Anies R Baswedan | Rimanews.com

Anies R Baswedan | Rimanews.com

NIASONLINE, JAKARTA – Rektor Universitas Paramadina Prof. Anies Rasdyid Baswedan, Ph. D menyatakan perlu adanya perubahan paradigma dalam memahami perubahan yang mungkin terjadi di masa depan. Menurut dia, tidak ada pilihan lain, kecuali memberikan perhatian besar pada pendidikan pada masa kini.

“Sudah saatnya kita menjadikan pendidikan sebagai rekayasa masa depan,” ujar Anies dalam orasinya pada acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Hukum Rakyat dengan tema ‘Menata Masa Depan Indonesia’ di GOR POPKI, Wisma Sugondo, Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (8/10/2013).

Seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Nias Online dari Media Center Anies Baswedan, Anies mengatakan, ketika berbicara masa depan, maka harus jelas apa yang dimaksudkan. Apakah masa depan infrastruktur, masa depan sumber daya alam atau masa depan manusia Indonesianya.

“Yang harus selalu kita bicarakan adalah masa depan manusia Indonesia,” tegas dia dalam acara yang juga dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Mantan Ketua MK Jimly Asshidiqie ini.

Namun ironisnya, kata salah satu peserta konvensi calon presiden dari Partai Demokrat tersebut, yang terjadi saat ini adalah pendidikan masih dilihat sebagai alat untuk mencerdaskan. Pendidikan tidak lagi dilihat sebagai alat untuk mengubah perilaku, akhlak, membentuk karakter. Juga begitu banyak aspek-aspek mikro pendidikan yang saat ini sering dilupakan.

“Siapa mendapat pendidikan hari ini sangat menentukan siapa duduk dimana dan berperan apa dimasa depan. Karena itu siapa dapat, siapa tidak dapat menjadi penting dalam soal pendidikan. Padahal, pendidikan adalah alat rekayasa sosial yang dahsyat. Sudah saatnya pendidikan kita jadikan sebagai alat rekayasa masa depan,” terang dia.

Anies sendiri diundang dalam acara itu terkait aktivitasnya sebagai penggagas Indonesia Mengajar. Sebuah kegiatan yang menghimpun dan menggerakkan orang-orang muda yang mau mengabdikan diri untuk mengajar di berbagai pelosok daerah terpencil di seluruh Indonesia. (EN)

Facebook Comments