Sekjen BKPN Pdt. Alvius Wau, Camat PP Batu Utara Iskia Garamba, Ephorus BKPN Pdt. Ar. Hulu dan Bendahara Umum BKPN Pdt. Yesaya Zagôtô | Alvius Wau

Sekjen BKPN Pdt. Alvius Wau, Camat PP Batu Utara Iskia Garamba, Ephorus BKPN Pdt. Ar. Hulu dan Bendahara Umum BKPN Pdt. Yesaya Zagôtô | Alvius Wau

NIASONLINE, JAKARTA – Pulau Lorang. Itu namanya. Sekitar 45 menit perjalanan laut dari Pulau Tello, di gugusan Kepulauan Batu, Nias Selatan.

Menuju pulau itulah, kemarin, selama 20 jam menjadi waktu yang sangat menegangkan, dan juga bersejarah bagi 18 rombongan dari Sinode Banua Keriso Protestan Nias (BKPN).

Mereka berangkat dari Telukdalam menggunakan kapal kecil KM Entinu Baru pada Sabtu (16/11/2013) pukul 11.00 Wib. Ditargetkan tiba di Pulau Tello pada pukul 17.00 Wib hari yang sama.

Namun, kenyataan berbicara lain. Ketika kapal sudah berlayar selama tiga jam, tiba-tiba mengalami masalah mesin. Perbaikan diupayakan. Namun tak membuahkan hasil. Akhirnya, kapal dan penumpangnya terkatung-katung dan kemudian, terbawa arus laut, melenceng dari jalur pelayaran menuju Pulau Tello.

Kapal evakuasi tidak menemukan mereka pada posisi semula. Waktu berlalu, hingga 20 jam kemudian, keesokan harinya, Minggu (17/11/2013) pada pukul 03.00 wib dinihari, mereka ditemukan. Dalam keadaan lemah karena tidak makan, 18 rombongan bersama puluhan warga Kepulauan Batu, termasuk tiga camat di wilayah itu dievakuasi.

Mereka langsung di bawa ke Pulau Lorang. Pulau tujuan utama rombongan Sinode BKPN yang dipimpin langsung oleh tiga petinggi utamanya. Ephorus Pdt. Ar.Hulu, Sekretaris Umum Pdt. Alvius Wau dan Bendahara Umum Pdt. Yesaya Zagôtô.

Sesuai rencana, seharusnya mereka sudah berada di Pulau Lorang pada pukul 10.00 wib guna menggelar serangkaian kegiatan seremonial kebaktian dan peresmian gereja baru di pulau itu.

Nama karena masalah dalam pelayaran itu, akhirnya acara utama, yakni pentahbisan Gedung Gereja BKPN Schröder Lorang PP. Batu baru dilangsungkan pada pukul 13.00 wib hari ini.
Kepada Nias Online, Pdt. Alvius menjelaskan, proses dimulai dari halaman desa Desa Siôfa Banua Lorang menuju gedung Gereja Schröder.

Ibadah pembukaan dipimpin oleh Pdt. Yesaya Zagôtô, diteruskan pemotongan pita mewakili Bupati Nisel oleh Camat PP.Batu Utara Iskia Garamba, dan penandatanganan prasasti dan pembukaan pintu gereja oleh Ephorus Pdt. Ar.Hulu.

berperan sebagai pemimpin liturgi pada kebaktian itu adalah Praeses BKPN PP. Batu Pdt. Gohizatulô Hulu. Sedangkan khotbah, dibawakan oleh Pdt. Alvius Wau dengan nats renungan Matius 11:20-30. Mengambil tema ‘Panggilan sorgawi untuk melakukan kehendak Bapa.’

Dalam kata-kata penggembalaan, Ephorus Pdt. Ar. Hulu mengajak jemaat BKPN Schröder Lorang untuk tidak menyombongkan diri dengan apa yg diberikan Tuhan melalui pembangunan gedung gereja BKPN Schröder Lorang tersebut. Selanjutnya acara diakhiri dengan ramah tamah dan makan bersama pada pukul 17.00 wib.

Gereja Schroeder Lorang | Alvius Wau

Gereja Schroeder Lorang | Alvius Wau

Penginjil Schröder

Kehadiran para petinggi Sinode BKPN di Pulau Lorang menarik perhatian. Bukan saja karena perjalanan ke sana harus menjajal maut. Tapi juga karena nama gereja itu. Pdt. Alvius menjelaskan, pembangunan gereja itu berlangsung selama 13 tahun. Jemaatnya sebanyak 104 Kepala Keluarga (KK) atau 444 jiwa.

Kepada Nias Online, Pdt. FL. Bidaya yang juga warga asli dari Kepulauan Batu mengatakan, Pulau yang berjarak sekitar 45 menit pelayaran laut dari Pulau Tello tersebut pernah didatangi oleh misionaris asal Jerman bernama Schröder pada 1925.

“Nama gereja itu dari nama misionaris Jerman yang memberitakan Injil di beberapa pulau di Kepulauan Batu, termasuk di Pulau Lorang pada 1925,” kata dia.

20 jam yang menegangkan, terombang-ambing di laut dengan nyawa terancam menjadi pengalaman bersejarah dan membekas bagi para hamba Tuhan dari Sinode BKPN tersebut.

Bagi warga Pulau Lorang, tentu saja hari ini semakin lebih berharga, lebih bersejarah. Tidak hanya karena mereka kini memiliki gedung gereja yang telah lama diimpikan. Gereja yang mengusung nama penginjil yang telah membawa mereka kepada Tuhan.

Tapi kini, para pelayan Tuhan dari Sinode BKPN, setidaknya kini memiliki pengalaman serupa sebagaimana dulu dialami oleh para misionaris, jauh di masa lampau ketika Kepulauan Nias, dan terutama Kepulauan Batu masih sangat terisolir. Schröder bisa tiba di sana karena pertolongan Tuhan. Dan kini, hal yang sama juga dirasakan oleh para pelayan Tuhan dari Sinode BKPN bersama jemaat di Pulau Lorang. (Etis Nehe)

Facebook Comments