Produksi Aluminium PT Inalum | Viva

Produksi Aluminium PT Inalum | Viva

NIASONLINE, JAKARTA – Setelah melalui proses panjang dan berbelit, perjuangan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan 10 Kabupaten/Kota untuk mendapatkan jatah atas PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) akhirnya mencapai titik akhir.

Komisi VI DPR RI, dalam rapat dengan pemerintah yang diwakili Menteri Perindusrian MS Hidayat, Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho akhirnya menyepakati pengambilalihan PT Inalum dari Jepang hingga 100%.

“Komisi VI memberikan persetujuan terhadap hasil perundingan yang telah dicapai oleh tim perunding proyek Asahan yang dibentuk melalui keputusan Presiden 27/2010 dan meminta proses pengambilalihan dapat terlaksana menjadi 100% milik pemerintah RI terhitung 1 november,” ujar Airlangga saat membacakan keputusan rapat di gedung DPR, Jakarta, Selasa (22/10/2013).

Selanjutnya, dalam rapat yang dipimin oleh Ketua Komisi VI DPR RI Airlangga Hartanto tersebut menyepakati, pemerintah pusat mendapat jatah 70% dan 30%nya untuk Pemprov Sumut dan 10 Kabupaten/kota di wilayah itu.

“Kepemilikan pemerintah pusat dipertahankan minimal 70%,” jelas dia.

Jatah Pemprov Sumut dan 10 daerah lainnya tersebut lebih rendah dari pengajuan sebelumnya sebesar 58,87%.

Dengan keputusan itu, maka polemik seputar pengambilalihan proyek itu mencapai titik akhir.

Tidak hanya itu, DPR juga mengabulkan keinginan pemerintah provinsi Sumatera Utara beserta.

Gatot sendiri meyakini, dengan terlibatnya daerah di Sumut, akan berkontribusi pada terselesaikannya masalah kelistrikan di Sumut, terutama di Medan. Sebab, PT Inalum memiliki pembangkit dengan daya 600 MW.

PT Inalum adalah usaha patungan pemerintah Indonesia dan Jepang yang dimulai sejak 1975. Berdasarkan Perjanjian kedua negara pada 7 Juli 1975, kontrak kerjasama pengelolaan Inalum berakhir 31 Oktober 2013.

Dalam perjanjian itu, Indonesia hanya memiliki 41,13% saham Inalum. Sementara Jepang selaku investor menguasai 58,87% saham melalui konsorsium Nippon Asahan Aluminium (NAA).

Konsorsium NAA terdiri dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) yang mewakili pemerintah Jepang 50% dan sisanya oleh 12 perusahaan swasta Jepang.

Proyek ini tak hanya menghasilkan aluminium yang mencapai 230-240 ribu ton per tahun, tapi juga menghasilkan listrik dari pembangkit bertenaga air. (EN)

Facebook Comments