Hari Minggu (27/10/2013) tadi dipusat kota Trier, Jerman, ramai. Ada apa gerangan? Berbeda dengan hari Minggu biasanya, hari ini di pusat kota Trier toko-toko buka. Ya, berbeda dengan di Indonesia dimana toko-toko buka setiap hari, di Jerman toko-toko hanya buka hingga hari Sabtu.

Alat tradisional pemeras apel di Jerman. | dok. pribadi

Alat tradisional pemeras apel di Jerman. | dok. pribadi

Pada hari kerja, yakni Senin hingga Jumat, toko-toko buka hingga jam 8 malam. Sedangkan pada hari Sabtu, toko-toko buka hingga jam 6 sore. Beda dengan di Indonesia ya? Jadi, jarang sekali ada yang bisa berbelanja dihari Minggu. Dihari Minggu, hanya restoran dan bioskop yang tetap beroperasi. Jadi jika hari ini ada Verkauf Sonntag (program belanja dihari Minggu), beramai-ramailah orang pergi berbelanja.

Dalam program Verkauf Sonntag, biasanya ada beberapa hal yang turut memeriahkan program ini. Pada program Verkauf Sonntag kali ini, ada tenda-tenda penjual bunga, keju, buah-buahan, dll yang kurang lebih penampilannya seperti pasar kaget. Selain itu, ada “artis-artis” yang sedang mempromosikan acara yang akan mereka tampilkan bulan depan. Ditempat lain, diperlihatkan proses pembuatan jus apel, lengkap dengan alatnya. Dengan harga paling murah 50 sen euro (sekitar 6 ribu rupiah), pembeli dapat menikmati jus segar.

Hari ini memang berbeda. Selain karena ada program Verkauf Sonntag, hari ini waktu diundur 1 jam. Ya, perhari ini, negara-negara Eropa memasuki waktu musim dingin. Diwaktu musim dingin ini, jika pada waktu yang sama berdasarkan waktu musim panas jam 6 pagi, maka berdasarkan waktu musim dingin menjadi jam 7 pagi.

Jus apel siap dijual dan dinikmati. | dok. pribadi

Jus apel siap dijual dan dinikmati. | dok. pribadi

Perbedaan waktu ini berdasarkan teori Day Light Saving Time yang dikemukakan oleh George Vernon Hudson. Pembedaan ini berkenaan dengan perbedaan munculnya matahari. Pada musim dingin, matahari cenderung malu-malu menampakkan diri. Kadang jam 8 pagi baru muncul dan kadang buru-buru pulang saat waktu menunjukkan jam 4 sore. Terkadang bahkan ia seharian enggan menampakkan diri. Berbeda dengan musim dingin, pada musim panas matahari giat bekerja. Sering jam setengah 5 pagi sudah gilang-gemilang. Kadang bahkan baru beranjak pulang pada pukul setengah 10 malam. Perbedaan drastis matahari inilah yang menjadi sumber pembagian waktu antara musim panas dan musim dingin. Sehingga, pada musim panas waktu dimajukan 1 jam, dan pada musim dingin waktu diundur 1 jam. Sebagai gambaran, pada musim panas, beda waktu antara Indonesia-Jerman 5 jam. Sedangkan pada musim dingin, beda waktunya sebanyak 6 jam. Sebagai informasi, fajar menyingsing terlebih dahulu di Indonesia, baru kemudian di Jerman.

Hal yang menggelitik dari program semacam Verkauf Sonntag adalah: kira-kira seperti apa ya wajah kota-kota besar di Indonesia jika toko-toko atau bahkan Mal hanya buka hingga hari Sabtu? Lalu kemana larinya warga kota besar berakhir pekan jika toko atau bahkan Mal hanya buka hingga Sabtu? Akankah kemudian taman, museum, atau rekreasi alam jadi lebih ramai? Akankah lokasi-lokasi olahraga penuh? Hihihi.. udah ah, malah mengkhayal. Sudah dulu ya. Salam hangat dari Trier. 🙂

Facebook Comments