Peta Republik Seychelles | Kompas

Peta Republik Seychelles | Kompas

NIASONLINE, MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memfasilitasi lima daerah di Kepulauan Nias untuk menjadikan wilayah itu sebagai destinasi wisata internasional.

Caranya dengan memfasilitasi kelima daerah itu bekerjasama dengan Republic Seychelles, negara yang terkenal dalam bidang manajemen kepariwisataan kelas dunia.

Seperti dikutip dari situs sumutprov.go.id, rencana tersebut terungkap ketika Wakil Gubsu Tengku Erry Nuradi bersama perwakilan lima daerah di Kepulauan Nias bertemu dengan Dubes Republik of Seychelles, Mr. Nico Barito.

Dari kepulauan Nias, hadir Walikota Gunung Sitoli Martinus Lase, Bupati Nias Utara Edward Zega, Wakil Bupati Nias Arosokhi Waruwu, Wakil Bupati Nias Barat Hermit Hia, Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata dan Kebudayaan Nias Selatan Fabowosa Laia dan Ketua DPRD Nias HS. Hulu.

Sebagai langkah awal kerjasama, kelima daerah tersebut akan menandatangi kerjasama pengembangan ekowisata dan managemen lingkungan dengan Republic of Seychelles.

“Saya berharap Pulau Nias menjadi salah satu destinasi wisata bertaraf internasional di Sumatera Utara. Peluang merelalisasikan impian ini terbuka luas, karena Pulau Nias memiliki potensi yang tidak kalah dengan kepulauan Syechelles yang sangat maju dalam bidang pariwisata,” ujar Erry.

Tengku Erry juga berharap agar kelima kepala daerah di Kepulauan Nias saling bersinergi dalam mengembangkan potensi wisata di wilayah itu. Dia minta agar para kepala daerah menekan ego kedaerahan masing-masing guna mewujudkan Kepulauan Nias menjadi destinasi wisata kelas dunia.

“Republic Seychelles bersedia membantu Kabupaten dan Kota di Pulau Nias untuk memajukan daerah wisata yang selama ini belum tersentuh secara profesional. Mari manfaatkan kesempatan dan peluang ini,” ajak Erry.

Dalam pertemuan itu, Dubes Nico Barito menyampaikan kesiapan negaranya membantu dan mengembangkan industri pariwisasta di Kepulauan Nias.

“Geografis Nias dengan Kepulauan Seychelles tidak jauh berbeda. Metode dan pola yang ada di Seychelles bisa diterapkan di Nias. Tetapi Bupati dan Walikota di Pulau Nias punya komitmen bersama mengembangkan bisnis wisata bertaraf internsional,” ujar Nico.

Nico menjelaskan, salah satu kunci sukses negaranya menjadi destinasi wisata internasional adalah tingkat kesadaran masyarakatnya tinggi. Selain itu, pemerintah setempat memiliki program jelas dalam bidang kepariwisataan.

“Pemerintah mengatur master pland pengembangan wisata secara tegas dan jelas. Kemudian menentukan pangsa pasar tersendiri sesuai target dan dapat merancang negara mana yang akan dirangsang untuk datang,” jelas Niko.

Dia menambahkan, bila tidak sesuai dengan masterplan yang telah ditetapkan, pemerintahnya tidak segan menolak pembangunan lokasi wisata baru tertentu. Dengan itu, maka menutup kemungkinan spekulasi izin lokasi wisata oleh warga setempat, maupun oleh pemodal asing.

“Tetapi kalau usaha wisatanya dinilai dapat menambah tingkat kunjungan, pemerintah akan menggratiskan tanah dan lokasi usaha wisata. Pemerintah Republic of Seychelles meyakini, usaha yang baik akan merangsang wisatawan datang ke Seychelles,” jelas Nico.

cara-cara itu, kata dia, bisa juga diadopsi oleh para kepala daerah di Kepulauan Nias. Bahkan, dia mengatakan, Kepulauan Nias bisa berpotensi lebih maju di banding negaranya kalau ada inovasi di bidang kepariwisataan yang dilakukan.

Berdasarkan letak geografis, Kepulauan Nias bisa menjadi pasar bagi wisatawan India dan Singapura. Bahkan, untuk menarik wisatawan Jepang, Kepulauan Nias bisa mengembangkan wilayah tertentu yang diperuntukkan bagi pensiunan kaya, pensiunan banker dan orang kaya asal Jepang yang ingin menikmati masa tua.

“Bahkan tidak tertutup kemungkinan Nias menyiapkan lokasi wisata khusus tempat istirahat bagi mereka yang menjalani masa penyembuhan. Ini menarik dan saya yakin pasti punya pangsa pasar tersendiri,” kata dia.

Meski begitu, dia mengingatkan, pengelolaan dan managemen kepariwisataan di Pulau Nias juga harus memiliki target jelas. Yakni, tidak menggabungkan pelayanan wisata kelas bawah dan kelas atas di satu tempat. Menurut dia, pengelolaan yang cerdas akan mampu menjual pelayanan wisata dengan harga mahal, tetapi biaya operasional rendah, bukan sebaliknya.

“Saya melihat Nias punya potensi unik tersendiri. Misalnya dengan mengembangkan kelapa organik yang cita rasanya berbeda dan khas Nias. Jangan sia-siakan potensi ini. Saya juga mendengar ada kelapa yang airnya sangat manis, yang hanya ada di Nias. Ini bagus dikembangkan untuk menarik wisatawan. Tetapi semuanya akan terwujud jika tiap kabupaten dan kota punya konsepm terpadu,” sebut Nico.

Peta Kepulauan Nias | newsandfeaturesonindonesia.blogspot.com

Peta Kepulauan Nias | newsandfeaturesonindonesia.blogspot.com

Kesiapan 5 Pemda di Kepulauan Nias

Sementara itu, Walikota Gunung Sitoli, Martinus Lase mengungkapkan, akan menjadikan bidang kepariwisataan menjadi program unggulan di daerahnya. Sebagai langkah awal, dengan menyiapkan akses jalan yang menghubungkan satu daerah ke daerah lain di wilayah Gunung Sitoli.

Meski begitu, dia menyadari adanya keterbatasan SDM yang membuat harapan besar itu sulit direalisasikan.

“Tetapi kami menyadari belum memiliki SDM unggul yang dapat memoles lokasi wisata menjadi bertaraf internasional. Adanya kerjasama dengan Republik Seychelles, kami optimis dapat mengembangkan wisata di Nias,” sebut Martinus.

Martinus mengaku siap membangun hubungan erat dengan empat kepala daerah di Kepulauan Nias untuk mengembangkan Nias menjadi destinasi bertaraf internasional. Dia juga berharap,
Republik Seychelles bisa membantu dengan mendatangkan tenaga ahli bidang pariwisata untuk berbagi pengalaman.
Sementara Bupati Nias Utara Edward Zega membeberkan destinasi wisata potensial di di wilayahnya. Di antaranya, Pantai Berbisik yang memiliki pasir unik yang berbunyi usai diinjak. Selain mengeluarkan bunyi khusus, pasir pantainya juga memiliki warna khusus, diantaranya kuning, putih dan hijau.

Juga ada wisata Batu Bertelur yaitu sebuah batu berukuran lebih kurang 5 meter dengan tinggi 3 meter yang mengeluarkan batu kecil berbentuk oval. Batu kecil tersebut akan membesar seiring waktu.

”Lokasi Batu Bertelur ini juga belum dikelola secara professional. Pengunjung yang datang sebagian besar dari wisatawan lokal saja. Saya berharap Batu Bertelur bisa mendunia,” harap Edward.

Sementara Ketua DPRD Gunung Sitoli, HS. Hulu berjanji, akan membahas hal itu dengan Forum Kepala Daerah di Pulau Nias. Dalam pertemuan itu, kata dia, para kepala daerah akan diminta membut tabulasi daerah wisata di wilayahnya masing-masing yang berpotensi menjadi lokasi wisata unggulan.

“Kepulauan Nias memiliki 115 pulau kecil di Nias Selatan saja. Sebagian dihuni warga, sisanya belum berpenghuni. Semua indah tetapi belum mendapat sentuhan. Beberapa pulau bahkan telah diincar oleh pemodal dari mancanegara. Ini tidak boleh dibiarkan sia-sia. Kepala Daerah di Pulau Nias akan bersatu untuk mengembangkan wisata,” kata dia.

Untuk dukungan transportasi, akan mendorong para kepala daerah menjalin kerjasama dengan pihak ketiga. Termasuk dengan maskapai maskapai penerbangan perintis yang dapat menghubungkan satu pulau dengan pulau lain di Kepulauan Nias.

Selah pertemuan, disaksikan Tengku Erry, Walikota Gunung Sitoli Martinus Lase, Bupati Nias Utara Edward Zega, Wakil Bupati Nias Arosokhi Waruwu dan Wakil Bupati Nias Barat Hermit menandatangi risalah rapat tentang Pengembangan Ekoturisme dan Manajemen Lingkungan dengan Dubes Nico Barito.

Risalah itu berisi sejumlah kesepakatan. Yakni, pertukaran pengalaman dalam pengembangan ekowisata di Nias, melakukan promosi bersama untuk pariwisata dan kebudayaan di Nias dan di Seychelles serta mancanegara dalam jejaring kerja promosi pariwisata Seychelles, mengelola lingkungan dan fasilitas yang mendukung ekowisata di Nias, serta akan menjalin kerjasama bidang pelatihan dan kapasitas unggulan, termasuk pertukaran program magang bagi pejabat pemerintah dan pemuda antara Nias dengan Seychelles. (en/sumutprov.go.id)

Facebook Comments