Menarik membaca tulisan Donny Purnomo tentang apa yang sebaiknya dihindari dalam wawancara kerja (baca: Pingin Sukses Interview Hindari Ini). Sekilas saya baca dari hal-hal yang sebaiknya dihindari, ternyata dari semua kategori yang disebutkan diartikel itu semuanya kemungkinan bisa dilanggar.. Hmm.. Ada apakah gerangan?

Masing-masing perusahaan punya standarnya sendiri-sendiri. The right man on the right place, kira-kira itu moto yang digunakan banyak perusahaan dalam mencari karyawan. Sebelum diterima bekerja, tentu saja karyawan juga diinterview dan melewati berbagai macam tahap. Namun proses ini tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan.

Pertanyaan Jelas Arahnya

Dari pengalaman diwawancara, sebenarnya sedikit banyak kita bisa mengira-ngira gambaran perusahaan, entah tugas-tanggung jawab pekerjaan, entah lingkungan kerja, dsb. Setidaknya, ada dua jenis pertanyaan wawancara. Kelompok pertama adalah pertanyaan yang jelas arahnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Bagaimana jika anda bekerja jauh dari keluarga dan hanya diijinkan pulang setahun sekali.” dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya, kira-kira sudah memberikan gambaran seperti apa kondisi kerja dari posisi yang kita lamar. Biasanya pertanyaan jenis ini menyangkut hal teknis, keahlian, pengalaman kerja, dan hal-hal lain yang jelas dapat kurang lebih dijawab dengan “ya” atau “tidak”.

Pertanyaan Tersamar

Pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang arah pertanyaannya tidak terlalu jelas atau tersamar. Pertanyaan jenis ini biasanya terkait dengan etika/nilai/norma/budaya perusahaan, lingkungan kerja, beban kerja, dsb. Dulu pernah sewaktu wawancara kerja saya ditanyai berkali-kali soal kasus, saya hanya menjawab dibicarakan baik-baik. Waktu itu agak heran juga sih, karena saya sadar pertanyaannya kurang lebih inti dan temanya sama, hanya pertanyaannya dibolak-balik saja. Memang saya waktu itu masih “hijau” sekali, belum mengerti dalam keadaan seperti apa PHK diberlakukan. Ternyata, usut punya usut, perusahaan tsb termasuk perusahaan yang sangat tegas terhadap karyawannya. Yup, bisa ditebak, ketika itu saya tidak diterima bekerja. Dari pertanyaan demikianlah sebenarnya bisa dilihat gambaran perusahaan yang sebenarnya.

Sebagian perusahaan memiliki pertanyaan khusus berkenaan dengan jenis pertanyaan kedua ini. Saya pernah membaca artikel di Kompasiana, sayangnya saya lupa pengarangnya siapa, tentang pertanyaan yang diberikan oleh Astra kepada calon karyawannya. Berikut kutipan pertanyaan dari artikel tsb. Disitu ditanyakan jika anda berada di lokasi bencana alam dan hampir semua orang sudah diungsikan, apa yang akan anda lakukan? Anda memiliki motor dan motor itu hanya bisa membawa satu orang lagi. Di desa tsb hanya tinggal anda, pujaan hati anda, seorang dokter, dan seorang nenek. Nenek tsb sudah sangat tua. Anda menghormati orang tua jika yg anda bawa adalah nenek tsb. Namun anda mengutamakan keselamatan orang lain jika yg anda bawa adalah sang dokter, karena dokter dapat menyelamatkan nyawa orang lain. Sedangkan pujaan hati anda, yang sudah lama anda idam-idamkan, kemungkinan anda tidak akan bertemu dengannya lagi jika anda tidak membawanya. Pertanyaan jenis inilah yang menggambarkan nilai/norma seperti apa yang diinginkan perusahaan. Pertanyaan ini, berdasarkan artikel tsb, dapat dijawab dengan baik oleh Rini M. Suwandi, yang pernah menjadi karyawan Astra dan adalah salah satu mantan menteri perindustrian dan perdagangan.

Pencapaian Diri

Hal lain yang ingin saya bagikan juga untuk dapat dimanfaatkan dalam wawancara kerja adalah cara menjawab pertanyaan. Usahakan sebisa mungkin menjawab pertanyaan dengan menghubungkannya dengan pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi yang saya maksud disini adalah yang berhubungan dengan pencapaian diri. Pencapaian diri ini dapat berupa prestasi yang dapat diukur, misalnya juara, rangking, dsb, atau prestasi yang tidak terukur, misalnya berhasil karena mengerjakan tugas yang sulit/kompleks, dapat bekerja sama dalam tim yang melibatkan banyak bagian/orang, dsb. Hal-hal demikian dapat menjadi nilai tambah dan memberikan gambaran tentang diri anda.

Hal ini kira-kira melogikakan kenapa orang yang berpengalaman, entah pengalaman kerja atau pengalaman organisasi, konon lebih mudah diterima bekerja. Hal ini bukan berarti bahwa hanya karena pengalamanlah seseorang jadi lebih memiliki keahlian dibandingkan orang yang tidak berpengalaman. Hal yang menjadi bagian dari pengalaman adalah individu terlihat memiliki kemampuan bekerja sama, kemungkinan terlihat mampu menangani tugas yang sulit/kompleks, dsb.

Lalu bagaimana jika anda seorang fresh graduate, tanpa pengalaman kerja, juga tanpa pengalaman organisasi? Ada beberapa hal yang tetap dapat anda katakan dalam wawancara. Ceritakanlah proses pencapaian yang pernah anda raih. Misalnya anda pernah mendapat ranking, atau nilai ujian akhir anda bagus, anda pernah menyelesaikan tugas yang sulit dalam rentang waktu yang tergolong singkat, atau anda pernah kerja kelompok dengan tema yang sulit, dsb. Proses dalam mencapai tujuan seringkali memperlihatkan bagaimana cara anda memecahkan masalah, logika berpikir, apakah anda mampu bekerja dibawah tekanan, atau apakah anda dapat bekerja sama dalam tim.

Namun, ingatlah bahwa jawaban yang diberikan sesuai dengan konteks pertanyaan. Tunggulah hingga pertanyaan yang berkaitan dengan pencapaian diri diberikan, barulah kemudian anda menjawab sesuai dengan pengalaman pribadi anda. Selain itu, mawaslah pada diri sendiri selama anda membicarakan pencapaian diri anda. Jangan sampai hal ini malah menjadi bumerang bagi anda sehingga anda terkesan sombong. Usahakan untuk tetap tenang dalam nada bicara dan gerak tubuh anda.

Sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, masing-masing perusahaan memiliki cara tersendiri dalam merekrut karyawan baru. Tulisan ini hanya salah satu bagian dari proses penerimaan karyawan, yakni wawancara kerja. Isi tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis sebagai calon karyawan dan juga sebagai karyawan yang pernah bekerja dibagian penerimaan karyawan sebagai pewawancara calon karyawan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pencari kerja.

Facebook Comments