Maket Proyek MRT Jakarta | MRT Jakarta

Maket Proyek MRT Jakarta | MRT Jakarta

NIASONLINE, JAKARTA – Untuk pertama kalinya, Indonesia akan memiliki parasarana transportasi bernama mass rapid transit (MRT). Infrastruktur yang selama ini Cuma bisa disaksikan di beberapa negara maju tersebut, kini dimulai pengerjaannya.

Proyek perdana itu dibangun di Jakarta. Pengerajaan proyek tahap pertama dengan trase Lebakbulus – Bundaran HI tersebut hari ini, Kamis (10/10/2013) resmi dimulai. Ditandai dengan pelaksanaan groundbreaking atau peletakkan batu pertama yang dilakukan langsung oleh Gubernur Joko Widodo (Jokowi).

Realisasi proyek raksasa atas pinjaman pemerintah Jepang tersebut tidak lepas dari kerja keras Jokowi dan Wakilnya yang menggenjot persiapan proyek itu sejak mereka menjabat hampir setahun lalu.

“24 tahun warga Jakarta mimpi punya MRT. Mungkin sudah banyak mimpin yang hilang karena gak dimulai-mulai juga. Tapi, pagi ini, akan dimulai groundbreaking fisik pembangunan MRT,” ujar Jokowi di acara yang digelar di Dukuh Atas, Jakarta Pusat tersebut.

Bersama Direktur Utama PT MRT Dono Boestami, Jokowi menekan tombol sirene sebagi tanda pembangunan dimulai. Diikuti dengan dentuman alat berat yang member tanah.

Proyek itu sendiri pernah diluncurkan oleh gubernur sebelumnya Fauzi Bowo. Namun, hingga pria yang akrab disapa Foke tersebut lengser, realisasi proyek itu makin tidak menentu.
Ketika mulai menjabat, Jokowi-Ahok langsung menggebrak. Mereka juga melobi pemerintah pusat untuk mengubah skema tanggungan atas biaya proyek itu.

Proyek tahap I itu memiliki panjang 16 kilometer. Untuk ruas Lebak Bulus –
Sisingamangaraja jalur MRT dalam bentuk layan (elevated). sedangkan ruas Sisingamaraja – Bundaran HI akan menggunakan jalur bawah tanah.

Adapun masa pembangunan diperkirakan selama 5 tahun. Dengan demikian, proyek itu baru bisa dinikmati pada 2018. Itu pun, dengan syarat tidak terjadi kemandekan di tengah jalan.

Proyek itu akan menghabiskan dana 140 miliar Yen. Rinciannya, 125 miliar Yen berupa pinjaman dari Jepang dan 15 ribu Yen dari APBD DKI Jakarta. Adapun pembayaran utang itu, dengan bunga sangat rendah, baru akan tuntas dalam 40 tahun mendatang.

Khusus utang dari Jepang itu, Pemprov DKI Jakarta berbagi beban dengan pemerintah pusat. Pemprov DKI menanggung 51% dan Pusat sebesar 49%.

MRT itu dinilai akan berkontribusi signifikan untuk mengurangi kemacetan akut yang sudah mendera Jakarta selama bertahun-tahun ini.

Minat membangun MRT ternyata tidak hanya di Jakarta. Bandung dan Surabaya, Jawa Timur juga berencana membangun proyek yang sama untuk mengatasi kemacetan akut di kedua wilayah itu. (EN)

Facebook Comments