Pdt. Foluaha Bidaya, M. Div. | Dok. Pribadi

Pdt. Foluaha Bidaya, M. Div. | Dok. Pribadi

NIASONLINE, JAKARTA – Dua hari lalu, warga Nias Selatan dikejutkan dengan kabar ‘hilang’nya KM Entinu Baru yang mengangkut rombongan Sinode Banua Keriso Protestan Nias (BKPN) dan puluhan warga Kepulauan Batu.

Kapal tersebut dijejali sekitar 50 orang penumpang, jauh lebih banyak dari kapasitas seharusnya kapal tersebut. Hanya tiga jam setelah perjalanan dari Pelabuhan Telukdalam menuju Pulau Tello, kapal tersebut terhenti di tengah jalan. Pasalnya mesin mati dan tidak bisa diperbaiki.

Akibatnya, kapal terkatung-katung di laut ganas yang rentan perubahan cuaca hingga ekstrim tersebut. Alhasilnya, selama 20 jam, para penumpang terpaksa berhadapan dengan suasana cemas dan takut yang mencekam. Pencarian mereka pun tidak mudah, sampai akhirnya ditemukan pada Minggu (17/11/2013) pukul 03.00 Wib.

Wajar banyak orang cemas dan terutama penumpang sangat dicekam ketakutan. Belum lama ini, di wilayah perairan Kepulauan Batu sejumlah nyawa melayang akibat kecelakaan kapal karena cuaca buruk.

Lalu, kenapa masyarakat kembali terpaksa bertaruh nyawa dengan memanfaatkan kapal-kapal yang sebenarnya tidak layak untuk mengangkut penumpang apalagi di rute pelayaran yang ‘ganas’ seperti itu?

Pdt. FL Bidaya, warga asal Kepulauan Batu mengatakan, saat ini warga, terutama dari Kepulauan Batu terpaksa menggunakan kapal-kapal kayu kecil sebagai andalan transportasi menuju dan kembali ke Kepulauan Batu.

“Sudah sekitar sebulan ini, kapal ferry KM Simeulue yang biasanya melayari rute Sibolga-Telukdalam-Pulau Tello sudah tidak beroperasi. Kabarnya, kapal sedang naik dok untuk menjalani perawatan,” ujar dia kepada Nias Online, Minggu (17/11/2013).

Dia juga menyesalkan karena penghentian operasi kapal yang fungsinya sangat vital tersebut dan sempat diperjuangkan olehnya mewakili masyarakat Kepulauan Batu hingga ke Kementerian Perhubungan. Menurut dia, harusnya pihak Dinas Perhubungan Nias Selatan sudah mengantisipasi penghentian operasi kapal tersebut.

Dia pun berharap, agar penghentian operasi kapal itu bersifat sementara dan secepatnya beroperasi lagi.

“Kita sangat membutuhkan kapal itu. Selain untuk keselamatan pelayaran, juga karena sebentar lagi memasuki bulan Natal dimana aktivitas masyarakat sangat tinggi. Ada yang pulang kampung, ataupun melakukan kegiatan di Telukdalam dan sebaliknya. Kami mohon agar kapal ini segera beroperasi lagi,” tegas dia.

Sementara itu, anggota DPR RI Yasonna H Laoly berjanji, akan membicarakan masalah kapal tersebut kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan. (en)

Facebook Comments