Ilustrasi | blogs.jpmsonline.com

Ilustrasi | blogs.jpmsonline.com

NIASONLINE, JAKARTA – Sebuah riset terbaru menghasilkan sebuah kesimpulan baru yang dapat dapat mengubah pemahaman mengenai tujuan biologis dari tidur.

Riset itu mengatakan bahwa fungsi tidur tidak sekedar menyegarkan atau ‘mengisi ulang’ kembali stamina tubuh untuk keesokan harinya.

Sebuah hasil penelitian yang dirilis di Jurnal Science menyebutkan, tidur merupakan kesempatan bagi otak melakukan pembersihan, bahkan dapat mengarah pada pengobatan penyakit-penyakit ‘kotor’ seperti Alzheimer.

Aktivitas tidur pada malam hari, menjadi kesempatan untuk mengeluarkan racun-racun dari otak, yang terakumulasi pada siang hari.

“Studi ini menunjukkan bahwa otak memiliki keadaan-keadaan fungsional yang berbeda saat tidur dan ketika bangun. Fungsi restoratif dari tidur sepertinya merupakan hasil dari pembersihan aktif sisa-sisa aktivitas syaraf yang terakumulasi selama bangun,” ujar kepala penelitian Maiken Nedergaard, M.D., D.M.Sc. dari Pusat Medis University of Rochester Medical Center(URMC) seperti dikutip dari VoAIndonesia.com, Kamis (31/20/2013).

Para peneliti mengungkapkan, metode uni pembersihan ‘sampah’ yang dilakukan otak yang disebut dengan sistem glimfatik itu, sangat aktif pada saat tidur. Otak membuang racun-racun yang menyebabkan penyakit Alzheimer dan kelainan syaraf lainnya.

Penelitian itu juga menyebutkan, saat tidur, sel-sel otak mengecil sehingga membuat pembuangan ‘sampah’ lebih efektif.

Para peneliti menggunakan miskroskop dua-foton untuk menyelidiki otak tikus dan menemukan apa yang disebut dengan “sistem pembuangan” yang menempel pada saluran-saluran darah otak dan memompa cairan tulang belakang otak (CSF) melalui jaringan otak, membuang sampah ke dalam sistem peredaran darah dan hati untuk disaring.

Keadaan tidur dianggap waktu yang paling baik untuk pembersihan karena pemompaan CSF memerlukan energi besar. Hal serupa tidak bisa dilakukan dengan maksimal ketika otak sedang sibuk memroses informasi selama waktu bangun.

Terkait penciutan otak saat tidur, para ahli mengatakan, hal itu terjadi hingga 60%. Akibatnya cairan CSF dapat mengalir lebih bebas.

“Penemuan-penemuan ini memiliki implikasi signifikan bagi pengobatan penyakit ‘otak kotor’ seperti Alzheimer,” jelas Nedergaard. (EN/VoAindonesia.com)

Facebook Comments