TB Simatupang | wikipedia.org

TB Simatupang | wikipedia.org

NIASONLINE, JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Pahlawan tahun ini, 10 November, Presiden SBY kembali mengukuhkan tiga pejuang kemerdekaan menjadi Pahlawan Nasional. Ketiganya merupakan nama-nama familiar di publik selama ini, namun baru kali ini mendapatkan pengakuan atas jasa-jasa mereka.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional itu diberikan di Istana Negara, Jakarta pada Jum’at (8/11/2013). Penganugerahan itu diterima oleh wakil keluarga ketiga pejuang. Keputusan Presiden Nomor 68/TK/Tahun 2013 yang ditandatangani oleh Presiden SBY pada 6 November lalu.

Gelar Pahlawan Nasional dinilai sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasa yang luar biasa ketiga tokoh perjuangan itu semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Berikut profil singkat ketiga Pahlawan Nasional yang baru tersebut:

Letjen TB Simatupang

Letjen TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang atau dikenal dengan TB Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 – meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990 pada umur 69 tahun.

Pria yang akrab dipanggil Pak Sim itu, selain tokoh militer, juga dikenal sebagai tokoh gereja dan media. Anak dari Simon Mangaraja Soaduan Simatupang menempuh pendidikan HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934.

Selanjutnya, meneruskan pendidikan di MULO Tarutung pada 1937, lalu ke AMS di Jakarta dan selesai pada 1940.

Setelah itu, Pak Sim mendaftar dan di terima di Koninklije Militaire Academie (KMA)— akademi untuk anggota KNIL, di Bandung. Dia menyelesaikan pendidikan pada 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia yang kemudian merebut kekuasaan dari pihak Belanda.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, Pak Sim ikut berperang melawan Belanda. Pria yang pernah menjadi Kepala Staf Panglima Besar Jenderal Sudirman tersebut juga menjadi salah satu dari dua tokoh militer yang mengikuti Konperensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, pada 1949.

Pada periode 1948-1949 dia menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949). Selanjutnya, masih pada usia 29 tahun telah menyandang jabatan Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954).

Pada 1954-1959 diangkat menjadi Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. Setelah itu, karena perbedaan prinsip dengan Presiden Soekarno, Pak Sim mengundurkan diri dari kemiliteran dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Semasa hidupnya, Pak Sim mengaku dipengaruhi tiga Karl. Pertama, seorang ahli strategi kemiliteran bernama Carl von Clausewitz. Dua lainnya adalah Karl Marx dan Karl Barth, teolog Protestan terkemuka abad ke-20.

Di gereja, nama Pak Sim juga menghiasar sejarah perjalanan gereja Indonesia. Dia aktif menyumbangkan pemikiran-pemikiran tentang peranan gereja dalam masyarakat. Pak Sim pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Gereja-gereja di Indonesia (Kini PGI), Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, dan Presiden WCC.

Pak Sim juga pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM).

Di bidang media, Pak Sim pernah menjadi anggota Dewan Redaksi koran Sinar Harapan. Di Koran yang diterbitkan PT Sinar Kasih Pak SIm ada di sana hingga dibredel oleh pemerintahan Suharto pada 1986. Tulisan-tulisannya berupa tajuk rencana juga sering mendapat anugerah Adinegoro.

Lambertus Nicodemus Palar | wikipedia.org

Lambertus Nicodemus Palar | wikipedia.org

Lambertus Nicodemus Palar

Namanya biasanya dikenal dari singkatannya LN Palar. Lahir di di Rurukan, Tomohon, Sulawesi Utara pada 5 Juni 1900 dan meninggal di Jakarta pada 12 Februari 1981 di usia 80 tahun.

Pria yang juga akrab dipanggil Babe Palar tersbeut merupakan tokoh dan diplomat dari Provinsi Sulawesi Utara yang pada 1947 berhasil mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memerintahkan Belanda melakukan gencatan senjata dengan Indonesia. Dia juga berhasil menyakinkan eksistensi Indonesia kepada perwakilan negara-negara di PBB.

Anak dari Gerrit Palar dan Jacoba Lumanauw itu pernah menjadi Duta Besar Indonesia di India, Jerman Timur, Uni Soviet, Kanada, dan Amerika Serikat.

Dia memulai pendidikan di sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Tondano. Kemudian melanjut ke Algeme(e)ne Middelbare School (AMS) di Yogyakarta, dan tinggal bersama Sam Ratulangi.

Pada 1922, Palar masuk ke Technische Hoogeschool di Bandung, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mempertemukannya dengan para tokoh kemerdekaan, termasuk Soekarno.

Setelah sempat menghentikan kuliahnya dan kembali ke Minahasa, Palar kembali sekolah hukum di Rechtshoogeschool te Batavia, Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta saat itu yang juga menjadi cikal bakal Fakultas Hukum UI). Pada 1928 dia pindah ke Belanda dan kuliah di Universitas Amsterdam.

Palar juga berjasa dalam mengatasi konflik Belanda dan Indonesia, pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda hingga masuknya Indonesia ke dalam keanggotaan PBB.

Saat Indonesia menjadi anggota ke-60 di PBB pada 28 September 1950, Palarlah yang berpidato sebagai perwakilan Indonesia di muka Sidang Umum PBB.

dr Radjiman Wedyodiningrat | Kompas

dr Radjiman Wedyodiningrat | Kompas

dr. KRT Radjiman Wediodiningrat

Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat lahir di Yogyakarta, 21 April 1879. Salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia tersebut meninggal Ngawi, Jawa Timur, 20 September 1952 pada umur 73 tahun.

Pria yang mendapat gelar dokter pada usia 20 tahun tersebut merupakan Ketua Boedi Oetomo periode 1915-1923. Pernah menempuh pendidikan di Belanda, Prancis, Inggris dan Amerika Serikat.

Saat memimpin Budi Utomo dia mengusulkan pembentukan pembentukan milisi rakyat di setiap daerah di Indonesia.

Juga pernah menjadi Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tahun 1944. Dia berjasa mengendalikan perbedaan pendapat di antara anggota tentang dasar negara dan menyampaikan ide-ide tentang kemerdekaan, saat Jepang masih berkuasa.

Dia juga pernah menjadi anggota DPA, KNIP dan memimpin sidang DPR pertama di saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dari RIS. (en/dari berbagai sumber)

Facebook Comments