Oleh: Lovely Christi Zega

Saya menulis di Kompasiana awalnya karena tak sengaja. Karena punya tulisan yang pernah diikutkan lomba tapi tidak juara, akhirnya saya masukkan tulisan saya ke Kompasiana (Baca: Ada Apa dengan Pendidikan (Bag. 1), Ada Apa dengan Pendidikan (Bag. 2), Ada Apa dengan Pendidikan (Bag. 3), dan Ada Apa dengan Pendidikan (Bag. 4)). Rasanya kok ya sayang, sudah capek-capek menulis, tapi akhirnya hanya saya simpan sendiri saja.

Sebelum menulis di Kompasiana, saya juga diajak seorang kenalan untuk menulis di blog niasonline.net. Ya, ayah saya memang berasal dari pulau Nias. Dan sebagaimana sebagian besar orang Indonesia yang patriarkal, saya pun mengidentifikasi diri sebagai orang Nias. Waktu diajak, saya memang ragu. Bagaimana tidak ragu, saya memang sudah lama tidak menulis secara aktif. Selepas kuliah, saya sempat kerja beberapa tahun. Masuk dunia akademis lagi seperti sekarang rasanya tergagap-gagap karena sudah lama tidak berkutat serius dengan buku, paling banter serius dengan koran dan novel, hehe. Tapi saya sadar, saya butuh latihan menulis. Dan akhirnya saya mengiyakan ajakan beliau untuk menjadi kontributor diblog tersebut.

Witing tresno jalaran soko kulino, kata orang Jawa, alias cinta datang karena terbiasa. Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku, kata Ahmad Dhani, hehe. Dan itulah yang saya rasakan dengan menulis. Pertama, daripada tulisan saya sayang tidak dibagikan, padahal menurut saya tulisan itu cukup bermanfaat, setidaknya menurut saya yang menulis, hehe. Kedua, ya itu tadi, saya butuh latihan menulis, biar kalau bikin makalah nggak malu-maluin gitu..

Awal-awal menulis memang agak susah. Rasanya sebelum menulis musti bertapa dulu mencari ilham, walaupun ilhamnya ternyata tetangga sebelah dan nggak usah dicari, hehe. Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya memang ilham-ilham datang dengan sendirinya. Dan, seperti yang pernah saya dengar dari musisi atau penulis profesional, ilham memang bisa datang darimana saja. Memang sekarang pun saya masih mencari tema, apa yang saya bisa tulis. Tapi semakin lama memang saya tidak perlu berpikir sekeras dulu untuk mendapat tema tentang apa yang akan saya tulis.

Dan, eng ing eng, tiba-tiba jebret! Datanglah hari itu. Hari Rabu (16/10/13) malam saya menulis tentang Toko Kelontong di Jerman. Hari Kamis (17/10/13) pagi saya lihat Kompasiana dan eee.. apa saya nggak salah lihat? Tulisan saya nangkring di Headline. Ooo begini toh yang namanya masuk Headline itu. Saking senangnya, saya print screen layar laptop, dan kemudian saya paste di file. Maklum, masih anak bawang, jadi masih norak, hehehe.

Karena kesana-kemari, barulah saya menulis respon ini sekarang. Uniknya, siang harinya saya ke perpustakaan, Headline Kompasiana sudah berubah. Dan sorenya saya cek lagi di asrama, Headline-nya sudah berubah lagi. Ooo ternyata kebahagiaan itu tidak sepanjang masa, hehe. Untung saya sudah sempat mendokumentasikan momen bahagia itu, hehe.

Kenapa saya katakan bahagia, karena kriteria untuk masuk Headline dkk itu masih absurb buat saya. Saya membaca sebagian tulisan yang berkualitas yang tidak masuk Headline, dan sebagian tulisan yang, setidaknya dari sudut pandang subjektif saya, biasa-biasa saja, tapi bisa masuk Headline. Tapi ya itulah yang namanya subjektifitas. Kata orang Jerman, über Geschmack kann man nicht streiten alias orang tidak dapat memperdebatkan soal selera. Mau doyan keju, jengkol, mie ayam, atau ceker sekalipun ya namanya juga selera dan selera itu subjektif. Maksud saya tidak menuduh bahwa admin subjektif, namun maksud saya memang sudut pandang admin dan penilaian bukan admin berbeda.

Selain itu, setelah beberapa lama berkutat dengan tulisan-tulisan di Kompasiana, saya lihat ada mbak Gaganawati dan mas Elde yang juga tinggal di Jerman. Jadi, menulis yang serba Jerman mungkin mereka lebih tahulah, saya kan masih termasuk baru tinggal di Jerman, masih balita (bawah lima tahun, hehe). Maka saya tuangkanlah emosi dan buah pikiran saya pada sebagian besar hasil karya saya.

Ditambah lagi dengan melihat tulisan-tulisan yang masuk Headline dkk dibaca oleh banyak orang. Dulu dan sampai sekarang saya pikir, kok bisa ya tulisannya dibaca banyak orang. Entah menarik, entah berdampak, entah menggelitik, pastinya banyak orang yang sudah membacanya. Hal ini menarik untuk saya, karena jumlah Kompasianer memang banyak, tapi seperti tulisan yang pernah saya baca mengenai Pak Tjiptadinata Effendi, maaf ya saya lupa penulisnya siapa, disitulah tantangannya. Di Kompasiana tidak ada editor dan layouter. Hampir semua dikerjakan sendiri. Kenapa hampir semua? Karena ternyata kalau masuk Headline, ada edit atau bahkan tambahan gambar dari Admin. Dengan Kompasianer sebanyak itu dan karya merupakan hasil kerja sendiri, bagaimana bisa membuat banyak orang membaca tulisan kita? Tapi untuk tema ini tidak saya bahas karena bukan keahlian saya dan sudah ada beberapa tulisan yang memuat tentang hal ini.

Oh ya, satu hal lagi yang saya heran, kenapa ada Kompasianer menyebut nama Kompasianer lainnya? Padahal mereka mengklaim tidak membela atau tidak saling kenal dsb. Ternyata sekarang saya mengalami sendiri dengan menyebutkan beberapa nama beliau diatas (maaf ya mb Gaganawati, mas Elde, dan Pak Tjipta namanya sudah saya catut, hehe).

Ya, demikianlah curhat anak bawang yang baru tahu rasanya masuk Headline. Terimakasih saya ucapkan pada Admin yang terhormat yang sudi memberikan jatah lapak untuk saya. Terimakasih juga untuk semua orang yang pernah membaca karya saya. Terimakasih juga untuk kontak anonim tapi dengan tetap saling menghormati antar pada Kompasianer. Salam menulis!

Trier, 17102013

Facebook Comments