Nelson Mandela | nbcnews.com

Nelson Mandela | nbcnews.com

NIASONLINE, JAKARTA – Dunia berduka. Bukan hanya Afrika Selatan (Afsel) atau benua Afrika. Dunia kehilangan satu lagi sosok langka yang telah membuat dunia berbeda dari sebelumnya.

Mantan Presiden pertama kulit hitam Afsel tersebut menghembuskan nafas terakhir pada usia 95 tahun pada Kamis (5/12/2013) waktu setempat atau Jum’at (6/12/2013) pagi waktu Indonesia.

Informasi meninggalnya Mandela disampaikan langsung Presiden Afsel Jacob Zuma melalui stasiun TV nasional. “Bangsa kita kehilangan putra terbaiknya,” ujar Zuma.
Meski berduka atas Mandela, Zuma mengatakan bahwa bangsanya bangga memilikinya.

“Yang membuat Nelson Mandela agung adalah sejatinya yang membuat dia sebagai manusia. Kita melihat dalam dirinya apa yang kita lihat di dalam diri kita. Rekan setanah air Afrika Selatan, Nelson Mandela membawa kita bersama dan kebersamaan yang membuat kita mengucapkan perpisahan,” tambah Zuma seperti dilansir BBC.

Para kepala negara silih berganti menyatakan rasa duka. Namun, sejatinya, lebih banyak lagi yang berduka di kalangan masyarakat biasa di berbagai negara di dunia. Mengingat peraih Nobel Perdamaian itu bukan orang biasa. Dia sosok yang dikenal dunia karena pengalaman pribadi dan kiprahnya bagi perdamaian dunia.

Lahir di sebuah desa kecil bernama Mvezo pada 18 Juli 1918, Mandela memiliki nama lengkap Rolihlahla Dalibhunga Mandela. Nama Nelson sendiri dia dapatkan dari gurunya di sekolah. Sedangkan nama klan tradisionalnya adalah Madiba.

Sebagaimana warga Afsel pada zamannya, Mandela hidup dan besar di dalam dominasi represi dan diskriminasi akibat kebijakan apartheid atau pemisahan sosial berdasarkan warna kulit yang diterapkan oleh pemimpin kulit puith.

Mandela melawan. Bersama dengan tokoh lainnya, mendirikan Liga Pemuda Kongres Nasional Afrika (African National Congress/ANC). ANC sendiri sebuah partai politik dengan perjuangan khusus melawan apartheid. Mandela bergabung di partai itu pada 1944.

Ketika terpilih menjadi pemipin ANC pada 1952, Mandela menggerakkan kampanye dan aksi damai melawan apartheid. Akibat kampanye itu, dia harus meringkuk lima tahun di penjara karena dituduh melanggar Undang-Undang Antikomunisme pada 5 Desember 1956.

Akibat tewasnya 69 orang peserta aksi damai pada 1960 oleh tembakan polisi, membuat Mandela sempat beralih ke perjuangan bersenjata. Mandela pun mulai membentuk pasukan bersenjata pada 1961. Bahkan, sempat belajar belajar merakit senjata di negara lain.

Hanya setahun kemudian, pada 1962, dengan tuduhan makar, Mandela divonis hukuman seumur hidup dan dipenjarakan di Robben Island. Namun, pada 1980, akibat desakan untuk membebaskan Mandela yang dipelopori surat kabar The Johannesburg Sunday Post, Mandela kemudian di pindahkan ke penjara dengan pengamanan maksimum Pollsmoor.

Di penjara Roben Island selama 18 tahun, Mandela terinfeksi penyakit paru, yang juga jadi salah satu sebab meninggalnya. Karena alasan kesehatan itu, akhirnya Mandela dipindahkan ke penjara dengan pengamanan minimum di Victor Verster pada 1988.

Meski di penjara, perjuangan Mandela tidak terhenti. Pada 1990, Presiden Afsel saat itu FW De Klerk merintis penghapusan kebijakan apartheid itu dengan mencabut larangan atas ANC dan organisasi penentang pemerintah lainnya. Itu juga berbuah pembebasan Mandela dari penjara pada 1990.

Bebas dari penjara setelah jalani hukuman selama 27 tahun, tidak menjadi kesempatan untuk melakukan pembalasan. Kepada warga kulit putih Afsel, Mandela menjanjikan rekonsiliasi. Bukan balas dendam.

Setahun setelah dibebaskan, pada 1991, Mandela kembali memimpin ANC. Kongres yang baru digelar lagi sejak 1960 tersebut secara bulat meminta Mandela memimpin ANC. Dua tahun kemudian, pada 1993, Mandela dan De Klerk diganjar Nobel Perdamaian.

Setahun setelah itu, pada 27 April 1994 Mandela terpilih menjadi Presiden Afsel. Sebuah sejarah dimana untuk pertama kalinya warga kulit hitam menjadi presiden di negara itu. Namun, Mandela memilih menjadi presiden hanya satu periode saja, berakhir pada 1999. Selanjutnya, dia membuka jalan bagi generasinya untuk memimpin.

Usai menjadi presiden, pria yang pernah berkunjung ke Indonesia tersebut juga terlibat dalam banyak kegiatan sosial dan politik internasional. Bahkan, Mandela pun kemudian dikenal sebagai salah satu ikon perlawanan terhadap AIDS.

Pada 2005, Mandela menginisiasi pembentukan organisasi bernama The Elders. Sebuah organisasi yang berisi para pemimpin dan mantan pemimpin dunia dengan tujuan mewujudkan perdamaian dunia. Termasuk di dalamnya, mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dan mantan Sekjen PBB Kofi Annan.

Pada 2009, Yayasan Mandela mendorong penetapan hari kelahiran Mandela sebagai “Hari Mandela”. Namun ternyata, gaungnya bergerak jauh hingga ke dunia internasional. PBB pun pada November 2009 menetapkan 18 Juli sebagai “Hari Mandela Internasional”.

Instalasi Seni Memeringati 50 Tahun Perjuangan Nelson Mandela | travelandtradesouthafrica.com

Instalasi Seni Memeringati 50 Tahun Perjuangan Nelson Mandela | travelandtradesouthafrica.com

Meski begitu, kisah hidupnya tidak tanpa kontroversi. Bagi para kritikus sayap kanan,
Mandela disebut sebagai teroris dan simpatisan komunis. Namun, pengakuan internasional atas kiprahnya menentang kolonialisme dan apartheid telah membantah semua sinisme itu.

Sepanjang hayatnya, Mandela menerima lebih dari 250 penghargaan, termasuk Hadiah Perdamaian Nobel 1993, Medali Kebebasan Presiden Amerika Serikat, dan Order of Lenin dari Uni Soviet. Dia juga sangat dihormati di negaranya dan bahkan dijuluki sebagai ‘Bapak Bangsa’.

Beberapa tahun terakhir, Mandela mengalami penurunan kondisi fisik akibat deraan penyakit paru yang dideritanya. Terakhir kali tampil di publik saat gelaran Piala Dunia 2010 yang saat itu dituanrumahi Afrika Selatan. Mandela sendiri berjasa di balik penetapan negaranya menjadi tuan rumah pertandingan empat tahunan itu.

Kisah hidupnya yang menginspirasi tersebut juga telah difilmkan dengan judul ‘Long Walk to Freedom.’ Film itu baru saja dirilis bulan lalu.

‘Raksasa Untuk Keadilan’

Meninggalnya Mandela dirasakan sebagai kehilangan luar biasa bagi dunia. Sekjen PBB Ban Ki Moon yang menjuluki Mandela sebagai ‘raksasa untuk keadilan’ tersebut mengatakan tak ada yang melebihi Mandela di zaman ini.

“Tidak ada yang melebihi dia di zaman kita, untuk memajukan nilai-nilai dan aspirasi PBB. Dia adalah pejuang tanpa pamrih untuk martabat, kesetaraan dan kebebasan manusia. Mandela telah menginspirasi banyak orang di seluruh dunia,” kata Ban kepada media.

Ban bertutur pengalamannya ketika bertemu menjenguk Mandela pada 2009 lalu. Ban mengaku tidak bisa melupakan jawaban Mandela ketika mengucapkan terima kasih atas karya hidupnya.

“Ketika saya mengucapkan terima kasih atas karya hidupnya, dia berkeras bahwa kredit itu milik orang lain. Saya tidak akan pernah melupakan betapa dia tak mementingkan diri sendiri dan punya kepedulian mendalam pada tujuan bersama,” ungkap Ban.

Ban mengatakan, Mandela telah menunjukkan apa yang mungkin setiap orang lakukan bagi dunia jika benar-benar meyakini mimpi serta bekerja sama demi keadilan dan kemanusiaan.
Karena itu, Ban mengajak semua warga dunia menjaga inspirasi yang dicontohkan Mandela seumur hidupnya untuk tetap bekerja mewujudkan dunia yang lebih baik dan adil.

Duta Besar Besar Argentina Maria Cristina Perceval yang sedang berbicara dalam Rapat Dewan Keamanan PBB mengatakan, Mandela sebagai orang yang telah membawa harapan bagi dunia.

“Bagi lelaki maupun perempuan, Mandela mengajarkan kita untuk melawan rasa takut, menolak untuk dipinggirkan,” ujar Perceval.

Rapat itu pun dihentikan selama satu menit untuk mengenang dan memberikan penghormatan untuk Mandela.

Sementara Presiden Amerika Serikat Barack Obama menggelar konferensi pers khusus untuk menyampaikan dukacita atas Mandela. Obama memuji Mandela sebagai pemimpin yang meninggalkan warisan kebebasan dan perdamaian untuk bangsanya bahkan dunia.

“Dia mencapai lebih dari apa pun yang bisa diharapkan dari siapa pun. Hari ini ia berpulang, dan kita telah kehilangan salah satu manusia paling berpengaruh, yang berani dan sangat baik,” ucap Obama.

Mandela dan Indonesia

Nelson Mandela memegang Trofi Piala Dunia dengan kostum baju batik | blog.admiralty.co.uk

Nelson Mandela memegang Trofi Piala Dunia dengan kostum baju batik | blog.admiralty.co.uk

Tidak hanya Afrika Selatan dan Indonesia yang memiliki hubungan yang dekat. Baik secara politik maupun ekonomi. Namun, juga secara budaya. Di Indonesia, sosok Mandela bukan orang baru. Juga bukan orang biasa. Dia telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di Indonesia.

Mandela pernah datang ke Indonesia 23 tahun lalu. Saat itu, Mandela bertemu dengan Presiden Soeharto bersama sekitar 400 peserta pertemuan di Hotel Borobudur, Jakarta. Saat itu, Soeharto bahkan membantu Mandela sebesar US$ 10 juta untuk perjuangan ANC menghapus apartheid. Uang itu diberikan dalam bentuk tunai. Bahkan, seperti dilansir Tempo, uang tersebut dibawa ketika melanjutkan perjalanan ke Australia.

Kunjungan kedua Mandela, pada 2004 saat Megawati masih presiden. Pertemuan itu sangat membekas bagi Megawati yang saat itu adalah seorang presiden. Sebab, ternyata Mandela adalah pengagum Soekarno juga. Mandela bertemu Mega untuk menggalang dukungan bagi yayasan miliknya yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan dan resolusi konflik.
Hal unik lainnya dari kedekatan rakyat Indonesia dengan Mandela adalah berbagai penampilannya yang selalu mengenakan baju batik khas Indonesia.

Baik dalam kegiatan pribadi maupun dalam berbagai pertemuan internasional dimana Mandela hadir, kerap memakai baju batik. Tak ayal, itu menjadi promosi skala global bagi produk dan seni batik Indonesia yang kini telah diakui Unesco tersebut sebagai warisan dunia.

Mantan Wapres Jusuf Kalla mengenang Mandela sebagai orang yang sangat berjasa memerkenalkan batik Indonesia ke dunia.

“Nelson Mandela lebih berani daripada saya dalam mengenakan batik di acara-acara internasional. Dia berani memakai batik dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kalau saya barangkali masih ragu memakai batik dan berbicara dalam sidang PBB, tapi dia tidak,” ujar Jusuf Kalla di Jakarta, Jumat (6/12/2013).

JK bahkan bercerita hal ekstrim soal batik Mandela. Ternyata, orang-orang Afrika Selatan tidak mau memakai batik. Pasalnya, batik ‘dikeramatkan’ sebagai pakaiannya Mandela. Tentu saja, itu sebagai ekspresi penghormatan semata-mata atas Mandela.

“Saya pernah bertanya dengan Wakil Presiden Afsel, kenapa batik hanya dipakai Nelson Mandela. Dia bilang rakyatnya takut memakai baju itu karena itu dianggap sebagai baju Mandela sehingga kalau dipakai bisa bahaya,” ungkap JK.

Selamat jalan, Madiba! Warisan luhurmu akan tetap abadi. (en/dbs)

Facebook Comments