Sebagian peserta semianr LEAD Center-Nias 9 Maret 2014 | LC-Nias

Sebagian peserta semianr LEAD Center-Nias 9 Maret 2014 | LC-Nias

NIASONLINE, JAKARTA – LEAD Center Chapter Nias kembali menggelar Seminar Kepemimpinan, Spiritualitas dan Kewirausahaan bagi para pemuda/i Nias di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Acara pertama pada 2014 setelah peluncuran kegiatan itu pada pertengahan Desember 2013, tersebut digelar di aula Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa (STT PB) di Pasar Baru Selatan, Jakarta Pusat pada Minggu (9/3/2014).

Acara tersebut dihadiri lebih dari 100 orang peserta. Mayoritas mahasiswa/i asal Nias dari berbagai universitas ataupun sekolah tinggi di Jabodetabek. Juga dihadiri oleh beberapa orang masyarakat Nias bukan mahasiswa serta beberapa mahasiswa yang tidak berasal dari Nias.

Pada acara kali ini, materi difokuskan pada dua tema besar. Yakni, Personal Mastery yang dibawakan oleh Eloy Zalukhu, seorang Theocentric Motivator yang juga pengagas LEAD Center. Kemudian, topik Spiritualitas vs Religiositas yang dibawakan oleh Pdt Orwel S Gulö yang juga ketua STT PB.

Juga ditambahkan dengan beberapa paparan singkat (brief update) oleh Etis Nehe (redaksi www.niasonline.net) terkait Pemerintahan dan Politik, Apolonius Lase (redaksi www.nias-bangkit.com) tentang Media dan Komunikasi serta Fotuho Larosa (CEO PT Dispomedika) tentang Kewirausahaan.

Dalam paparannya, Eloy menjelaskan kembali latarbelakang dan betapa pentingnya kegiatan penyiapan para pemuda/i Nias ini untuk masa depan Nias. Dalam paparannya, Eloy mengatakan, LEAD Center Chapter Nias ini akan menjadi percontohan untuk pelaksanaan kegiatan serupa di berbagai daerah di seluruh Indonesia ke depan.

Dalam paparannya, Eloy mengawalinya dengan penjelasan beberapa prinsip dasar untuk mencapai kesuksesan. Cara cerdas tersebut terdiri dari tiga hal penting. Yakni, Personal Mastery, yakni, kemampuan mengenal, mengelola dan mengarahkan diri (motivasi).

Kemudian, hal kedua adalah interpersonal mastery, yakni kemampuan memulai dan membangun hubungan dengan orang lain (Kerjasama Tim). Dan ketiga adalah spiritual mastery, yakni pemahaman yang benar disertai dengan kesungguhan dalam berelasi dengan Tuhan sebagai Pencipta dan Pemelihara kehidupan (Etos Kerja).

Sementara itu, dalam paparannya, Pdt Orwel S Gulo dengan merujuk pada Efesus 1:3-4, menekankan pada pemahaman akan pentingnya kehadiran keselamatan dari Kristus dalam kehidupan para pemuda/i Nias.

“Seorang pemimpin yang diharapkan oleh LC ini adalah orang yang telah menerima anugerah keselamatan dank arena itu kepemimpinannya dipahami sebagai anugaerah bagi masyarakat Nias,” jelas dia.

Dia menambahkan, seseorang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus akan lebih mudah menerapkan kebenaran Kristus itu dalam pelayanan sebagai pemimpin masyarakat.

Wirausaha dan Peran Penting Media

Dalam brief update-nya, Fotuho Larosa menjelaskan mengenai beberapa prinsip soal kewirausahaan. Di awali dengan penjelasan bahwa sampai saat ini, jumlah pengusaha di Indonesia baru mencapai 0,2% atau sekitar 400 orang. Jumlah itu sangat kecil dibanding minimal yang dibutuhkan, yakni 2% atau sekitar 5 juta orang. Jauh di bawah Singapura yang jumlah pengusahanya mencapai 10% dari jumlah penduduk. Menurut dia, hal itu tidak terlepas dari belum tertanamnya pola pikir wirausaha di sebagian besar masyarakat, termasuk di Pulau Nias.

Menurut dia, hal itu bisa diatasi dengan membangun pola pikir wirausaha bagi anak-anak Nias.

“Sebagai langkah awal, untuk membangun pola pikir wirausaha itu di dalam diri, bisa dengan mengikuti seminar, bergabung dalam komunitas, dan kegiatan-kegiatan terkait lainnya,” jelas dia.

Menjadi pewirausaha, kata dia, adalah sebuah profesi dan bukan dengan tujuan tunggal untuk mencari kekayaan. Karena itu, kegiatan itu akan diwarnai dengan upaya menggali ide dan inovasi terus menerus. Juga membutuhkan pengetahuan, baik mengenai produk, pelanggan, persaingan, keuangan, manajemen, kepemimpinan, produksi dan jaringan.

Sementara itu, Apolonius Lase menjelaskan mengenai kehadiran media yang kini menjadi perhatian sejumlah kalangan di Pulau Nias. Apolonius merujuk pada pengalaman medianya, NBC yang berbeda dengan apa yang selama ini marak terjadi. Dimana masyarakat direcoki dengan media yang bisa dibeli atau diatur oleh pihah-pihak yang berkepentingan, termasuk pemerintah daerah.

Apolonius menekankan pentingnya masyarakat Nias terus diedukasi dengan pemberian pemahaman melalui tulisan dan berita-berita di media. Kehadiran media juga perlu untuk mengawasi pemerintah daerah agar menjalankan fungsinya dengan semestinya.

“Untuk melawan pemerintahan yang korup adalah media harus kuat, harus bersinergi dengan masyarakat dan organisasi masyarakat,” tegas dia.

Sedangkan untuk para mahasiswa, Apolonius mengatakan, sebagai agen perubahan, harus berada di garis terdepan untuk melakukan perubahan cara berpikir, bertingkah laku bagi warga Nias di
mana pun.

“Caranya bisa melalui media yang sudah ada, kemudian juga bisa lewat media sosial,” jelas dia.

Provinsi Kepulauan Nias dan Pemilu

Sementara itu, Etis Nehe menekankan beberapa perkembangan terbaru terkait dinamika pemerintahan dan politik di Kepulauan Nias.

Pertama, terhambatnya realisasi program pembangunan di sejumlah daerah karena pengesahan APBD 2014 yang terlambat. Hingga Maret 2014, masih ada Pemda yang baru mengesahkan APBD-nya. Keterlambatan itu, selain menghambat realisasi pembangunan, biasanya disertai dengan sanksi penundaan pencairan dana alokasi dari pusat. Keterlambatan itu juga menyebabkan biasanya banyak anggaran tidak terserap di akhir tahun yang akhirnya dikembalikan ke pusat. Pengembalian itu akan berdampak pada pengurangan jatah dana alokasi pada tahun berikutnya.

Kedua, pengusutan kasus-kasus korupsi terus berjalan, baik di Nias Selatan maupun dugaan korupsi pada kasus Alkes di Kota Gusit dan kemungkinan juga di Kabupaten Nias Utara. Sedangkan untuk
kasus-kasus korupsi pada tahun anggaran 2013, masih menunggu hasil audit BPK diterbitkan pada beberapa bulan mendatang.

Selanjutnya, terkait usulan pembentukan Provinsi Kepulauan Nias (PKN), saat ini memasuki tahap penentuan penjadwalan pembahasan antara pemerintah dan DPR RI setelah pada pekan lalu tim Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) Kemendagri melakukan verifikasi lapangan terkait kelengkapan persyaratan.

Menurut Etis, secara politik dan kepentingan strategis Nias untuk jangka panjang, ini adalah momen yang harus dimanfaatkan. Sudah tidak pada tempatnya memperdebatkan apakah layak atau tidak.

“Tapi yang paling menguatirkan dan perlu dibenahi adalah mentalitas orang-orang yang mengelola PKN itu nanti. Bagaimana agar tidak menjadi lahan KKN baru dan juga menambah orang Nias yang masuk penjara karena korupsi. Tapi kerja keras saat ini adalah mempersiapkan para calon pemimpin PKN ke depan. LC Nias ini bisa berperan untuk itu,” jelas dia.

Terkait Pemilu yang sudah mendekat, masyarakat Nias juga perlu menentukan sikap untuk menghasilkan para wakilnya yang bermutu. Baik di internal kepulauan Nias maupun wakil eksternal di DPR dan DPD RI.

Saat ini, di level DPR RI ada 9 putra-putri Nias yang bertarung di melalui dapil I dan II di Sumut. 4 lainnya bertarung melalui daerah lain. Di level DPD, setelah dua periode, baru kali ini putra Nias hadir sebagai calon. Secara teoritis, kalau suara masyarakat Nias di Pulau Nias dan di daratan Sumut dimaksimalkan, Nias bisa menempatkan 4 wakilnya di DPR RI dan 1 kursi di DPD.

“Kita berharap tidak terulang lagi dimana pada periode lalu Nias hanya menempatkan hanya 1 wakilnya di DPR RI pada periode lalu. Suka atau tidak, untuk urusan kepentingan strategis politis (eksternal )Nias yang harus dikawal di tingkat pusat, kita perlu memikirkan bagaimana Nias tetap memiliki wakil sebanyak mungkin. Sedangkan untuk di DPRD, karena hampir semua orang Nias, kita bisa lebih leluasa memilih,” jelasnya.

Menurut Etis, ancaman nyata atas semua upaya itu adalah kemungkinannya banyaknya masyarakat yang tidak memberikan suaranya (golongan putih/golput) dan juga politik uang.

“Akibatnya, aspek perjuangan kepentingan strategis politik tadi akan terabaikan. Kita tidak akan terwakili maksimal di pusat. Dan di tingkat daerah, kita hanya akan menghasilkan anggota-anggota DPRD bermutu rendah. Ini tanggungjawab kita mengedukasi keluarga kita agar Pemilu kali ini bisa membawa manfaat maksimal bagi Nias secara internal dengan keterpilihan para caleg DPRD kab/kota yang bermutu maupun secara eksternal dengan keterwakilan maksimal Nias di DPR dan DPD RI,” tandas dia.

Kepada Nias Online, beberapa peserta seminar tersebut mengungkapkan rasa syukur mereka karena bisa menghadiri acara tersebut.

“Acara ini sangat baik. Memotivasi kami. Terima kasih telah diinformasikan mengenai kegiatan ini. Kami akan upayakan hadir lagi pada kegiatan berikutnya,” ujar Pastinus Hulu dan Christ Gea, keduanya mahasiswa Universitas Pamulang. (en)

Facebook Comments