Salah satu ruang kuliah umum di Universitas Trier, Jerman. | dok. pribadi

Salah satu ruang kuliah umum di Universitas Trier, Jerman. | dok. pribadi

Jika mendengar ada orang yang bisa mengerjakan soal-soal Biologi, Matematika, Fisika, atau Kimia dengan gampang rasanya seperti percaya tak percaya. Bagaimana tidak? Mata pelajaran-mata pelajaran tersebut adalah mata pelajaran yang menjadi momok bagi siswa. Menarik membaca tulisan Pak Irwan Thahir Manggala yang membuat cara tertentu agar murid-muridnya dapat memahami mata pelajaran bahasa Inggris yang diajarkannya.

Ya, semasa sekolah seingat saya guru cukup mempengaruhi apakah saya bisa mengerti pelajaran atau bahkan mendapat nilai bagus di mata pelajaran tersebut atau tidak. Nah, kebetulan ada beberapa guru di mata pelajaran Biologi, Fisika, dan Matematika yang tekniknya unik dan masih saya kenang hingga kini.

Biologi selalu menjadi kendala bagi saya. Mengetahui berbagai istilah biologi rasanya sulit, apalagi untuk mengingatnya. Dulu waktu masih kuliah di Jogja ada mata kuliah yang bernama Psikobiologi. Entah bagaimana, teman-teman sekelas bisa mendapat nilai bagus. Saya sendiri hanya mendapat nilai pas-pasan, walaupun terhitung lulus mata kuliah tersebut. Menurut seorang teman, mata kuliah itu lebih mudah dibandingkan mata kuliah lain, karena hanya “tinggal” menghapal istilahnya saja. Ya ampun.. buat saya yang “tinggal” itu justru susah. Namun, suatu waktu, pada jaman dahulu kala hehe, saya bisa mendapat nilai yang cukup baik di mata pelajaran tersebut. Mengapa demikian? Suatu ketika, saya mendapat guru yang galaknya minta ampun. Kalau nilai ulangan dibawah 5, pasti rambut di pelipis wajah ditarik oleh beliau. Rasanya sakit sekali. Ditariknya agak lama dan keras soalnya. Alamak.. mana waktu itu beliau hobi memberikan ujian. Yup, bisa ditebak. Hal inilah yang membuat saya terpacu untuk sebisa mungkin tidak mendapat nilai ujian dibawah 5. Ya.. kalau ini memang teknik yang agak ekstrim sih.. hehe..

Untuk mata pelajaran Fisika lain lagi ceritanya. Saya pernah dapat guru yang hobinya datang, membuka buku pelajaran, menyuruh mengerjakan halaman sekian hingga sekian, lalu beliau keluar kelas. Sekitar 15 menit kemudian, beliau datang lagi dan menunjuk murid-murid secara acak untuk mengerjakan soal-soal di depan kelas. Alhasil pontang-pantinglah anak-anak untuk mengerjakan soal-soal tersebut. Apalagi itu soal bukan sembarang soal, soal Fisika gitu loh!! Jadilah kami sesering dan serajin mungkin mengerjakan soal-soal dari buku paket di rumah, daripada harus menghadapi “tugas dadakan” tersebut. Guru Fisika lainnya pernah memberikan trik untuk menghafal rumus-rumus Fisika. Caranya, menurut beliau, adalah dengan menempelkan rumus-rumus Fisika ditempat dimanapun kita akan melihatnya, misalnya di lemari baju, di kaca, di kulkas, dsb. Lama-kelamaan, karena terbiasa melihat, kemungkinan kita hafal rumusnya lebih besar. Diwaktu yang lain, waktu saya masih imut-imut sekali hehe, saya pernah dapat guru yang narsis tapi humoris. Tipe guru ini lumayan membantu, mengingat waktu itu untuk pertama kalinya saya belajar Fisika. Jika ada murid yang tidak memperhatikan, beliau akan berkata, “Kamu jangan ngeliatin jam terus. Liatin Bapak ini loh yang ganteng.” atau “Liatin jidat Bapak ini loh yang sebesar lapangan Golf.” (jidat beliau memang lebar, hehe). Nah, sewaktu diajar pak guru narsis nan humoris inilah saya bisa mendapat nilai yang agak lumayan.

Untuk mata pelajaran Matematika, waktu itu rasanya pesimis bisa mendapat nilai baik dimata pelajaran ini. Apalagi mendengar cerita-cerita lulusan-lulusan sekolah kami yang bisa mendapat nilai Matematika bagus, rasanya benak saya berpikir, “Apa saya bisa seperti itu juga ya?” Saya cukup beruntung ketika itu mendapat guru Matematika seperti Pak Gani. Bapak ini terkesan easy going dan pembawaannya tenang namun terkesan ceria. Karena ketika itu adalah tahun ketiga sekolah menengah atas, maka sebagian besar waktu kami adalah mengerjakan soal. Uniknya, Pak Gani sendiri jarang menerangkan teori. Seingat saya beliau yakin dan percaya bahwa kami paham akan teori-teori Matematika. Yang paling sering Pak Gani lakukan di kelas adalah membahas soal. Jika ada diantara kami yang menanyakan soal tertentu, Pak Gani akan melihat soal itu sebentar, lalu berkata, “Ah, ini sih gampang.”, sembari tersenyum. Sambil menjelaskan, beliau pun menulis soal beserta proses menghitungnya di papan tulis. Dalam hitungan kurang dari lima menit, selesailah soal itu. Dulu saya agak terkesima dengan cara beliau, sampai sekarang mungkin masih. Bagaimana ketika itu beliau secara tidak langsung menanamkan keyakinan pada kami bahwa Matematika bukan hal yang mustahil dan bahkan dapat dengan mudah dikerjakan. Selain itu, Pak Gani menyapa murid-muridnya satu-persatu dan menanyakan apakah ada soal yang sulit untuk dikerjakan. Soal yang dianggap sulit oleh sang murid inilah yang dibahas di depan kelas. Demikianlah sekitar hampir satu tahun di kelas kami disuguhi easy going, ketenangan, dan keceriaan Pak Gani dalam menghadapi soal-soal Matematika, hingga akhirnya kami lulus dengan nilai yang tak kalah dengan kakak-kakak kelas kami sebelumnya..

“Ah, ini sih gampang..”, sembari tersenyum dan dengan penuh keyakinan Pak Gani mengerjakan soal Matematika di depan kelas. Demikian terjadi berulang-ulang sepanjang tahun pelajaran ketika itu. Mungkin begitulah sebaiknya guru mensugesti murid-muridnya. Mungkin bukan untuk memberi kesan menyepelekan, namun untuk memberikan keyakinan bahwa murid-muridnya mampu untuk mengerjakan mata pelajaran yang dihadapinya. Jadi, mata pelajaran Biologi, Fisika, ataupun Matematika apakah mungkin untuk gampang dikerjakan? Mungkin saja.. Salam belajar-mengajar. 🙂

Facebook Comments