Harun Mahbub | Koleksi Pribadi

Harun Mahbub | Koleksi Pribadi

Oleh Harun Mahbub*

Ya’ahowu…

Membuka Desember 2013 saya main ke Pulau Nias. Perjalanan ini menutup agenda perjalanan tahun ini. Ke Nias kali ini tidak melancong murni, tapi tugas. Apapun misinya, jangan lupa sempatkan jalan-jalan..

Kata teman dari sana, Nias adalah pulau kelapa. Benar juga, begitu mendarat di Bandara Binaka, sejauh mata memandang nyiur melambai. Saat melintasi jalanan di tepi pantai, tampak banyak nyiur melengkung ke arah laut – seperti ilustrasi piknik klasik : ada pantai, nyiur, dan matahari tenggelam yang menyisakan bola merah menggantung.

Selain nyiur, ada tumbuhan lain yang dijumpai mana-mana : ubi jalar. Selain jalan di kota, nyaris di pinggir sepanjang jalan di Nias tumbuh ubi jalar. Kata sopir yang menjemput, Kristovrinto Sarumaha, tak ada ubi di dalamnya. Dari tanaman itu hanya diambil daunnya, buat makanan babi.

Memang banyak babi ya di Nias? Saya baru tahu jawabnya saat tanya ke Rinto apa makanan khas Nias, ketika lapar sudah mendera di tengah perjalanan 100 kilometer dari Gunung Sitoli ke Teluk Dalam. Rinto tidak menjawab, hanya tertawa saja. Dia tahu saya muslim.

Cerita selebihnya tentang Nias adalah keindahan. Salah satu destinasi, ada Pantai Sorake namanya. Gelombangnya setinggi rumah bergulung-gulung. Anak kecil surfer alami bilang kalau Februari bisa setinggi pohon kelapa. Dari surfer Belanda yang saya ajak foto (dasar mental inlander, ada bule gatal foto bareng), ombak Nias ini the best sedunia kalau buat surfing. Wew..

Ada lagi yang tak boleh dilewatkan ke Nias, Desa Bawömataluo. Terletak di atas bukit di seberang pantai, desa ini warisan budaya dunia. Ratusan rumah di desa ini masih tersusun dalam arsitektur asli yang eksotis nan klasik. Seperti apa langgam arsitekturnya, klasik pokoknya.Rumah ditopang batang-batang kayu besar, tanpa dipaku dan seakan disusun-susun saja. Desain rumah seperti ini terbukti tahan gempa. Pantas arsitek Yori Antar begitu bersemangatnya mendokumentasikan langgam arsitektur Nias ini.

Nah di desa kuno ini ada yang ikonik, yakni batu bersusun setinggi 2 meteran. Persisnya di depan sisi kanan bekas rumah raja Nias dahulu. Batu ini sebagai ujian kedewasaan dan ketangkasan bagi pemuda Nias kuno. Jika sudah bisa melompati batu ini, sang pemuda boleh ikut berperang. Di generasi saya ke atas, tentu masih ingat bahwa tradisi lompat batu ini ada di lembar rupiah Rp 1000 kalau nggak salah, yang banyak beredar di era 1980-90an.

Sebetulnya masih banyak destinasi menarik di Nias, salah satunya kawasan tempat situs-situs megalitikum bertebaran. Juga pantai-pantai indah nan perawan. Belum juga interaksi dengan penduduknya yang eksotis. Tapi di kesempatan kali ini waktu saya terbatas. Lain kali main lagi.

Satu catatan tentang Nias, keindahannya berbalut ironi. Dari sisi infrastruktur misalnya, jalannya sangat tidak layak. Masak untuk menuju desa warisan budaya dunia, jalannya hanya pas dua mobil. Jika berpapasan salah satu harus berhenti dulu. Jalanan yang sama juga dijumpai pada jalan menuju pantai dengan gelombang terbaik di dunia itu. Jalanan di desa saya di Gunung Kidul jauh lebih baik.

Ada lagi catatan lebih serius. Dengar-dengar praktek tercela rasuah juga sudah masuk Nias. Halo, benarkah? Kacau kalau benar, sayang potensinya.

Apa lagi ya? Nanti kalau ingat lagi. Yang jelas, kapan-kapan harus balik lagi ke pulau kelapa ini.

Ya’ahowu…

*) Penulis adalah wartawan majalah Tempo.

Facebook Comments