Bepergian jauh memang kadang dapat membuat senewen. Belum pernah bepergian sebelumnya ke tempat yang dituju atau penguasaan bahasa yang kurang dapat menjadi kendala dalam bepergian.

Hal yang hampir selalu menarik untuk saya adalah ketika bepergian menggunakan pesawat terbang. Entah kenapa, tapi hampir selalu ada kejadian unik jika saya bepergian lewat jalur udara. Seperti pada tahun 2010 saya dan kakak ke Nias, mesin pesawat sangat berisik. Namun saya baru menyadari hal itu setelah mendarat. Ketika itu suasana mendadak hening. Tiba-tiba saya yang memang sedang asyik mengobrol dengan kakak dengan suara sangat keras, mendadak jadi menurunkan volume suara. Oalah.. ternyata tadi mesin pesawatnya berisik sekali. Tapi saking asyiknya ngobrol jadi tidak terasa.

Nah, pengalaman ini saya alami ditahun 2004 atau 2005, saya tidak ingat persis kapan. Ketika itu, sejak pengeboman menara WTC di AS, aturan penerbangan semakin diperketat. Membawa cutter dan gunting menjadi salah satu larangan untuk dapat dibawa didalam tas bawaan.

Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Workshop ke Thailand. Adalah kebiasaan saya untuk menaruh banyak alat tulis dan perangkat tulis kedalam tempat pensil, termasuk cutter. Di bandara Soekarno Hatta, saya dapat melewati pemeriksaan dengan mulus-mulus saja. Tiba di Bangkok, saya mesti transit sebelum berangkat lewat jalur udara sekali lagi hingga tiba di Krabi, salah satu wilayah di Thailand.

Setelah mondar-mandir dan celingak-celinguk, akhirnya saya dapat menemukan pintu dimana saya harus terbang ke lokasi berikutnya. Ketika melewati pintu pemeriksaan, saya diminta keluar jalur dan seorang petugas perempuan menemui saya. Ia menjelaskan sesuatu. Karena saya tidak mengerti, saya minta tolong agar petugas tersebut mengulangi penjelasannya sambil meminta agar ia berbicara dengan bahasa Inggris. Ia pun mengulangi kembali penjelasannya. Namun karena saya belum mengerti, saya minta ia mengulangi sekali lagi sambil tetap menekankan agar ia bicara dengan bahasa Inggris. Demikian berulang-ulang, hingga saya akhirnya emosi. Dengan nada tinggi saya mohon agar petugas tersebut bicara bahasa Inggris! Kemudian dengan sangat perlahan sekali petugas tersebut menjelaskan bahwa saya dilarang membawa cutter kedalam pesawat dan saya dapat mengambil barang itu di bandar udara tujuan. Menariknya, ternyata dia memang bicara dengan bahasa Inggris! Oalah.. karena aksennya saja jadi saya sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan. Saya pikir sejak tadi dia bicara dengan bahasa Thailand. Oalah mbak sabarnya dirimu menghadapi penumpang seperti saya, hehe.

Kembali lagi tentang segi keamanan, mungkin saat ini bandar udara Soekarno Hatta sudah lebih ketat dari sebelumnya. Hal ini saya lihat setidaknya dari dilarangnya penumpang membawa barang berisi cairan dalam bentuk apapun kedalam pesawat.

Dilain pihak, bahasa memang seringkali menjadi kendala. Dari peristiwa itu saya jadi teringat kondisi negara kita. Thailand meski dengan alphabet yang berbeda dari alphabet negara-negara lain, namun menggunakan bahasa Inggris pada berbagai petunjuk transportasi atau akses-akses umum lainnya. Selain itu, petugas-petugasnya pun sudah diperlengkapi dengan keahlian bahasa Inggris. Berkaca dari Thailand, bagaimana dengan Indonesia? Apakah petunjuk-petunjuk untuk fasilitas umum telah ramah turis? Apakah petugas-petugas fasilitas umum, terutama fasilitas yang berhubungan dengan pariwisata, sudah dilengkapi kemampuan bahasa asing yang memadai? Semoga hal-hal yang berhubungan dengan aspek pariwisata di Indonesia dapat menjadi lebih baik dan mudah diakses.

Facebook Comments