikan. Hal yang tidak mungkin didapatkan bila hanya menggantungkan diri pada dana pemerintah Indonesia.

Pembangunan pun melaju sedemikian rupa. Berbagai fasilitas baru dibangun. Jalanan menjadi mulus. Berbagai infrastruktur yang sudah ada diperbaiki. Bahkan, tidak sedikit bangunan bernilai miliaran yang dibangun saat itu, sampai saat ini tidak difungsikan. Maklum, saat itu duit melimpah. Jadi, diarahkan untuk pembangunan apa saja yang dikira-kira perlu di masa mendatang, meski sebenarnya belum memiliki kesiapan untuk mengoperasikannya. Dan, msih banyak lagi.

Tapi rupanya, seiring dengan limpahan perhatian tersebut, masyarakat Nias juga tanpa sadar mendapatkan efek buruknya.

“Pertama, mentalitas kita mundur dengan hanya berharap pada bantuan. Kedua, maunya yang instan saja. Lupa proses perjuangan sebelumnya. Ketiga, lebih menghargai ‘ikan’ daripada ‘kail’nya. Keempat, gaya hidup masyarakat berubah drastis menjadi konsumtif,” jelas dia.

Masih dari pantauan Nias Online, harus diakui, adanya kegiatan BRR di Pulau Nias membuat perputaran uang lebih lancar bahkan melimpah dibanding sebelumnya. Banyak lowongan pekerjaan dari kegiatan rekonstruksi diisi oleh warga yang selama ini tidak punya pekerjaan atau penghasilan tetap yang layak untuk kehidupan sehari-hari.

Tiba-tiba banyak yang beralih profesi menjadi tukang bangunan karenanya banyaknya proyek pembangunan. Gaji pun tidak tanggung-tanggung. Demikian juga mereka yang bekerja di berpuluh-puluh LSM/NGO dalam negeri maupun luar negeri. Gajinya, bisa belasan juta setiap bulan. Sesuatu yang tidak mungkin didapatkan dengan mudah di Indonesia, apalagi di Pulau Nias pada kondisi normal. Uang melimpah, masyarakat pun doyan belanja. Dan masih banyak lagi.

Sayang sekali, sejak BRR mengakhiri masa kerjanya pada April 2009, semuanya langsung menciut. Tidak ada lagi dana jor-joran mengalir. Tidak ada lagi lowongan kerja bergaji tinggi. Para pekerja di LSM/NGO pun kembali menganggur. Banyak proyek yang sudah jadi menjadi terbengkalai karena tidak adanya kesiapan mengoperasikan oleh para pemda, maupun tidak adanya dana yang cukup untuk merawat atau memfungsikannya.

Tak berselang lama, berbagai bangunan jalan dan jembatan, satu per satu rusak. Kemana saja pergi di Pulau Nias saat ini, dengan mudah menemukan jalan yang rusak bahkan bak kubangan. Bahkan bisa saja jalan rusak itu berada di jalan di depan rumah pejabat atau sering dilewati oleh mereka.

Ketika sekarang Pulau Nias terbagi dalam lima daerah otonomi, dan jumlah uang yang mengalir dari pusat lebih besar pun, tetap dengan mudah menemukan keadaan dimana daerah yang kini sedang diperjuangkan menjadi provinsi itu terkesan tidak terurus. Belum lagi maraknya kasus korupsi di sana-sini dan menjerat para pejabat tinggi daerah.

Jalan rusak di Nias | terasmedan.com

Jalan rusak di Nias | terasmedan.com

Masalah listrik juga menjadi menu harian masyarakat Nias. Listrik tidak hanya dipadamkan secara bergilir. Bahkan, seringkali terkesan dimatikan sesuka hati. Pemerintah pusat pun berjanji membangun pembangkit. Sampai kini, tidak jelas bentuk akhirnya. Pemadaman listrik secara tak langsung telah meminta korban jiwa akibat kebakaran karena penggunaan sumber penerangan lain seperti lampu minyak dan juga genset.

“Semenjak gempa bumi di Nias sampe sekarang, pemadaman listrik bergilir sampai sekarang belum teratasi,” ujar facebooker asal Nias di Jakarta, Jeet Lie Manaö.

Namun, Dian tetap berharap pada sesuatu yang baik di masa mendatang.

Adapun harapannya itu, di antaranya, pertama, masyarakat introspeksi diri, berbalik dari jalan yang salah. Kedua, pemerintah berperan lebih kepada pembinaan mental dan mindset masyarakat melalui program yang ada bekerja sama dengan gereja dan LSM. “Jangan jadi mau pengemis terus,” tegas dia.

Keempat, Pemda harus membuka eluang usaha, baik via pariwisata, pertanian, perikanan, dan transportasi dengan bekerjasama dengan para pemangku kepentingan. “Masa mau jadi PNS semua,” tandas dia.

Kelima, menjadikan Pulau Nias sebagai pulau yang mandiri dengan hal-hal positif yang bisa melekat. Ketika ada kata-kata tentang Nias, pikiran orang luar langsung mengacu ke daerah Kristen, beradat, dan bermartabat.

“Untuk Nias yang lebih baik sangat bergantung pada pemimpin daerah. Masyarakat cuma berani bersuara. Tapi takut aksi karena semua punya kepentingan. Karena itu, kita berharap mendapat pemimpin yang punya integritas, berpijak di tanah, bergandeng tangan dengan para lawan dan kawan. Saat ini, Nias penuh dengan kamuflase karena sudah kelamaan miskin dan terpuruk sebelumnya. Semoga Tuhan mau memberi hati-Nya bagi masyarakat dan pulau ini,” pinta dia. (en)

Facebook Comments